My Playlist : In your arms - Illeniumi
***
"Memangnya aku sudah bilang kalau dia seorang pria?" tanya Rhys dengan seringainya.
"memangnya ucapan ku salah?" balas Shelina dengan sengit, entah kenapa dia jadi kehilangan kontrol dirinya saat berbicara pada Rhys, seakan mereka sudah saling kenal dan dekat.
"tidak sih, kamu benar. Dia seorang pria, haha" jawab Rhys dengan tawa canggungnya.
Nafas Shelina memburu, rasa kesalnya sudah berada di puncak. Bagaimana bisa dia menoleransi seseorang seperti Rhys, seorang pria yang dengan sangat mudah membuka sistem pengaman dan mengacak-acak keamanan apartemen.
"Sebaiknya kamu ikut dengan kami." ujar Rhys.
Shelina masih menatap tajam Rhys, "bisakah aku menolak?" tanya Shelina yang dihadiahi gelengan kepala Rhys.
Rhys mengangkat sebelah alisnya "Apa aku terlihat sedang bertanya pendapatmu?"
"Tidak" jawab Shelina dengan polosnya sambil menggelengkan kepalanya sekilas.
"bagus, karena kami juga memaksa!" Rhys menyeringai pada Shelina, sedangkan Shelina hanya mendengus.
"Baiklah, aku menurut. bukan karena takut, tapi aku benar-benar kalah jumlah!" kata Shelina, Shelina hendak masuk kembali kedalam apartemennya namun tangan Rhys menahan pintu Shelina yang akan tertutup.
"Kau mau apa?"
Shelina berdecak kesal, "aku mau membersihkan diri dan ganti pakaian! Kamu mau lihat?!"
Seringaian jenaka kembali terukir di bibir Rhys, tanpa segan Rhys menjawab "Boleh." katanya.
Mata Shelina memelototi Rhys, "Tidak boleh!" katanya sedikit berteriak sambil menutup pintu dengan keras.
***
Shelina kembali keluar dari pintu apartemennya dan kini dia telah berganti pakaian dengan pakain casualnya. Shelina melirik kearah arlojinya yang telah menunjukan pukul 2 siang, tidak lupa membawa tas yang berisi dompet dan ponselnya.
Walau aku tidak ada kabar, setidaknya tidak perlu menyuruh seseorang untuk membobol pintu. Itu namanya sudah tidak waras!. Batin Shelina, saat tahu siapa yang menyuruh Rhys untuk melakukan ini.
Saat mengecek ponselnya, begitu banyak notifikasi disana terutama jumlah panggilan tidak terjawab. Dari kontak bernama 'tuan Skyler'. Baiklah, Shelina mengaku salah karena bangun terlalu siang.
Shelina melipat tangannya sambil menatap Rhys yang tengah memainkan ponselnya sambil menyenderkan tubuhnya pada dinding apartemen.
Shelina menatap Rhys dengan kesal, "sekarang bagaimana caramu membawa ku pergi dari sini? Tidak mungkin dari pintu utama pastinya." tanya Shelina
Setelah melakukan semua ini. Lanjut Shelina membatin, Rhys mengalihkan perhatiannya dari ponsel.
Rhys tersenyum miring, "memangnya kenapa?." katanya dengan cepat memasukan ponselnya di saku celana.
Shelina mengernyit, apa dia gila? Tentu saja dia akan ditangkap karena melakukan tindak kriminal.
Rhys melangkah kan kakinya menuju pintu lift, tangannya menggenggam pergelangan tangan Shelina agar wanita itu mengikutinya, "Rhys, bukankah kau bilang liftnya--" tanya Rhys saat ia menekan tombol turun pada lift.
Ucapan Shelina terinterupsi karena pintu lift yang tiba-tiba terbuka, mata Shelina mebelalak, "Aku sudah membenarkannya lagi." kata Rhys enteng.
"Secepat itu?!" Shelina menahan suaranya yang ingin berteriak karena kagum pada kepintaran Rhys.
Rhys tersenyum pongah, "Aku ini jenius tahu! Kau mungkin lupa, aku adalah satu-satunya murid yang bisa menyaingi nilai-nilai mu di Harvard."
Percakapan mereka terhenti saat dua orang pengawal pribadi Shelina keluar dari lift dan bersiap untuk bertarung melawan Rhys dan para pengawalnya yang begitu banyak.
"Ethan, Jeremy hentikan! aku baik-baik saja, aku akan pergi dengan pria ini, kalian tidak perlu ikut!" Shelina mencegah Ethan yang sudah menarik kerah kemeja Rhys, sedangkan para pengawal Rhys yang sudah siap menghadangnya.
Rhys tersenyum menang kearah Ethan membuat pria itu mendidih, "Tapi nona.."
"Lepaskan dia Ethan!" sentak Shelina sambil menyentuh tangan Ethan agar melepaskan cengkramannya. Sedangkan matanya menatap Ethan dengan nyalang.
Perlahan-lahan cengkraman tangan Ethan mengendur, ia menundukan kepalanya patuh pada Shelina begitu juga Jeremy, tangan Jeremy menekan tombol lift agar pintu lift tidak menutup.
Ethan dan Jeremy keluar dari lift, membiarkan Rhys dan Shelina menaiki lift itu, Rhys menekan tombol untuk turun ke lantai dasar. Pintu lift tertutup, Shelina kembali menatap Rhys dan melanjutkan percakapan mereka. "Jadi kau Rhys Cutler yang itu? Astaga, aku tidak mengenalimu."
Rhys berdecih, "kau bukannya tidak mengenaliku tapi lupa padaku!" balas Rhys yang mendapatkan kekehan dari Shelina.
"habisnya, kamu menghilang begitu saja dari Cambridge, aku mencarimu keseluruh penjuru kota Boston, tapi kamu tidak meninggalkan jejak." kata Shelina sambil tersenyum tipis.
"untuk apa kamu mencariku?" Rhys melirik kearah Shelina, ada sepercik harapan di d**a Rhys mendengar bahwa wanita itu mencarinya dengan begitu niat.
"aku ingin memamerkan nilai ku yang lebih tinggi darimu!" jawab shelina sambil tertawa kecil.
"Dasar iblis." cetus Rhys, Shelina melirik kearah Rhys, ia menyikut tangan Rhys. "Hei, jangan mengingatkan ku akan masa lalu." goda Shelina membuat Rhys memutar bola matanya jengah.
Iblis, adalah julukan Shelina di masa kuliahnya dulu, wanita itu begitu cerdas dalam menghafal dan menyerap materi, sikap wanita itu juga aneh, dan unik. dengan parasnya yang begitu cantik membuat Shelina menjadi wanita incaran nomor satu di kampus.
Banyak pria yang berbondong-bondong mendekatinya namun setelah mengetahui sifat Shelina, satu per satu dari mereka menyerah, menurutnya Shelina adalah iblis, karena ia begitu dingin, bermulut pedas dan tidak segan melukai seseorang yang mengusiknya.
Contohnya ada seorang pria bernama Lycan Matteo, pria itu adalah senior di jurusan Shelina yang juga merupakan pewaris sebuah perusahaan yang cukup tersohor.
Satu hari pria itu berbuat nekat pada Shelina karena lelah menghadapi wanita itu yang terus menerus menolak ajakan kencannya, saat itu hari sudah malam dan mahasiswa kampus tengah mengadakan pesta bernuansa layaknya klub malam di sebuah rumah dekat dengan kampus, Lycan yang tahu shelina akan datang di pesta itu telah menyiapkan sebuah rencana.
Disana Lycan berencana menjebak Shelina dengan memberinya obat perangsang, tapi bukannya Shelina yang berada di kamar melainkan seorang gay yang sudah meminum obat perangsang.
Pagi harinya semua mahasiswa di kampus serta keluarga dari Lycan Matteo di hebohkan dengan foto Lycan yang membunuh pria itu, tentu saja pria seperti Lycan tidak segan membunuh pria yang hendak mengotorinya.
Akibatnya Lycan dikeluarkan dari kampus dan sahamnya mengalami penurunan, ia juga terjerat beberapa kasus walau akhirnya hanya di penjara selama 3 bulan dan dilepaskan begitu saja, semua itu karena uang yang keluarga Matteo berikan. dan sudah menjadi rahasia umum, dalang dari insiden itu adalah Shelina Resse.
To be continue