Meski pun masih diselimuti keraguan, Clary akhirnya menurut pada ajakan Vinson untuk pulang ke rumah orangtuanya. Atas izin Vinson, Clary pulang terlebih dahulu ke rumah Wildan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Terlebih, ia harus menjumpai Bi Ida untuk memberitahu wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu. Bi Ida pasti sangat khawatir dengan keadaan dirinya.
Nur Fatma tampak asyik berkemas. Ia dengan girang menyusun beberapa barangnya ke dalam tas. Meski hanya dua malam di sana, Nur Fatma tampak kegirangan. Ia tak sabaran untuk berjumpa dengan ibu Vinson. Sudah belasan tahun, Nur Fatma tidak berjumpa dengan wanita yang kerap ia panggil dengan sapaan Tante Sil. Ya, nama ibu Vinson adalah Silvi.
“Lo bawaannya sedikit amat, Cla?” tanya Nur Fatma.
Bodyguard Clary tersebut, mengecek ke dalam tas Clary yang tampak lebih kecil dari miliknya. Hanya terisi tiga helai pakaian. Tentu saja hal itu membuat Nur Fatma terpaksa mengobrak abrik lemari pakaian Clary. sebab, wanita itu hanya membawa daster tampa membawa pakaian yang lainnya.
“Lo serius hanya membawa ini, Cla?” Nur Fatma mengulang pertanyaannya lagi.
“Hmmm…. Emangnya kita berapa lama di sana?”
“Dua malam.”
“Tuh, kenapa harus bawa pakaian yang banyak?” Clary balik nanya.
“Ya, siapa tahu kita diminta tinggal lebih lama….”
“Husssttt…. Lo ngayalnya tingkat dewa. Kenal aja belum sama ibunya Vinson.” ujar Clary memotong pembicaraan Nur Fatma.
“Ye, lo aja yang belum kenal. Gue mah udah kenal kali.”
“Lah gue? Lo bisa bayangin nggak kalau ntar ortunya Vinson nanyain gue? Apa iya gue nurut kata Vinson?”
“Hmmm…. Berat juga sih.”
Nur Fatma menjatuhkan tubuhnya di samping Clary. Seolah mengikuti kebingungan di hati wanita itu. Terpaksa, sebagai orang terdekat Clary, dirinya juga harus ikut berbohong. Bagaimana jika ibu Vinson tidak bisa menerima kehadiran Clary? atau bisa saja ibu Vinson langsung jatuh hati dan mengira Clary benar mengandung cucunya sendiri? Otak Nur Fatma seketika mengambang dengan berbagai persoalan yang muncul ketika mereka sudah sampai di sana.
“Non, ada telepon dari Tuan.” tiba-tiba, Bi Ida muncul di ambang pintu.
Kedua wanita yang duduk di tempat tidur itu saling berpandangan. Seperti sedang bersama menimbang sesuatu. Nur Fatma bergegas ke ruang depan. Clary menyusul dengan perlahan. Sebelum keluar, Clary melempar pakaian yang tadi masih ada dalam pegangannya.
“Hallo, Wil. Ini Fatma.” terdengar suara Fatma menyapa Wildan.
“Hay, Fat. Clary ada?” tanya Wildan buru-buru.
“Ada, tuh lagi melangkah ke sini.” Nur Fatma melambai ke arah Clary agar wanita itu bergegas mendekat.
“Hallo, Honey….” Clary menyapa dengan lembut.
“Hallo, Sayang. Kamu apa kabar?”
“Baik, Honey. Kamu apa kabar? Kenapa jarang telepon?”
“Maafkan aku, Sayang. Aku terlalu sibuk sampai lupa mengabari.”
“Hmmm… gitu ya? Jadi kamu udah nggak sayang lagi sama aku?”
“Hahaha….” Gelak tawa Wildan terdengar di ujung telepon, “bukan gitu, Sayang. Ada beberapa urusan penting yang harus aku selesaikan. Ya kamu kan tahu, perusahaan Daddy di sini juga ada beberapa dan perlu diurus.”
“Ya udah kalau itu alasan kamu nggak apa. Kapan balik ke Indonesia?”
“Hmmm…. Tunggu agak lenggang ya, Sayang. Nanti aku kabari.”
“Tapi, jangan lama-lama ya.”
“Ya nggak dong, Sayang. Kan kita harus segera mengurus pernikahan kita yang masih tertunda.”
“Trima kasih, Honey. Kamu masih ingat dengan tanggung jawab.”
“Kamu yang sabar ya, Sayang. Semoga semua urusan aku segera selesai dan aku cepat kembali ke Indonesia. Aku sudah merindukanmu.”
