Kisah Dua Sahabat

2102 Kata
"Bapak tidak perlu meminta maaf pada saya," nada Clary terdengar tidak nyaman. "Di luar jam kantor jangan panggil Bapak dong!" Wildan menjelingkan sedikit matanya pada Clary, ditambah full senyuman dengan riasan lesung pipinya yang manis membuat Clary menjadi sedikit canggung menatap pria itu. "Wil.... Wil atau Wildan, juga boleh!" "Oh... Iya, Pak." ungkap Clary, masih terbiasa dengan sapaannya. "Tuh, kan... Padahal dari tadi aku sudah panggil kamu dengan nama loh." Wildan kesal pada ucapan Clary. Harapannya, wanita itu bisa memanggilnya dengan sapaan nama juga. Nampaknya, Clary belum terbiasa dengan hal itu. Dasar, singa jantan! Lo pikir gue senang apa dimarahin tadi pagi? Lo tunggu aja pembalasan gue. Gerutu Clary dalam hati. Ia benci sebenarnya menghabiskan waktu bersama Wildan. Andai saja kesempatan hari ini  bukan permintaan atasannya yang agak aneh itu, Clary ogah menurutinya. "Kamu mau makan soto Bandung?" tanya Wildan menatap Clary. "Boleh..." diiringi anggukan kepala, Clary setuju pada ajakan Wildan. Keduanya melaju di jalan raya yang tampak agak lenggang. Wildan tak berhenti menatap wajah Clary yang tampaknya masih menyimpan kesal. Ia tahu suasana hati wanita itu, sehingga ia memutuskan untuk membayar kesalahannya karena membentak Clary tadi pagi dengan mengajaknya makan siang. “Kamu masih marah sama aku?” Clary tak bergeming dengan pertanyaan Wildan. “Oh ya, udah berapa lama kamu kerja di perusahaan itu?” Wildan mengalihkan pertanyaannya. “Udah hampir delapan tahun.” Clary menjawab singkat. “Wow…! Udah lumayan lama. Prestasi kamu pasti keren banget ya?” “Nggak juga. Hanya kebetulan,” pandangan Clary lurus ke depan. Ia tak menyadari jika bola mata Wildan sesekali menjeling ke arahnya. “Pak Bernard udah banyak cerita tentang kamu. Aku suka dengan tipe gadis pekerja keras sepertimu, udah punya pacar?” “Udah,” jawab Clary singkat. “Oh ya?! Siapa nama pacarmu?” “Bara. Sebentar lagi kami akan menikah.” “Wow… wow… wow… sudah tunangan?!” “Sudah.” “Kapan rencana mau nikah?” “Tiga bulan lagi, Pak…” “Wildan!” Wildan segera menyela ucapan Clary. Ia masih memperingatkan gadis itu untuk tidak memanggilnya dengan sapaan ‘pak’. Clary hanya mengangguk, sadar dan meralat ucapannya, “Wildan.” “Clary…” “Iya, Pak… Wil… dan,” Clary memperlahan ucapan terakhirnya karena sadar jika masih salah menyapa Wildan. Hahahhahaha Wildan menatap wajah Clary dan menertawakan kegugupan gadis itu. “Jangan gugup, dong! Santai aja.” “Nggak kok…” Clary berusaha memperbaiki posisi duduk untuk menutupi kegugupannya yang tak berhenti terjadi. Sial, gue kok jadi kikuk begini dihadapan Pak Wildan sih? Apa karena gue masih dendam sama dia? Tapi nggak… gue yakin, gue nerves. Tapi gue jadi heran, kenapa Pak Wildan jadi sok baik begini ya? Apa mungkin dia sadar kalau tadi pagi yang paling salah adalah dia? Ugh…. Kalau saja bukan bos besar, ogah gue naik mobil bareng dia. Clary menggerutu lebih panjang di dalam hati. “Aku mau, di luar kita berteman.” Wildan menyodorkan jari kelingkingnya pada Clary. “Pak Wildan serius?” Clary terperangah mengakhiri pergumulannya di dalam hati. “Aku serius, Lery. Please, jangan panggil aku ‘Pak’.” “Hmmm… kenapa saya jadi merasa ada yang berubah ya sama Bapak?” Clary mulai berani menatap Wildan. “Kamu mau kan jadi temanku?” tanpa menjawab pertanyaan Clary, Wildan mengulang permohonannya, ia kembali menyodorkan jari kelingkingnya pada Clary. “Tapi Bapak janji ya nggak akan bentak saya lagi!” Clary memohon dengan wajah cemberut. Akhirnya ia melekatkan jari kelingkingnya juga ke jari kelingking Wildan. Bukannya mengiyakan, Wildan malah tertawa lepas. “Tergantung, tergantung dari kesalahanmu.” “Yah, kok gitu sih? saya takut lo, Pak. Kalau begitu saya resign aja deh.” “Surat resign kamu mana?” “Ada sama Pak Bernard, Pak.” “Oh ya? Tapi kok Pak Bernard nggak pernah kasi ke saya.” “Masa sih?” tanya Clary tidak yakin. “Iya, coba tanya ke Pak Bernard.” “Pak, jangan main-main. Saya udah tiga kali lo mengajukan resign. Tapi belum mendapat jawaban sampai hari ini.” “Kamu juga jangan main-main sama saya.” “Maksudnya, pak?” “Kamu mau resign kan?” “Iya,” Clary mengangguk penuh semangat. Pikirnya Wildan akan menyetujui permintaannya. “Tidak! Tidak akan pernah, Clary.” “Lah, saya kan mau nikah, Pak!” “Itu urusanmu. Tetapi kami tidak akan pernah kehilangan karyawan terbaik sepertimu.” “Apaan sih? nggak lucu kali!” Clary memutar tubuhnya membelakangi Wildan. “Loh… loh… loh… . Kok jadi ngambek gitu sih?” Wildan sadar kalau Clary tak menerima ucapannya. Mereka terdiam untuk beberapa saat. “Ya udah kalau gitu kita ganti topik pembicaraan!” “Setuju!” Clary menjawab dengan semangat. Sedari tadi itu yang diharapkannya. “Ceritakan siapa kekasihmu itu!” pinta Wildan yang sebenarnya sedikit memberatkan Clary. “Nggak ada topik lain yang bisa dibahas, Pak?” Clary agak keberatan. “Ada….” “Apa?” “Masalah kerjaan barangkali? So… aku kan perlu banyak tahu tentang perusahaan itu dari kamu. Setelah begitu lama dititip sama Pak Bernard, dan papaku juga baru menyerahkan perusahaan itu ke aku, jadi….” “Jadi… saya cerita tentang kekasih saya saja, Pak?” “Loh, katanya tadi nggak mau?” “Saya malas bahas soal kerjaan. Bapak mau dengar cerita saya tentang Ba…?” “Wildan!” Wildan meralat lagi ucapan Clary, “kamu itu ya….” Wildan menggeleng-gelengkan kepalanya. Clary tak peduli dengan protes Wildan. Tampaknya, Clary lebih semangat untuk membahas Bara dan masa lalunya, daripada keduanya membahas pekerjaan yang sudah seperti di neraka bagi Clary. *** Dulu, 13 tahun yang lalu… . Clary merupakan seorang gadis kutu buku yang senang menghabiskan waktunya diperpustakaan. Meski pun suka membaca dan disebut kutu buku, penampilan Clary tidak seperti gadis kutu buku pada umumnya. Ia berpenampilan biasa saja. Bahkan sangat cantik dengan rambut yang terurai sebahu. Tidak banyak yang tahu kalau Clary suka membaca, salah satu yang mengetahui tabiat baik Clary adalah seorang laki-laki bernama Vinson. Ya, Vinson yang punya hobi basket juga merupakan ketua program ekstrakurikuler mading. Karena berkaitan dengan karya, Vinson juga sering membaca dan datang ke