"S-siapa?" Suaraku bergetar sejalan ketakutan mulai mengusai. Sosok itu setia berdiri di belakangku. Sedangkan aku enggan membalikkan badan. Tidak siap melihat apapun itu. Lolongan anjing di luar sana pertanda ada sesuatu yang mengusik malam mereka. Aku meremat tangan sendiri. Sepertinya sesuatu itu ada di dekatnya sekarang. "Laras ...," panggilnya lirih di telingaku. Aku bergidig. Aroma bunga melati mulai tercium, asap dupa mengirim sinyal mistis. Makaku terpejam erat ketika dia mengeluarkan senandungnya, mengalun perlahan-lahan. Sepertinya wanita berkebaya merah ini tidak akan mengakhiri ini dalam waktu dekat. Suara ngirungnya lantas semakin dekat. Dia menempelkan dagunya di bahuku. Sengatan dingin langsung aku rasakan menjalar sampai punggung. Mau mati rasanya. Mataku terbuka da