“Sama, Honey. Aku juga merindukanmu.”
“Kamu baik-baik di sana ya….” pesan Wildan pada Clary.
“Sssttt…. Bilang kalau kita mau pulang kampung.” Nur Fatma memberi kode pada Clary.
“Honey….”
“Iya, Sayang. Ada apa?”
“Aku mau minta izin.”
“Kamu mau kemana?”
“Mau ikut Nur Fatma pulang ke kampung. Aku bosan di rumah.”
Tak ada suara diujung telepon. Sudah pasti Wildan sedang mempertimbangkan keputusannya. Apa lagi jika mengingat kondisi Clary yang tengah hamil besar. Terasa berat baginya untuk mengizinkan wanitanya itu keluar dari rumah. Namun, Clary juga butuh refreshing. Asalkan bersama Fatma, Wildan tentu mengizinkan.
“Ya udah, kamu pergi sama Fatma kan?”
“Iya, dong Sayang. Kan pulang ke kampungnya Fatma,” jelas Clary sambil memandang wajah Bodyguard-nya yang tampak asik duduk bersila di sofa.
“Berapa lama?” tanya Wildan kembali.
“Beberapa hari lah, Honey. Belum bisa dipastikan.”
“Ya udah, jaga diri baik-baik ya. Kabari aku lewat faksimile kalau ada apa-apa.”
“Iya, Honey. Kamu juga, jaga diri baik-baik di sana. I miss you.”
“I miss you too, Sayang.” balas Wildan dari ujung telepon.
Setelah memastikan telepon berakhir, Clary menyimpan ganggang telepon ke posisinya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Nur Fatma yang melihat seri wajah Clary, mulai menggoda wanita itu dengan beberapa guyonan.
“Cie…. Dapat izin nih?” ledek Nur Fatma.
“Apaan sih. biasa aja.” Clary menjawab datar.
“Hmmm…. Tapi lo senangkan udah dapat izin dari Wildan?”
Clary terdiam sembari menyimpulkan senyuman. Ia memelintir rambutnya yang terurai sebahu. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya. Setelah mengantongi izin dari Wildan, ia tinggal menyiapkan hati untuk bertemu kedua orang tua Vinson. namun, kejanggalan dalam hatinya masih terus berkecamuk. Vinson tergolong nekat untuk urusan perasaan.
“Hey! Lo ngelamun apa?” Nur Fatma mendekati Clary.
“Gue masih mikir gimana caranya ngadapin orangtua Vinson.” ucap Clary dengan wajah bingung.
“Ya elah, lo nurut aja apa kata Vinson. gue yakin aman kok.”
“Tapi….”
“Sebentar ya!” Nur Fatma menatap layar handphone di tangannya yang berdering kuat.
“Hallo, Vin.”
“Hallo, Fat. Kalian udah siap?” terdengar suara Vinson dari ujung panggilan.
“Tadinya lagi siap-siap sih. Cuma barusan Wildan telepon.” Nur Fatma mengusap keningnya.
“Ya udah. Kita berangkat lebih awal ya. Ntar gue jemput ke sana.”
“Waduh! Kami belum siap-siap, Vin.”
“Ya makanya gue kasi tahu lebih awal. Biar kalian siap-siap juga.”
“Hmmm…. Ya udah. Ntar kalau udah mau jemput kasi tahu ya.”
“Yoi. Gue mau pulang dulu ya. Ini masih di rumah sakit.”
“Oke, Vin. lo nggak ngomong sama Clary?” tawar Nur Fatma.
“Hmmm, nggak usah deh. Gue yakin Clary aman sama lo. Titip salam aja ya. Bilangin Vinson kangen. Hahaha,” terdengar gelak tawa Vinson.
“Hmmm…. Gaya banget lo, Vin. ya udah. Ntar gue sampaikan.”
“Terima kasih, Fat. Gue tutup teleponnya ya. Sampai jumpa ntar.”
“Oke, Vin.”
Tuuuttt….
Keadaan seketika menyepi. Clary memandang wajah Nur Fatma, sebab penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Fatma dan Vinson di telepon tadi. Meski hanya mendengar sekilas, tapi Clary tetap meminta Nur Fatma untuk menjelaskan kembali.
“Salam dari Vinson untuk lo.”
“Oh ya?”
“Yoi.” Nur Fatma mengangkat alisnya, “kita berangkat awal.” Lanjutnya kembali.
“Loh, nggak jadi sore?” Nur Fatma menggeleng.
“Ya udah, kita lanjut kemas-kemas yuk!” Nur Fatma bergegas ke kamar Clary.
Dengan susah payah, Clary ikut beranjak. Membopong tubuhnya sendiri yang terasa semakin berat. Langkah Nur Fatma sangat gesit. Berbeda dengan dirinya yang tampak berhati-hati dalam melangkah. Clary sudah sering merasa capai akhir-akhir ini. Minggu depan jadwalnya untuk pergi konsul ke dokter Voni. Clary berharap kandungannya baik-baik saja.
“Bi Ida masak apa?” Clary menyapa asisten rumah tangganya itu yang tampak asik mengurus dapur.
“Bibi masak tempe bacem kesukaan Non Clary.” sahut Bi Ida sambil menumbuk bumbu.
“Oh ya? Pasti enak.” Puji Clary sambil menghirup aroma tempe yang tengah ditanak dalam panci.
“Jelas dong. Kan Non Clary suka dengan masakan Bibi.”
“Hehehe…. iya, Bi.” Clary menyeringai.
“Non Clary jadi ikut Fatma pulang ke kampung?”
“Jadi, Bi.” Clary baru ingat jika ia belum memberitahukan kepergiannya pada Bi Ida.
“Ya udah, kalau gitu, Bibi bergegas masak ya. Biar sebelum berangkat Non Clary bisa nyicip masakan Bibi dulu.”
“Pasti dong, Bi. Kan Bibi sudah susah payah masak. Masa saya nggak makan. Ntar Bibi kecewa dong.” Clary meyakinkan Bi Ida.
“Ya udah, Non istirahat aja. Ntar kecapean, perjalanan jauh lo.”
“iya, Bi. Ini baru mau kemas-kemas. Ntar kalau semua sudah siap kita makan ya, Bi.”
“Siap, Non.”
Bi Ida nampak cekatan menyelesaikan tugasnya. Khawatir jika nanti Clary tiba-tiba harus berangkat dan masakannya belum selesai. Untuk Clary, Bi Ida selalu menyajikan menu terbaik. Apa lagi wanita itu tengah mengandung. Bagi Bi Ida, asupan vitamin yang cukup harus diterima oleh Clary. Namun, wanita itu cukup senang, karena selama ini Clary tidak milih-milih soal jamuan di meja makan. Sesekali perut Clary tidak menerima. Itu pun karena pengaruh kehamilannya.
Saat tiba di kamar, Clary tercengang menatap kegesitan Nur Fatma menyiapkan perlengkapan pribadinya yang hendak di bawa. Tanpa diperintah, bodyguard-nya itu telah mempersiapkan segalanya dengan tepat. Clary memuji aksi Nur Fatma sembari memeriksa lagi perlengkapan yang kurang atau yang tidak perlu di bawa.
“Lo hebat, Fat. Tahu aja keinginan gue.” Clary menatap beberapa barang yang dipajang Nur Fatma.
Perempuan bodyguard itu sengaja belum memasukkan barang-barang Clary ke dalam tas. Karena harus menunggu konfirmasi yang empunya. Padahal, jika menurut persiapan Clary cukup satu tas lebih kecil dari miliknya. Namun, jika dilihat dari hasil barang-barang yang sudah dipajang di atas tempat tidur, Clary harus mengganti tas dengan yang lebih besar.
“Yang ini nggak usah dibawa, Fat.” Clary menyodorkan sebuah sisir yang biasa ia pakai untuk menggulung rambut.
“Yakin.”
“Iya…. Kita ke sana buat liburan kan? Bukan buat dandan,” ucap Clary sambil memilah beberapa perlengkapan yang tidak akan dibawa.
Cukup lama keduanya berkemas. Setelah semuanya siap, Nur Fatma memasukkan barang-barang Clary ke dalam koper. Karena memang tidak ada tas yang muat dengan barang bawaan wanita hamil itu. Belum lagi, Clary minta untuk disiapkan beberapa cemilan kesukaannya. Jika dibandingkan dengan perlengkapan Noel, perlengkapan Clary tampak lebih banyak.
“Lo ngalahin Noel aja,” ujar Nur Fatma.
“Hahaha…. Perlengkapan Noel pasti lebih banyak dari punya gue.”
“Hmmm…. Prediksi gue bawaan lo lebih banyak.”
“Sok tahu lo.”
Clary menghempaskan tubuhnya ke atas kasur setelah Nur Fatma mengemaskan semua bawaannya ke dalam koper. Cukup lelah meski pun Nur Fatma yang lebih banyak bergerak. Clary berulangkali mengucapkan terima kasih kepada bodyguard-nya itu karena telah membantunya selama ini. Bahkan untuk urusan pribadi pun Nur Fatma dengan setia membantu Clary. Setelah siap, mereka tinggal menunggu kedatangan Vinson.