Cinta tanpa Batas

1792 Kata
Dalam perjalanan yang sebentar lagi sampai, Noel tampak tertidur nyenyak dalam pangkuan Bi Uni. Demikian juga Clary yang sesekali memoles matanya karena menahan ngantuk. Ia tak ingin tidur, sebab jika ia memejamkan mata, ia tak akan bisa menikmati perjalanan hari itu. Vinson membelokkan mobilnya, dan memasuki halaman rumah yang cukup besar. Sangat mewah untuk ukuran rumah di pedesaan. Maklum, ayah Vinson merupakan seorang dokter umum terkenal di daerah itu. Sebagian besar penduduk berobat dengannya. Meski anak seorang dokter, sejak kecil Vinson tak pernah membatasi pergaulan dengan anak-anak seusianya. Itu sebabnya ia bisa bersahabat dengan Nur Fatma. “Yes! Kita udah sampai.” Nur Fatma menggeliatkan tubuhnya. Tampak seorang wanita paruh baya duduk di teras rumah sambil membaca buku. Masih terlihat cantik dengan rambut terurai sebahu. Ia meletakkan kacamata yang ia kenakan di atas meja. Lantas melangkah ke mobil Vinson yang terparkir di halaman. Vinson yang lebih dulu turun dari mobil llangsung menyapa wanita itu. Tampak sangat akrab. Wanita tadi mencium pipi Vinson sebagai tanda kasih sayang pada anak semata wayangnya itu. Mata Clary tak luput memandang keduanya. Ingin kakinya segera turun dari mobil, tapi rasanya berat untuk melangkah. Hingga akhirnya, Vinson membuka pintu mobil dan menarik pelan tubuh Clary agar bisa keluar dari dalam mobil. “Oh, ini toh mantu Mama yang sering kamu ceritakan itu?” Nyonya Silvi menatap Vinson, “cantik banget....” Nyonya Silvi dengan hangat menyambut Clary. “Iya, Ma….” Clary mengulurkan tangan lantas memeluk Nyonya Silvi. “Capek, Sayang?” tak disangka, Nyonya Silvi mengelus lembut rambut Clary yang tampak acak. Clary mengangguk lemas. Perjalanan hampir tiga jam lumayan menguras tenaga dengan kondisinya yang tengah hamil besar. Tapi, hati Clary sedikit adem, karena sambutan hangat dari Nyonya Silvi. Awal yang baik untuk perkenalan Clary dan ibu Vinson. “Noel mana, Vin?” “Ada sama Bi Uni, Ma.” “Oh, ya udah, Mama bawa Clary masuk ya. Kalian bereskan barang-barang.” “Iya, Ma. Kan ada Fatma juga di belakang.” “Oh iya, Mama lupa dengan anak Mama yang satu itu. Maklum saking girangnya menyambut mantu.” Nyonya Silvi terkekeh. Tangannya mendekap erat pergelangan Clary. Ia membopong pelan perempuan yang sudah dianggapnya sebagai menantu itu. Melihat reaksi Nyonya Clary yang begitu hangat. Clary merasa menjadi orang paling beruntung. Maklum selama ini ia tak memiliki sosok seorang ibu sebagai tempat untuk bersandar. “Kamu mau langsung istrahat dikamar, Cla?” “Boleh, Ma.” Clary nurut. Karena memang tubuhnya terasa capai. Ingin segera ia membaringkan tubuhnya, agar sakit di pinggulnya bisa berkurang. Pemandangan di dalam rumah orang tua Vinson tampak mewah sekali. Dalam hatinya, Clary memuji kepiawaian Vinson yang selalu tampil sederhana. Padahal orang tuanya sangat berada. Bahkan dulu, ketika masih sekolah, Vinson sering berangkat dengan motor butut. “Ini kamar Vinson. Kalian tidur di sini, ya!” Nyonya Silvi membuka pintu kamar. Clary terpana dengan keadaan di dalam kamar. Tampak rapi dan bersih dengan berbagai accessories yang bergantungan di dinding. Salah satu yang menakjubkan mata Clary adalah sebuah bingkai foto yang familiar dalam pandangannya. Ya, apa lagi kalau bukan fotonya bersama Vinson ketika berada di perpustakaan. Clary terus menatap Foto itu. “Itu foto kamu kan?” tanya Nyonya Silvi. Clary mengangguk pelan. Ia tak menyangka jika Vinson betul-betul mengabadikan momen kebersamaan mereka dengan baik. Seingat Clary, Vinson memberikan satu padanya. Beberapa hari yang lalu, foto itu juga ada di rumah Vinson dan sekarang, foto itu juga terpajang rapi di dalam kamar di rumah orangtuanya. “Vinson itu selalu cerita tentang kamu, Cla. Sejak dia masih sekolah dulu. Sampai sekarang selalu ngabari tentang kamu,” Nyonya Silvi memberikan sebotol air mineral yang tersedia di atas meja kepada Clary, “minum!” lanjutnya kemudian. “Vinson cerita apa, Ma?” tanya Clary penasaran. “Banyak. Semua tentang kamu.” “Jadi, Mama sudah tahu semua tentang saya,” tanya Clary kembali. “Kamu yang sabar ya. Mama udah lama merindukan seorang menantu dan cucu. Tapi nampaknya Vinson memang belum mau menikah dengan siapa pun selain kamu. Bahkan ketika tunangannya diambil oleh Bara, dia langsung bilang kalau berusaha untuk menemukan kamu, Cla.” “Serius, Ma? Jadi….” “Jadi, kamu jangan sungkan. Mama tahu kamu orang baik. Vinson nggak mungkin senekat ini kalau tidak karena mengagumimu, Cla.” Clary menjatuhkan tubuhnya pada wanita yang ada di hadapannya. Semua diluar ekspatasi yang dihayalkannya sebelum berangkat ke sini. Clary merasa bahwa Nyonya Silvi tidak akan memberi keramahan seperti ini. “Ma…. Terima kasih untuk sambutan hangat ini. Cla merasa bersyukur. Tapi, Cla takut jika nanti buat Mama kecewa,” belum pernah Clary menumpakan air matanya secepat ini. Dalam dekapan Nyonya Silvi, Clary merasa tenang. Sudah lama ia merindukan dekapan seorang ibu. Saat hatinya penat dengan kerasnya kehidupan. Hari ini, perlahan ketenangan itu Clary raih dengan kehadiran seorang ibu yang mampu meraihnya dengan hangat. Clary semakin sadar, bahwa dibalik penghianatan yang ia dapatkan, ternyata masih ada orang baik yang sangat peduli dengan dirinya. “Ma….” tiba-tiba suara Vinson muncul di ambang pintu. Wajah Vinson memunculkan tanya saat melihat Clary mendekap erat ibunya. Namun, Nyonya Silvi memberi kode agar Vinson tak usah banyak bicara. Clary baru saja menumpahkan beban perasaannya pada Nyonya Silvi. “Kenapa, Ma?” tanya Vinson kembali. “Nggak, Clary hanya kelelahan dan butuh istirahat. Noel udah di kamar, Vin?” “Udah, Ma. Mama mau lihat Noel?” kata Vinson sambil memberi kode agar ibunya segera beranjak. “Ya udah. Kamu temani Clary ya. Ajak dia istirahat. Besok, mama mau ajak Clary ke tukang urut biar lelahnya hilang.” pinta Nyonya Silvi pada Vinson. Clary sedikit melonggarkan pelukannya. Ia mengusap air mata yang masih turun membasahi pipinya. Vinson merebahkan tubuhnya di samping Clary. membuat wanita itu memukul pelan tubuh Vinson dengan bantal. “Aduh…. Sayang kenapa sih?” Vinson pura-pura meringis kesakitan. “Mama lo ternyata baik ya?” tanya Clary dengan mata yang masih memerah. “Apa gue bilang? Mama emang baik kok orangnya.” “Lo benaran udah cerita semua tentang gue?” “Ya dong. Masa gue ceritain orang lain.” “Gue salut sama lo, Vin.” “Kenapa?” “Lo segitu besarnya cinta sama gue. Dari awal sampai sekarang lo nggak berubah sedikit pun. Gue benaran salut.” “Sssttt….” Vinson menutup ujung bibir Clary dengan telapak tangannya. Wajah Clary masih sembab. Sebenarnya, bukan persoalan kebahagiaan yang ia terima dari ibu Vinson, tapi lebih kepada ketakutan akan menumbuhkan kecewa di kemudian hari. Clary sekarang tahu jika keluarga Vinson menerimanya dengan baik. Tapi, Clary juga berpikir bahwa nanti di kemudian hari, satu masalah besar pasti akan muncul. “Gue takut, Vin.” ucap Clary sendu. “Takut kenapa?” jemari Vinson mengusap air mata yang masih tumpah di pelupuk mata Clary. “Gue takut kalau nanti bakalan mengecewakan Mama. Gue ngerasa kalau Mama terlalu peduli dengan hidup gue.” “Mama memang begitu orangnya. Lo nggak usah khawatir. Fatma aja udah dianggap kayak anak sendiri. Apa lagi elo.” “Soal kehamilan gue, lo ngomong jujur?” sela Clary. “Lo nggak percaya sama gue?” “Bukannya gitu, Vin. Kan kemarin lo bilang kalau gue hamil anak lo.” Vinson terkekeh. Ia menatap wajah Clary yang dalam pandangannya tampak lucu. Sorot mata Vinson membuat Clary kembali memukul tubuh laki-laki itu dengan bantal. Melihat reaksi Clary, Vinson langsung memeluk wanita dengan erat. “Udah, Sayang. Udah. Cukup!” Clary masih tak berhenti memukul lembut tubuh Vinson. “Gue tanya serius, Vin!” wajah Clary menahan kedongkolan. “Iya, iya. Gue jawab serius.” “Gitu dong,” Clary mulai jinak. “Gue udah kasi tau Papa dan Mama. Semua tentang lo.” “Semua?” “Iya, Semua. Puas lo?” kali ini, Vinson yang tampak kesal. “Hehehe….” Clary malah menyeringai membuat Vinson dengan cepat mengecup kening wanita di hadapannya itu. “Ya udah. Lo kan capek. Istirahat dulu ya.” pinta Vinson pada Clary. “Gue mau mandi, Vin.” “Hmmm…. Mandi berdua?” Vinson mengangkat alisnya. “Apaan sih?” ucap Clary malu-malu. “Hahaha…. Biasa aja kali. Sebentar lagi lo juga bakal jadi istri gue.” “Apa?” Clary terperangah mendengar ucapan Vinson. “Iya, istri gue.” Vinson beranjak menuju lemari pakaian, lantas menarik pelan handuk yang tersimpan rapi di sana. “Lo punya rencana apa sih dalam hidup gue?” “Nggak ada rencana apa-apa. Gue hanya mau lo jadi istri gue!” Vinson menyerahkan handuk yang tadi diambilnya pada Clary. “Gue nggak ngerti.” “Bagus dong,” Vinson malah tampak senang dengan kebimbangan Clary. “Apaan sih lo!” Dengan tertatih, Clary menuju kamar mandi. Hampir saja tubuhnya terseok. Beruntung Vinson segera menahannya. Vinson membopong pelan tubuh Clary ke kamar mandi. Dan membantu wanita itu menyiapkan perlengkapan mandi. “Mau gue tamanin?” lagi-lagi Vinson menggoda Clary. “Yee…. Mau banget sih lo. Gue bisa sendiri kali,” Clary mencibir. “Gue juga perlu mandi kali.” Tak peduli dengan jawaban Clary, Vinson membuka pakaiannya dan melempar begitu saja di dalam ember berwarna hijau. Kehadiran Vinson sedikit membuat Clary kikuk. Apa lagi laki-laki itu langsung menarik pelan tubuhnya tepat di bawah shower yang mengucur lembut. “Nggak canggung lagi kan?” tanya Vinson kemudian. Clary menggeleng. Sepanjang bersama Wildan, Clary tidak pernah melakukan hal ini. Tapi bersama Vinson, ia malah tak bisa mengelak. Apa lagi, Vinson dengan mesra merangkul tubuh Clary. Keduanya hanyut dalam cumbuan. Clary pun akhirnya pasrah saat tangan Vinson terus merayap di tubuhnya. Setelah mandi, keduanya merapikan diri. Clary hanya mengenakan daster, memoles sedikit wajahnya dengan cream malam. Lantas membaringkan tubuhnya. Rasa capai yang ia alami membuat pinggang Clary hampir copot. “Gue keluar sebentar ya. Lo istirahat aja.” Vinson mengecup kening Clary. “Iya.” Jawab Clary singkat sembari mengangguk “Lo mau minum s**u?” “Boleh.” “Ya dah, ntar gue minta Nur Fatma untuk bawakan lo susu.” “Sekalian Noel, ya!” pinta Clary. Ia teringat akan wajah bayi yang menggemaskan. Tadi, sepanjang jalan ia tak sempat bersenda gurau dengan bayi itu. Clary senang menatap senyuman Noel. Mendengar permintaan Clary, Vinson menolak. Sebab ia ingin agar Clary fokus istirahat. “Lo jangan dulu ketemu Noel ya. Istirahat aja dulu. Kan masih ada waktu besok pagi.” ucap Vinson sambil melirik jam di tangannya. “Ya udah, kalau gitu gue istirahat aja ya.” Clary menarik selimut agar menutup tubuhnya. Vinson berajak ke luar. Meninggalkan Clary dengan rasa capai yang luar biasa. Ia membiarkan saja wanita itu istirahat untuk memulihkan kembali tenaganya. Lagi pula, perjalanan yang sangat jauh tadi tubuh Clary yang tengah hamil terasa porak poranda. Vinson menutup perlahan pintu kamar, lalu menuju ke kamar Noel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN