Pertolongan Wildan

1817 Kata
Wildan menatap lekat wajah Clary. Ia terkesima pada wajah cantik gadis dihadapannya. Clary dengan polos menceritakan pertemuannya dengan Bara. Meski hanya sebagai pendengar, Wildan dapat merasakan perjuangan Clary selama ini. “Jadi, kamu berencana untuk resign karena akan menikah?” Clary mengangguk. “Saya tahu, kamu merupakan karyawan terbaik. Itu sebabnya saya mempertahankan kamu untuk bekerja di perusahaan ini.” Clary mendengus kesal. Tidak seharusnya seseorang menahan haknya untuk resign. “Saya tak punya banyak waktu untuk mempersiapkan pernikahan saya, Pak.” “Wildan.” “Iya, Wil…. dan.” “Bara tidak membantumu?” “Nggak. Bara masih sibuk ngurus perusahaannya. Dua minggu lagi dia akan datang ke sini.” “Ya udah, nanti kalau kamu butuh bantuan saya temanin ya. Sekalian saya juga perlu belajar cara persiapan pernikahan ala Indonesia.” “Nggak usah repot, Wil. saya sudah terbiasa sendiri.” “Beneran kamu sanggup sendiri?” Clary menyedot sisa minuman dalam gelas. Ia sama sekali tak memerlukan bantuan Wildan. Tapi, jika laki-laki itu sungguh ingin membantu, Clary pun tak bisa menolak. “Udah hampir sore, yuk kita pulang!” Wildan mengandeng tangan gadis disampingnya. Clary sempat kikuk. Tapi, ia nurut saja. Clary harus membiasakan diri untuk menerima kehadiran Wildan. Lagi pula, Clary dapat menangkap sikap Wildan yang tampak baik padanya. “Hari ini kamu mau mempersiapkan apa?” “Aku mau ketemu owner wedding organizer, Wil.” “Saya ikut, ya?” “Kamu nggak sibuk?” Wildan terkekeh. Tentu saja ia tak akan sibuk. Wildan sangat senang jika bisa membantu Clary. “Saya antar.” “Ya udah, ntar malam jam tujuh, bapak jemput saya.” Clary masih patuh menyapa Wildan dengan panggilan Bapak. “Siap.” Wildan membelokkan mobil memasuki area kantor. Tak lupa Clary berterima kasih pada Wildan yang sudah mentraktirnya makan soto. “Nanti malam tunggu saya ya, Cla.” Diiring anggukan, Clary melangkah ke dalam. Clary bernapas lega saat tiba di dalam ruangan. Setidaknya rencana meeting hari ini batal. Dengan demikian, Clary masih punya waktu untuk membereskan semua pekerjaannya. Sayang, kamu sudah pulang dari kantor? Clary membaca pesan Bara di layar ponselnya. Belum, Sayang. Nanti malam aku mau ketemu owner Wedding Organizer. Perginya malam hari? Ada yang bisa temanin? Oh ya, aku belum cerita sama kamu. Kalau kantor lagi kedatangan bos sejak satu bulan yang lalu. Nanti malam aku ditemani sama Pak Wildan. Syukurlah. Aku khawatir jika kamu pergi sendiri. Maafkan aku, Sayang. Belum bisa menemanimu di sana. Ntar, kapan-kapan ajak aku bertemu dengan bos kamu ya. Dia pasti orang baik. Iya, Sayang. Dua minggu lagi kamu jadi datang ke sini? Jadi, sayang. Mungkin akan dimajukan pekan depan. Ya udah. Ntar aku ajak kamu ketemu sama Pak Wildan, ya. Pak bos sangat baik. Ramah lagi. dia mau mengantarku ke wedding organizer karena ingin belajar persiapan pernikahan ala Indonesia. Begitu katanya, Ya udah, tidak apa-apa. Ntar malam hati-hati ya perginya. Jangan pulang larut malam. Iya, Sayang. See you. See you too, Honey. Clary segera membereskan pekerjaan yang masih tertunda. Ia tak ingin lagi mengulur waktu untuk segera pulang. Meski harus terburu-buru, Clary menyandarkan pundak di kursi empuk. Ia menarik napas lega karena semua pekerjaannya beres sore itu. Menjelang malam, Clary mempersiapkan diri. Memoles wajahnya dengan sedikit make up. Ia tak ingin berpenampilan norak. Lagi pula, wajah Clary memang sudah anggun dari sono-nya. Wildan selalu tepat waktu. Sebelum pukul tujuh, ia sudah sampai di apartemen Clary. Laki-laki itu berpakaian santai. Hanya mengenakan celana pendek, kaos oblong dan menutup kepalanya dengan topi. “Kamu udah siap, Cla?” “Sebentar ya. Saya mau ambil berkas di dalam kamar.” Wildan hanya mengangguk, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia memandang beberapa foto yang terpampang di dinding ruang tamu. Tampak kemesraan Clary dengan beberapa teman prianya. “Bapak lihat apa?” Suara Clary mengagetkan Wildan. Terpaksa laki-laki itu memalingkan pandangannya. “Ini Bara, yang ini Vinson. Sahabat Bara yang saya ceritain tadi siang.” Clary memperkenalkan beberapa wajah yang terpampang dalam bingkai foto. “Hmm…. Kalian tampak akrab.” “Ya, hanya sayang. Vinson sudah menghilang sejak berangkat kuliah.” “Mungkin Bara tahu.” “Bara nggak pernah cerita. Yang saya tahu, Vinson kuliah di London waktu itu.” “Oo gitu. Udah siap?” “Udah. Yuk kita pergi.” Keduanya melangkah ke lobi apartemen, menuju mobil yang terparkir dengan rapi. Wildan melaju dengan mobilnya. Menyusur jalan raya yang tampak padat dengan kendaraan. Sementara Clary duduk manis di samping Wildan sambil bermain handphone. “Cla. Temanin saya ngobrol dong!” “Hmm… Ma… Maaf, Pak. Saya lupa.” Clary jadi kikuk. “Kamu nggak sadar kalau saya lagi nyetir buat kamu?” Clary tersipu malu. Pria tampan di sampingnya merasa dicuekin. Clary tak menyadari jika Wildan menyetir terlalu jauh. Maklum ia tak tahu alamat yang di tuju. “Pak, kita kelewatan.” Gelak tawa mengiring laju kendaraan mereka. Clary tak bisa marah. Karena memang salahnya tidak menunjukkan jalan pada Wildan. “Bara nggak nelpon kamu?” Pertanyaan Wildan membuat Clary terdiam. Ia baru sadar, Bara tak ada meneleponnya hari ini. Bara sangat sibuk. Bahkan untuk urusan perasaan pun laki-laki ini seperti menyerahkan sepenuhnya pada Clary. Beruntung, Clary merupakan seorang wanita tegar yang sudah terbiasa hidup mandiri. Meski Bara jarang menghubunginya, ia tetap percaya. “Nggak. Dia hanya chat saya aja tadi sore.” “Oh ya?” “Katanya, Bara ingin ketemu sama Bapak.” “Boleh. Kapan?” “Mungkin, pekan depan. Katanya dia akan datang.” “Kasi tahu aja kalau dia datang. Saya siap kalau diajak ketemu.” “Siap, nanti saya kabari. Belok kiri, Pak!. Kita udah sampai.” Clary menunjuk pada sebuah ruko mewah. Mereka turun dan berbincang cukup lama bersama owner wedding organizer. Clary menanyakan persiapan dan konsep pernikahannya. Saat mereka tiba, sang owner malah mengira Wildan adalah calon mempelai laki-laki. Konsep pernikahan sederhana tapi elegan adalah pilihan Clary. Tentu, pernikahan merupakan momen spesial yang tak boleh dilewati begitu saja. Clary memiliki impiannya sendiri untuk membuat pernikahannya lebih berkesan. Salah satunya, merancang dekorasi yang menarik. Clary datang pada orang yang tepat. Owner wedding Organizer memberi penjelasan kepada Clary tentang konsep dekorasi yang unik dan menarik. Bukan karena budget yang tidak mencukupi, Clary hanya sudah terbiasa hidup sederhana. Meski pun Bara merupakan pengusaha yang kaya raya. Bahkan ketika Bara meminta konsep wedding di hotel bintang lima, Clary menolak. Ia tetap memilih dekorasi pernikahan yang sederhana, murah tapi mewah. “Mbak, kami pamit dulu ya. Minggu depan kalau calon suami saya datang, kami akan kembali ke sini.” “Ya, Cla. Terima kasih. Semoga konsep wedding yang saya tawarkan tadi dapat berkesan.” “Siap, Mbak. Saya tertarik dengan apa yang Mbak sampaikan. Semoga calon suami saya juga menyukai konsep wedding yang sudah kita rencanakan.” Clary berpamitan pada owner wedding. Begitu pula Wildan. Laki-laki itu tampak sopan. Meski pun ia baru mengenal budaya Timur. “Mas Wildan, tampan.” Mbak owner terdengar memuji Wildan, laki-laki itu hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Wildan kembali melaju bersama Clary. Menyusur jalan raya yang tampak semakin sepi. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Tidak terasa, perbincangan Clary bersama dengan owner wedding cukup lama. “Bapak udah makan?” “Belum.” “Astaga! Ini sudah hampir larut malam. Orang Skotlandia biasa makan malam?” Wildan hanya tertawa kecil. “Kita makan nasi goreng, mau?” “Boleh.” Wildan menurut saja pada ajakan Clary. Ia cukup senang karena bisa menemani Clary malam ini. Selain itu, ia juga bisa belajar banyak hal tentang budaya Indonesia dari rencana konsep pernikahan Clary. Indonesia dengan keberagaman adat dan budaya memang identik dengan berbagai tradisi unik dan menarik. Termasuk ritual adat pernikahan. Melihat keunikan dari rancangan pernikahan Clary dan Bara, Wildan mengungkapkan perasaannya untuk segera menyaksikan langsung acara pernikahan Clary dan Bara. “Bara beruntung dapat wanita seperti kamu, Cla.” Clary terpaksa menghentikan suapan nasi goreng ke dalam mulutnya. “Bapak punya pacar?” Bukannya menjawab pujian Wildan, Clary malah ingin mendengar penuturan Wildan. “Punya.” “Pasti cantik.” “Secantik kamu, Cla.” “Ah, Bapak. Ada-ada saja. Bule biasanya lebih cantik.” “Orang Indonesia juga tidak kalah cantik.” Clary kembali menyantap porsi nasi gorengnya yang sudah setengah piring habis. Dia makan sangat lahap. Wildan yang nampak belum terbiasa menikmati makanan Indonesia menyuap sedikit demi sedikit nasi goreng di piringnya. “Saya salut, Bapak mahir bahasa Indonesia.” “Ya dong. Sejak kecil, kalau di rumah, ayah dan ibu saya selalu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia.” “O, gitu. Pantesan. Saya tak perlu speacking English with Bapak.” Wildan hanya tertawa lebar. Kalau melihat gelak tawa Wildan, Clary jadi teringat dengan Bara. Laki-laki itu pun sering tertawa lepas. Cukup lama mereka duduk di warung nasi goreng yang letaknya di pinggir jalan. Wildan menceritakan banyak hal tentang kekasihnya. Sama seperti siang tadi, saat Clary menceritakan tentang Bara. Kini, Clary hanya duduk sebagai pendengar. Clary melirik jam di tangannya. Hampir tengah malam. Ia pun mengajak Wildan pulang. “Masih awal.” Wildan seakan enggan beranjak. “Kalau besok saya telat, itu artinya saya sudah telat sembilan kali di mata Bapak.” “Nggak bisa gitu dong. Urusan kantor harus profesional.” “Kan Bapak yang ajak saya begadang malam ini.” Lagi-lagi gelak tawa Wildan memecah perbincangan mereka di dalam mobil tampaknya laki-laki itu sangat menyukai kepribadian Clary. Ya, Clary yang sopan, ramah dan suka bercanda. Tak berselang lama, mobil Wildan memasuki area apartemen Clary. Mereka sama-sama membuka pintu mobil. “Cla. Terima kasih ya udah izinkan saya menemani kamu malam ini.” “Sama-sama, Pak. Maaf kalau saya merepotkan.” “Sama sekali nggak merepotkan.” “Tapi, Bapak udah mau nemanin saya selarut ini. Saya yang harus mengucapkan terima kasih.” “Cla….” “Iya, Pak.” “Kamu mau kan jadi teman baik saya?” “Maksud, Bapak?” “Saya memandang kamu bukan lagi karyawan saya. Tapi teman yang mengasyikkan.” “Jadi, saya bisa resign dong?” ucap Clary semangat. “Saya masih perlu kamu.” “Yah, Bapak mah gitu.” “Hahaha, ya udah. Kamu masuk lagi ke dalam. Saya mau pamit.” “Bapak hati-hati di jalan.” “Iya, Cla. See you.” “See you too, Pak.” Setelah mandi dengan air hangat, Clary menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Rasa penat yang begitu hebat hampir membuatnya terlelap. “Hallo….” Suara seorang wanita yang menelepon Clary di tengah malam membuatnya terbangun. Clary tak banyak bicara. Terdengar wanita di ujung telepon terisak dalam tangis. Seakan tak ingin mendengar pembicaraan wanita itu terlalu jauh, Clary mematikan panggilan telepon. Clary menarik selimut, lalu melanjutkan tidur dengan lelap. Sementara itu, dalam kamarnya, Wildan tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Clary. Diam-diam, Wildan mengagumi sikap Clary. Ia jadi kepikiran untuk tetap mempertahankan Clary bekerja di perusahaannya. Bahkan jika Clary menginginkan jabatan lebih, ia sanggup untuk memberikannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN