Satu bulan kemudian….
“Serius?! lo kira gue bukan cewek kutu buku?”
“Iya, serius! Gue sampai nanyain lo sama Vinson.”
“Gue ada nguping kok waktu itu.”
“Hah?! Serius?” Bara menyedot es campur dihadapannya. Hampir saja ia tersedak mendengar penuturan Clary.
“Ya, gue waktu itu ngumpet dibalik rak buku. Lo tega sih ngomongin gue. Parah!”
“Hahaha…. Serius gue nggak nyangka ketemu lo hari itu. Tapi gimana, lo pertama kali suka gue nggak?”
“Jujur, hari pertama ketemu lo gue jengkel. Elo gangguin gue sih hari itu.” Clary merungut kesal.
“Ya, bukan gangguin. Habis lo sexi banget. Sumpah! Gue sampai nelan liur pas liat lo ngemut permen.”
“Ih… . Lo gila sih. Parah emang. Nggak bisa dibiarin nih.” Clary pura-pura menyingsingkan lengan bajunya.
“Ups… jangan gitu dong, Sayang. Please… Sayang… Sayang. Jangan gitu!” Bara menolak kepalan tangan Cary yang mengarah padanya.
“Jadi lo ngaku ndak kalau lo mata keranjang waktu itu?”
“Bukan! Gue bukan mata keranjang, semua itu salah lo juga sih, pakai rok diatas lutut. Lo kira perpustakaan itu mall?”
“Salah lo juga sih punya mata nggak di jaga.”
“Salah lo! Lo mah parah banget, buat gue naksir sampai detik ini.”
“Beneran?” Clary mendekatkan wajahnya pada Bara.
“Serius, Sayang. Lo cantik banget, sexi juga!”
“Tuh, kan… . Lo mah giliran lihat yang sexi cepat.” Clary menarik kembali wajahnya dan menghempaskan tubuhnya pada kursi.
“Sayang, gue besok sore ada turnamen. Lo ikutan nonton ya?”
“Hmm… . gue tanya bibi di rumah dulu ya. Boleh nggak gue pergi.”
“Bibi? Emang lo tinggal sama siapa?”
“Gue tinggal sama bibi yang merawat gue dari kecil.”
“Oh, ya? Orangtua lo di mana?”
“Papa Mama gue udah meninggal.”
“Serius, Sayang?”
“Iya. Gue masih trauma dengan kejadian itu.”
“Maaf, orang tua lo meninggal karena apa?”
Clary terdiam.
“Kecelakaan?” Bara mencoba menebak, Clary menggeleng pelan. Wajahnya yang ceria tiba-tiba menjadi tampak lesu. Bara tak tega sebenarnya mengungkapkan masa lalu Clary.
“Papa Mama gue dibunuh depkoleptor.”
“What?!”
“Ya. Kata orang itu, Papa Mama punya tumpukan hutang di mana-mana. Sejak Papa bangkrut, ekonomi keluarga kami parah banget. Kalau ingat kejadian itu gue sedih, Bar.” Clary mengelap air mata yang meleleh di pipinya.
“Gue sedih ka…re…na Papa Mama me…ninggalkan gue sa…tu-satunya. Tanpa saudara… tanpa keluarga dan… cuma Bibi yang setia menjaga gue dari kecil sampai sekarang. Bibi dan keluarganya udah nganggap gue anak. Bahkan gue juga di sekolahin di sini sama mereka. Semua keluarga Papa… Mama… menolak kehadiran gue. Katanya gue bawa sial untuk keluarga mereka...” Clary tersedu-sedu dalam tangisannya.
“Gue juga ikutan sedih, Sayang. Lo yang sabar ya. Akan ada orang yang tulus mencintai dan melindungi lo kemudian hari. Lo harus percaya sama gue. Lo akan menjadi istri gue nantinya. Gue nggak akan membiarkan lo hidup sendiri.” Bara mengusap lembut kepala Clary, lalu mengecup kening gadis itu dengan lembut.
“Trima kasih ya, Bar. Gue senang temanan sama lo. Setidaknya gue selalu merasa happy setiap hari.”
“Gue juga senang sama elo. Elo tuh beda dari cewek pada umumnya. Udah cantik, sexi, pintar lagi. Lo emang cewek idaman gue banget.” Puji Bara pada Clary.
“Eh! Itu Vinson.” Clary menunjuk ke salah satu meja di pojok kantin.
“Vin…. Sini!” Bara melambaikan tangannya pada Vinson, ketua program mading di sekolah itu pun berjalan mendekti mereka.
“Gue nggak ganggu lo berdua kan?” tanya Vinson sambil meletakkan mangkok baksonya di atas meja.
“Ya nggak lah, Bro. Gue malah kasihan lo duduk sendiri di sana.”
“Kak Vinson nggak barengan sama kawan ke kantin?” Clary meraih kotak tissue lalu menyerahkannya kepada Vinson karena kuah bakso Vinson tadi sedikit tumpah di atas meja.
“Gue nggak punya kawan selain pacar lo itu, Cla.” Vinson menoleh ke arah Bara.
“Oh, ya?” Clary ikut tersenyum ketika melihat Bara senyam senyum sendiri.
“Sejak pacaran sama Lo, gue ditinggalin terus. Kemana-mana gue sendiri.”
“Hahaha…. Tega banget sih lo, Sayang?” Clary mencubit pinggang Bara.
“Ya, nggak gitu juga sih, Vin. Seandainya elo ngerasa sendiri, lo bisa kok gabung sama kita. Lagian aktivitas kita kalau nggak di lapangan basket, ya di perpustakaan, kalau laper ya di kantin. Nggak kemana-mana kok.”
“Iya tuh, Kak Vin.” Clary terbiasa memanggil Vinson dengan sapaan Kakak. Sementara Vinson, ketua program mading itu malah menjadi satu-satunya orang yang menyapa Clary dengan panggilan ‘Cla’.
***
Wildan tampak fokus mendengar cerita Clary. Wildan salut dengan semangat dan ingatan Clary yang kuat, mengenang masa lalunya.
“Jadi, Bara sahabatan sama Vinson dan kamu sahabatan sama Winda?” tanya Wildan penasaran.
“Iya?” Clary mengangguk sambil tersenyum.
“Terus… . aku yakin, kalian pasti saling berpasangan.”
“Nggak. Winda sekarang sudah menikah. Kalau Vinson, akun nggak tahu dia dimana.”
“Serius? Emang nggak saling tanya kabar?”
“Nggak.” Clary menggeleng pelan.
“Minim komunikasi banget sih.”
“Ya, nggak gitu juga sih. Saya orangnya emang nggak mau peduli. Usia udah tua. Bukannya melupakan teman lama sih. Tapi, saya sekarang hanya mau fokus ke pernikahan. Toh nanti saat nikah saya dan Bara juga bakalan ngundang teman-teman SMA kami dulu.”
“Iya juga sih. Aku setuju sama kamu. Eh, kita udah sampai.”
Wildan memarkirkan mobilnya dengan rapi. Keduanya lantas turun dari mobil dan melangkah ke dalam rumah makan soto yang terkenal di Bandung.
"Soto di sini enak. Aku lebih suka soto ayam kampung." Wildan asyik memilih-milih makanan yang ada di daftar menu, "kamu mau yang mana, Lery?" ia menyodorkan daftar menu pada Clary.
Gue juga suka itu! Clary berbisik dalam hatinya sendiri. "Samain aja deh!" ungkapnya kemudian.
“Benar nih disamain?”
“Tujuan kita ke sini mau makan soto kan?” Clary membalikkan pertanyaan ke Wildan.
“Hmm… iya juga sih. Ya udah. Aku pesan ya,” disertai anggukan Clary, Wildan melambaikan tangannya pada waiters yang menoleh pada mereka.
"Soto ayamnya dua, Mbak. Air mineralnya juga dua."
"Baik, Kang." sapa waiters dengan ramah, tangannya mengayun lembut ganggang pulpen di atas kertas. Ia sedang menulis pesanan mereka. Setelah waiters berlalu, Wildan kembali menatap Clary.
"Lery!"
"Am... a... Iya..."
"Kamu masih marah padaku?" Wildan mengulang kalimatnya, Clary hanya menggeleng pelan.
“Aku minta maaf soal tadi pagi.” Wildan menyodorkan tangannya pada Clary.
Duh Gusti, kalau aja loe tau gue ini paling benci di bentak... gejolak batin Clary nampak dari ekspresi wajahnya yang masih menyembunyikan rasa tidak sukanya pada Wildan.
"Kamu nggak suka dibentak ya?"
"Kok tau?" tak sengaja, Clary mengeluarkan isi batinnya. Sial! Laki-laki ini membaca dengan tepat isi pikiran gue. Clary membuang wajahnya ke samping.
"Ya tau dong... Hahaha," tiba-tiba saja Wildan tertawa renyah, ia lantas mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.
What?! Apa-apaan ini? Wildan merokok? Kesekian kalinya Clary bertanya dalam hatinya sendiri.
"Aku boleh sambil ngasap kan?" tanyanya sambil memainkan puntung rokok di jari tangannya.
Teeek...! Belum sempat Clary menjawab, ia sudah memantikkan korek api. Seketika kepulan asap pertama membumbung tebal di udara.
"Kenapa?" Wildan melambaikan telapak tangannya di wajah Clary. Sementara mata Clary melotot seakan tak percaya, ia terus menatap pria yang ada di hadapannya. Wildan yang ada di depannya sekarang nampaknya bukan Wildan yang ia kenal di dalam ruangan. Agak aneh memang.
"Bapak meroo....?! Uhuk...uhukkk!" Clary tersedak karena sedari tadi menghirup asap rokok.
"Minum... !" Wildan menyodorkan air mineral pada Clary.
Bak petir menyambar di siang bolong, Clary segera menyambar botol air minum pemberian Wildan. Guk...guk...guk... ! ia meneguk dengan cepat air mineral ukuran 150 mil itu.
"Udah minumnya?" tanya Wildan pada Clary, ia tahu wanita itu masih ingin menghabiskan minuman di dalam botol itu. “habisin aja!” perintahnya pada Clary.
Tak peduli pada Wildan, Clary memang langsung menghabiskan minuman itu. Ia tidak sadar jika air yang diminumnya bekas tegukan Wildan sebelumnya. Ya, botol air mineral itu Wildan bawa dari mobil tadinya. Persetan! Rasa airnya masih manis bagi Clary.
“Ka..kamu kamu berubah, Wil.”
“Berubah gimana?”
“Itu, kamu merokok! Tiga minggu kenal kamu aku lihat kamu bukan seperti ini.” Clary tiba-tiba menjadi santai berbicara dengan Wildan dengan menyebut ‘aku’.
“Eh, aku memang begini loh, Lery. Kamu aja baru tahu.”
“Ya, aku kan nggak pernah barengan kamu selain urusan pekerjaan….”
“Saat kerja harus profesional dong.” Wildan segera memotong pembicaraan Clary.
Profesional apaan? Gue habis lo bentak tadi pagi. Dasar singa jantan! Clary tak berhenti memaki kajadian tadi pagi.
“Sebenarnya nggak ada yang berubah sih. Ini lah aku yang sebenarnya. Aku yang hidup penuh dengan kebebasanku sendiri.” Wildan mengepulkan asap rokoknya untuk kesekian kalinya, lalu menghembuskannya di udara bebas.
“Tapi… tapi kok di kantor kamu sangat dingin? Uhuk… k.” Clary batuk kecil di ujung ucapannya.
Melihat Clary hampir batuk lagi, Wildan segera menjatuhkan puntung rokoknya yang tersisa setengah di bawah meja. Ujung sepatunya bergerak pelan, menginjak puntung rokok itu sampai lumat.
"Kamu heran dengan sikapku sekarang yang berbeda saat ada di dalam ruangan?" Wildan mendekatkan wajahnya pada Clary. Aroma manis tembakau masih tercium di ujung bibir Wildan yang saat itu berjarak hanya lima centi meter dari wajah Clary. Sementara Clary, wanita itu tak bergeming.
“Aku hanya menguji kesabaranmu saja.”
Gila! Lo pikir dengan makian lo tadi pagi gue bisa sabar? Dasar pemegang kunci neraka. Lo tunggu pembalasan gue. Clary merasa geram dan menggerutu di dalam hati. Eh, tapi kok aroma napas Wildan malah membuat Clary suka. Ia memejamkan matanya lalu menghirup napas Wildan. Clary jadi menghayal Wildan tiba-tiba menjadi pria yang baik. Cukup lama Clary menghayal, sampai ia lupa jika soto pesanan mereka sudah sampai di atas meja.
“Ler… Lery!” Wildan mengibas-ngibas tangannya di wajah Clary. “Lery!” terpaksa Wildan menepuk pelan bahu Clary.
“Eh… mmm… kamu ngomong apa tadi?” tanya Clary gugup.
“Nggak… aku nggak ngomong apa-apa. Aku tadi Cuma mau bilang mulut kamu kenapa monyong-monyong kayak minta cium. Kamu pikir aku dekatin wajah kamu biar bisa kamu cium gitu?”
“Ih… jangan sembarangan ya. Aku nggak gitu kali.” wajah Clary merah merona menahan malu. Apa benar mulutnya monyong seperti yang Wildan maksud? Persetan ah, laki-laki itu nggak seberapa hebat dibanding Bara.
“Tuh, sotonya udah siap. Makan dulu!”
Clary menoleh pada jam ditanganya, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, “Lah… kita kan mau meeting?”
“Siapa bilang?” tanya Wildan sambil mencicip kuah soto yang baru saja ditaburi kecap manis.
“Kamu?!”
“Ah, nggak!”
“Ngak? Lupa ya tadi pagi marah-marahin saya, trus maksa saya buat nyelesaian tumpukan tugas yang isinya segunung demi ngejar meeting di siang hari?”
“Makan dulu sotonya! Ntar keburu dingin.” adem sekali suara Wildan.
“Saya udah nggak selera jadinya.”
“Nggak ada meeting, Lery. Kamu aja yang baperan tadi pagi. Kalau pun ada berkas yang perlu dibawa saat meeting, aku nggak akan biarkan kamu kerja sendiri.”
“Jadi?”
“Ya, emang nggak ada meeting.”
“Bisa ya Bapak gitu sama saya?”
“Saya kan nguji kesabaran kamu, Clary!”
“Jadi Bapak nggak percaya sama dedikasi saya?”
“Percaya.” keduanya terdiam dan masing-masing menghabiskan porsi soto yang dihidangkan dihadapan mereka.
Setelah makan, Wildan kembali merokok. Ia tak memperdulikan Clary yang masih batuk ketika menghirup asap rokok yang dihembuskan dari lubang hidungnya.
“Oh, ya. Kamu cerita lagi dong, gimana kamu jadi bisa pacaran sama Bara. Tadi kan belum selesai.”
“Emm… saya nggak enak sama Bapak.”
“Loh, saya kan harus tahu banyak tentang kamu.”
“Bapak serius mau lanjut dengerin cerita saya?”
Clary tak yakin bisa cerita banyak ke Wildan. Tapi jika melihat ekspresi wajah pria yang menyebelkan itu, Clary bisa saja meluruskan permintaan Wildan. Yang penting lak-laki itu tak mengusiknya soal kerjaan. Kalau membahas soal kerjaan terus, Clary bisa gila nantinya.