My Playlist : Fire on fire - Sam Smith
***
Suasana begitu hening dengan kecanggungan yang membuat mati kutu, sudah setengah perjalanan tapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Shelina maupun Maximillian.
Mereka lebih memilih diam dan fokus pada pemikiran mereka masing-masing, hari itu sudah gelap, sinar matahari digantikan oleh sinar bulan yang redup.
Terlalu kaku, Shelina memutuskan untuk memainkan ponselnya yang berada di tas selempang yang ia bawa, "Masukan ponselmu saat bersamaku." ucapan Maximillian membuat tangan Shelina yang ingin mengeluarkan ponsel terhenti.
Shelina melirik kearah Maximillian, padahal dia seperti tidak memperhatikan ku. Batin Shelina, Shelina kembali menaruh ponselnya ke tempat semula, "Soal di pesta tadi." Shelina mulai membuka topik bahasan yang ia baru ingat, dia ingin meminta penjelasan pada Maximillian.
"Aku tidak akan menjelaskannya, kau pasti juga mengerti." mendengar jawaban acuh Max yang hanya menatap lurus kedepan membuat Shelina sedikit menundukan kepalanya.
"Aku mengerti." gumam Shelina, karena Max bersikap baik tadi, aku hampir saja lupa kalau dia adalah pria yang berbahaya.
"Kalau begitu, untuk yang tadi aku sangat berterimakasih." Shelina kembali mendongak agar bisa menatap wajah Max, Shelina tersenyum lebar, Max yang melirik Shelina sedikit terpesona oleh kecantikan wanita itu.
Dengan canggung Max membuang wajahnya dan melihat kearah luar jendela, Shelina terkekeh geli saat menyadari jika Maximillian malu, rupanya pria itu bisa malu juga. Batin Shelina.
Setelah itu suasana kembali hening, mobil pun sudah sampai di depan apartemen milik Shelina, Shelina bersiap-siap untuk turun.
Shelina membuka pintunya sendiri, satu kakinya sudah menampaki jalanan saat itu, saat Shelina hendak mengangkat bokongnya, Maximillian terlebih dulu mencekal pergelangan tangan Shelina.
Shelina segera menoleh pada Maximillian, raut wajah pria itu terlihat bingung sama hal nya seperti Shelina, Maximillian nampak ragu saat ingin membuka suaranya, "Besok kau harus ikut denganku."
"Kemana? aku pikir aku sudah membayar denda ku dengan menemanimu hari ini." tanya Shelina dengan raut wajah bingung, seulas ada rasa takut disana, apa aku melakukan kesalahan?. Batin Shelina
"Aku ingin memeriksa beberapa barang, aku ingin kamu membantuku memeriksanya juga, tenang saja aku akan bayar jasa mu itu." jelas Maximillian.
Shelina mengangguk ragu, Max melepaskan tangan Shelina dan wanita itu langsung turun dari mobil Max, "Selamat malam tuan Skyler." kata Shelina dengan senyum formal di jendela mobil, sebelum akhirnya mobil Max pergi menjauhi perkarangan apartemennya.
Dengan langkah gontai Shelina memasuki apartemennya, ia menaiki sebuah lift dan turun di lantai 17, Shelina melewati beberapa pintu apartement sebelum sampai di depan pintu apartemen miliknya, mata Shelina melirik kearah Jeremy dan Ethan yang entah sejak kapan berada disana dan menunggunya.
Shelina membuka pintu apartemen dengan kartu aksesnya, " lain kali kalian tidak perlu menungguku." kata Shelina saat masuk kedalam pintu apartemennya.
Ethan dan Jeremy membungkuk bersamaan, Shelina melempar tas dan sepatunya ke sembarang tempat, lalu membuka ikatan di kepalanya, membuat rambut Shelina kembali tergerai.
Shelina langsung menghempaskan tubuhnya diatas sofanya yang empuk dan berukuran cukup besar, dia terlalu lelah untuk sekedar masuk kedalam kamarnya. hingga akhirnya Shelina tertidur disana.
***
Drrt!drrt!drrt!!
Suara getaran ponsel mengganggu tidur shelina, wanita itu mengerjapkan matanya. 'ah, rasanya tubuhku sangat pegal!' batin Shelina sambil merenggangkan tubuhnya dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Shelina yang belum sepenuhnya sadar mengedarkan pandangannya, sinar matahari lamgsung menyeruak masuk, begitu terang hingga mata Shelina menyipit, 'Ini hari minggu, aku bisa melanjutkan tidurku.'
