Marahnya Jaya mampu membekukan setiap inci hati. Meleburkan harapan bisa tertawa bersama pemuda jangkung itu lagi. Jaya menghindari kontak mata denganku. Akan memalingkan langkah jika jalur yang diambilnya berpotensi membuat kami papasan. Nyaliku tidak lantas menciut, malah melambung tinggi. Aku harus bisa membuat Jaya melihat keberadaanku. Ke mana pun dia pergi, aku ikuti. Bosan aku terdiam menunggu amarah Jaya reda. Sikap dinginnya menjadi-jadi, menyaksikan segala kebetulan antara aku dan Kak Heman. Maka aku terus memperhatikan punggung Jaya hingga dia menoleh, duduk di hadapannya ketika makan bakso di kantin, memperhatikan dia dari dekat ketika dia sedang mencatat materi dari papan tulis seperti ini. Padahal mana ada ceritanya Jaya rajin menulis materi. Sama seperti anak laki-laki lain

