LIMA BELAS

655 Kata

"Kaza, Ric. Gue suka sama Kaza." Alaric memandang Diani dalam diam dan memaksa untuk menggerakkan otot disekitar mulutnya untuk tersenyum. Saat itu juga, dia seperti berada dalam sebuah ruang kosong yang hampa. Hanya ada dirinya dan sepotong hati yang patah. Alaric hanya memusatkan pandangan matanya pada Diani. Wajah gadis itu masih merona, membuat dia terlihat seperti seekor kepiting yang baru saja direbus. Tak lama kemudian, Diani cemberut. Dia tak kunjung mendengar tanggapan dari Pria yang telah lama menjadi sahabatnya itu. "Ric, kok lo diem aja?" Diani bertanya dengan hati-hati. Gadis itu berpikir, mungkin saja Alaric ada masalah dan –sebenarnya– dia tidak mau diganggu dengan masalah sepele, seperti perasaannya. Alaric tersadar lalu sebisa mungkin untuk terlihat biasa, walaupun pad

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN