Mungkin ini adalah hari terberat gue. Setelah tadi ada rapat besar-besaran dengan para konsultan yang bikin kepala gue pusing bin mumet, gue akhirnya menyetujui usul Alaric kemarin untuk bertemu dengan Diani malam ini. Gue memilih sebuah cafe yang tidak jauh dari kantor Diani. Alasannya tentu saja agar gadis itu tidak perlu memakan waktu lama untuk bermacet-macetan seusai pulang kerja yang melelahkan. Tak berapa lama, Diani masuk. Ditemani oleh Alaric yang tatapan matanya tajam layaknya elang. Entah kenapa, gue merasa gak suka ngeliat dia sering berdua sama Diani, walaupun gue tau kalau mereka berdua hanya sekedar sahabat. Diani dan Alaric tampak mengobrol sebentar, setelahnya Alaric menuju lantai dua di cafe ini. Dengan malu-malu, Diani menghampiri gue. "Udah lama ya, Za?" kata Diani

