Perencanaan yang Konyol

1761 Kata
Berdiri seorang wanita dengan ciri khasnya sendiri di depan pintu kamar Clary. dia membawa seporsi nasi goreng kesukaan Clary. menyajikan nasi goreng itu dalam piring putih yang dimintanya pada Bi Uni. Dia sengaja datang untuk menjenguk Clary, pagi itu. Dengan tangan kanannya, ia mengetuk pintu. Clary yang baru saja terbangun dari tidur, menguap dengan lebar. Disangkanya Vinson yang hendak masuk ke dalam kamarnya. Ia sengaja tak ingin membenah diri. Lagi pula, Vinson juga hampir setiap pagi membangunkannya. “Tara….” Nur Fatma membawa seporsi nasi goreng dan segelas s**u ditangannya. Ia sengaja datang pagi-pagi. Agar bisa menyapa Clary saat terbangun dari tidur. Clary yang basru saja menguap terpaksa menutup mulutnya dan memandang heran pada Nur Fatma. “Elo…. Kok lo bisa datang sepagi ini?” “Yoi, gue sengaja. Biar bisa menjamu sarapan pagi buat lo.” Nur Fatma merapikan meja yang tampak berantakan. Lalu meletakan sarapan Clary di sana. Menyimak gerakan Nur Fatma, Clary menyibak selimut tebal yang masih melekat dalam tubuhnya. Namun, Nur Fatma dengan gesit membantu Clary bangun dan merapikan tempat tidur. “Ada salam dari Bi Ida,” ucap Nur Fatma sambil melipat selimut. “Oh ya? Nasi goreng ini buatan Bi Ida?” “Iya dong, masa buatan gue?” “Hmmm… buatan elo juga enak, Fat. Kan lo pernah masak nasi goreng pas pertama kali datang ke rumah Wildan.” “Oh, iya. Gue lupa. Maklum gue kepikiran elo terus sih.” Clary mencicip nasi goreng yang tersedia di hadapannya. Terasa enak. Membuat ia melahap dengan cepat. Nur Fatma merebahkan diri di samping Clary. Ia tak peduli seberapa lahapnya Clary makan. Nur Fatma hanya memandang wajah Clary yang sudah hampir dua pekan tak dijumpainya. “Lo kok nggak ngomong ke gue kalau lo itu sahabatan sama Vinson?” “Hmmm…. Kan, Vinson udah kasi tahu lo.” “Iya, tapi kan lo harus ngasi tau juga. Waktu gue telepon hari itu kenapa lo nggak kasi tahu gue?” “Vinson yang larang.” “Lo berdua sekongkol ya? Untung gue diculik orang baik.” “Maka dari itu, gue nggak mau repot mikirin elo.” Seporsi nasi goreng hampir habis. Hanya tersisa beberapa suapan lagi. Clary merasa puas dengan makanan kesukaannya itu. Beberapa kali, Bi Uni juga membuat nasi goreng. Tapi, Clary tak begitu menikmati. Mungkin karena bawaannya yang sedang hamil. Tetap saja ia selalu merindukan nasi goreng buatan Bi Ida. Dan hari ini, Nur Fatma berhasil menyuguhkan nasi goreng kesukaannya itu. “Tapi lo betahkan di sini?” “Hmmm…. Awalnya gue mau kabur. Tapi, lama-lama gue betah.” Clary meletakkan piring nasi goreng yang sudah tak bersisa. Terdengar suara di kerongkongannya, ketika meneguk segelas s**u hangat. Setelah menghabiskan segelas s**u, Clary melangkah menuju cermin. Menatap wajahnya yang masih acak. “Fat, Wildan ada telepon?” Nur Fatma menggeleng. Mengingat suami Clary itu sudah tak mengabarinya lagi sejak sepekan yang lalu. Fatma maklum, karena posisi Wildan sedang berada di luar negeri. Lagi pula, laki-laki itu pasti tengah sibuk menyiapkan berkasnya untuk pindah kewarganegaraan. “Hmmm…. Apa dia udah lupa sama gue ya?” “Hussttt…. Lo ngomong apa sih. Lo kan istrinya. Lagi pula Wildan pasti sibuk di sana.” “Seharusnya dia ngabari dong,” wajah Clary sedikit cemberut. “Ya elah, Cla. Bagus dong Wildan nggak ada telepon. Ntar kalau dia tanya ke gue elo dimana gue harus jawab apa?” “Eh, iya ya. Hahahaha….” tiba-tiba gelak tawa Clary menggema. “Nah, baru