"Mas, Mas Hazmi." Suara renyah juniorku, Naura, membangunkan aku yang sempat terlelap sejenak di nurse station. Bukan maksudku sengaja ketiduran, akal sehatku tentu saja takut kalau sewaktu-waktu keluarga pasien menghampiri meja ini hanya untuk meminta ganti infus atau sekadar lapor selang oksigen lepas. Kelelahan membuatku sempat menyelam selintas ke alam bawah sadar selagi mengerjakan laporan pagi. "Ponsel Mas kayaknya bunyi deh," lanjutnya memberi informasi. Aku merogoh saku celana jeans hitamku. Memunggut ponsel pintar yang cukup tipis dari dalam sana. Benar saja, ada tiga panggilan tak terjawab dari ayah. "Kok bisa kamu mendengar suara getaran ponselku, sementara aku yang mengantonginya tidak merasakan getaran sama sekali?" tanyaku heran sambil menatapnya sekilas. Pipi putih Naur
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


