“Aku….”
“Aku tahu, Cla. Kamu menikahi Wildan hanya karena kamu sudah hamil. Ya kan?”
Clary terdiam. Apa yang dikatakan Vinson memang benar. Ia melakukan semuanya karena terpuruk. Tapi, Clary yakin jika Wildan adalah laki-laki baik. Buktinya Wildan sangat bertanggungjawab padanya.
“Kamu jangan sok tau, Vin.”
“Aku hanya ingin melindungi kamu, Cla.”
“Tapi, sekarang sudah ada Wildan.”
“Tapi, belum tentu laki-laki itu baik, Cla. Bisa saja dia hanya sekadar melindungi kamu.”
“Tapi Wildan juga orang baik, Vin. Aku kenal betul siapa Wildan.”
“Selebihnya kamu nggak tahu.”
Clary terdiam. Malam itu, ia seperti kerasukan kata-kata Vinson. Membuat ia menimbang semua kebaikan Wildan padanya. Padahal sejauh ini, Wildan sudah sangat baik. Clary percaya penuh pada suaminya itu. Clary juga tak bisa menolak semua ucapan Vinson.
Vinson terus merapatkan tubuhnya pada Clary. Membuat wanita itu diam dengan napas yang seakan hampir putus. Clary tak bisa mengelak hembusan napas laki-laki yang terus mendekati sudut bibirnya. Mengecup dengan lembut, lalu menciptakan kenangan yang sama sekali tak diinginkan oleh Clary. mereka terhanyaut bersama malam kelam yang menambah luka di hati Clary. Meski Vinson melakukannnya dengan tulus, Clary tetap memberontak di dalam hati. *)
Saat pagi tiba, Clary membuka mata. Wajahnya terlihat sembab. Semalam ia harus melayani hasrat Vinson. Suatu yang tak diinginkannya itu harus terjadi. Bagaimana mungkin ia bisa menolak keingian Vinson. Sementara ia juga tahu kalau laki-laki itu begitu baik padanya sejak masa SMA.
Suara ketukan pintu membuat lamunan Clary buyar. Ternyata Bi Uni datang membawakan pakaian ganti untuknya.
“Neng Clary sudah bangun?”
“Sudah, Bi.”
“Ini ada pakaian dari Tuan.”
“Kenapa nggak dia yang antar, Bi?”
“Tuan Vinson pagi-pagi sudah berangkat ke rumah sakit, Non.”
“Oh ya?”
“Tadi, Tuan nitip pakaian ini untuk Nona. Tolong dipakai ya, pesan dari Tuan.”
“Terima kasih, Bi.”
“Sama-sama, Non.”
“Noel udah bangun, Bi?”
Clary teringat dengan bayi mungil itu. Hanya Noel yang bisa mengobati luka hatinya saat ini. Bayi mungil yang selalu tersenyum tanpa dosa. Ingin sekali Clary kembali menimang bayi laki-laki itu dalam pelukannya.
“Bi….!” Clary menghentikan langkah Bi Uni yang akan beranjak dari kamarnya.
“Tolong antarkan Noel kemari.”
“Non Clary mau main dengan Noel?”
“Iya, Bi. Hari ini saya mau ikut mengasuh Noel.”
“Ya sudah, nanti saya antarkan Noel ke sini. Non Clary mandi aja dulu.”
“Iya, Bi.”
Sepeninggalnya wanita tua itu, Clary mengguyur tubuhnya di kamar mandi. Membersihkan diri dari noda dosa yang terjalin antara dirinya dan Vinson tadi malam. Masih terngiang dalam benak Clary. Bagaimana Vinson memperlakukannya dengan lembut. Mengecup kening dan berbisik kata mesra padanya. Di atas ranjang empuk itu, keduanya merajut kasih yang pernah tertunda.
Setelah merapikan diri, Clary menatap wajah sendunya di depan cermin. Kedua pelupuk matanya tampak lelah. Clary terbeban. Tubuhnya terasa hangat. Namun, Clary mengabaikan perasaannya. ia berusaha menenangkan diri dan merasa semuanya akn baik-baik saja. Bahkan pada Bi Uni pun Clary tak ingin memberitahu kondisinya.
Noel, bayi mungil itu tersenyum manis pada Clary. Seakaan mendambakan kehadiran seorang ibu, Noel tak berhenti bergumam dengan bahasa bayinya. Tingkah lucu Noel membuat Clary sedikit terhibur. Ia terus mengecup kedua pipi bayi mungil itu. Noel pun tampak kegirangan. Bi Uni masuk ke dalam kamar dan melihat Clary dan Noel sudah tertidur pulas.
Bi Uni segera merapikan posisi Noel agar tidak terjatuh. Menyelimuti bayi itu dengan selimut yang melekat di tubuh Clary. Bi Uni tersenyum menatap Clary. Dalam hatinya, Bi Uni memuji kebaikan wanita itu. Harusnya Clary marah pada Vinson. Tapi, wanita itu tidak melakukannya.
***
Sementara itu, di tempat kerjanya, Vinson duduk dengan tenang. Memandang sebuah foto yang terpajang di atas meja. Foto yang sama seperti yang ada dalam bingkai yang terpajang di ruang tamu apartemen-nya. Foto dirinya bersama seorang wanita bernama, Clary.
Vinson merasa puas setelah tadi malam ia menumpahkan seuruh perasaannya pada Clary. wanita yang selama ini di cintainya dan seharusnya menjadi miliknya. Namun karena sahabatnya Bara, ia merelakan Clary pada laki-laki itu. Sialnya, Bara untuk kedua kalinya mengambil yang seharusnya menjadi milik Vinson.
“Cla…. Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku.” Vinson mengusap lembut wajah Clary di dalam foto itu.
Vinson teringat saat pertama kali ia mengenal Clary. Ketika ia duduk dengan tenang di ruang perpustakaan. Seorang gadis dengan rok yang sexi datang menghampirinya. Menanyakan rak buku novel terletak di mana. Sejak pertemuan itu, Vinson diam-diam menyukai Clary. namun, ia tak berani mengutarakan perasaannya. takut jika gadis itu tak menginginkannya.
Perasaan Vinson terhalang oleh Bara. Sahabatnya yang dengan lantang menyampaikan keinginan untuk mendekati Clary. Bahkan, Vinson tak menaruh curiga sekecil apa pun pada Bara. Ia tahu, kalau Bara adalah sahabat terbaiknya. Sehingga ia begitu percaya kepada Bara.
“Lo udah tega ngerebut Fany dari gue, Bar. Sekarang gue juga sudah terlambat mengambil kembali Clary dari lo. Clary sekarang sudah menjadi istri Wildan. Sial!” Vinson meluapkan emosinya di atas meja.
“Gue nggak akan mau lagi kehilangan Clary. Gue nggak peduli kalau Clary udah jadi istri Wildan. Clary harus menjadi milik gue!”
Saat tengah menggerutu, Vinson menerima panggilan telepon dari seseorang. Melihat nama yang tertera di layar handphone-nya. Vinson segera mengangkat panggilan tersebut.
“Halo….”
“Tuan, Nyonya Cla demam tinggi.”
“Apa?”
Vinson terperangah, segera ia membereskan berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Vinson bergegas ke luar ruangan tanpa peduli dengan kehadiran seorang perawat yang hendak meminta tanda tangannya.
“Pak!” perawat itu memamnggil Vinson.
“Saya harus pulang. Kamu letakkan saja berkas itu di atas meja.” Vinson membalikkan tubuhnya.
“Baik, Pak.”
Vinson melaju untuk kembali ke apartemen. Ia merasa bersalah karena kejadian tadi malam. Dalam pikiran Vinson, Clary pasti marah besar karena ia dengan berani menyetubuhi wanita itu. Namun di sisi lain, Vinson merasa hal itu tidak mungkin. Sebab Clary tampak pasrah bahkan menikmati setiap adegan yang diberikan Vinson.
“Cla…. Lo kenapa sih buat repot? Kan gue jadi merasa tidak nyaman. Harusnya lo itu enjoy. Jangan sakit dong.” Vinson bicara sendiri di dalam mobil.
Benar saja, saat tiba di rumah, Vinson melihat Clary tertidur pulas. Noel juga tampak nyenyak di samping Clary. hanya Bi Uni yang menyambut kedatangan Vinson dan berbisik pada tuannya.
“Tadi saya nyelimutin Non Clary. saya merasa tubuhnya panas tinggi, Tuan.”
Vinson menyentuh pundak wanita yang tampak tertidur pulas di atas ranjang. Benar saja, tubuh Clary terasa panas. Sentuhan tangan Vinson membuat Clary membuka mata.
“Vin…. Kamu udah pulang?”
Namun, Vinson tak bergeming. Ia menatap lekat wajah Clary. Kedua bola mata wanita itu tampak memerah. Vinson kembali meraba pergelangan tangan Clary. terasa panas.
“Kamu demam, Cla?”
“Hmmm…. Hanya sedikit meriang.”
“Sejak kapan?”
“Tadi malam.”
“Kamu kok nggak ngomong sama aku?”
“Maafkan aku, Vin. Aku tak ingin merepotkan kamu dan juga Bi Uni.”
“Tapi, ini kan bisa bahaya, Cla. Apa lagi kamu sedang hamil.”
“Udah, aku nggak apa-apa kok.”
“Kita ke rumah sakit!”
“Kan ada kamu dok!” Clary meraih pergelangan Vinson.
Entahlah, sejak kejadian tadi malam, Clary merasa kalau Vinson memang benar orang baik. Meski perbuatan tidak terpuji itu terjadi, tapi, Vinson melakukannya dengan lembut.
“Kita ke rumah sakit ya!”
“Aku mau dirawat sama kamu aja, Vin.”
Vinson tersenyum lebar. Keinginan Clary bisa saja ia wujudkan. Tapi, Vinson khawatir dengan kondisi kehamilan Clary. Jangan sampai sakitnya Clary berpengaruh pada janin yang ada dalam kandunganya itu.
“Tapi, kamu sedang hamil, Cla. Di apartemen ini aku nggak punya alat yang lengkap. Kondisi kehamilan kamu harus di periksa.”
“Perut aku baik-baik saja, Vin.”
“Ya tapi kan kita nggak tau gimana kondisi di dalamnya Cla. Nanti biar Vony yang tangani kamu.”
“Dokter Vony?”
“Iya.”
“Ya udah, nggak apa Tuan. Biar Non Clary di kompes aja dulu. Nanti kalau Non Clary merasa tidak nyaman baru kita bawa ke rumah sakit. Mungkin Non Clary hanya kecapean saja dan butuh istirahat.”
“Tuh, yang dibilang Bi Uni benar.”
Vinson terdiam. Menimbang perkataan Bi Uni. Mungkin ada baiknya juga. Vinson berusaha menepis kekhawatirannya saat itu. Mencoba mengikuti ucapan Bi Uni dengan mengompres kepala Clary.
“Ya udah, Bi. Siapkan air perlengkapannya.”
“Siap, Tuan.” Bi Uni bergegas meninggalkan kamar.
Di pojok kasur, Noel masih tertidur pulas. Vinson mendekati bayi mungil itu. Ia tersenyum dan mengecup kening Noel.
“Kamu yang nidurin Noel?” tanya Vinson pada Clary.
“Iya, tadi kami main bareng. Eh taunya Noel ketiduran dan aku juga.”
“Terima kasih ya, Cla. Kamu udah perhatian sama Noel.”
“Aku hanya kasihan sama Noel, Vin. Dia pasti butuh kasih sayang seorang ibu.”
“Kamu mau jadi ibunya Noel?”
Clary terdiam. Seolah merasa bersalah dengan ucapannya. Tak seharusnya ia memancing keinginan Vinson. ia tak akan mungkin menjadi ibu Noel. Sebab, bayi yang ada dalam kandungannya pasti butuh perhatian ektra setelah lahiran nanti.
“Cla…. Aku bercanda aja kok.”
Vinson kembali mendekati Clary. Meminta wanita itu untuk merebahkan tubuhnya dan kembali istirahat. Vinson mengompres kepala Clary. Sesekali, ia mengusap lembut kepala wanita itu. Clary yang menerima perlakuan lembut dari Vinson hanya tersenyum puas.
“Kamu istirahat ya,” pinta Vinson pada Clary.
Wanita itu hanya mengangguk dan membiarkan Vinson merawatnya dengan baik. Meski masih khawatir, Vinson berusaha memikirkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setelah melihat Clary kembali tertidur pulas, Vinson mengecup kening Clary dan membiarkan wanita itu istirahat dengan nyaman.
“Bi…. Minta tolong jaga mereka berdua ya.” Vinson bicara pada Bi Uni.
Wanita tua itu hanya mengangguk saja. Apa pun yang diperintahkan oleh tuannya, Bi Uni selalu nurut. Meski sekarang tugasnya berat, selain menjaga Noel, ia juga harus merawat Clary dengan baik sesuai perintah Vinson.
“Tuan mau kemana?”
“Saya mau lihat program bedah rumah di kampung pedalaman. Ntar kalau demamnya Clary belum turun juga, Bibi telpon saya ya.”
“Baik, Tuan.” Bi Uni mengangguk dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Sepeninggalnya Vinson, Bi Uni merapikan kembali posisi tidur Noel yang melintang. Takut jika kaki mungilnya menyentuh perut Clary. Diam-diam, Bi Uni menatap wajah Clary. wanita tua itu merasa kasihan pada Clary. namun, ia juga tidak mungkin menggagalkan usaha Vinson. meski ia tak mengetahui tujuan Vinson membawa Clary ke apartemen untuk apa.
“Kasihan sekali dirimu, Non.” Bisik Bi Uni dalam hati.