Moment in the Libary

1797 Kata
Sebelas tahun yang lalu…. Untuk pertama kalinya Vinson dan Clary bertemu. Di ruang perpustakaan yang bersih dan rapi. Dua sejoli ini kerap menghabiskan waktu istirahat di sana. Clary menggenggam sebuah novel di tangannya. Dari jauh, Vinson tersenyum dan perlahan mendekati Clary. “Suka baca juga ya?” Clary mengangguk dengan senyuman yang dihiasi lesung pipi. Menatap wajah laki-laki tampan yang seketika berdiri di hadapannya. Harum parfum dengan aroma maskulin di tubuh Vinson tercium lembut. Vinson mengulurkan tangannya di hadapan gadis yang tampak gugup menatapnya. “Vinson Airlangga Dewa. Panggil aja Vinson.” “Clary.” gadis itu menyebut singkat namanya. “Kamu adik kelas?” tanya Vinson kemudian. Clary mengangguk. Hari itu adalah hari kesepuluh Clary masuk di sekolah yang sama dengan Vinson. Clary merupakan siswa pindahan. Sejak kedua orangtuanya tiada, ia mengikuti bibi yang sudah merawatnya sejak kecil. “Kamu siswa pindahan itu?” lagi-lagi Clary mengangguk. “Kak Vinson kelas berapa?” “Hmmm… aku kelas sebelas IPA.” Vinson meraih sebuah buku yang ada di rak paling atas. Tepat di atas kepala Clary. Membuat gadis itu sedikit menunduk. Vinson tersenyum karena melihat gadis itu salah tingkah. Padahal ia sengaja melakukan hal itu untuk melihat reaksi Clary. “Ya udah, kita duduk di meja baca yuk!” Keduanya lamgsung melangkah ke meja baca. Tampak beberapa siswa sedang melakukan aktivitas yang sama. Tidak banyak dibandingkan ratusan siswa yang ada di sekolah itu. Jika dihitung tidak lebih dari dua puluh siswa. Budaya literasi di Indonesia memang berbeda. Isi kantin cenderung lebih ramai dari pada perpustakaan. “Oh ya, Kak Vinson hobi baca?” “Ya…. Begitulah. Saya juga ketua program mading.” “Oh ya? Saya juga suka nulis, Kak.” “Wah, boleh dong ajukan naskah kamu ke ruang mading. Ntar teman-teman team yang akan seleksi.” “Siap, Kak. Besok saya ajukan naskah terbaik.” “Senang sekali bisa kenal sama kamu, Cla. Semoga betah di perpustakaan ya.” Waktu istirahat yang singkat membuat perbincangan keduanya harus berakhir. Clary dan Vinson berjalan beriringan menuju kelasnya. Tanpa diminta, Vinson mengantar Clary sampai di depan kelas sepuluh IPA. Gadis manis berlesung pipi itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Vinson karena telah bersedia mengiring langkahnya menuju kelas. Beberapa teman Clary meledek. Tak terkecuali Winda. Teman sekelas Clary yang sejak kedatangan Clary menyambutnya dengan hangat. Namun, Winda tidak hobi membaca seperti Clary. gadis itu lebih senang nongkrong di kantin dengan segelas es the manis dan cekikan dengan beberapa temannya. “Cie…. Cla udah dapat gebetan.” “Hussttt…. Lo apaan sih, Win. Kami tadi Cuma ngobrol soal literasi. Ya kan Kak Vinson?” Clary memandang wajah Vinson. Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum menatap Winda. “Ya udah, saya pamit ke kelas dulu ya. Ntar kalau kamu ada rencana mengembangkan literasi hubungi anak-anak mading atau kamu tanya langsung ke aku ya.” “Ya jelas tanya langsung ke elo aja, Vin.” Winda memotong pembicaraan Vinson, membuat laki-laki itu tersenyum malu. “Winda….” Clary, dengan sikap lembutnya sedikit mencubit pinggul sahabatnya itu. Vinson beranjak dari hadapan keduanya. Winda dengan gesit menarik tangan Clary ke dalam kelas. Mereka duduk berhadapan untuk membahas Vinson. karena punya karakter yang kepo, Winda mengulik hubungan Clary dengan Vinson. “Elo udah kenal berapa hari sama Vinson?” “Baru hari ini?” “Mustahil!” Winda memastikan. “Benar. Tadinya Vinson dekatin gue. Ya, karena bawaannya ramah, gue juga welcome.” “Lo tahu nggak Vinson itu siapa?” “Ketua program mading.” Clary menjawab singkat. “Aduh, Cla….” Winda menepuk jidatnya. “Emang kenapa? Salah ya?” “Eh, Cla. Siswa baru yang belum tahu apa-apa. Nih gue kasi tahu ya….” “Apaan sih lo….” Clary tertawa geli melihat kekonyolan sahabatnya itu. “Vinson itu, siswa berprestasi. Pemenang olimpiade tingkat nasional, terus dia juga selalu juara umum. Punya hobi basket dan ketua program mading yang baru lo tahu tadi.” “Oooh.” Clary manggut-manggut. “What?! Cuma oh? Lo nggak penasaran?” “Nggak. Emang apa hubungannya dengan gue?” “Ya adalah. Lo beruntung bisa kenal sama dia. Vinson nggak pernah nyapa cewek lo.” “Sok tau lo!” Clary balik meledek Winda. “Aduh…. Maksud gue tuh, nggak semua cewek gampang dekati Vinson. Lo beruntung bisa disapa langsung dan diantar ke depan kelas.” “Nah, soal ini gue nggak tahu ya. Gue kan nggak minta ditemani melangkah.” “Ya, tapi kan lo lihat sendiri tadi, Vinson dengan setia mengantar lo sampai di sini.” “Cuma kebetulan.” “I… ih…. Apaan sih elo.” “Kok jadi lo yang bawel? Hahaha….” Clary tertawa melihat bibir Winda yang monyong seperti paruh bebek. “Udah ah. Ntar sore kita ke lapangan basket ya. Vinson pasti ada latihan di sana.” “Gue nggak sempat, Cla.” “Yah, please…. Kali ini aja. lo mau ya…. Ya….” “Lo apa an sih. Bawel!” Clary meraih buku dari dalam tas. Meletak buku itu di atas meja dan siap belajar. Beberapa siswa sudah berjalan kocar kacir menuju kursinya masing-masing. Dari kejauhan, Pak Asmat, guru mata pelajaran Bahasa Inggris melangkah dengan cepat ke ruang kelas sepuluh IPA. “Good afternoon, studens.” Pak Asmat meletakkan dua buah buku literatur di atas meja. “Good afternoon, Sir.” seluruh siswa menjawab serempak. “How are you today?” “Im Okey, Sir. And You? Beberapa siswa menjawab sapaan Pak Asmat. “Okey, let’s start learning. Prepare the study equipment and listen to my directions,” Pak Asmat memberi arahan. Winda berbisik-bisik di hadapan Clary. Meminta contekan tugas bahasa Inggris pada Clary. Suara deheman Pak Asmat membuat Winda tersenyum kecut. Khawatir jika guru bahasa Inggris itu mengetahui tingkah konyolnya. Karena waktu sudah hampir menujukkan pukul satu siang, Pak Asmat beberapa kali menguap dan menahan ngantuk. Melihat kebiasaan guru mereka itu tertidur saat mengajar, beberapa siswa mulai beraksi dengan meminta contekan satu sama lainnya. Demikian juga dengan Winda. Gadis manis yang senang mengepang rambut itu gaduh dengan terus berbisik kecil pada Clary. “Cla…. Sssttt…. Bagi jawaban dong!” Tanpa menggubris, Clary fokus pada tugasnya. Namun, karena melihat wajah Winda yang memelas, Clary akhirnya menulis jawaban yang sama dengan dirinya di secarik kertas. Winda tampak tidak sabaran menunggu Clary melempar gulungan kertas kecil itu. “Sudah selesai?” Tiba-tiba saja Pak Asmat terbangun dari tidur, percis seperti orang ngigau. Kelas menjadi riuh. Sebab, tak bisa lagi saling menyontek. Winda dengan gesit menyalin contekan dari Clary pada lembar jawaban di hadapannya. Beberapa siswa yang sudah selesai, segera mengumpulkan jawaban di atas meja guru. Pak Asmat memperhatikan satu per satu siswa yang belum selesai. Takut kalau mereka saling menyontek. Padahal saat ia tertidur pulas tadi, seluruh siswa saling bekerja sama. Tak berselang lama, bel tanda berakhirnya pelajaran menggaung di lingkungan sekolah. Terdengar riuh para siswa hampir di setiap kelas. Menyambut waktu pulang yang paling berharga. Tak terkecuali, Clary dan Winda. Kedua gadis ini melangkah menuju perpustakaan. Sesuai janji Clary pada Winda sebelum pelajaran bahasa Inggris tadi di mulai. Clary akan menemani sahabatnya itu melihat pertandingan basket asalkan Winda mau menemaninya selama satu jam di perpustakaan. “Demi lo. Gue sebenarnya nggak betah jadi kutu buku.” “Ye…. Membaca itu wajib.” Clary mengayunkan langkahnya. Seakan bersorak senang karena hari ini Winda mau diajak ke perpustakaan. “Lo mah biasa. Lah gue?” Winda menunjuk pada dirinya sendiri. “Makanya dibiasakan, Win. Biar lo pintar dan nggak gaduh minta contekan.” “Hmmm…. Gue memang oon. Tapi gue bersyukur ada elo.” “Hahaha….” Clary terkekeh, “kemarin-kemarin waktu gue nggak ada, lo minta sama siapa?” “Gue minta sama Bimo.” Winda terkekeh. “Bimo? Si ketua kelas itu?” “Yoi. Dia fasih bahasa Inggris.” “Wah, mantap dong.” Saat hendak masuk ke dalam perpustakaan, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah keduanya. Clary menoleh ke belakang. Seorang laki-laki berkacamata, berkulit putih, tinggi besar bergegas mendekati mereka. “Kak Vin.” “Aam…. So… sorry. Saya menghambat langkah kalian. “Nggak apa-apa kok, Vin biasa aja. lagian gue sama Clary nggak buru-buru kok.” Winda dengan sigap menjelaskan. “Oh ya? Saya Cuma mau nawarin kamu nonton pertandingan basket ntar sore, Cla.” “Hmm…. Gitu ya? Kebetulan banget. Tadi Winda ngajak nonton.” “Jadi? Kalian benaran mau nonton?” “Iya dong, Vin. Tadi gue ngajak Clary. tapi dengan syarat gue harus nemani dia ke perpustakaan dulu.” “Bagus dong. Gue boleh gabung?” Clary dan Winda saling menatap. Lalu saling tersenyum dan mengangguk. Vinson tampak senang. Ia mengikuti langkah kedua gadis itu, masuk ke dalam ruang perputakaan. Saat tiba di meja registrasi, mereka menyapa Pak Dirman yang tengah asyik membaca sebuah buku sambil menunggu kehadiran siswa di sana. “Hallo, Pak!” Vinson memberi salam pada Pak Dirman. “Hey, Vin. Gimana?” “Biasa, Pak. Hari ini kena jadwal sift siang ya, Pak?” “Iya, Vin. Tadi pagi Bu Nurul. Siang ini jadwal saya.” “Hmmm… gitu. Ya udah, Pak. Kami mau ke lorong baca dulu ya. Selamat bertugas.” Vinson bergegas mengikiti langkah kedua gadis yang mendahuluinya. “Kamu suka baca novel, Cla?” Tanya Vinson sambil membantu Clary meraih sebuah buku di rak paling atas. Gadis manis itu hanya mengangguk. Winda tampak berjalan mengelilingi rak buku. Ia bingung harus membaca apa. Vinson dengan sigap memandu keduanya. “Lo mau baca apa, Win?” “Am…. Gue bingung Vin.” “Untuk pemula, lo baca yang ringan-ringan aja. di rak sebelah kiri lo itu kumpulan cerpen. Coba lo baca.” “Oh ya? Di sebelah sini ya?” Winda semakin menjauh. “Iya.” “Kak Vinson nggak baca?” “Hmmm…. Saya nemanin aja.” “Wah, nggak imbang dong.” “Saya sebentar aja kok, Cla. Soalnya mau persiapan buat tanding ntar sore. Habis ini, saya mau singgah ke ruang mading dulu.” “Ooo, gitu. Ya udah, makasih ya udah mau temani kami.” “Sama-sama, Cla. Semoga kalian berdua enjoy ya di perpustakaan. Ntar jangan telat ke lapangan. Hari ini pertandingannya seru banget.” “Siap, Kak. Kami dukung penuh team Kakak kok.” “Hahaha…. Ya udah, saya pamit ya. Sampai bertemu nanti sore.” Clary mengangguk sembari mengiring langkah Vinson. Ia menuju meja baca setelah melambaikan tangan pada Winda. Tak lama kemudian, Winda menyusul langkah Clary. keduanya tampak asyik melahap buku sambil menunggu waktu ke lapangan basket nanti sore.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN