Pukul sebelas siang, Vinson sudah tiba di halaman rumah Clary. Sesuai rencana, ia membawa Bi Uni dan juga Noel. Seperti memboyong keluarga baru pada umumnya, mobil Vinson penuh oleh barang bawaan. Membuat Nur Fatma agak kesusahan menyusun kembali posisi barang-barang dalam mobil Vinson.
Sebelum berangkat, mereka menikmati jamuan yang sudah disediakan oleh Bi Ida. Terhidang tempe bacem, opor ayam, sambal teri, bayam rebus dan lalapan timun segar di atas meja. Suasana riuh di meja makan dengan gurauan-gurauan kecil menambah kenikmatan makan siang mereka hari itu.
Si kecil Noel menggeliat tubuhnya di troller. Menampilkan senyum manis yang membuat Clary ingin menggapai bayi itu sesegera mungkin. Berkali-kali, Clary memandang wajah Noel dari tempat duduknya. Karena posisi Noel di samping Bi Uni, terpaksa Clary bangkit dan menarik troller agar Noel bisa dekat dengan dirinya.
“Noel, Sayang…. Bunda makan dulu ya. Habis itu kita main.”
Hiiiikkksss….. Noel tersenyum riang menatap wajah Clary.
Mendengar sebutan bunda dari mulut Clary, Vinson berhenti mengunyah makanan. Ia menatap wajah wanita yang ada di sampinya itu. memastikan apakah ucapan Clary benar adanya. Sebab, sebelumnya, Vinson belum pernah mendengar Clary menyebut bunda pada Noel. Mungkinkah wanita itu telah membuka hatinya? Atau hanya sekadar memberi harapan pada Noel? Di ujung rasa penasarannya, Vinson menyimpulkan senyum bahagia.
“Habisin dulu makanannya, Cla!” pinta Vinson pada Clary, sebab masih tersisa beberapa suapan lagi dalam piring wanita itu.
“Gue udah kenyang. Kalian lanjut aja ya!”
Alih-alih menghabiskan makanan, Clary segera meraih Noel dan mendekap erat bayi mungil yang menggemaskan itu. Dengan langkah gontai, Clary membawa Noel ke ruang depan. Mereka tampak asik bercengkrama tanpa memperdulikan mereka yang masih asik menyantap hidangan di meja makan.
“Anak Bunda mau kemana, Sayang?” Noel menggeliat lembut dalam pangkuan Clary.
“Mau pulang ke rumah Eyang ya?” Clary mengecup sudut pipi Noel.
“Adu… du…. Senangnya anak Bunda. Kita pulang sama Daddy, Bi Uni dan tante Fatma ya….”
Meski tak bisa menjawab, Noel tampak riang. Ia terus menggeliat. Membuat Clary harus merubah posisi tubuhnya karena kaki kecilnya menendang perut Clary yang membesar.
“Noel jangan tendang adeknya dalam perut Bunda dong! Kan adek dalam perut Bunda lagi istirahat. Ntar kalau adeknya sudah lahir, Noel ajak main sepuasnya ya.”
Tiba-tiba saja Vinson meraih Noel dari pangkuan Clary. Tangan kanan Vinson mengelus kepala wanita di hadapannya itu. Ia tersenyum manis menatap wajah Clary yang terlihat cantik.
“Kamu sudah siap-siap, Sayang?” tanya Vinson.
“Sudah dong. Kan tinggal berangkat aja lagi.”
Sementara itu, di dapur Bi Uni dan Bi Ida tampak akrab. Kedua wanita paruh baya itu membereskan sisa makanan di meja makan. Meski mereka memiliki tuan rumah yang berbeda, namun Bi Uni tidak canggung untuk membantu pekerjaan Bi Ida.
“Ida udah lama tinggal di sini?”
“Udah lama. Uni sendiri udah lama tinggal dengan Nak Vinson?” tanya Bi Ida kembali.
“Udah lama juga, Da.”
“Kita beruntung bekerja dengan tuan rumah yang baik-baik seperti mereka,” Bi Ida memuji tuan mereka.
“Iya. Saya juga betah tinggal di rumah Tuan Vinson. Saya malah dianggap ibu sendiri olehnya.”
Kedua asisten rumah tangga itu tampak asik bercengkrama. Karena terlalu banyak bicara, Bi Uni hampir saja emecahkan gelas kaca yang sedang dicucinya. Berulang kali ia meminta maaf kepada Bi Ida. Namun, Bi Ida tak mepermasalahkan. Kalau pun pecah tidak mengapa. Begitu kata Bi Ida.
Nur Fatma yang baru saja keluar dari kamarnya dan tengah melintas di depan pintu dapur menghentikan langkah dan sedikit mengintip kedua wanita itu. Fatma tertawa geli melihat keakraban mereka. Maklum baik Bi Uni maupun Bi Ida, keduanya tidak memiliki teman bicara selama ini. Bicara pun seperlunya aja dengan tuan rumah.
“Cie…. Lagi asik ngerumpi nih!” seru Nur Fatma menyela pembicaraan keduanya.
“Eh, Neng Fatma.” Bi Ida langsung menyapa.
“Iya nih, Neng. Maklum selama ini kita nggak punya teman bicara.” Sela Bi Uni.
“Iya, Bi. Saya paham itu. Ya udah. Bibi berdua lanjutin aja ya. Saya mau gabung dengan Vinson dan Clary di ruang depan dulu.” Nur Fatma segera berlalu.
Saat tiba di ruang tamu, Nur Fatma terkesima dengan kemesraan Vinson, Clary dan Noel. Ketiganya tampak akrab bak sepasang keluarga baru. Vinson menggelitik perut Noel sehingga membuat bayi itu tertawa lepas dan menampilkan gigi ompongnya yang membuat Clary terkekeh tiada henti.
Setelah puas bercengkrama dengan Noel. Vinson memandang Nur Fatma. Wanita bodyguard itu tampak sudah siap. Hanya Bi Uni yang belum muncul. Ketidakhadiran Bi Uni membuat Vinson bertanya pada Nur Fatma.
“Lo udah siap, Fat? Bi Uni mana?”
“Udah dong. Bi Uni lagi bantu Bi Ida beres-beres di dapur,” jelas Fatma.
“Oh, ya udah. Kita tunggu beliau dulu ya.” Vinson kembali mengajak Noel bercanda.
Noel yang sudah lelah bermain, tiba-tiba merengek. Wajahnya tiba-tiba kecut. Seisi rumah menjadi gaduh karena tangis Noel yang langsung menggema. Clary langsung meraih bayi itu dari dekapan Vinson. memeluknya dengan erat. Meski Noel menggeliat cukup keras dalam pelukannya.
“Adu… du… anak Bunda kenapa, Sayang? Capek ya main sama Daddy?” seketika Noel terdiam.
Seolah suara Clary membuat hatinya adem. Clary menyodorkan sebotol s**u pada Noel. Bayi itu tampak kehausan. Suara tegugan air s**u di kerongkongannya terdengar jelas. Clary baru sadar. Setelah beberapa menit bermain dengan Vinson tadi, Noel jadi kehausan.
“Noel kehausan.” Clary memandang Vinson.
“Oh ya?” laki-laki itu tampak keheranan, sebab ia tak mengerti maksut Noel.
“Iya dong, lo tadi ajak dia main dan ketawa.”
Vinson terkekeh dengan perbuatannya. Lagian, mana dia tahu kalau Noel kehausan. Yang ia tahu hanya mengajak Noel bermain. Selama ini juga begitu. Kalau Noel sudah menangis, yang menangani pasti Bi Uni. Tapi, kali ini tugas Bi Uni tampak sedikit ringan. Sebab, Noel selalu tenang dalam dekapan Clary.
“Makasih ya, Cla. Lo udah bisa jadi ibunya Noel.” Puji Vinson pada wanita yang telah membantunya itu.
“Semua demi Noel, Vin. kan kasihan, dia nggak punya sosok seorang ibu.”
“Iya tuh. Lagian lo sih. Ngadopsi anak orang tapi nggak punya istri. kan repot jadinya.” Nur Fatma meledek Vinson.
“Ye… lo jangan salah ngomong, Fat. Gue ada istri.”
“Siapa?” tanya Fatma penasaran.
“Tuh, yang lagi gendong Noel.” Vinson menunjuk ke arah Clary.
“Alah, itu mah baru lo dapatkan kemarin.” Ledek Fatma.
“Hussttt udah dari dulu kali. Cuma dianya aja yang nggak sadar kalau Vinson Andrian itu suka sama dia.”
Hahahaha…. Ketiganya tertawa bersama. Lebih-lebih Clary. hatinya tertawa geli mengingat beberapa peristiwa dimana Vinson sebenarnya ingin menunjukkan rasa cinta pada dirinya saat masa SMA dulu. Hanya saja, pandangan dan pikiran Clary lebih sering terpusat pada Bara. Sehingga ia lupa untuk memperhatikan gerakan Vinson yang memang menaruh hati padanya.
“Asik banget berguraunya?” Bi Uni muncul di antara mereka.
“Iya nih, Bi. Cerita masa lalu.” Jelas Fatma
“Bi Uni udah siap?” tanya Vinson.
“Udah. Kapan kita berangkat?” tanya Bi Uni.
“Kalau udah siap, ayuk kita berangkat!” Vinson meberi aba-aba.
Nur Fatma segera bergegegas menuju mobil. Memeriksa kembali barang bawaan. Mana tahu ada yang terlupakan. Setelah memastikan semua barang terbawa, Nur Fatma menutup bagasi mobil. Seketika itu juga Vinson, Clary, Bi Uni dan Noel menuju ke mobil. Nur Fatma membuka pintu mobil. Dari depan pintu, Bi Ida melepas kepergian mereka.
Clary duduk di samping Vinson. Sesuai rencana, Vinson menyetir di dalam kota. Nur Fatma siap menggantikan jika Vinson kecapean nantinya. Baru saja Vinson hendak berangkat, dering panggilan di handphone-nya berbunyi.
“Hallo….” Vinson menyapa suara seorang wanita di ujung telepon.
“Jadi, Ma. Ini baru mau berangkat. Ada. Semuanya ikut, Ma. Vinson bareng istri dan anak juga Bi Uni.” Jelas Vinson.
Sudah dapat dipastikan, yang menelepon adalah ibunya Vinson. namun, penjelasan Vinson membuat Clary tercengang. Laki-laki itu benaran memperkenalkan dirinya sebagai istri kepada ibunya. Mendengar hal itu, Clary mengusap kening. Ur Fatma yang melihat kebimbangan Clary hanya bisa tersenyum kecil. Bi Uni malah tak meberi reaksi apa-apa.
“Ya udah, Ma. Kami berangkat dulu ya. Sampai jumpa di rumah.”
Vinson menutup telepon. Lantas menggerakkan perlahan setir mobil yang dikendarainya. Setelah belok kanan dari pagar rumah Wildan, mereka melaju di jalanan. Clary tampak puas karena bisa menikmati suasana kota di siang hari. Wanita itu tampak senang jika menikmati perjalanan. Itu sebabnya dia tidak ragu ketika diajak pulang ke kampung halaman oleh Vinson.
“Ngapain muka lo?”
Diam-diam, Vinson melirik ke arah Clary. meski menikmati perjalanan, isi otak Clary tetap berpusat pada ucapan Vinson tadi. Bagaimana ia bisa mengakui posisinya sebagai istri Vinson. Sementara mereka juga tidak punya hubungan apa-apa.
“Ng… nggak.” Clary berusaha menepis keraguannya.
“Lo kepikiran dengan ucapan gue tadi ya?” Vinson menerka pikiran Clary dengan tepat.
“Kok lo bisa masuk ke otak gue?”
“Tahu lah. Nampak tuh. Banyak pertanyaan yang bermunculan. Hahaha….” Vinson tertawa ngakak.
“Apaan sih lo,” wajah Clary sedikit cemberut karena tidak setuju dengan ucapan Vinson.
“Udah… nggak usah khawatir. Tadi malam gue udah cerita semuanya ke Mama,” jelas Vinson dengan anteng.
“Semuanya?” tanya Clary semakin bimbang.
“Iya, kan gue nggak mungkin bohong sama bokap dan nyokap.”
“Lo serius, Vin?” tanya Fatma dari belakang.
“Iya serius gue.”
“Termasuk kalau Clary istri Wildan?”
Vinson terdiam. Ia malah sok fokus dengan setir di tangannya. Berusaha mengalihkan pertanyaan demi pertanyaan dari kedua wanita yang terus berharap jawaban pasti darinya. Karena tak mendapatkan jawaban apa pun, wajah Clary semakin kesal. Wanita itu menarik kesimpulan, jauh dalam lubuk hatinya. Pasrah. Hanya itu keputusan akhir. Lagi pula mereka di kampung juga hanya dua hari. Waktu yang singkat dan tidak mungkin membuatnya berlama-lama mengenal keluarga Vinson. Apa pun yang akan terjadi di sana, Clary tak mau peduli. Yang penting hatinya kini senang karena bisa menghirup udara segar di pedesaan.