“Itu dia!”
Clary menunjuk pada satu sosok pria bertopi yang duduk sendiri di meja cafe. Laki-laki itu terlihat berpakaian santai. Baju kaos putih, celana pendek, dan topi cokelat membuat penampilan Wildan terlihat sangat tampan hari itu.
Suasana di cafe, tempat mereka akan bertemu tampak agak lenggang ketika mereka sampai. Hal itu lah yang membuat Clary dengan mudah menemukan Wildan yang sedang duduk di pojok cafe.
“Pak! Udah lama nunggu?” sapa Clary.
“Eh, Cla!” Wildan bangkit berdiri lantas segera menyalami Bara, “Wildan!” katanya sambil menjabat tangan Bara.
“Bara!” sahut Bara sembari menyambut uluran tangan Wildan.
“Yuk, duduk!” pinta Wildan pada mereka, “oh ya, gimana bisnis lo, Bar?” ungkap Wildan membuka pembicaraan.
“Bisnis gue berjalan lancar sih. Lo sendiri gimana?”
“Ya, mungkin sama seperti yang Clary ceritakan sama lo.”
Mata Wildan mengarah pada Clary, seakan memastikan ucapannya, “Gue hanya tinggal beberapa waktu aja di sini.”
“Clary udah cerita banyak tentang lo. Tapi, gue liat prospek lo di Indonesia bagus banget, Wil. Apalagi perusahaan lo udah segede ini. Kan sayang kalau tidak di manage dengan baik. Ya, bisa aja lo menitipkan perusahaan ini dengan orang terpercaya. Tapi selagi lo bisa kelola sendiri kan sayang kalau harus dilimpahkan dengan orang lain.”
“Sebenarnya, gue udah pikirkan matang-matang kok, Bar. Hanya saja, gue tak sanggup lagi berlama-lama di Indonesia.”
“Emangnya kenapa? Oh ya, kita pesan minuman ya!” tangan Bara melambai memanggil waitress di kafe itu.
“Ammm… nggak kenapa-napa sih. Gue ngerasa jenuh aja, harus jauh dari keluarga.”
“Jauh dari keluarga atau urusan perasaan?”
Hahaha, gelak tawa mereka terdengar lepas. Sepertinya soal perasaan mampu membuat mereka tertawa renyah.
Antara Bara dan Wildan tampak sangat akrab bercengkrama. Tidak ada kecanggungan yang terlihat. Padahal ini adalah perjumpaan pertama mereka. Karena mereka sama-sama pebisnis, maka topik pembicaraan mereka pun ke arah sana. Clary sesekali tersenyum dan mengabadikan momen kebersamaan mereka lewat beberapa foto selfie.
Ketika larut dalam perbincangan mereka, Clary dibuyarkan dengan panggilan telepon dari seorang wanita yang pernah meneleponnya beberapa waktu yang lalu. Clary terpaksa beranjak dari hadapan Bara dan wildan.
Kedua pria itu nampak asyik melanjutkan obrolan. Baik Bara mau pun Wildan, keduanya ternyata sama mempunyai selera humor yang tinggi. Itu sebabnya sejak awal perjumpaan mereka tadi, suasana terasa begitu hangat.
“Wil, gue titip Clary sama lo, ya!” suara parau Bara keluar setelah tadi, beberapa kali menahan gelak tawa.
Suasana berubah dingin. Wildan menatap Bara tajam, “Apa maksud lo, Bar?” tanyanya bimbang.
“Gue nggak yakin bakal bisa bahagiain Clary. Wanita ini terlalu baik di mata gue.”
“Ya, tapi kan… lo udah tunangan sama dia. Sebentar lagi lo berdua akan menikah. Apa masih belum cukup keyakinan antara lo berdua?” tanya Wildan seolah sangat akrab pada Bara.
“Jauh di sana, gue nggak seperti yang lo tau. Lo kan laki-laki, lo pasti paham kan maksud gue?”
“Ya nggak semua yang lo maksud itu gue paham, Bar. Tapi setidaknya gue jadi kasihan dengan Clary, dia wanita baik.”
“Iya, gue tau.”
“Clary selalu muji lo di depan gue dan orang-orang yang dia jumpai. Gue lihat Clary sangat mencintai lo.”
“Gue cuma mau bilang, Wil. Kalau saja hubungan gue dan Clary kandas… gue mau, lo jadi orang pertama yang nyelamatin Clary.”
“Lo gila kali ya?! Pernikahan lo berdua tinggal satu bulan. Tidak mungkin untuk menghapus begitu saja semua rencana yang sudah lo berdua siapkan.”
“Perlahan, semua itu akan terjadi.” Bara menelan ludah di kerongkongannya. Tampak ia sangat memikul beban perasan saat itu.
“Tapi, Wil…. Lo jangan pernah ngomong ke Clary soal ini ya. Biarkan dia tau dengan sendirinya.” Bara masih tampak berat pada ucapannya
“Lo segitu percayanya sama gue?”
“Gue percaya sama lo, Wil. Tadi malam, Clary cerita banyak tentang lo.”
“Oh, ya?!”
“Terima kasih karena setiap waktu, lo udah nyempatin nemenin Clary ke mana-mana….” seketika suasana kembali menjadi hening.
“Clary udah berjuang penuh untuk masa depan lo berdua. Lo ngerasa kurang apa lagi dengan kebaikan wanita itu?” Wildan masih belum percaya penuh pada ucapan Bara.
“Gue sadar, wil. Nasi udah menjadi bubur.”
“Gue masih nggak percaya dengan apa yang lo katakan!”
“Nggak lama lagi semuanya akan terungkap.” Bara mengambil bungkus rokok dari dalam saku tas selempangnya, memantikkan korek api lalu menghisap asap rokok itu dalam-dalam.
“Gue berharap, kalian tetap menikah. Gue kasihan sama Clary.”
“Gue sangat mencintai Clary. Tapi perbuatan gue pasti tidak akan pernah dimaafkan oleh Clary.” Kepulan asap tebal dari hisapan rokoknya, Bara keluarkan begitu saja.
“Gue yakin lo bisa memperbaiki diri lo sendiri demi Clary.”
“Tapi semuanya sudah terlambat. Gue udah terlanjur salah.” Bara kembali mengepulkan asap rokoknya di udara.
“Lo tega banget sama Clary… lo…”
“Gue cinta sama Clary! Gue cinta, Wil!” suasana kembali hening sesaat.
“Gue ngerasa kasihan dengan Clary….” Wildan menyedot ice lemon tea yang tadi dipesannya pada waitress. Kerongkongannya terasa kering setelah berdebat dengan Bara. Mendadak Wildan merasa menjadi orang bego setelah cukup panjang berbicara soal perasaan bersama Bara.
“Lo cuman kasian dengan Clary. Lah, gue? Gue cinta sama Clary. Gue ngerasa bego dengan perbuatan gue yang bakalan buat Clary kecewa. Gue… gue terpaksa ninggalin Clary.” Bara melumat-lumat sisa puntung rokok yang dihisapnya tadi di dalam asbak.
“Oke… gini aja. Andai kata lo mau jujur dengan Clary. Lo harus lakukan itu!”
“Itu pasti!”
“Gue berharap lo berdua bisa selesain masalah ini dengan bijaksana.”
“Gue hanya mau titip Clary dengan lo. Karena gue yakin, setelah nanti Clary tahu masalah ini, dia pasti akan marah. Gue percaya, satu-satunya orang yang akan didatangi Clary pasti lo.”
“Itu pasti, Bar. Lo tenang aja. Gue nggak akan biarkan Clary sendiri.”
“Terima kasih, Wil. Gue beruntung bisa kenal dengan lo. Andai kata lo jatuh hati pada Clary, gue juga iklas. Karena gue yakin, Clary ada bersama orang yang tepat.”
“Soal itu gue nggak bisa jamin. Gue tau Clary sangat mencintai elo. Gue hanya berjanji akan menjaga Clary dengan baik.”
“Gue yakin dan percaya sama lo. Seandainya… suatu saat lo berjodoh dengan Clary, gue akan bersyukur dan… gue titip Clary sama lo.”
“Soal perasaan, gue nggak bisa jamin. Antara gue dan Clary murni berteman selama ini. Di kantor kami profesional. Di luar jam kerja, kami lebih sering berbincang sebagai sahabat.”
Percakapan Bara dan Wildan terhenti, saat Clary tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
“Kalian membicarakan apa sih?” Clary melayangkan senyum pada kedua pria tampan yang ada di hadapannya, ia segera menarik kursi dan duduk manis di hadapan kedua pria itu.
“Aaah nggak ngomongin apa-apa kok, biasa… soal bisnis aja, Sayang!” ungkap Bara berbohong,
“Udah nelponnya?” sambungnya kembali.
“Udah….” Clary mengela napas panjang.
“Aaam…. Cla, Bar. Gue pamit dulu ya.” Wildan buru-buru berdiri dari kursi.
“Cepat banget, Pak?” Clary bertanya dengan wajah heran.
“Nggak, gue udah lama kok di sini. Bentar lagi gue juga ada urusan lain. Gue pamit duluan ya…” ungkapnya lagi.
“Eh, udah bisa cakap lo, gue?”
“Bara yang ajarin.” Wildan tersenyum menatap Bara.
“Hmmm ya udah deh, hati-hati.” Clary melambaikan tangan pada Wildan.
“Wil!” suara Bara menghentikan langkah Wildan, “jangan lupa!” diiringi anggukan, Wildan segera beranjak.
Selang beberapa waktu, Clary dan Bara juga beranjak dari situ. Bara melayani permintaan Clary yang memintanya untuk menemani ke spa.
Setelah ini, aku tidak akan pernah melakukannya lagi, Sayang. Suara hati Bara.
“Oh ya, Sayang. Gimana tadi bos aku?” Clary menggeser sedikit posisi tubuhnya menghadap Bara.
Mereka sedang berada di dalam mobil menuju salon langganan Clary. Jalanan tampak ramai kendaraan yang lalu lalang. Menjelang sore kondisi Bandung macet total.
“Sayang…!!!”
“Aaam… a… apa, Sayang?”
“Kamu dengerin aku ngomong nggak sih?” Clary merenggut kesal, lantas memutar tubuhnya menghadap kaca samping mobil.
“Dengar! Bos kamu ya? Wildan?” Bara balik bertanya sambil terus fokus pada setir mobil, “aku dengar kok yang kamu omongin. Aku kan belum sempat jawab….” tangan kiri Bara mengelus lembut puncak kepala Clary.
“Tadi kalian ngomongin apa sih? kok kayaknya serius banget?” tanya Clary masih penasaran.
“Ng…. nggak. Nggak ngomong apa-apa selain soal bisnis dan kerjaan.”
“Benar?” Clary menatap tajam pada Bara.
“Benar. Tanya aja sama Wildan. Eh ngomong-ngomong, Wildan baik banget ya?!” ucapan akhir Bara seakan memancing Clary untuk lebih banyak memuji Wildan.
“Bos aku emang baik kok. Baru tau ya?”
“Ya, kan aku baru kenal.” Bara mengangkat kedua pundaknya.
“Tapi, kamu nggak marah kan, Sayang kalau Wildan udah banyak bantu dan nemanin aku selama ini?” Clary bicara perlahan, seakan takut pada ucapan dan tindakannya bersama Wildan di hadapan Bara.
“Nggak… nggak kok, Sayang! Justru tadi aku ngucapin terima kasih yang banyak sama Wildan. Aku bersyukur Wildan masih mau menyempatkan waktu untuk nemanin kamu selama ini.”
“Makasih ya, Sayang. Kamu pengertian banget.” Clary mengusap perlahan wajah Bara. Laki-laki itu membalasnya dengan seyuman.
“Sangat beruntung seorang wanita yang nantinya menjadi pendamping hidup Wildan. Dia sangat peduli sama wanita.”
“Banget! Wildan udah punya pacar di Skotlandia. Dia cinta banget sama pacarnya.”
“Oh, ya? Jadi… dia udah punya pacar?”
“Ya udah dong, Sayang. Orang setampan dan setajir dia masa sih belum punya pacar.” ungkapan Clary membuat seri wajah Wildan berubah kecewa.
“Tapi, kalau aku liat… Wildan cocoknya sama perempuan Indonesia deh.”
“Nggak mesti! Kalau aku lihat, Wildan emang cocoknya sama bule-bule luar negeri tuh. Eh… tapi kok… kita jadi bahas Wildan terus sih?”
“Ya nggak apa-apa, aku kan perlu banyak tau tentang Wildan, Sayang.”
“Ya, tapi kan… nggak harus membicarakan orangnya di belakang gini.”
“Kita bukan gibah, Sayang. Kita ngobrol santai. You know?”
“Tau, ah!” Wajah Clary merenggut kesal.
“Ya udah, kalau ngambek, aku nggak jadi antarin ke spa nih.”
“I... iih…. jangan gitu dong. Kamu tadi udah janji antarin aku kan?”
“Minta antar Wildan aja, mau?”
“Nggak!”
“Dia kan setia nemanin kamu selama ini.”
“Maksud kamu apaan sih, Sayang? Tadi kamu juga yang ngorek-ngorek kebaikan Wildan. Sekarang malah ngomong kayak nggak terima banget dengan kebaikan Wildan ke aku selama ini.”
“Hahaha…. Kamu kalau ngambek selalu lucu, ya.” Bara mengelus lembut puncak kepala Clary.
“Aku cuma becanda doang kok, Sayang. Jadi ke spa?”
“Jadi.”
“Jangan marah dong.”
“Ya, habis ka…”
“Sssstttt… kalau marah wajah Sayang jelek.”
“Nggak lucu.”
“Menurut aku lu…cu.” Bara membelokkan mobilnya dan masuk di parkiran salon.
Clary cukup senang. Setidaknya Bara menyempatkan diri untuk menemaninya sepanjang hari ini. Meski pun hanya dua hari. Setidaknya Bara masih ada waktu bersama Clary.