Dalam gendongan Clary, Noel merasa tenang. Sesekali bayi mungil itu tersenyum menatap wajah Clary. wanita hamil itu pun tampak semakin mahir merawat Noel. Clary bercengkrama asik dengan Noel. Ia mengecup sudut bibir Noel yang masih tercium aroma harum bayi.
“Anak Mama sudah bangun, Sayang?”
Hiksss, Noel bercengkrama dengan bahasa bayinya. Tingkah lucu Noel semakin membuat Clary merasa senang. Bi Uni pun tersenyum kecil melihat keakraban antara Noel dan Clary.
“Biar saya aja yang kasikan Noel, Bi.”
“Iya, Non.” Bi Uni menyerahkan botol s**u itu pada Clary.
“Bi…. Kasihan Noel ya?”
“Iya, untung ada Non Clary. Bisa menjadi ibu pengganti untuk Noel.”
“Kalau aja Vinson mau memberikan Noel pada saya, akan saya rawat sebaik mungkin, Bi.”
Di tengah pembicaraan Clary dan Bi Uni, Vinson tiba-tiba datang dan mendengar percakapan kedua wanita itu. Kehadiran Vinson membuat Clary dan Bi Uni kaget. Vinson tersenyum menyapa mereka dan segera meraih Noel dari gendongan Clary.
“Sini sama Dady, Sayang….”
“Noel belum selesai minum s**u, Vin.”
“Yuk!”
Tanpa mendengar ucapan Clary, Vinson meraih pergelangan wanita itu. Bi Uni yang menyaksikan hanya tersenyum kecil. Wajah Clary malah tampak kikuk. Vinson dengan lembut menggenggam tangannya. Menuntun wanita itu menuju ke kamar pribadinya.
“Lo ngapain, Vin?”
Saat tiba di kamar, Clary bertambah canggung. Sebab Vinson mengunci pintu kamar. Hanya ada mereka bertiga di sana. Seperti sepasang keluarga bahagia, Vinson bercengkrama dengan Noel dan Clary di atas kasur. Bayi mungil itu menendang-nendang kakinya di wajah Vinson. Clary yang tersenyum kagum menyaksikan keakraban keduanya.
“Cla…. lo bahagia nggak?” tiba-tiba pertanyaan Vinson membuyarkan lamunan Clary.
“Gu…. Gue? Gue bahagia kok,” jawab Clary gugup.
“Bukannya kemarin lo memberontak?” Vinson terkekeh.
“Kemarin….”
“Maafin gue ya, Cla. Gue malah buat lo menderita.”
“Gue nggak tau harus ngomong apa lagi, Vin. Gue jadi betah tinggal di sini.”
“Oh ya? Lo boleh kok tinggal selamanya di sini.”
“What? Nggak mungkinlah. Gimana kalau suami gue datang?”
Wajah Vinson tiba-tiba cemberut. Hati laki-laki itu merasa takut untuk kehilangan Clary. Seandainya saja, Clary tidak menjadi milik orang lain. Vinson tak akan membiarkannya pergi lagi.
“Lo udah nelepon ke rumah Wildan?”
“Udah. Gue ngucapin terima kasih ya karena lo akhirnya izinin gue nelpon ke sana.”
“Lo nggak jadi minta jemput?”
Clary menggeleng. Pertanyaan yang terulang dari Bi Uni. Entahlah, Clary merasa nyaman tinggal di sini. Namun, hatinya sedikit lega, sebab ia sudah memberitahu kepada Nur Fatma agar tidak mengkhawatirkannya lagi.
“Lo masih mau nyulik gue dalam jangka waktu yang panjang kan?”
Hahaha…. Vinson tertawa lepas mendengar pertanyaan Clary. Ia menatap lekat pada wajah wanita yang ada di hadapannya itu. Pandangan Vinson membuat Clary gugup. Laki-laki itu melekatkan wajahnya di hadapan Clary.
“Lo mau, gue culik selamanya?”
“Huuussst….” Clary mendorong wajah Vinson.
“Cla…. Gue serius. Lo masih nggak percaya sama gue?”
Wajah Clary menunduk. Pertanyaan akhir Vinson membuat otaknya sedikit ambyar. Kemarin, dia memang tidak mempercayai Vinson, tapi kini perasaannya telah berubah. Laki-laki itu hadir untuk memberi warna dalam hidup Clary. apa lagi, kini Wildan sedang berada di luar negeri. Clary tak menampik, jika ia membutuhkan perhatian dari seorang laki-laki. Apa lagi kini, ia tengah mengandung.
“Hey, Cla!” Vinson melambaikan jemarinya di hadapan Clary.
“Am…. Maaf, gue terpesona menatap Noel.” Clary berdalih.
“Hmmm…. Yang gue lihat mata lo nggak menatap Noel kok.” Vinson mengelus pelan kepala Clary.
“Sebentar ya, gue antar Noel ke Bi Uni dulu.”
Wildan segera meraih Noel yang asik bercengkrama sendiri di atas kasur. Vinson mengecup pelan kening bayi mungil itu. Melihat kasih sayang yang besar dari Vinson ke Noel, Clary berdecak kagum. Ketika hening sendiri di kamar Vinson, Clary melihat sebuah buku yang tergeletak di atas meja. Clary meraih buku itu dan membaca isi di dalamnya.
Pada halaman pertama, sebuah tulisan tangan yang indah terangkai dengan sangat apik. November 2005, Vinson menulis sebuah kenangan di perpustakaan. Untuk pertama kalinya ia berjumpa dengan seorang gadis di sana. Siapa lagi kalau bukan Clary. Membaca tulisan Vinson membuat Clary tersenyum sendiri. Ia baru tahu jika Vinson memang mengaguminya sejak awal.
Ketika hendak melanjutkan ke halaman berikutnya, Clary kelabakan karena Vinson sudah masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu mendekati Clary. Ia tahu kalau wanita itu tengah membaca diarynya. Bukannya marah, Vinson malah memeluk mesra Clary dari belakang.
“Udah habis dibaca, Sayang?”
“Am…. Maaf kalau gue lancang.”
“Nggak apa kok. Udah saatnya lo baca dan tahu semuanya.”
“Jadi, Lo nggak marah?”
“Nggak dong.”
“Lo kenapa nggak ngomong dari dulu sih?” Clary mendengus kesal.
“Bukan nggak mau ngomong, Sayang. Gue ditikung sama si Bara.”
“Sialan itu?”
“Lo jangan ngomong gitu dong, Cla.”
“Habis mau gimana lagi? gue tu benar-benar berantakan karena dia. Lo tahu kan sekarang gue hamil?”
“Ya tahu dong. Nih perut lo udah membesar.” Vinson mengelus perut Clary.
“Bukan itu masalahnya, Vin.”
“Terus, apa dong?”
“Gue hamil karena kebobolan.”
“Maksud lo?”
Clary menarik napas panjang. Melihat kesusahan Clary duduk di atas kursi, Vinson membopong wanita itu ke ranjang. Ia meminta Clary untuk berbaring di sana agar tidak terlalu capek. Vinson juga dengan sigap merapikan letak bantal agar Clary dapat merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
“Malam itu, gue bertengkar hebat dengan Bara. Untung gue punya Wildan yang sangat baik sama gue. Sejak kedatangannya di perusahaan, Wildan yang selalu menemani gue siapkan wedding. Tanpa Wildan, gue nggak tahu bakalan jadi apa.”
“Jadi, lo hamil?”
“Karena gue terlanjur kecewa oleh Bara, gue menumpahkan semua kekesalan gue sama Wildan.”
“Lo terlalu gopoh, Cla!” Vinson mendengus kesal.
“Tapi gue nggak tahu mau lari kemana, Vin. Sejauh yang gue tahu, Wildan orang baik kok.”
“Tapi, lo kan baru kenal dia.”
Clary terdiam. Selama ini memang tidak ada seorang pun yang mengingat dirinya. Apa lagi, Clary hidup sebatang kara. Hanya orang-orang terdekatlah yang dianggap sebagai keluarga yang bisa merangkul hidupnya. Perlahan air mata Clary tumpah. Sudah lama dia tidak mewek seperti ini.
“Kalau lo mau nangis, nangis aja, Cla.”
Vinson merangkul Clary. Perlahan jemari Vinson mengusap air mata wanita yang tengah mengandung anak Wildan itu. Vinson tahu, Clary begiru berat menanggung luka selama ini. Hanya saja, ia belum menemukan orang yang tepat. Meski pun Wildan tampak baik, tidak menutup kemungkinan, kalau Clary belum bisa memautkan hati padanya.
“Lo mencintai Wildan?” tanya Vinson perlahan.
“Entahlah. Gue tetap merasa hampa. Gue hanya bisa bersyukur, Wildan dengan tulus nyelamatin gue selama ini.”
“Bearti lo belum memantapkan hati untuk Wildan?”
“Mungkin….”
“Hmmm….” Vinson menghela napas panjang.
Untuk kesekian kalinya, mata mereka beradu pandang. Tapi, kali ini Vinson tak ingin melakukan apa pun pada Clary. Ia hanya ingin menenangkan wanita itu.
“Kalau aja lo lebih awal datang, mungkin gue nggak separah ini, Vin.” Clary segukan di pundak Vinson.
“Sssttt…. Lo jangan sedih. Sekarang gue ada untuk lo.”
“Tapi semuanya udah terlambat.”
“Belum sama sekali, Cla. Lo belum nikah sama Wildan kan?”
“Kok lo tahu?”
“Nur Fatma yang bilang.”
“Apa? Lo kenal Fatma?”
Vinson terkekeh melihat ekspresi wajah Clary ketika mengetahui kalau Vinson mengenal bodyguard-nya itu. Apa mungkin mereka saling kenal? Pantas saja Vinson dengan santai membuang handphone Clary ke tengah jalan.
“Vin…. Lo jangan ketawa dong. Lo kenal Fatma?”
“Iya.”
“Kalian?”
“Kami sahabatan dari kecil Cla. Waktu itu, Fatma posting foto elo. Dan gue langsung nanya ke Fatma tentang lo. Gue bersyukur lo di jaga oleh orang yang tepat.”
“Hmmm… pantesan aja Fatma santai waktu tau gue hilang dari rumah.”
“Gue yang bilang sama Fatma.”
“Lo emang gila ya. Nyulik gue dengan cara aneh lo ini.”
“Tapi, lo suka kan?” Vinson menggoda Clary.
“Suka sih suka. Tapi di awal lo malah mau buat jantung gue copot.”
“Gue sengaja kali. Biar lo sedikit tegang.”
“Trus, kalau gue mati gimana?”
“Ya nggak lah, Sayang. Lo masih tetap hidup kok. Hahaha.” Vinson tertawa ngakak.
“Kenapa Fatma nggak ngomong ke gue juga?”
“Gue yang larang. Ntar kalau di kasi ahu, lo malah nggak aman.”
“Terus, lo nyulik gue kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa. Gue hanya manfaatin kepergian Wildan aja.”
“Dasar gila.”
“Aduh….” Vinson meringis setelah mendapat cubitan dari Clary.
“Aduh…. Please, Cla. Jangan. Gue kesakitan nih.” Vinson kembali meringis setelah mendapat beberapa kali cubitan dari Clary.
Vinson mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Clary untuk menghentikan serangan tangan wanita itu. Mendapat perlakuan hangat dari Vinson, Clary tersipu malu. Vinson melekatkan wajahnya pada Clary, dengan lembut melumat bibir wanita itu denga mesra. Keduanya kembali jatuh dalam buaian asmara.
Cukup lama. Tapi, Vinson memperlakukan Clary dengan lembut. Dengan perlahan ia menanam cinta di rahim Clary. Meski pun benih cinta Wildan ada di sana. Vinson tak lagi ragu untuk menjamah wanita yang kini ada dalam pelukannya.
“Vin…. Kenapa lo mau lakuin ini ke gue?”
“Karena gue mencintai lo.”
“Seharusnya dari dulo lo ngomong begini ke gue.”
“Gue minta maaf, karena gue nggak bisa lindungi lo, Cla. Tapi gue janji. Setelah ini, nggak akan ada lagi yang nyakitin elo.”
“Trims, Vin. Gue nggak tau harus ngomong apa lagi.”
“Sssttt, lo tenang aja. Sekarang lo istirahat ya.” Clary mengangguk.
“Mau tidur sama gue atau di kamar sendiri?”
“Sama lo.” Clary merasa kesal dengan pertanyaan Vinson.
“Hehehe…. lo jangan ngambek dong. Lo boleh kok tidur sepuasnya di sini. Anggap aja kamar lo sendiri. Ya”
Clary tersenyum malu. Vinson tidak hanya baik tapi juga perhatian padanya. Dengan sigap, Vinson keluar kamar dan kembali dengan membawakan segelas air putih hangat untuk Clary. Dengan cepat wanita itu meneguk air hangat pemberian Vinson.
“Terima kasih, Vin.”
“Ya udah, lo istirahat ya. Gue mau lihat Noel sebentar. Nanti gue balik lagi ke kamar.”
Vinson berlalu meninggalkan Clary seorang diri. Setelah menatap kepergian Vinson, Clary membuka kembali diary yang tadi belum sempat ia selesaikan untuk membacanya. Di halaman kedua, tertera jelas nama Bara. Clary terpana saat membaca isi diary di halaman kedua itu.