perpustakaan. Selain hobi berolahraga, Vinson bercita-cita menjadi seorang dokter. Meski sering bertemu dan menyapa Clary, Vinson tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berbincang lebih jauh dengan Clary. Hal itulah yang menjadi pertanyaan besar sahabatnya, Bara. Ketika mendatangi Vinson di ruang perpustakaan, Bara menatap seorang seorang siswi yang tengah asik menunduk dan membaca buku sambil mengulum permen batangan. Bara menyembunyikan tubuhnya dibalik rak buku demi bisa menatap siswi itu lebih dekat. Namun sialnya, Clary yang mengetahui ulah Bara malah melempar permen batangan yang baru saja dimasukkannya ke dalam mulut. Alhasil, permen itu pas mengenai jidat Bara. “Aduh!” Bara meringis kesakitan. Lemparan permen batangan milik Clary cukup membuat jidatnya merah. Bara segera memperbaiki baju seragamnya yang tidak rapi. Tanpa memperdulikan tatapan Clary, Bara pura-pura mengambil buku sains di atas rak. “Suka dunia astronomi?” suara Clary mengagetkan Bara. Bara refleks dan menjatuhkan buku yang dipegangnya. “Kok tau?” Bara berusaha menyembunyikan kegagapannya. “Itu!” Clary menunjuk buku astronomi yang tergeletak di lantai, tangannya masuk ke dalam saku baju dan mengambil cadangan permen batangan di situ. Ia membukanya dan melumat permen itu di hadapan Bara. “Kenapa? Kamu mau?” tanya Clary karena melihat Bara menelan ludahnya sendiri. “Eng..nggak! terima kasih.” Bara menolak tawaran Clary dengan menyodorkan kedua telapak tangannya, ia lalu memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Clary. Sialan, itu cewek ngemut permennya buat gue ngiler aja. Bara berusaha menepis pikiran jorok di otaknya. Bagaimana tidak, Clary melumat permen batang tadi dengan nikmat dihadapan Bara. Melihat bibir Clary yang sexi membuat pikiran Bara jadi ngeres. Tuh cewek benaran kutu buku apa nggak ya? Kok ada cewek kutu buku sexi macam gitu sih? tanya Bara dalam hatinya. Ah, gue tanya sama Vinson aja deh, dia pasi tahu. Bara mempercepat langkahnya mencari Vinson. “Bar… lo kemana?” Vinson melambaikan tangannya memanggil Bara yang terlihat berjalan di ujung rak buku. “Eh, Vin. Gue cariin lo dari tadi.” Bara bertemu dengan Vinson di koridor buku kimia. Segera Bara mendekati sahabatnya itu dan bertanya tentang Clary. “Cewek kutu buku yang mana sih?” Vinson belum memahami maksud Bara. “Itu loh, yang sexi. Suka ngemut permen batangan.” “Oh… Clary.” “Clary?” “Iya, Clary. Dia pinter banget loh.” “Ah, masa sih. Kok kayak bukan kutu buku gitu, ya?” “Lah, tadi lo nyebut dia kutu buku?” Vinson mengeluarkan satu buku bacaan dari dalam rak. “Ya, emang. Soalnya tadi gue lihat dia baca buku. Artinya dia kutu buku. Tapi emang benar kan dia kutu buku?” Bara jadi merasa tidak percaya pada ucapannya. “Elo ini gimana sih, Bar? Ya jelas lah dia kutu buku, pintar lagi. Makanya lo jangan di lapangan basket mulu. Otak lo juga perlu di kasi vitamin bacaan. Coba lo tiap hari datang ke perpustakaan ini, lo pasti sering ketemu dia.” “Ya juga sih.” Bara manggut-manggut. “Tapi kok gue jadi heran ya, lo naksir sama dia?” tanya Vinson penasaran. “Widih…. Sembarangan lo, Bro… . Gue tuh kesal.” Bara mengusap sisa gula-gula yang masih lengket di dahinya. “Itu… kening lo kenapa merah?” “Nah! Nah… ini ni perbuatan gadis kutu buku itu.” “Masa sih?” Vinson menatap wajah sahabatnya. “Iya, gue dilemparin permen batangan gara-gara ngintip dia baca buku.” Hahaha… . Bukannya iba, Vinson malah menertawai Bara. “Makanya, Bar. Lo jadi cowok jangan gitu-gitu amat. Nggak gentelman banget sih.” “Kok lo malah ketawa sih? yang salah kan dia!” “Ya salah lo sendiri. Ngapain ngintip cewek. Lo musti hati-hati tuh. Bisa-bisa mata lo bintilan.” “By the way… . Gue suka cara dia ngemut permen. Sexi gimana-gimana gitu ya… .” Bara bernyanyi diujung ucapannya. Buuk… . Vinson memukul pelan bahu sahabatnya itu dengan buku, “Jangan banyak menghayal. Lo beresin tuh tugas sekolah biar cepat kelar.” “Iya. Gue beresin.” Bara mengusap-usap bahunya yang terasa perih dipukul Vinson. “Ya udah, gue mau ke ruangan mading dulu. Lo mau ikut?” tanya Vinson pada Bara. “Nggak. Gue mau ke kantin aja.” “Ya udah. Gue cabut duluan ya. By the way, lo sering-sering dong datang ke perpus… . siapa tahu besok ketemu Clary lagi.” “Siap. Gue mulai semangat nih.” Jangan bilang lo benaran naksir dia. Vinson berbisik lembut ditelinga Bara, setelah sukses membuat Bara seketika menjadi patung, Vinson berlalu meninggalkan sahabatnya itu. What? Naksir dia? Iya kali. Gumam Bara di dalam hati. Lalu ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan perpustakaan. Bara tidak menyadari, di sudut rak buku Clary diam-diam menguping pembicarannya dengan Vinson. Sebetulnya, Clary tidak sengaja mendengarkan perbincangan mereka. Tadinya, ia hanya ingin mengambil satu buku bacaan tentang elektrolit saja. Namun, siapa sangka ia melihat dua sahabat itu tengah asik membicarakan dirinya. Akhirnya ia menguping saja dari sudut rak yang tidak terlihat oleh keduanya. Berrrrrrrr!!! Seseorang mengagetkan Clary dari belakang. Winda, teman sekelas Clary membawa tumpukan buku ditangannya. “Iih…! Elo ngagetin aja sih, Win.” “Lagian lo sih mikirin apa juga? Gue cari lo di meja baca, tapi nggak ada. Nggak taunya ngumpet di sini. Emang lo main petak umpet sama siapa sih?” “Gue nggak lagi main petak umpet kali. Gue Cuma mau ambil buku elektrolit. Trus… .” “Trus, liati si Bara itu kan?” “Itu Bara?” jari telunjuk Clary menunjuk pada sosok Bara yang perlahan menghilang di balik pintu. “Iya, Bara. Gue lihat tadi dia ada di sini sama Vinson.” “Elo kenal sama dia?” “Ya kenal lah, masa nggak. Makanya sekali-kali lo turun ke lapangan basket. Banyak cowok-cowok cakep di sana.” “Ih, apaan sih. Nggak penting.” “Ya penting lah, biar elo tahu siapa Bara.” “Emang lo tau dia?” “Tahu lah, Beb… . Bara tu cowok basket yang disukai banyak cewek di sekolah ini.” “Serius lo?” “Ya, iya lah serius, dua rius, tiga rius, em… .” “Stop!” Clary menutup telinganya. “Serius gue. Bara itu ganteng.” Winda merem-merem sendiri menahan malu. “Dasar cewek murahan!” Clary berlalu meninggalkan sahabatnya yang masih tersenyum-senyum sendirian.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN