Riuh suara supporter di lapangan basket menambah semangat para team yang berjuang memasukkan bola di ring lawan. Tampak beberapa anak laki-laki dengan gesit saling merebut bola yang tengah di drible oleh salah satu di antara mereka. Cuaca cukup cerah hari itu.
Di antara para supporter, Clary dan Winda hadir di sana dengan mengenakan pakaian sekolah. Winda yang selalu ceria tanpa malu-malu berteriak mendukung team dari sekolahnya. Clary meneguk air mineral dalam botol di tangannya. Menatap beberapa wajah supporter yang tak asing baginya. Ya… beberapa teman sekelasnya hadir di sana. Namun, ia masih sedikit canggung untuk memberi dukungan pada Vinson dan team-nya.
“Lo kasi dukungan dong!” Winda menyenggol pundak Clary.
“Caranya gimana?”
“Ya elah… teriak aja ikutin gue.” Winda menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil berteriak histeris, “elang team! Semangat! Kalian pasti bisa!”
Semua menoleh pada Winda. Melihat wajah-wajah yang keheranan menatap wajah sahabatnya, Clary tersenyum geli. Winda memang asik dan tidak tahu malu. Bahkan ia sama sekali tidak mengubris celotehan beberapa supporter lainnya.
“Hahaha….” Clary tak bisa menutup ketawanya yang lepas begitu saja.
“Huuuuuu….” deru sorak para supporter mengarah pada keduanya.
“Vin! Elo pasti bisa. I love you, Vin! Dari Rara.”
Tiba-tiba suara seorang siswi terdengar dari ujung kiri Winda dan Clary. Keduanya menoleh ke sana. Benar saja. Seorang sisiwi bernama Rara yang terkenal ambisi mengejar cinta Vinson. tampak bersemangat memberi dukungan pada laki-laki itu. Parahnya lagi, Rara menggenggam speaker toa sehingga suaranya terdengar jelas sampai di lapangan basket.
“Uuuh… dia lagi.” Winda merungut kesal.
“Lo kenapa sensi, Win?”
“Gue risih sama tuh cewek. Lo tahu nggak kalau dia tuh naksir berat sama Vinson.”
“Tahu ah. Bukan urusan gue.”
“Ye…. Ntar lo kalah saing loh.”
“Nggak penting.”
Tiba-tiba mata Clary melotot menyaksikan aksi seorang laki-laki di lapangan basket. Tampak gagah dan tampan. Winda mengikuti pandangan Clary. bisa ditebak, sahabatnya itu sedang mengaggumi salah satu pemain yang ada dilapangan.
“Oh my good,” gumam Clary sambil menutup wajahnya.
“Oh, Bara?”
Clary memandang wajah sahabatnya. Winda malah tampak cuek. Sejak tadi siang ia mendukung hubungan Clary dengan Vinson. Namun pandangan Clary malah berpusat pada Bara. Tentu saja hal itu membuat Winda sedikit kesal. Padahal ia sudah menjelaskan pada Clary bahwa Vinson merupakan laki-laki incaran di sekolah mereka. Namun, sahabatnya itu tak mempercayai begitu saja.
“Lo jangan naksir dia. Bara itu banyak cewek.”
“Sok tahu lo.”
“Lah, Nggak percaya lagi. Coba aja lo kenal sama dia.”
“Lo jangan matahin semangat gue dong, Win. Kan gue belum kenal dia.”
“Hmmm ya udah kalau nggak percaya. Ntar gue kenalin lo sama dia.”
Suara peluit menggema di lapangan. Team Vinson menang telak. Suara supporter menggema di sisi lapangan basket. Tampak Vinson dan teamnya beristirahat di sebuah bangku taman. Winda menarik tangan Clary untuk menuju ke sana.
“I… ih apaan sih! Kita pulang yuk! Ntar gue dicariin Bibi.”
“Ye… sebentar doang kok. Kan elo mau kenalan sama Bara.”
“Ya, tapi nggak sekarang, Win.”
“Sekarang!” Winda mempercepat langkah, memaksa Clary untuk mengikuti gerakannya yang seperti ulat.
Di kursi taman tampak beberapa orang dari team langsung bubar. Sialan, Rara mendahului mereka untuk mendekati Vinson. Bara yang sejak tadi tak luput dari pandangan Clary segera meraih tas dan bergegas pergi sebelum keduanya datang ke sana. Hanya tertinggal Vinson yang tampak bersikap ramah melayani godaan Rara.
“Vin… Son…. Elo keren deh,” ucap Rara dengan ingkah manja.
“Apaan sih, Ra. Gue tuh keren baerng team.” Vinson menjawab enteng sambil meneguk air mineral dalam botol minumnya.
“Vin, lo ada waktu nggak buat ngedate bareng gue?” lagi-lagi Rara dengan lancang memberi tawaran pada Vinson.
“Maaf, Ra. Bukannya gue nggak mau. Ntar malam gue mau temanin bokap. Ada urusan keluarga.”
“Yah, masa lo nolak terus sih?”
“Ntar deh lain kali ya, kita ngedatenya bareng teman-teman yang lain.”
Vinson merapikan perlengkapannya yang masih berserakan di bangku taman. Ia tidak menyadari kehadiran Clary dan Winda di belakangnya. Kedua gadis itu tersenyum geli melihat keberanian Rara untuk merayu Vinson.
“Vin!” Winda menyapa laki-laki yang berpeluh keringat itu.
“Eh, Cla…. Winda.” postur tubuhnya berdiri tegap sambil mengelap peluh keringat yang membasahi wajahnya.
“Am…. Gimana, Vin tawaran gue tadi?” Rara memotong basa-basi mereka.
“Hmm…. Gimana kalau kita ngedate bareng Winda and Clary,” tiba-tiba, Vinson merubah rencana.
“Sama mereka?” Rara menunjukkan wajah tak suka. Membuat Winda sedikit geram.
“Iya, sama mereka. Lo belum kenal sama Clary kan? Siswa baru di sekolah kita, ini di….”
Belum sempat Vinson menyelesaikan pembicaraannya, Rara sudah bergegas pergi. Tampaknya gadis itu menanggung kecewa setelah berkali-kali memberi tawaran ngedate bareng Vinson namun selalu ditolak oleh laki-laki itu.
“Yah…. Pergi dianya.” Winda tertawa geli melihat sikap Rara yang sok manja.
“Biarin aja!” Vinson duduk di bangku taman, “Cla, kamu ada lihat pertandingan tadi?”
Clary mengangguk lalu duduk di samping Vinson, “Selamat ya. Kak Vinson dan team memang hebat. Pertandingan hari ini tampak seru,” Clary sedikit memberi pujian.
“Terima kasih, Cla. Team semangat karena dukungan supporter juga.”
“By the way, kalian berdua setelah ini mau kemana?”
“Saya mau langsung pulang, Kak. Soalnya Bibi pasti udah nunggu di rumah.”
“Oh, ya udah. Kalau nggak buru-buru, gue mau ajak minum es campur di warung depan.” Vinson memberi ajakan.
“Hmmm…. Boleh… boleh.” Winda langsung menyetujui.
“Husssttt…. Lo jangan gitu dong. Ntar gue pulangnya telat. Clary sedikit berbisik pada sahabatnya.
Mendengar keraguan Clary, Vinson tidak memaksa. Ia kembali menawarkan di lain waktu saja. Namun, Winda tetap menyetujui ajakan Vinson. Ia berharap dengan adanya waktu bersama, Clary bisa membuka hati untuk laki-laki tampan di hadapannya.
“Ya udah, tapi nggak lama-lama kan?”
“Cuma sebentar kok, Cla.” Vinson menimpali.
“Tuh, sebentar doang kok. Habis minum kita pulang. Ya kan, Vin?”
“Yes. Ntar kalau pulangnya telan, saya antarin kamu pulang.”
“Ah, Kak Vinson nggak usah repot. Ntar saya bisa pulang sendiri kok.”
“Ya udah…. Tapi, kamu nggak keberatan kan singgah bentar bareng saya.”
“Sekali-kali boleh kok.” Clary tersenyum kecil.
Mereka bertiga melangkah menuju kantin yang ada di seberang sekolah. Di sana ketiganya tampak bersanda gurau bersama. Vinson yang kelelahan karena pertandingan tadi menyeruput es campur dengan lahap. Ia tak peduli lagi jika harus berhadapan dengan dua gadis manis yang ada di hadapannya.
“Kak Vin, cowok tinggi yang tadi satu team sama Kak Vinson itu siapa?”
“Hmmm siapa ya?” Vinson mengingat-ingat.
“Bara….” Winda menimpali.
“Oh, Bara. Kenapa?” Wajah Vinson tiba-tiba berubah datar.
“Clary naksir kali tuh!” Lagi-lagi Winda menimpali.
“Ng… nggak, Kak. Saya Cuma nanya aja.” Clary berdalih.
“Kamu suka sama Bara?” Vinson bertanya serius pada Clary.
“Tadinya, saya Cuma lihat cara bermain Kak Bara bagus. Dia mahir mendribel bola.” jelas, Clary.
“Ooo…. Gitu. Iya, Bara kan ketua team.”
“Ketua team?” Clary tampak bersorak girang.
“Iya. Emang kenapa?”
“Nggak. Pantas aja gesit.”
“Kamu mau kenalan sama Bara?”
“Hmmm…. Nggak. Nanti aja. Kak Vinson jangan bilang-billang soal ini sama Bara ya.”
“Hahaha….” Vinson mengeluarkan gelak tawanya.
“Kok Kak Vinson ketawa sih?”
“Kamu ternyata lucu ya, Cla. Biasanya kalau begitu tanda-tanda seorang cewek lagi naksir cowok tuh. Ya nggak, Win?”
Vinson bertanya pada Winda yang tampak asyik menyeruput es campur di dalam gelas. Winda hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak setuju. Vinson menatap wajah lugu Clary. Gadis itu tampak tersipu malu.
“Eh, udah hampir jam lima nih.” Clary melirik jam di pergelangan tangannya.
“Kamu mau dianter?” Vinson menawarkan tumpangan.
“Hmmm…. Saya bisa pulang sendiri, Kak.”
“Udah, nggak apa. Karena ajakan saya, kamu jadinya pulang telat. Saya harus membayarnya dengan mengantarkan kamu pulang.”
“Terima kasih, Kak. Winda gimana?”
“Udah, Lo tenang aja. ntar supir bokap gue jemput.”
“Lah kenapa gue nggak bareng lo aja, Win.” Clary sedikit memohon pada Winda.
“Hmm…. Kayaknya sopir bokap datangnya masih lama. Ntar lo makin kesorean pulangnya. Lo pulang bareng Vinson aja deh.”
Clary menatap wajah Vinson. memastikan apakah laki-laki di hadapannya itu benar bersedia untuk mengantarnya pulang. Tanpa pikir panjang, Vinson meraih kunci dari saku celananya. Ia bergegas meninggalkan Clary dan Winda.
“Kamu tunggu di sini ya. Ntar 20 menit lagi saya jemput.”
Winda menyenggol pelan pundak Clary yang masih berdiri kaku. Clary merasa tidak nyaman jika harus merepotkan Vinson untuk mengantarnya pulang. Karena itu, tadi dia berupaya agar Winda mau memberinya tumpangan. Namun, sahabatnya itu dengan sengaja membiarkan Vinson mengantar dirinya Pulang.
Tiiittt…. Tiiittt
Suara klakson mobil membuat Clary dan Winda menoleh ke sana. Vinson membuka kaca jendela mobil dan turun untuk menjemput Clary. Winda bersorak girang melihat sahabatnya diantar pulang menggunakan mobil.
“Kak Vinson berani nyetir mobil?” Clary merasa ragu.
“Berani dong. Kan ayah saya udah kasi izin. Lagian bawa mobilnya juga Cuma untuk ke sekolah doang. Kan dekat.”
“Hmmm… ya udah. Win, gue balik duluan ya.”
“Oke, Honey. Lo hati-hati ya…. Vin, gue titip Clary ya.”
“Siap!” jawab laki-laki itu singkat.
Dalam perjalanan, Clary menjadi kikuk. Sebab Vinson sesekali mencuri pandang padanya. Laki-laki itu selalu tersenyum manis setiap beradu pandang dengan mata Clary.
“Cla, kamu benaran suka dengan Bara?” tiba-tiba saja Vinson bertanya soal perasaan Clary.
“Kok, Kakak nanya begitu?”
“Habisnya kamu buat penasaran sih.”
“Ya, saya kan belum kenal Kak Bara.”
“Tapi, kamu kagum kan sama dia?”
“Hanya sebatas kagum, Kak. Nggak lebih dari itu.”
“Hmmm…. Gitu ya.”
Clary mengangguk pelan. Lagian, ia pun belum pernah bicara langsung pada Bara. Clary hanya terkesima pada laki-laki itu saat dalam pertandingan tadi. Tampak gesit dan punya kemistri sebagai seorang pemimpin team. Wajar, jika ia kagum dengan gerakan Bara.