My Playlist : Psycho (pt 2) - Russ
***
Pintu lift berdenting lalu perlahan terbuka, seperti yang Shelina dan Rhys perkirakan. Di depan pintu telah ramai dengan para staff dan penjaga apartemen.
Mereka langsung menghampiri Shelina dan Rhys, "Nona Resse, anda baik-baik saja?" tanya seorang pria disana, dia adalah manajer apartemen ini, Shelina sudah amat kenal dengan pria itu.
Shelina tersenyum formal, "Aku baik-baik saja. Ada apa?"
"Keamanan apartemen diserang oleh seseorang, beruntungnya anda baik-baik saja. Karena hanya cctv dilantai anda saja yang mengalami keanehan." jelas pria itu, lalu tatapannya beralih pada Rhys, pria itu menatap Rhys penuh selidik.
Rhys yang menyadari itu tersenyum lalu merangkul pundak Shelina, "Aku temannya Shelina, kebetulan aku sedang menginap tadi malam."
Shelina mengangguk. "Anda tidak perlu menatapnya dengan begitu curiga." kata Shelina mengingatkan.
Pria itu tersentak kaget dan bergerak dengan canggung karena tertangkap basah memcurigai Rhys, "Ah.. Tentu saja nona."
Shelina dan Rhys akhirya keluar dari kerumunan orang itu, masih sambil merangkul pundak Shelina, Rhys dan Shelina berjalan keluar menuju sebuah mobil sport bermerek Lambhorghini yang terparkir di depan pintu apartemen.
Rhys berbisik di telinga Shelina, "Aktingmu sangat bagus."
"tentu saja, selain pintar dan cantik, aku sangat hebat dalam berpura-pura. Jika aku seorang aktor, mumgkin aku sudah memenangkan piala Oscar!" kata Shelina membanggakan diri.
Rhys tersenyum miring mendengar ucapan Shelina yang kelewat percaya diri, "kamu begitu yakin kalau kamu akan lolos? Bagaimana jika tadi ketahuan?" Shelina melirik kearah wajah Rhys yang terlihat begitu santai.
"kalau ketahuan pun, memang mereka memiliki bukti?"
Mata Shelina melebar, "Jangan bilang kamu--" mulut Shelina sedikit terbuka karena terkejut dengan kehebatan Rhys.
Rhys membukakan pintu mobil untuk Shelina, lalu Rhys masuk kedalam mobil dan mulai mengendarai mobil itu.
"Kita akan ke Manhattan." kata Rhys membuat mata Shelina membelalak, dia segera menegakkan kembali tubuhnya yang sebelumnya bersandar, bersantai ria.
Shelina memelototi Rhys, "Kau gila?! Dari sini ke Manhattan menggunakan mobil, aku bisa mati dijalan!"
"Kamu hanya perlu duduk diam saja, tidak usah protes. lagi pula aku tidak menyuruhmu menyetir kan?" balas Rhys acuh, matanya hanya fokus melihat jalanan.
Rhys melirik kearah Shelina dan menangkap basah wanita itu yang kini sedang memegang ponselnya dan berniat menghubungi seseorang dari sana, "Tidak ada gunanya menghubungi seseorang untuk menjemputmu."
Shelina menatap sengit Rhys, "kamu benar, aku adalah putri dari keluarga Resse, dalam beberapa hari mereka akan mencariku juga tanpa perlu kuminta." Shelina tersenyum miring lalu kembali mengantongi ponselnya.
Rhys hanya meresponnya dengan gidikan di bahunya, suasana kembali hening sampai Rhys menyodorkannya sebuah kaca mata hitam, Shelina mengambilnya tanpa segan lalu memakainya.
Detik berganti menit, menit berganti jam, Shelina dan Rhys masih melakukan perjalanan panjangnya, tidak melakukan kegiatan apapun. Namun tubuh Shelina rasanya pegal dan lelah, Shelina pun tanpa sadar tertidur di mobil.
Semilir angin berhembus dengan kencang menerpa permukaan wajab Shelina dan membuat anak rambut wanita itu berterbangan. Shelina mengerang. Matanya mengerjap dan tangannya mengusap matanya dengan pelan,
Hari telah berganti malam, Shelina memandang sekelilingnya, "Rhys, aku lelah.. Lebih baik cari penginapan saja!" gumam Shelina masih setengah sadar.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Shelina pun melirik kearah pengemudi, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya begitu mendapati Maximillian yang menggantikan posisi Rhys dan tengah mengemudi. "tuan Skyler? Kenapa anda bisa berada disini? Dimana Rhys?"
Max mencengkram kemudinya dengan erat, "Kau kecewa saat tahu aku yang ada disini, dan sepertinya kamu seakrab itu dengan orangku hingga memanggilnya dengan nama depan." Max mendengus, entah mengapa ia merasa kesal saat tahu Shelina akrab dengan pria lain.
Shelina menguncir rambutnya yang berantakan tanpa menggunakan ikat rambut, ia membuang wajahnya dan menatap pemangan sekitarnya.
Bintang yang menghiasi langit dengan bulan purnama yang begitu bersinar, tebing-tebing yang menjulang tinggi dan hutan yang lebat, Shelina bertanya-tanya, sebenarnya saat ini mereka berada dimana?
Shelina memejamkan matanya kembali menikmati aroma hutan dan malam yang entah kenapa memiliki daya tarik sendiri, "tuan Skyler apa anda benar-benar ingin mengemudi semalaman?"
"Panggil aku Maximillian, panggilan tuan Skyler membuatku merasa tidak nyaman, dan ya.. Aku tidak akan mengemudi sepanjang malam."
Shelina mengernyit sambil berpikir, "Max?" Shelina berucap ragu, rasanya terlalu aneh di lidah Shelina. Bagaimana pun juga hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja.
Maximillian tersenyum puas, sebelah tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Shelina, "Benar seperti itu."
Shelina mengerjapkan mata, ia tidak percaya jika Max tersenyum. Pasalnya pria itu terkenal dengan kekakuannya, Shelina melepaskan tangan Max dari kepalanya. Max mendelik.
"Jadi kita sudah sampai mana?" Shelina bertanya sambil menyapu pandangan disekitarnya, mencoba menebak-nebak.
"Las Vegas." jawab Max acuh tak acuh. Shelina menghembuskan nafasnya pasrah, "Harus berapa lama lagi, aku tidak kuat!" Shelina bergumam.
Max menyeringai, "jadi kamu ingin bermalam di hotel bersamaku malam ini?"
Shelina mengangguk pelan, tapi entah kenapa Shelina merasa pertanyaan yang Max lontarkan cukup membingungkan, seketika wajah Shelina memerah. "Tidak.. Bukan bermalam seperti yang kau bayangkan!"
Max menahan senyumannya, ia menoleh kearah Shelina dengan tatapan datar. "Maksudmu? Memang Apa yang aku bayangkan?" Shelina menatap mata Max, dia bisa melihat tatapan jenaka dari sorot mata Max yang datar.
Wajah Shelina semakin merona, sepertinya aku berpikir terlalu jauh. Shelina menggelengkan kepalanya, "Bukan apa-apa Max." jelas Shelina.
Tapi Max belum puas menggoda wanita itu, ia masih ingin mendengar suara Shelina dan melihat wajah wanita itu yang memerah, sikap yang tidak pernah Shelina perlihatkan pada orang lain. Max ingin mengetahui segalanya.
Ternyata Shelina memiliki sisi yang seperti ini, dan Max sangat menyukainya. Bukan, maksudnya sangat tertarik. Max menyangkal rasa sukanya pada Shelina.
Max memperhatikan wajah Shelina beberapa saat sebelum akhirnya kembali fokus mengemudi. Shelina sangat cantik, dengan bibir yang tipis dan hidung mancung yang mungil serta senyum manisnya.
"Shelina, aku hanya memperingatkan. Jika suatu saat aku menyukaimu, kamu harus lari! karena jika kamu telah menjadi milikku, aku tidak melepas apapun yang telah kumiliki." mata Max menerawang jauh, Shelina menatap Max dengan wajah bingung dan penuh pertanyaan.
Namun setelahnya Shelina tersenyum formal, "bukankah itu namanya keberuntungan? Semua wanita pasti menginginkan dirimu." balas Shelina, ia juga merasa mustahil bagi seorang Skyler menyukainya jadi Shelina menganggapnya hanya basa-basi yang akan berlalu seperti angin.
"aku harap kamu tidak menyesalinya, lagi pula. Memangnya aku akan membiarkanmu pergi? Bukankah sekarang aku sedang menahanmu." Max berucap dengan gamblang, begitu jelas dan tegas.
Shelina tertawa canggung, "Kamu sangat pandai menggoda rupanya, Max!" tapi Shelina hanya menganggapnya sebagai lelucon.
To Be Continue