Shelina memejamkan matanya, entah mengapa ia merasa nyaman saat berciuman dengan Max, tapi ia dengan cepat sadar, ia mendorong tubuh Max dengan kedua tangannya hingga ciuman mereka terlepas.
"Tuan Skyler, kenapa anda mencium saya?" Shelina bertanya sambil melirik ke kanan dan kiri, memastikan jika tidak ada yang melihat kejadian itu.
Max tersenyum miring, "Benar juga, rasanya lebih enak." kata Max tidak mendengarkan ucapan Shelina sebelumnya, Max menyentuh bibir bawah Shelina yang sedikit basah.
"Hanya aku yang boleh, kamu mengerti?" Max tersenyum melihat bibir Shelina, lalu ia kembali menarik tangannya dari bibir itu.
Shelina bergeming di tempatnya, ia menatap wajah Max dengan raut wajahnya yang bingung, "Kalau begitu, Shelina, jangan mempermalukan ku nanti malam." setelah mengatakan itu Max meninggalkan Shelina di restoran.
Tangan Shelina perlahan menyentuh bibirnya, ia masih tidak percaya dengan kejadian tadi, ciuman pertama ku!. Batin Shelina berseru.
Mungkin saja wanita itu tidak tahu jika itu bukanlah ciuman pertamanya karena terhitung sudah 3 kali Max mencium Shelina.
Shelina dan Max memiliki banyak persamaan, salah satunya, mereka lebih mementingkan karir, menyampingkan perihal cinta dan hubungan pertemanan, jadi mereka bahkan belum pernah berpacaran sekalipun.
Walau yang menyukai mereka sangat banyak, untuk Shelina yang terlalu acuh dengan sekitarnya, bahkan dia tidak menyadari berapa banyak yang mengaguminya dan menunggu sebuah kesempatan.
Sedangkan Max, menurut Max wanita yang menyukainya sangat merepotkan, jika bisa Max ingin membunuh mereka semua.
Begitu sadar dari lamunannya, Shelina bergegas keluar dari restoran itu, ia segera pergi ke sebuah butik untuk membeli sebuah gaun.
Ia mengingat perkataan Max yang memperingatinya agar tidak mempermalukan pria itu, Shelina tersenyum bangga, bagaimana mungkin dia akan malu, dia berpasangan dengan ku, lihat saja, aku pastikan aku lah wanita tercantik disana.
***
Shelina menatap dirinya di pantulan cermin, wajahnya sudah terpoles riasan wajah tipis, ia mengenakan gaun panjang berwarna putih dengan bagian belakang yang rendah sehingga menampakan punggungnya yang putih dan mulus, sedangkan di bagian bawah, gaun itu memiliki belahan panjang hingga paha Shelina terlihat.
Wanita elegan dan terlihat seksi, itu adalah tema yang ingin Shelina perlihatkan pada semua orang malam ini. Ia akan perlihatkan pada mereka jika dia bisa menjadi wanita yang seksi, bukan hanya Valerie atau para model kelas international saja yang bisa, dia pun bisa bahkan melebihi mereka semua.
Rambut Shelian di sanggul hingga lehernya terlihat, ia mengenakan sebuah kalung berwarna putih dengan liontin sederhana di lehernya, dia tidak ingin mengenakan perhiasan yang terlalu mewah malam ini, karena ia tidak ingin perhatian orang-orang tertuju pada perhiasan yang ia kenakan.
Yang harus mereka lihat adalah aura dewasa, elegan dan seksi yang Shelina tunjukan.
Shelina tersenyum puas saat merasa pakaian dan riasannya sudah sempurna, kini ia tinggal menunggu Max menjemputnya.
Dan itu tidak memakan waktu lama karena Max telah datang di butik dimana Shelina saat ini berada, Max hanya menunggu di dalam mobilnya, sedangkan supirnya lah yang menghampiri Shelina dan membukakan pintu untuk wanita itu.
Shelina masuk kedalam mobil, ia langsung merasa suasana menjadi sangat canggung disana, apalagi saat ia melirik kearah Max, pria itu dengan kakunya hanya melihat kearah notebook dan fokus bekerja.
Shelina mendengus kesal melihat kelakuan pria itu, bisa-bisanya ada pria yang bersikap dingin di dekat ku. Batin Shelina.
Shelina tersenyum miring, di kepalanya telah ada sebuah rencana, lihat saja nanti, dia yang akan memohon perhatian ku!
Max melirik kearah Shelina yang saat itu sedang memandang kearah luar jendela, Max baru sadar jika Shelina kini memakai gaun yang begitu terbuka dan menggoda, Max sampai tidak bisa mengontrol diri begitu melihat punggung dan paha Shelina yang begitu terbuka, sangat mulus dan putih.
Max mengalihkan pandangannya dari tubuh Shelina, dia tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, karena dia juga pria normal.
Menyadari ditatap oleh Max, Shelina melirik kearah pria itu, pandangan Shelina fokus kearah telinga pria itu yang tengah membelakanginya, kenapa telinganya merah?. Batin Shelina bertanya.
Tidak lama mobil pun terhenti, Shelina mengedarkan pandangannya, rupanya mereka telah sampai ke gedung pesta.
Max turun dari mobil terlebih dulu, lalu Max berjalan memutari mobil dan terhenti di dekat pintu tempat Shelina akan keluar, supirnya membukakan pintu untuk Shelina, semua kamera yang ada disana langsung menyorot sosok Shelina yang tengah keluar dari pintu mobil Max.
Mereka kaget saat mengetahui jika Maximillian Skyler membawa seorang wanita untuk datang ke pesta bersama, apalagi wanita itu adalah Shelina, dua orang most wanted itu jalan bersama, berita mana lagi yang bisa mengalahkan berita utama Maximillian Skyler berkencan dengan Shelina Resse?
Sudah dapat dipastikan berita mereka akan menjadi berita terpanas, bukan hanya sehari, tapi berita itu akan terus menjadi berita utama dalam beberapa bulan ini.
Shelina keluar dari dalam mobil dengan perlahan, tangannya langsung menyambar tangan Max yang memang sengaja pria itu ulurkan agar Shelina menggenggamnya.
Bibir Shelina langsung tersenyum begitu sudah keluar dari mobil dan berjalan di karpet merah, tangan Max yang tadinya berada di genggaman Shelina kini telah berada di pinggang wanita itu.
Shelina sempat menegang sesaat saat merasakan tangan Max yang hangat memegang pinggangnya dengan begitu erat dan mesra, wajah Max nampak datar tanpa segurat senyuman ataupun ekspresi.
Beberapa dari media meminta mereka agar berpose untuk majalah nanti, Shelina awalnya ingin menolak tapi entah ada apa dengam Max, pria itu mengiyakan perminataan dari wartawan itu, mau tidak mau Shelina pun ikut menyetujui.
Bukan hanya para media, beberapa artis papan atas dan pembisnis yang sedang naik pun ikut memandangi Max dan shelina, seakan memang sudah seharusnya Max dan Shelina menjadi pusat perhatian mereka.
Dercakan kagum, iri dan lainnya pun tidak hentinya keluar dari mulut setiap tamu yang berada disana.
"Tuan Skyler, apa anda dan nona Resse sedang berkencan? Apa anda ingin mengkonfirmasi hubungan anda, makanya kalian datang bersama? Apa itu juga alasannya nona Resse membatalkan pertunangannya dengan tuan muda Cade?" tanya wartawan itu dengan panjang lebar.
Max memandang wartawan itu dengan dingin, tangan Max masih berada di pinggang Shelina, "Bukankah kalian bisa menyimpulkannya sendiri?" jawab Max sambil berjalan menjauhi para wartawan dan mulai masuk kedalam gedung pesta.
Shelina membulatkan matanya, terkejut dengan jawaban Max yang secara tidak langsung mengiyakan pertanyaan wartawan itu, padahal hal itu sama sekali tidak benar.
To Be Continue