sadar lo,” gantian Nur Fatma yang merungut kesal. Saat tengah asik bergurau, keduanya dikagetkan dengan suara bayi yang menangis. Tentu saja itu Noel. Tangisnya selalu memekik telinga. Sejak Clary hadir di situ, Noel akan lebih tenang jika berada dalam pelukan Clary. Tanpa pikir panjang, Clary langsung beranjak menuju kamar Noel. Tangannya meraih jepit rambut yang tergeletak di meja rias. Mengucir rambutnya lalu melangkah ke luar kamar. Benar saja, Noel menangis di tempat tidurnya. Bi Uni belum sempat mendatangi Noel karena sedang membereskan dapur. Clary segera meraih bayi lucu dan menggemaskan itu. Menimangnya dengan penuh kasih sayang. Noel tampak tersenyum kecil. Membuat Clary berkali-kali mengecup pipi bayi mungil itu. Nur Fatma memperhatikan dengan seksama. “Cla…. Bayi ini?” tanya Nur Fatma heran. “Ini anaknya Vinson?” “Wah, Vinson nggak kasi tahu gue kalau dia udah nikah.” “Lah, emang belum nikah kok.” Clary mengayun pelan tubuhnya agar Noel tetap merasa tenang dalam gendongannya. “Lalu bayi ini?” “Vinson mengadopsi anak ini.” “Ooo… gitu toh.” Nur Fatma mengangguk-angguk tak jelas, seolah mengerti dengan apa yang terjadi. “Fat. Lo buatkan s**u Noel gih!” ucap Clary memberi perintah. Dengan sigap, Nur Fatma menuju dapur. Ia menyapa Bi Uni yang tampak asik mencuci piring di wastafel. Membuat wanita paruh baya itu hampir dibuat kaget dengan suara Nur Fatma yang sedikit melengking. Nur Fatma terkekeh. Meski baru mengenal Bi Uni hari itu, tapi Nur Fatma seolah dekat. Ia memandang Bi Uni sama seperti Bi Ida. Kedua wanita itu memang patut untuk dihormati. “Neng Fatma mau buat s**u Noel?” “Iya Bi.” Bi Uni menunjukan botol s**u Noel yang sudah tercuci bersih. Ia meletakkan botol s**u itu di dalam lemari berdampingan dengan toples s**u. Nur Fatma bergerak cepat. Mulutnya sedikit bawel karena memang belum pernah membuat s**u untuk bayi. Nur Fatma takut kalau takarannya tidak pas. Terpaksa Bi Uni mengelap tangannya yang masih basah dan segera membantu Nur Fatma. Setelah yakin dengan takaran s**u Noel dan menyeduhnya dengan air hangat, Nur Fatma bergegas menuju kamar Noel. Vinson tampak hadir di sana. Noel yang tadi ada di gendongan Clary kini terlihat tenang dalam dekapan Vinson. “Eh, Fat. Lo kapan datang?” “Tadi pagi. Nah….” Nur Fatma menyodorkan botol s**u pada Vinson. Laki-laki itu meraihnya dari Nur Fatma. Terlihat tidak canggung, karena Vinson sudah terbiasa memberi s**u kepada Noel. Nur Fatma berdecak kagum. Ia tak menyangka jika Vinson bisa merawat bayi mungil itu dengan caranya sendiri. “Lo serius ngadopsi bayi ini, Vin?” “Ya iya lah. Nih sekarang ada sama gue,” jawab Vinson sambil terkekeh. Nur Fatma tampak masih meragukan ketulusan Vinson. tapi, mengingat kebaikan keluarga Vinson selama ini, Nur Fatma harus percaya. Ayah dan Ibu Vinson sangat baik padanya. Dulu, Nur Fatma tinggal berdampingan dengan rumah Vinson. Meski rumah Vinson terlihat mewah, namun Vinson tak pernah malu untuk berteman dengan Nur Fatma. Meski terkadang Nur Fatma merasa minder, namun Vinson selalu meyakinkan Nur Fatma bahwa tidak ada kesenjangan di antara kehidupan mereka. Bahkan untuk beberapa kali, ayah dan ibu Vinson membawa Nur Fatma jalan-jalan ke kota. Karena Vinson anak tunggal, kerap kali ibu Vinson meminta Nur Fatma untuk datang ke rumahnya. Sejak kecil, Nur Fatma memang seperti anak laki-laki. Sangat tomboy. Sehingga ia merasa risih jika Ibu Vinson menyisir dan mengikat rambutnya dengan rapi. “Bapak dan Ibu apa kabar, Vin?” “Bapak dan Ibu sehat. Lo pernah pulang ke kampung?” “Udah lama gue nggak pulang.” “Oh ya? Kapan ada waktu pulang? Kita barengan ya?” Nur Fatma menatap Clary. Seakan meminta izin pada bos-nya itu. Clary tak menggubris. Membuat Nur Fatma mencibirnya. Vinson yang melihat kedekatan antara Nur Fatma dan Clary menjadi tertawa geli. Vinson dapat menebak isi hati Clary, jika wanita itu tak akan membiarkan Nur Fatma pergi seorang diri. “Lo mau ikut juga, Cla?” “Ammm…. Ng…. nggak. Gue kan lagi hamil.” Clary berusaha menimpali kegugupannya. “Hmmm, bilang aja lo mau ikut!” Nur Fatma sedikit meledek. “Nggak jauh kok. Palingan Cuma dua jam dari sini. rumah ortu gue kan dekat. Lo mau ikut?” tanya Vinson lagi. “Lo berdua serius?” “Iya, ntar kita boyong Bi Uni dan Noel juga. Kalau lo capek, kita bisa nginap di sana.” “Yes…. Kapan kita berangkat, Vin?” Nur Fatma tampak tidak sabaran. “Hari ini Kamis ya?” Nur Fatma mengangguk. “Ya udah, ntar Jumat sore kita berangkat.” Vinson memberi keputusan. Wajah Clary sedikit merona. Sebab, sudah dua mingguan ini ia terkurung di apartemen Vinson. Ia merasa beruntung karena Vinson akan membawanya untuk menikmati alam. Meski terbesit keraguan dalam hatinya. Bagaimana jika kehadirannya nanti menjadi pertanyaan bagi kedua orang tua Vinson. “Vin. Lo yakin mau bawa gue pulang ke rumah ortu lo?” tanya Clary ragu. “Yakin dong. Emangnya kenapa?” “Kan gue lagi hamil ntar ortu lo nanya yang macam-macam lagi.” “Ya bilang aja lo emmang hamil anak gue.” “What?!” Clary bertambah bingung. Nur Fatma tertawa kecil. Ia menjadi geli sendiri melihat keraguan Clary. Belum lagi Vinson dengan ucapan datarnya. Seolah-polah Clary memang benar sedang hamil karena dirinya. “Clary benar, Vin. mengenai Noel lo udah cerita ke Bapak dan Ibu?” Nur Fatma memastikan ucapan sahabatnya. “Belum.” Vinson menjawab datar. “Tuh kan…. Ntar ortu lo pasti nanya.” Clary merungut. “Hmmm…. Lo berdua tenang aja. Bapak dan Ibu nggak separah yang kalian kira kok. Tinggal bilang aja ini anak kita, Cla.” “Apa? Lo gila kali, Vin. Mana mungkin kita harus berbohong dari orang tua.” Clary bertambah kesal. “Hahaha….” Vinson malah terkekeh melihat wajah dua wanita dihadapannya yang tampak kebingungan.  “Gue nggak jadi ikut deh. Dari pada buat ribet,” ucap Clary masih menahan kesal. “Ya udah, gini…. Ntar soal Noel kita cerita kebenarannya. Tapi soal lo hamil, lo harus nurut sama gue.” “Ya ampun, Vin. lo emang gila ya. Gue nggak habis pikir. Gimana kalau ortu lo tau gue ini istri orang?” “Istri orang? Istri siapa?” “Wildan.” Clary menjawab singkat. “Lo tuh belum nikah dengan Wildan.” “Vin….” Nur Fatma menegahi ucapan Vinson. “Tapi emang benar kan, Fat?” melihat keseriusan di wajah sahabatnya, Nur Fatma terpaksa mengangguk. “Lo mau kan nikah sama gue?” tanya Vinson pada Clary. Wajah Clary menunduk. Seakan tak percaya dengan apa yang di ucapkan Vinson. Bagaimana pun juga ada hati Wildan yang harus dia jaga. Tawaran Vinson sama sekali tidak ada artinya dari sebuah penantiannya untuk Wildan. Meski membungkus hatinya dengan kekesalan, Clary juga tak menampik jika ia menyukai Vinson. Entahlah, Clary seolah hanya pasrah mengikuti arus hidupnya. Ia hanya menunggu besok, kesempatan untuk menennagkan otaknya di kampung Vinson. Meski akan menimbulkan pertanyaan, Clary harus siap dengan konsekuensi yang ada.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN