Aku benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini. Saat Bapak bilang bahwa mas Kaza ingin menikahiku, aku sempat merasa bahwa aku sedang berkelana di alam mimpi. Tapi, saat Ibu memelukku dan menangis, disitulah aku sadar bahwa semua ini kenyataan. "Bapak tidak bohong sama Linda, kan?" Aku bertanya hati-hati. Bapak menghela air matanya kemudian menyusul Ibu untuk memelukku. "Tidak, Nak. Bapak akan melakukan apa saja agar kamu bahagia," ucap Bapak dengan suara yang bergetar, "dan Bapak sudah bertemu dengan orangtua Kaza. Mereka setuju Linda menikah dengan Kaza." Dengan derai air mata, aku membalas pelukan kedua orangtuaku. Hidupku sepertinya mulai berarti lagi, walaupun aku merasa aku adalah wanita yang payah. Ya, karena aku jatuh hanya karena sebuah cinta. "Kamu siap-siap