Shelina kembali merebahkan badannya di sofa, tapi saat dia baru saja menutup matanya, dari luar pintu apartemennya dia mendengar suara yang amat gaduh hingga terdengar ke gendang telinganya dan mematahkan rasa kantuknya.
Dengan malas Shelina bangkit dari posisi tidurnya dan berjalan dengan gontai kearah pintu.
Click!
Kunci pintu terbuka, Shelina mengenggam kenop pintu lalu membukanya dengan perlahan, dengan mata yang setengah terpejam Shelina berkata, "Astaga Ethan, Jeremy! jika kalian sudah datang tidak perlu membuat suara gaduh di a--" ucapan Shelina terpotong, matanya membelalak melihat pemandangan di depannya.
Dimana sudah terdapat puluhan penjaga yang asing di mata Shelina, 'mereka bukan pengawal ayah.' batin Shelina mengernyit bingung, ia mengedarkan pandangannya mencari Ethan dan Jeremy, tapi Shelina tidak menemukan sosok kedua orang itu..
Yang lebih parahnya lagi, disana sudah ada seorang pria muda yang sedang memegang sebuah kartu akses di tangannya, di samping pria itu terdapat mini komputer dan perangkat hardware lainnya yang nampak asing dimata Shelina.
Pria muda itu tersenyum manis, tangannya yang memegang kartu dan sepertinya hendak membuka pintu apartemen milik Shelina, Shelina mengernyit bingung, "Kalian siapa? kenapa kau ingin masuk kedalam apartemenku?" Shelina bertanya dengan raut wajahnya yang serius, ia kembali mengedarkan pandangannya pada para pengawal itu.
Pria muda itu kembali tersenyum manis setelah mengikuti arah pandangan mata Shelina, "Kau lupa padaku? Jahat sekali, aku Rhys Cutler. Teman kuliahmu."
Shelina menatap wajah pria yang bernama Rhys itu dengan tajam, hacker sial ini benar-benar ingin membobol pintu apartement ku! Batin Shelina kesal.
"Dimana Ethan dan Jeremy, kenapa kalian bisa masuk kesini dan berbuat ulah?! apa tujuan kalian? Ingin menculik ku?" Shelina kini mulai terbawa emosinya, dia amat kesal dengan hacker itu yang menganggu privasinya dengan begitu niat hingga membuat kartu duplikatnya.
Wajah Rhys terbilang tampan dengan wajahnya yang masih seperti anak remaja 16 tahun walau umurnya sudah kepala 2, "kamu terganggu ya? Lain kali aku akan melakukannya dengan tenang tapi para pengawal bodoh ini sangat gaduh."
"BAGAIMANA CARA KALIAN KESINI? PENJAGAAN DISINI SANGAT KETAT!" Shelina berteriak dengan keras, ia kesal dengan Rhys dan para pengawalnya.
Rhys sedikit memundurkan wajahnya, dia mengangkat kedua tangannya hingga kebahu, lalu melepaskan kartu aksesnya itu, "wow, tenang dulu. aku kesini bukan dengan maksud buruk, jika kamu bertanya mengapa aku bisa masuk kesini, itu sangat mudah bagiku, hanya tinggal menghambat sistem kerja lift, mematikan beberapa cctv dilantai ini dan membuat kartu akses itu." kata Rhys dengan santai, matanya melirik kearah kartu akses 'master key' yang sudah tergeletak di lantai.
Shelina berdecak kesal, "lalu dimana para pengawal pribadiku?"
Rhys terkekeh, "terjebak di dalam lift mungkin?"
"Kalian benar-benar berniat menculik ku ya?!" Shelina menatap Rhys dengan tatapan tidak percaya, pria itu begitu merencanakannya dengan matang.
Lagi-lagi Rhys tersenyum membuat Shelina bertambah kesal melihat senyuman Rhys yang seolah-olah mengatakan 'ini bukan apa-apa' baginya.
"kamu benar, aku ingin membawamu. tapi bukan menculik mu, bos ku khawatir denganmu makanya menyuruhku untuk memeriksa keadaanmu." jelas Rhys.
Shelina berkacak pinggang, "pria bodoh mana yang ingin memeriksa keadaan ku dengan berbuat sejauh ini?!"
To be continue