Bos yang Menjengkelkan
Cahaya lembut mentari pagi masuk dari celah-celah ventelasi jendela kamar seorang wanita muda. Dia menggeliatkan tubuhnya dengan lembut. Dengan perlahan, ia menepuk ujung bibirnya dengan tangan karena menguap terlalu besar.
Pukul tujuh lewat lima belas menit, mata gadis itu terbelalak memandang waktu yang terus berputar pada jam dinding.
“Oh my, God! Gue telat lagi!” tangan kanannya menepuk jidatnya sendiri. Ia memaksa tubuhnya untuk beranjak dari ranjang empuk dan meraih handuk, lantas mengguyur tubuhnya yang masih terasa dingin di kamar mandi.
Geraknya sangat cepat, hanya perlu waktu tidak lebih dari sepuluh menit untuk membersihkan tubuhnya yang sudah putih bersih. Setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk, ia mengenakan rok span di atas lutut dipadu dengan kemeja putih dan blezer hitam favoritnya menambah keanggunannya pagi itu.
Dengan cekatan tangannya meraih sisir lalu ia mengucir rambutnya ke atas. Merasa tidak cocok dengan penampilan rambut dikucir, ia menggulungnya menjadi sanggul sederhana. Kalau dilihat-lihat sangat mirip mbak-mbak pramugari di berbagai maskapai penerbangan. Cocok! Ia tak mau lagi merubah penampilannya. Setelah memoles wajahnya dengan sedikit make up dan lipstik merah maroon pada bibir mungilnya, ia melangkah ke luar rumah tanpa sarapan.
Tuk… tuk… tuk…!
Sepatu Pantofelnya terdengar keras menyentuh lantai. Ia nampak tak peduli ketika jalannya hampir terseok-seok, ia mempercepat langkah menuju parkiran dan memanaskan sebentar mesin mobilnya. Tidak lama, ia segera melaju di jalanan yang nampak basah diguyur hujan tadi malam.
“Sialan, si bos datang lebih awal!” wanita itu menjelingkan matanya pada salah satu mobil mewah yang tersusun rapi di parkiran kantor. Setelah memastikan mobilnya sudah terparkir dengan benar, ia bergegas naik ke lobi kantor. Langkahnya tergesa-gesa. Tuk… tuk… tuk…! Hentakan sepatu Pantofelnya masih terdengar sama. Ia naik ke lantai dua dan tiba di dalam ruangan.
“Kamu terlambat lagi?” seorang pria menyambut kedatangannya. Pria itu berdiri di depan meja sambil membuka buku laporan. Wajahnya sedikit menoleh ke arah pintu.
Clarysa Bernadeth, gadis itu merupakan manager di perusahaan milik Prima Wildan Firdaus. Ya, pria yang berdiri menyambut kedatangan Clary adalah Wildan. Wildan merupakan bos perusahaan jam tangan mewah tempat Clary bekerja yang eksistansinya sudah bertahan puluhan tahun lamanya.
Clary membungkukkan sedikit tubuhnya, ia memberi hormat pada bos besar yang telah menunggu kedatangannya sejak tadi, “Maaf, Pak!”
"Kenapa terlambat?" Clary tak menyahut, ia malah dengan santai meletakkan bawaannya di sofa.
“SAYA TANYA ALASAN KAMU TERLAMBAT ITU APA!?” nadanya sangat tinggi, Wildan menghempaskan buku laporan yang dipegangnya ke atas meja. Keras! sangat keras. Sontak saja hal itu membuat jantung Clary seakan mau copot.
“Sa…sa…saya tadi malam pulang telat, Pak. Ja… jadi terlambat bangun.” ucap Clary gugup.
“Kamu tau kan, saya tidak suka dengan orang yang tidak disiplin?!” suara Wildan sudah agak merendah, namun wajah gusarnya masih nampak terlihat. Clary hanya menggiring kemarahan Wildan dengan anggukan kecil.
Sudah hampir satu bulan Wildan berada di perusahaannya. Sejak kedatangannya beberapa waktu yang lalu, seluruh aktivitas di kantor menjadi tegang. Seluruh karyawan dituntut untuk menjunjung tinggi kedisplinan. Tak terkecuali, Clary. Meski pun wanita itu memiliki dedikasi kerja yang bagus, namun kerap kali ia datang terlambat. Apa lagi jika harus begadang hingga tengah malam. Maklum, akhir-akhir ini Clary tengah sibuk mempersiapkan rencana perkawinannya dengan Bara.
“Hari ini kerjaan kita banyak! Saya tidak mau tahu, kamu harus bereskan semua pekerjaan itu sebelum jam dua belas siang.”
“What!?” Clary menunjuk kebingungan pada tumpukan tugas yang diletakkan Wildan di atas mejanya.
“Jam satu siang nanti kita ada meeting. Sebelum jam satu, semua harus selesai.”
“Pak! Saya bukan robot. Itu… itu tidak mungkin sa….”
“Siapa bilang kamu alien? Saya tahu kamu manusia.” Wildan memotong pembicaraan Clary.
“Tidak mungkin saya kerjakan secepat itu, Pak!” seru Clary, ia tidak terima dengan perintah Wildan yang dianggapnya terlalu berlebihan.
“Itu hukuman keterlambatanmu!”
“Nggak harus gitu kali, Pak.” Clary masih menyampaikan protes.
“Hampir satu bulan saya di sini, saya hitung kamu sudah terlambat delapan kali.”
Clary terdiam, wajahnya sedikit cemberut. Ia benci sebenarnya dengan kehadiran Wildan. Entah mengapa Tuhan mengirim pemilik perusahaan semacam ini ke kantor mereka. Padahal sebelumnya, di bawah kepemimpinan Pak Bernard, semuanya baik-baik saja. Meski agak sedikit suka-suka, nyatanya Clary sukses menjadi karyawan terbaik di perusahaan itu. Tapi sejak kehadiran Wildan, semuanya menjadi berubah. Laki-laki itu semakin menghancurkan semangat Clary.
“Baik, Pak. Akan saya selesaikan.” Clary mengangguk kesal.
Setelah merasa cukup menatar Clary, Wildan melangkah keluar ruangan. Clary menarik napas lega, setidaknya ia tak lagi menelan mentah-mentah setiap ucapan yang dilontarkan oleh bosnya itu.
Sialan, pagi-pagi gue sarapan di kandang singa! gerutu Clary sambil tangannya membereskan meja yang tempak berantakan. Sudah dapat dipastikan, Wildan yang mengacak-acak meja kerjanya. Kalau aja bukan bos, udah gue tinggalin aja lo dari tadi. Biar semuanya dibereskan sendiri, diselesaikan sendiri. Lo kira enak apa jadi bawahan dibentak-bentak gini? sambungnya penuh kejengkelan.
Tak puas menggerutu, Clary memutar nyaring music disco di ruangan itu. Ia tak perlu khawatir, karena ruangan kerjanya kedap suara. Setiap kali geram pada pekerjaan, Clary akan teriak sepuasnya untuk melepas semua kepenatan yang bersarang empuk di otaknya. Dasar, wanita dengan zodiak gemini! ia akan nampak happy, meski pun sedang tertimpa masalah. Clary menikmati alunan music disco sambil sesekali menggerakkan beberapa anggota tubuhnya.
“CLARY…!!!”
Sialan. Pak bos kembali sangat cepat ke dalam ruangan. Clary terburu-buru mengecilkan suara musik yang di stelnya tadi.
“Apa-apaan kamu ini? Sejak tadi, kamu udah buat saya emosi. Kalau begini kelakuanmu, lebih baik kamu tidak masuk kerja saja hari ini. Dari pada datang, tapi buat saya naik darah!”
“Ma…maaf, Pak. Bapak jangan marah-marah dong. Pleace!” ungkap Clary dengan keberanian sambil mengacungkan kedua jarinya.
“Enteng banget kamu menjawab?” Wildan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Clary yang menampilkan senyuman datar dan terpaksa.
Clary menarik napas dalam-dalam, “Pak, saya mau resign!” entah mengapa, tiba-tiba saja wajah manis Clary seakan berubah menjadi induk singa yang siap menerkam mangsa pagi itu, “KALAU BAPAK MARAH-MARAH TERUS, SAYA AKAN RESIGN SEKARANG JUGA!” nada suara Clary tak kalah tingginya dengan nada Wildan.
“Apa?!” kepala Wildan sedikit miring dan memandang tajam pada Clary.
“Kamu nggak sedang bercanda kan?” wajah Wildan terlihat cemas. Ia sedang membayangkan akan kehilangan seorang manager cantik yang sangat pintar itu nantinya.
Persetan dengan Wildan, Clary malah meraih tas dan hendak melangkah keluar.
“Tunggu!” dengan terpaksa, Clary menghentikan langkahnya, Wildan berdiri dengan kedua tangan yang tersembunyi di saku celana, ia melangkah mendekati Clary, “DUDUK DAN SELESAIKAN PEKERJAANMU!!!” ucapnya lebih gusar sambil menunjuk ke arah meja.
Clary menjadi kaku. Ia memandang wajah bosnya dengan tatapan takut. Belum pernah sekali pun Clary dibentak oleh seorang laki-laki, kecuali di sini. Ya, di tempat kerja yang belakangan terasa seperti neraka bagi Clary. Suasana kantor yang semakin panas ini dirasakan oleh Clary semenjak kedatangan Wildan, Bos besar yang sangat menyebelkan itu.
“Aku akan membuat perhitungan denganmu saat jam makan siang nanti!” Wildan berlalu pergi sambil menutup pintu dengan keras.
Clary yang sedari tadi menjadi patung, terhenyak dan menarik bahu menahan kaget. Segera ia berjalan menuju pintu dan mengintip kepergian Wildan yang tampak berjalan begitu cepat menuruni tangga. Setelah meyakinkan kepergian Wildan, Clary kembali menutup pintu dan menarik napas lega.
Clary merungut-rungut pada tumpukan tugas yang seakan tersenyum manis mengejeknya. Hatinya masih menanggung kesal, ia benci sekali dengan kehadiran Wildan. Mentang-mentang anak pemilik perusahaan ini, seenaknya aja lo ke gue. Benci! Benci! Benci! Arrrrrrggggghhhhh! Clary memaki dirinya sendiri.
Masa bodo dengan kemarahan Wildan, Clary hanya bekerja sesuai waktu dan isi otaknya saja. Ia tak ingin memaksa diri, lagi pula kalau diselesaikan dengan tergesa-gesa pekerjaan itu belum tentu benar. Kalau pekerjaan itu salah, ia harus mengulangnya kembali. Clary benci jika harus kerja dua kali.
Ketika masih asik membereskan tugasnya, nada dering handphone Clary berbunyi. Dengan sigap ia segera meraihnya dan... Hallo, Pak Bos.
Kerjaan kamu udah beres, Lery? suara lembut di ujung telepon terdengar jelas, sudah pasti itu Wildan, suaranya terdengar kembali normal, datar dan dingin.
Sudah, Pak. Clary terpaksa berbohong. Padahal ada tiga tumpukan tugas lagi yang belum selesai. Tapi itu agak aman, karena bisa diselesaikan belakangan. Toh berkas itu tidak digunakan saat meeting nanti, jadi Clary dengan santai saja mengabaikan tugas itu.
Kamu sekarang ke lobi ya, saya tunggu di bawah. Saya mau ajak kamu makan siang.
Tumben! nggak biasanya??? batin Clary menumpuk tanya. Sudut bibirnya tersenyum kecut kedua alisnya naik lebih tinggi.
Clary! gertakan itu terdengar agak mengeras, ukuran frekuenzinya kira-kira seperempat dari nada yang didengar oleh Clary tadi pagi. Meski tak seberapa, tapi cukup membuyarkan pikiran Clary yang masih dipenuhi tanda tanya.
I... iya, bos... . dengan sigap Clary merapikan mejanya dan bergegas ke lobi kantor.
Tuk... Tuk... Tuk...!!! Hentakan sepatu pantofelnya masih sama. Tapi biramanya kali ini cukup nyaring terdengar. Clary mempercepat gerakan langkahnya. Saat tiba di lobi, ia melihat Wildan sudah menunggu di dalam mobil.
"Masuk!" Wildan membuka sedikit pintu mobil tanpa menatap Clary, ia tampak duduk manis bersama kaca mata hitamnya di kursi sopir.
Clary kembali menjadi patung untuk kedua kalinya di hadapan Wildan. Jujur! Ini akan menjadi kali pertama bagi Clary naik mobil mewah bos besarnya itu. Sejak kedatangan Wildan beberapa waktu yang lalu, Clary menahan siksaan lahir dan batin yang hebat. Di antara ribuan manager di muka bumi ini, mungkin Clary adalah salah satu atau bisa jadi satu-satunya manager yang paling tidak beruntung.
Ia seperti bekerja dengan patung yang punya setengah nyawa. Sekarang! Ya tentu saja sekarang. Sebelum kedatangan Wildan semuanya terasa aman dan damai. Capek! Kata-kata ini yang hampir setiap hari membunuh semangat Clary. Seringkali ia berfikir untuk berhenti saja. Eitz… tapi bukan hal ini yang menjadi alasan utama Clary untuk resign.
Clary tidak sadar jika ulahnya menjadi patung terpaksa membuat Wildan harus turun dan menarik pelan tubuhnya. Hampir saja ia terjatuh, karena Wildan agak sedikit memaksa menarik tubuhnya demi membuka pintu mobil. Namun dengan sigap laki-laki itu menahannya.
Clary menatap wajah Wildan yang mendekat padanya. Laki-laki keturunan Skotlandia itu ternyata sangat tampan. Hidungnya mancung, dan matanya sangat bersih bersinar. Kulitnya yang putih dan lembut terasa halus menyentuh Clary. Harum nafas Wildan yang berhembus dari rongga mulutnya sempat membuat Clary terkesan. Namun Wildan dengan cekatan meneggakan kembali tubuh mereka.
“Masuk! perintah Wildan untuk kedua kali, ia membuka lebar pintu mobil dan sedikit mendorong tubuh Clary ke dalam.
Clary tak bisa menolak, ia menjatuhkan dirinya di kursi empuk mobil Wildan, tangannya lantas segera menarik sabuk pengaman, namun Wildan dengan sigap menahan gerakan Clary.
"Biar kubantu."
“Amm… Nggak, nggk usah! Saya bisa sendiri.” Clary mendorong lembut pergelangan tangan Wildan yang hampir merangkul tubuhnya.
“Ya udah. Cekatan dikit!” perintah Wildan sambil melirik waktu pada jam tangannya.
“Sudah selesai.” Clary merapikan tempat duduknya.
Wilan memandang Clary untuk memastikan wanita yang ada disampingnya itu sudah duduk dengan aman.
"Lery, aku minta maaf soal tadi pagi."
Apa lagi sih niat patung hidup ini!? jeritan hati Clary. Manusia sekelas bos Wildan tiba-tiba saja membuat kalimat sapaan yang terdengar sangat akrab, ‘aku’.
Ini tidak mungkin! Sangat tidak mungkin.Wildan harusnya profesional. Tapi kali ini ia mengabaikan sikapnya sebagai seorang bos. Clary tak bisa menampik, laki-laki yang ada disampingnya itu tampak bersifat enjoy. Hal ini berbanding terbalik ketika berada di dalam ruangan. Entahlah, barangkali Wildan hanya berpura-pura baik saja.