Kondisi di rumah Wildan tampak kacau. Nur Fatma sudah menyebarkan beberapa flayer dari kepolisian untuk mencari Clary. Sementara Bi Ida, wanita paruh baya itu tak henti mengusap air mata di wajah sendunya.
"Non, gimana kalau Non Clary nggak ditemukan."
"Entah lah, Bi. Tapi saya yakin Non Clary akan baik-baik saja."
"Kita belum memberitahu Tuan Wildan."
Nur Fatma terdiam. Betul apa yg dikatakan Bi Ida. Mereka belum memberitahu pada Wildan soal Clary.
"Tunggu dulu, Bi. Wildan jangan dikasi tahu. Saya yakin Clary pasti baik-baik saja."
Nur Fatma meyakinkan Bi Ida. Melihat wanita paruh baya itu bersedih, Nur Fatma juga ikut meneteskan air mata. Bagaimana pun juga, Nur Fatma sangat menyayangi Clary. Sebab, Nur Fatma tahu bahwa Clary adalah perempuan baik. Hanya dengan Clary, ia dapat mencurahkan semua perasaannya.
Di tengah kegalauan Nur Fatma dan Bi Ida. Dering telpon rumah menggema. Bi Ida segera mengangkat telepon itu. Terdengar suara seorang laki-laki yang sudah tak asing lagi bagi Bi Ida. Ya, suara Wildan menelpon dari luar negeri.
“Halo.”
“Halo, Bi Ida.”
“Siapa?” Nur Fatma setengah berbisik di telinga Bi Ida.
“Tuan.” Bisik Bi Ida kembali.
“Sssttt…. Jangan kasi tahu apa pun.”
“Halo….”
“Aam… iya, Tuan. Halo.”
“Halo, Bi Ida. Clary dan Nur Fatma ada di situ?”
Nur Fatma menepuk jidat. Ia sendiri kebingungan harus menjelaskan apa dengan Wildan jika laki-laki itu menanyakan istrinya.
“Bi Ida…. Halo.” Wildan mengulang panggilannya.
“I…. iya Tuan. Non Fatma ada. Mau ngomong sama Non Fatma?”
“Iya, Clary nggak ada di situ, Bi?”
Bi Ida segera menyodorkan ganggang telepon pada Nur Fatma. Berharap wanita itu yang akan memberitahukan pada Wildan. Tapi, wajah Nur Fatma sedikit kecut. Ia khawatir jika nantinya keceplosan. Bi Ida menyenggol pelan tubuh Nur Fatma agar mau mewakili untuk bicara.
“Halo, Wil.”
“Fatma…. Kalian apa kabar?”
“Aa…m baik, Wil. Lo sendiri apa kabar?”
“Gue sehat, Fat. Clary gimana? Aman?”
“A…. aman, Wil.”
“Syukurlah. Tapi, gue nelepon nomornya nggak aktif. Handphone-nya bermasalah?”
“Mung…. Mungkin, Wil. soalnya….”
“Ya udah, kalau bermasalah, elo bantu Clary beli hape baru aja ya. Biar gue mudah komunikasi.”
“Am…. Iya, Wil. ntar gue kabari ya. Soalnya sekarang Clary lagi ke rumah temannya.”
Nur Fatma terpakasa berbohong. Lidahnya sedikit kelu, ingin berucap tapi tidak kesampaian. Nur Fatma takut jika Wildan mengetahui keadaan yang sebenarnya. Namun, di sisi lain. Nur Fatma juga tidak mungkin menyembunyikan kondisi ini berlama-lama. Apa mungkin Clary baik-baik saja? Bagaimana jika terjadi hal yang tidak diinginkan? Nur Fatma sudah bertaruh nyawa untuk melindungi Clary.
“Fat, lo masih ada di situ?”
“I…. Iya, Wil. Gue masih di sini.”
“Oke, jaga Clary baik-baik ya. Ntar ada kesempatan, gue telepon lagi.”
“Siap. Lo tenang ya. Clary di sini baik-baik aja. Semoga urusan lo di luar negeri segera selesai. Biar cepat balik ke sini juga.”
“Doakan semua urusan gue lancar, Fat. Gue kangen juga sama Clary.”
“Amin, Wil. sukses selalu buat lo di sana ya.”
Nur Fatma meletakkan ganggang telepon. Setelah menghela napas panjang, ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Nur Fatma menyesali kebodohannya karena membiarkan Clary pergi seorang diri. kalau saja ia tak tertidur nyenyak karena kelelahan malam itu, Clary tidak mungkin pergi begitu saja tanpa pengetahuannya.
Lagi pula selama ini, Clary selalu tampak baik-baik saja. Setiap teror yang diterimanya, Clary selalu memberitahu pada Nur Fatma. Teror!? Seketika Nur Fatma terhenyak. Apa mungkin Clary menerima teror kembali?
“Jangan-jangan, dia sedang dalam bahaya.” Gumam Nur Fatma.
“Kenapa, Non? Siapa yang dalam bahaya?” Bi Ida penasaran.
“Clary, Bi.”
“Lah, bukannya tadi Non Fatma bilang kalau Clary baik-baik saja?”
“Entahlah, Bi. Aku tiba-tiba sangat merasa sangat khawatir dengannya.”
“Bibi juga, Non. Khawatir kalau Non Clary kenapa-kenapa. Apa lagi dia tengah hamil.”
“Saya yakin, Clary berada dengan orang baik, Bi.”
“Husst, Non. Jangan berasumsi seperti itu. Kita sama sekali nggak mengetahui keberadaan Non Clary. bisa jadi orang jahat padanya.”
“Kita tahu, Clary orang baik, Bi. Tidak ada seorang pun yang tega menyakitinya.”
“Amin, Non. Semoga kita segera dapat menemukan keberadaan, Clary.”
Di tengah perbincangan Bi Ida dan Nur Fatma dering telepon kembali menggema. Bi Ida menampakkan wajah gelisah. Takut jika Wildan kembali menelepon. Demikian juga Nur Fatma, ia mengernyit kening. Jika Wildan kembali meneleponnya ia tak tahu harus ngomong apa lagi dengan suami Clary itu. Melihat kegelisahan di wajah Bi Ida, Nur Fatma memberanikan diri untuk menjawab telepon tersebut.
“Hallo….”
“Hallo, Fatma! Ini Cla….”
“Clary…. lo di mana? Lo sehat? Lo baik-baik saja kan?”
Wajah Nur Fatma tampak kegirangan setelah mendengar suara di seberang telepon. Bi Ida yang tadi gelisah, berjalan mendekati Nur Fatma. Menempelkan kupingnya ke dekat ganggang telepon yang di pegang Clary.
“Non Clary?!” tanya Bi Ida. Nur Fatma mengangguk girang.
“Fat. Lo jangan khawatir sama gue ya.”
“Gimana gue nggak khawatir sama lo. Elo aja pergi tanpa kasi tahu gue Cla.”
“Maaf. Gue harus pergi sendiri malam itu.”
“Lo tahu nggak? Perbuatan lo ini hampir buat napas gue hilang.”
“Hahahaha….” Derai tawa Clary terdengar renyah.
“Wildan barusan nelepon.”
“Oh ya? Lo bilang apa?”
“Gue bohong. Gue bilang lo ke rumah teman.”
“Hahaha…. Lo memang sahabat yang baik, Fat.”
“Lo jangan terkekeh. Gue terpaksa bohong sama Wildan. Ya, lo kan tahu. Nggak mungkin kalau gue ngasi tahu lo itu hilang dari rumah.”
“Bagas. Tapi kok lo yakin kalau gue baik-baik aja?”
“Gue nebak sesuai kata hati gue.”
“Ya udah, lo tenang aja, Fat. Gue baik-baik aja di sini. Gue emang di rumah teman. Handphone gue kemarin jatuh di jalanan.”
“Lo serius, Cla? Kenapa nggak beli hape baru?”
“Hmmm…. Ntar aja lah, Fat. Gue damai dengan tanpa komunikasi seperti ini.”
“Ya udah. Lo baik-baik di sana ya. Jaga kandungan lo.”
“Oke, Fat. Lo jangan khawatir ya.”
“Cla, lo tahu nggak? Yang khawatir dengan lo sampai nangis-nangis tuh Bi Ida.”
Nur Fatma memandang wajah bahagia Bi Ida. Wanita paruh baya itu meneteskan air mata saat mendengar Clary menelepon. Sejak tadi, ia menempelkan kuping di ganggang telepon. Berharap bisa mendengarkan suara Clary.
“Oh ya? Coba, mana Bi Ida?”
“Nih. Lo ngomong sama Bibi ya, biar dia nggak khawatir lagi sama lo.”
“Halo, Non.” suara Bi Ida terdengar parau.
“Halo, Bi. Bi Ida apa kabar?”
“Harusnya Bibi yang nanyain kabar Non Clary. Non Clary di mana?”
“Hahaha, Bi Ida. Saya kangen nasi goreng bibi. Saya lagi d rumah teman, Bi. Cla baik-baik saja.”
“Non Clary kapan pulang? Bibi masakin nasi goreng.”
“Saya lagi di rumah teman, Bi. Bibi jangan khawatir. Nanti saya pulang dengan aman kok.”
“Iya, Non. Segera pulang ya. Jangan sampai tuan datang non Cla belum juga kembali ke rumah.”
“Iya, Bi. Nanti saya segera pulang kok. Bibi jangan khawatir lagi ya.”
Bi Ida mengangguk dan menyerahkan ganggang telepon kepada Nur Fatma. Ia mengusap air mata bahagia yang menetes di pipinya. Mendengar kabar Clary dalam keadaan baik-baik saja membuat Bi Ida kembali menyunggung senyum.
“Halo, Cla.”
“Fat…. Thanks ya udah khawatirin gue. Lo tenang aja. gue sehat-sehat di sini. ada Bi Uni yang sudah merawat gue dengan baik.”
“Oh ya? Bi Uni itu siapa, Cla?”
“Asisten rumah tangga teman gue, Fat. Beliau sebaik Bi Ida kok.”
“Syukurlah. Lo tetap jaga kesehatan ya di sana!”
“Oke, Fat. Lo kalau ada perlu, telepon ke nomor ini aja ya. Ini nomor telepon rumah teman gue.”
“Oke, Cla.”
Tuuutttt….
Dari seberang, Clary menutup telepon. Diam-diam, Bi Uni menguping pembicaraan Clary. Wajah wanita paruh baya itu menaruh simpati pada Clary. Bi Uni mengusap pundak Clary. Seakan menanggung perasaan Clary saat itu.
“Non Clary nggak jadi minta jemput?”
Clary tersenyum kecil. Menggelengkan kepala, berjalan perlahan menuju sofa lalu merebahkan tubuhnya di sana. Bi Uni dengan sigap membantu Clary duduk.
“Pelan-pelan, Non.”
“Iya, Bi Terima kasih.”
“Apa tidak sebaiknya Non Clary nggak pulang ke rumah saja?”
“Nggak, Bi.”
“Bkannya kemarin,Non Clary berusaha untuk pergi dari sini?”
“Itu kemarin, Bi. Tapi sekarang saya percaya sama Vinson.”
“Oh ya?”
Clary mengangguk. Seketika, wajah Vinson melintas dalam pikirannya. Clary tersenyum kecil, mengingat saat dimana ia dan Vinson duduk berdua di dalam perpustakaan. Kini, Clary baru menyadari jika momen di saat Vinson menggenggam tangannya adalah saat di mana Vinson ingin mengungkapkan isi hatinya, namun tidak tersampaikan hingga kini.
“Hayo…. Non Clary lagi ingat sama tuan ya?”
“Iya, Bi. Apa yang bibi bilang tentang Vinson itu benar. Sejak sekolah dulu, saya mengenal Vinson, dia memang cerdas dan baik.”
“Iya, Non. Tapi sayang, tuan harus kehilangan tunangannya.”
“Nasib kami sama, Bi.”
“Maksud Non Clary?”
“Tunangan saya dan tungan Vinson, keduanya menghianati kami.”
“Apa?!”
Wajah Bi Uni tiba-tiba menjadi murka. Ia hampir tak percaya. Bagaimana mungkin, kebaikan Vinson dan Clary dibalas dengan sebuah penghianatan yang besar.
“Non Clary yang sabar ya. Tuhan pasti kasi balasan terhadap mereka.”
“Nggak apa-apa, Bi. Saya sudah ikhlas. Demikian juga Vinson.”
“Syukurlah.” Bi Uni mengelus d**a.
Suara tangisan Noel menggema dari kamarnya. Bayi mungil itu baru saja terbangun dari tidur siangnya. Bi Uni bergegas menuju kamar Noel. Clary dengan langkah gontai menyusul. Saat tiba di kamar Noel, Clary langsung menatap wajah bayi laki-laki yang menggemaskan itu. Clary dengan sigap meraih Noel dalam gendongannya. Ajaib. Noel tiba-tiba saja terdiam dalam pelukan Clary.