“Jadi, lo udah pacaran sama Clary?” Vinson memasukkan botol minuman ke saku ranselnya.
“Hmmm… udah dong. Malam minggu nanti kita kan ada turnamen basket, gue mau ajak Clary nonton.”
“Emangnya, Clary mau?”
“Ya mesti mau dong. Kan gue pacarnya sekarang. Jadi apa-apa dia mesti nurut sama gue.”
“Songong banget lo!” Vinson merapikan tali ransel di bahunya.
“Harus!”
“Ya udah. Semoga hubungan lo berdua langgeng ya. Ingat jangan pernah nyakitin Clary.” Vinson menepuk lembut pundak sahabatnya.
“Lo tenang aja, Clary pilihan hati gue, Vin. Gue nggak akan pernah nyakitin dia.”
“Gue yakin sama lo, Bar. Ya udah… gue cabut duluan ya. Sampai jumpa besok.” Vinson menarik tali ransel yang ia selempangkan di kedua pundaknya.
“Oke, lo hati-hati ya.”
“Sip.” Vinson melangkahkan kakinya meninggalkan Bara yang masih sibuk membereskan atribut setelah mereka latihan basket tadi.
Seperti biasa, Vinson selalu mendatangi bestcamp mading. Ia harus mengontrol aktivitas rekannya di sana. Bukan karena tidak mempercayai kinerja rekan-rekannya, tetapi Vinson sebagai ketua program mading, Vinson juga harus menyetujui semua karya yang akan dipampangkan di papan mading.
Sesampainya di sana, ia melihat rekan-rekannya sedang asik dengan aktivitasnya masing-masing.
“Hey, Vin. Udah selesai latihannya?” Amel, bendahara mading bertanya pada Vinson.
“Udah. Gue mampir bentar aja ya, setelah ini gue mau langsung pamit. Soalnya bokap gue mau ajak berangkat ke luar kota besok. Jadi gue harus siap-siap lebih awal malam ini.”
“Wah, enak banget ya yang bisa weekand bareng keluarga.”
“Ya, ini program rutin bokap gue. Kami mau pulang ke kampung Eyang. Kebetulan kampung Eyang nggak jauh kok.”
“O… gitu. Oh ya, Vin. Tadi kita udah seleksi hasil karya anak-anak. Sudah beberapa yang kami filter dan terpaksa kita minta di revisi pada yang punya karya.”
“Hmmm… emangnya karya mereka kenapa sampai harus direvisi?” Vinson meletakkan ranselnya dan segera duduk di antara rekan-rekannya yang lain.
“Gini nih, yang ini mau upload berita seputar sekolah. Tapi kesannya seperti mengkampanyekan siswa lain untuk ikut membenci salah satu guru. Kan nggak baik ya?” seorang siswa perempuan mencoba menjelaskan kepada Vinson sambil menunjukkan hasil karya yang dimaksud.
“Hmm... trus?” Vinson meraih karya yang disodorkan rekannya dan berusaha untuk memahami isi karya tersebut.
“Nah, kalau yang ini, puisinya ambur radul. Tata bahasanya masih berantakan.”
“Oh, ya?” Vinson menoleh pada rekannya yang sedang berbicara.
“Iya, Vin. Kebanyakan karya yang kita terima bahasanya kurang pas. Padahal tujuan karyanya udah bagus lo.”
“Tapi kan mereka bisa diajarkan PUEBI atau EYD yang baik. Kalau mereka udah belajar tentang tata cara kepenulisan, belakangan mereka pasti bisa punya karya yang bagus. Jadi kita nggak perlu repot-repot lagi ngoreksi dan editing. Ya, kan?”
“Sebenarnya kita sudah mencanangkan program mentoring kelas menulis, Vin. Cuman sementara dalam waktu dekat kita perlu persetujuan dari lo lagi sebagai ketua. Kalau lo izinin sesegera mungkin kita bisa laksanakan.”
“Oh ya? Boleh. Kapan itu bisa terlaksana?”
“Setelah mendapat mandat dari lo, Vin.”
“Oke, gue setuju.” Vinson mengetuk tiga kali lantai bascamp sebagai tanda keputusan.
“Nah, masalahnya tadi, kita masih bingung buat nentuin siapa mentor yang cocok buat membimbing kelas menulis tersebut.”
“Kriteria mentor yang dimaksud seperti apa?”
“Mentor yang baik sih menurut gue yang punya jam terbang membaca lebih tinggi, artinya kutu buku dan skill menulisnya juga nggak diragukan lagi. Cuma kita belum menemukan orangnya.”
Semua anggota mading yang ada di dalam ruangan tampak memutar otak mencari solusi. Ada yang mengetuk-ngetuk pulpen di sudut bibir, ada pula yang mengacak-acak rambutnya tanda kebingungan.
“Clary!”
“What?! Clary si kutu buku itu?”
“Ya.” Vinson mengangguk pelan.
“Lo yakin rekomended dia, Vin?”
“Loh, bukannya lo pada udah tau skill menulisnya seperti apa?” mata Vinson menjeling satu per satu menatap rekan-rekannya.
“Benar juga sih. Setiap karya Clary yang masuk selalu lolos seleksi dari kita, tanpa editing lagi. Trus, dia juga udah beberapa kali menang lomba menulis di luar sekolah.”
“Nah. Ketemu kan?” Vinson memetik kedua jarinya.
“Oke, bungkus!” salah satu anggota langsung menyetujui.
“Ya udah, kalau gitu gue pamit dulu ya… sampai jumpa pekan depan.”
“Oke deh, Vin. Lo hati-hati ya.”
“Oh ya, Vin. Lo kan biasa ketemu Clary di perpustakaan, ntar lo aja yang kasi tau dia ya kalau kita minta dia untuk terlibat di program kita.” sekretaris mading memberi perintah pada Vinson.
“Oke. Ntar gue kasi tau dia.”
“Sip. Ya udah, lo hati-hati di jalan!” ucapnya kembali.
“Siap. Gue pamit dulu ya. See you team.”
“Bye…bye…. ” seluruh rekan Vinson mengucap salam kompak.
***
Clary duduk di halte. Ia menaikkan satu kakinya ke atas tempat duduk. Seperti biasa ia santai membaca buku sambil melumat permen batangan. Ia tak peduli pada kendaraan yang lalu lalang dan orang-orang yang memperhatikannya. Ia tetap fokus pada bacaan di tangannya.
“Cla!” saking fokusnya membaca, Clary tak menggubris suara yang memanggil namanya.
Husst… hust! Vinson berdiri di hadapan Clary, tangannya melambai tepat di depan wajah Clary.
“Eh, Kak Vinson.” Clary segera meletakkan buku bacaannya.
“Fokus banget sih bacanya?” tanya Vinson sambil meletakkan ranselnya di tempat duduk.
“Nggak juga sih, Kak. Gue bosen aja nungguin Mang Dodi datang.”
“Iya juga sih.”
“Kakak belum pulang?”
“Tadinya mau pulang. Pas sampai depan, gue lihat lo sendirian di sini. Makanya gue singgah. Sekalian gue mau nyampaikan sesuatu.”
“Oh, ya? Tentang apa kak?”
“Ini, anak-anak mading minta lo jadi mentor di kelas menulis.”
“Oh ya!? Kok gue sih, Kak? Apa nggak ada yang lain?”
“Menurut gue nggak ada yang lain, Cla. Anak-anak mading juga udah setuju tentang ini.”
“Hmmm…. Gue pikir-pikir dulu ya, Kak.”
“Wah, jangan gitu dong, Cla. Gue berharap banget lo bisa bantu program mading sekolah.”
“Iya juga sih, Kak. Cuma, gue kesusahan kalau harus pulang kesorean begini. Apa lagi jika Mang Dodi nggak narik.”
“Mang Dodi?”
“Iya, Mang Dodi yang sopir angkot ke blog C. Gue kan nggak ada kendaraan buat pergi dan pulang sekolah selain menunggu angkot.”
“Hmm… jadi gitu ya?”
“Iya, Kak. Makanya gue agak kesusahan kalau harus mengatur waktu sampai sore di sekolah.”
“Tapi…. Lo kan pacaran sama Bara kenapa Bara nggak anterin lo pulang?”
“Kak Bara kan harus fokus dengan latihan basket. Gue nggak mau ngerepotin dia.”
“Gitu, ya?” Vinson manggut-manggut sendiri, “udah deh, masalah kendaraan lo tenang aja. Ntar gue minta salah satu dari anak mading cewek yang punya kendaraan buat anterin lo pulang kalau emang program kita acaranya sampai sore.”
“Kalau nggak ngerepotin boleh sih, Kak.” Clary meraih buku yang tadi dibacanya lalu memasukkan buku itu ke dalam tas. Ia melirik jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
Vinson memandang wajah Clary yang nampak sudah gelisah. Ia berniat sekali untuk mengantar Clary pulang. Namun, gadis kutu buku itu tetap menolak.
“Nggak apa, Kak. Gue tunggu aja sampai jam lima.”
“Gimana kalau sampai jam lima angkotnya belum lewat?”
“Gue pernah pulang jam tujuh malam, Kak. Ada bus yang lewat jam segitu.”
“Serius?!” tanya Vinson hampir tak mempercayai ucapan Clary.
“Iya. Serius, Kak.”
“Ya kalau lo mau naik motor butut gue ini sih. Ayuk…. Gue siap anterin.”
“Gue nggak milih, Kak. Cuma kasihan kalau nanti Kak Vinson harus mutar arah lagi.”
“Iya, juga sih…. rumah gue ke arah sana.” Vinson menunjuk arah menuju rumahnya.
Kiiiikkkkk…!
Suara klakson mobil memecahkan obrolan Clary dan Vinson. Seseorang membuka sedikit kaca mobilnya.
“Eh, nih panjang umur sahabat gue.” Vinson menepuk kedua telapak tangannya.
“Vin, Lery. Loe berdua ngapain?” Bara keluar dari dalam mobil.
“Kak Bara…. Ini tadi Kak Vinson nyamperin gue. Mau nawarin kerjasama program mading.”
“Oh, ya?!” Bara memandang ke wajah Vinson. Laki-laki calm itu malah tampak asik mengibas-ibaskan debu yang melekat di sepatu hitamnya.
“Iya, tadi pas gue keluar gerbang, mau jalan pulang. Eh nggak sengaja lihat Clary lagi duduk di sini ya udah gue samperin sambil nawarin kerjasama dengan dia. Kebetulan hari udah hampir sore nih, Clary nggak mau dianterin pakai motor butut gue.”
Hahahahahaha. Bara tertawa lebar. Ia tahu sahabatnya itu bukan orang miskin. Vinson sengaja berangkat ke sekolah dengan menggunakan motor butut kesayangannya. Lagi pula rumah Vinson juga sangat dekat dengan sekolah.
“Lo mah ngetawain kemiskinan gue mulu. Kan malu sama Clary.” Vinson meraih tas lalu beranjak menuju motor buntutnya.
“Kak…. Maaf, bukan maksud gue nggak mau di anterin karena lo pakai motor butut!” tiba-tiba Clary merasa bersalah.
“Udah, biarin aja.” Bara menahan pergelangan tangan Clary.
“Gue pamit ya, Bar.” Vinson menarik starter motornya dan tancap gas meninggalkan Bara dan Clary.
“Tapi gue nggak enak, Kak. Seolah gue nggak menghargai kebaikan Kak Vinson.” Clary menatap kesal dengan kepergian Vinson.
“Ternyata lo itu polos banget ya, Lery. Gue makin cinta jadinya sama lo.”
“Maksud Kak Bara?”
“Panggil gue, Mas! Pleace, gue pacar lo sekarang.”
“Emang kalau pacaran harus panggil, Mas. Gitu ya?”
“Ya, nggak juga sih. Mungkin lo masih canggung panggil gue dengan sapaan sayang.”
“Kak!”
“Mas!”
“Eh, iya, Mas Bara. Kak Vinson tadi marah nggak ya?”
“Ya nggak lah, Lery. Vinson itu orang baik.”
“Gue takut dia tersinggung.”
“Nggak lah, Vinson itu bukan orang miskin kok. Cuma dia memang punya gaya yang sederhana gitu. Selain rumahnya dekat, dia juga sebenarnya anak seorang dokter.”
“Lo serius?”
“Ya, gitu deh. By the way, mau gue anterin?” Clary terdiam, “ayolah, nggak usah banyak mikir. Lo tinggal di blog C kan?”
Clary mengangguk, tangannya meraih tas yang dari tadi ia letakkan di kursi halte. Bara melangkah sedikit cepat di depan Clary. Ia membuka pintu mobil dan memastikan pujaan hatinya itu sudah duduk manis di dalam mobil.
Clary agak sedikit kikuk dihadapan Bara. Padahal, di awal pertemuan keduanya, Clary mampu membuat Bara lari ketakutan. Entahlah, barangkali soal cinta dan perasaanlah yang mampu membuat keduanya diam dalam seribu kata di hati.