SKYLIGHT #08

842 Kata
Shelina berada di ruangannya, duduk sambil memainkan sebuah rubik di tangannya, walau tangannya sedang bermain, tapi pikirannya entah kemana, Shelina merasa ada yang janggal tentang insiden saat dirinya keracunan. Shelina sejak tadi tidak bisa berhenti memikirkan hal itu, lamunan Shelina terbuyar saat pintu ruangannya terbuka dengan keras secara tiba-tiba membuat dirinya segera menoleh kearah pintu. Disana Shelina melihat Lucas yang sedang terengah-engah, penampilannya begitu berantakan, sedangkan di belakangnya ada dua penjaga yang menjaga ruangan Shelina, dua penjaga itu juga terlihat kewalahan. Shelina mengangkat tangannya, mengintruksikan agar dua penjaga itu membiarkan Lucas masuk. Lucas merapihkan setelan jasnya saat tubuhnya di lepaskan oleh dua penjaga itu yang memaksanya untuk menjauh dari ruangan Shelina. Lucas melangkah kan kakinya mendekat kearah Shelina, bersamaan dengan Ethan dan Jeremy yang juga mendekat kearah Shelina untuk memberi wanita itu penjagaan. Shelina tersenyum lebar, "Ah, rupanya Lucas Cade, pasti ada hal yang kau butuhkan dari ku." Shelina menaruh rubiknya yang warnanya telah sama semua. Tangan Shelina ia taruh di atas mejanya, Lukas terlihat kesal dengan sikap Shelina, harusnya Shelina sudah tahu tujuan Lukas datang kesana, "Lepaskan Valerie, dia tidak bersalah!" kata Lukas dengan nada yang keras. Shelina terdiam, terkejut mendengar bentakan dari Lucas, itu pertama kali baginya di bentak seseorang, "Hakim yang memutuskannya! lagi pula dia masih dinyatakan tersangka utama sebelum penyilidikan selesai." kata Shelina dengan acuh tak acuh. Sebenarnya Shelina juga khawatir dengan Valerie, dia juga ragu jika Valerie yang memberinya racun, tapi jika terbukti Valerie-Lah yang meracuninya, maka Shelina tidak akan pandang bulu, dia ingin keadilan untuk dirinya, meski Valerie harus dihukum mati. "Valerie adalah wanita yang polos! Ini semua pasti hanya sandiwara mu agar kamu bisa balas dendam pada kami!!" teriak Lucas memaki Shelina, Shelina mengepalkan tangannya dengan kuat, ia menahan amarah yang kini sudah siap meledak. Bisa-bisanya Lucas menilainya begitu buruk, demi balas dendam? Nyawanya bahkan seribu kali lebih berharga dari pada balas dendam yang menyia-nyiakan waktu dan tenaga. Memang dimata Lucas Shelina wanita yang rela mempertaruhkan nyawa demi seorang laki-laki? Tidak mungkin. Shelina sangat ingin marah tapi ia mengendalikan emosinya, ia tersenyum manis, "Jadi menurutmu apa aku berhasil? Sebentar lagi Valerie akan di hukum mati, apa yang akan kau lakukan?" "Rendahan! aku akan membuat mu menderita. Menderita sampai kamu memohon kematian mu!" Lucas tidak henti-hentinya mengumpati shelina. Shelina menatap datar kearah Lucas, pria itu sangat menyebalkan. "Dari pada mengutuk diriku, lebih baik kamu memohon, mungkin dengan begitu aku bisa mempertimbangkan kebebasan Valerie." Shelina tersenyum miring. "kau pikir kamu ini siapa? aku sendiri yang akan membuktikan jika Valerie tidak bersalah!" kata Lucas, setelah itu laki-laki itu pergi meninggalkan ruangan Shelina. Shelina masih menatap lurus pintu ruangannya yang telah tertutup, ya, Buktikan jika Valerie tidak bersalah, kamu mencintainya kan. Tapi sejujurnya, hatinya sedikit sakit saat Lucas memaki-makinya seperti tadi, namun Shelina lebih memilih tidak menunjukan sisinya yang lemah itu, Shelina yakin jika dia menunjukan kesedihan dan kelemahannya, ia akan di remehkan oleh orang lain. Shelina lebih memilih menjadi wanita dingin dan sombong dari pada menjadi wanita lemah yang mengandalkan cinta dan belas kasih orang lain. Tidak lama setelah itu ponsel Shelina berdering, Shelina mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya, tapi yang menelpon adalah orang yang tidak dikenal. Shelina mengangkat telepon itu takut jika itu adalah telepon penting, mungkin mengenai penyelidikan, "Shelina Resse, dengan siapa saya bicara?" Shelina menunggu, tapi tidak ada suara dari seberang sana, saat Shelina menjauhkan ponselnya dari kepalanya berniat menutup panggilan, samar-samar Shelina mendengar sebuah suara dari ponselnya itu. Ia mengurungkan niatnya untuk mematikan sambungan telepon, "Ya? Ada perlu apa?" tanya Shelina lagi. "Tentang kesepakatan kerja sama 5 hari yang lalu, Shelina, aku menunggu di restoran tempat kita menandatangani surat itu." kata seseorang dari seberang, tangan Shelina tiba-tiba bergetar saat menyadari jika yang menghubunginya adalah Maximillian Skyler. "Jangan ikuti aku!" titah Shelina pada Jeremy dan Ethan. Wajah Shelina menjadi pucat, dengan cepat ia mengambil tas nya, dan pergi meninggalkan perusahaannya, Shelina mengendari mobilnya menuju labotarium miliknya pribadi, sial! Benar-benar belum siap. Shelina merutuki nasib sialnya, pasti tuan Skyler tidak akan membiarkan aku kali ini, sudah lewat 3 hari dan sampel pun belum jadi. Shelina menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju restoran itu, yang penting aku harus kesana tepat waktu. Begitu sampai di restoran itu, Shelina berlari dengan terburu-buru mencari ruangan yang dipesan oleh Max, nafasnya terengah-engah begitu menemukan ruangan Max. Shelina dengan cepat masuk ke ruangan itu, ia menaruh tas nya di meja, "Maaf kan aku tuan Skyler, aku baru saja siuman, setelahnya aku malah sibuk dengan penyelidikan ku, bukannya ingin melanggar perjanjian, aku mohon beri aku waktu 3 hari lagi untuk menyelesaikannya!" jelas Shelina panjang lebar dengan satu nafas. Max meletakan gelas wine nya, ia menatap Shelina cukup lama, "aku sudah tahu, tapi pasti nya anda tahu anda harus membayar denda nya?" Shelina mengangguk pelan, "Saya akan membayarnya jika anda mau memperpanjang waktu untuk saya." Katanya dengan yakin. Max tersenyum puas, "Itu yang ingin saya dengar, aku tidak butuh uangmu, aku hanya ingin kamu menjadi pasangan ku di acara pesta tahunan nanti." "A..apa?" Shelina tidak percaya dengan yang ia dengar saat ini, seorang Maximillian mengajak nya ke pesta bersama? "kenapa? Kamu menolak?" tanya Max tajam, dengan cepat Shelina menggelengkan kepalanya. "Tentu saja saya menerima persyaratan itu." Max berdiri di hadapan Shelina, tanpa Shelina duga Max mengelus wajahnya, sedangkan tangan Max yang satunya memegang pinggang Shelina. Mata Shelina membulat tatkala bibirnya dengan bibir Max bersentuhan, Maximillian menciumnya! To Be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN