Clary menghempas pelan tubuhnya di atas kasur. Otaknya mencari cara agar bisa menghubungi Wildan dan Nur Fatma. Kedua orang tersebut pasti sedang mencarinya. Kalau saja Vinson tidak membuang handphone-nya ke jalan raya, Clary pasti tidak akan susah menghubungi suaminya.
“Sialan, apa sih maksud Vinson? apa dia nggak tau resiko menculikku dengan cara seperti ini?” Clary menggerutu seorang diri.
“Hai… Cla.”
Tiba-tiba saja Vinson muncul di ambang pintu. Clary lupa mengunci pintu kamarnya sehingga Vinson dengan gampang masuk ke dalam. Laki-laki itu tersenyum manis. Sementara Clary, kejengkelannya semakin tumbuh.
“Ka…. Kamu kenapa masuk ke dalam kamar saya?”
“Ini kamarku, Clary?”
Vinson duduk di samping Clary. Membuat jantung wanita itu berdegup kencang. Vinson dengan lancang masuk ke dalam kamar. Bagaimana jika Bi Uni tahu? Bisa-bisa wanita tua itu mengira kalau mereka akan melakukan hal yang tidak diinginkan.
“Aku minta maaf karena harus membawamu ke sini, Cla.”
“Saya minta kamu segera membawa saya pulang ke rumah Wildan.”
“Nggak segampang itu, Nona cantik. Aku masih menginginkan kamu untuk tetap tinggal di sini sampai kamu melahirkan bayi dalam kandunganmu itu.”
“Kamu gila, Vinson. itu bukan hakmu.”
“Tentu saja akan menjadi hakku, Clary.”
“Kamu jangan samakan bayi dalam kandungan saya ini dengan Noel!”
“Noel? Dari mana kamu tahu itu?”
“Bi Uni udah cerita banyak padaku.”
Vinson terdiam untuk beberapa saat. Memperhatikan wajah Clary yang tampak menaruh bimbang padanya. Ia tahu kalau Clary amat sangat menaruh benci karena telah menculik dirinya. Tapi, Vinson mengakui bahwa yang dia lakukan bukan untuk menjerumuskan wanita itu. Entahlah, hanya Vinson yang tahu apa masksudnya menculik Clary.
“Cla, maaf…. Aku bukan bermaksud apa-apa.”
“Kamu tega, Vin. Kamu nyulik aku dengan cara anehmu. Lebih baik kamu menyiksa aku dari pada terkurung dalam kamarmu ini.”
“Sssttt….” Vinson menatap tajam pada wajah Clary.
“Terus, apa maksud kamu majang foto aku di dinding ruang tamu?”
“Foto?”
“Iya. Bi Uni bilang kalau kamu pernah naksir gadis yang ada dalam foto itu. Kamu kan tahu, itu aku, Vin.”
“Ooh….” Vinson tersenyum lebar.
“Kamu, kenapa senyum-senyum?”
“Habis pertanyaan kamu lucu…. Wajah kamu juga lucu.” Vinson berusaha menenangkan hati Clary.
“Apa…. an sih.” Clary merungut kesal.
“Cla…. Harusnya kamu tahu dari dulu.”
“Maksudnya?”
Clary sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud oleh Vinson. Apakah laki-laki itu benar menyukainya sejak dulu? Terbesit tanya di hati Clary. Meski pun Vinson menyukai Clary, tidak seharusnya laki-laki itu menculiknya seperti ini. Apa susahnya jika Vinson mengutarakan isi hatinya kepada Clary.
“Aku tahu, kamu nggak akan pernah menerima aku, Cla. Karena hatimu sudah terpaut pada Bara.”
“Jadi….?”
Vinson meraih jemari Clary. Ia mencoba mengungkapkan perasaaannya yang sudah lama terpendam. Perasaan yang dimilikinya sejak duduk di bangku SMA. Bagaimana ia dengan seksama selalu memperhatikan wajah wanita yang kini ada di hadapannya.
“Aku udah putus dari Bara.”
“Ya, aku tahu itu.”
“Kamu kan sahabatan dengan Bara. Apa yang kamu tahu dari laki-laki itu?”
Clary berusaha mengorek informasi. Meski seharusnya, ia tak perlu lagi mengetahui apa pun tentang Bara. Laki-laki tak berguna yang telah mencampakkanya begitu saja.
“Banyak.” Vinson menjawab datar.
“Jadi, itu alasanmu menculikku?”
“Salah satunya.”
“Untuk apa, Vin? Tanpa menculikku kamu juga bisa bicara baik-baik. Tinggal hubungi saja via telepon atau kamu datang langsung ke rumah suamiku?”
“Justru itu. Aku tak ingin suamimu mengetahui hal ini.”
“Ka…. Kamu memang gila, Vin.”
“Bukan hanya gila, Cla. Tapi karena aku mencintaimu!”
“Tapi bukan begini caranya, Vin. Bagaimana kalau suamiku tahu tentang hal ini?”
“Itu urusan dia.”
“Aku nggak nyangka kamu sejahat ini.”
“Aku nggak jahat, Sayang. Aku hanya ingin tinggal bersamamu, meski sebentar.”
“Tapi kamu, gila! Kamu nggak mikir apa kalau di rumah sana bodyguard-ku akan mencariku dengan susah payah?”
“Tapi, suamimu nggak akan mencarimu, kan?”
“Dia sedang diluar negeri.”
“Jadi, aman kan?”
Wajah Clary memerah menahan emosi. Meski Vinson bersikap lembut padanya, tetap saja Clary merasa tidak aman ada di rumah laki-laki ini.
“Aku ingin pulang!”
Tiba-tiba saja, Clary meluapkan amarahnya di hadapan Vinson. ia berharap dengan bersikeras, ia dapat meluluhkan hati laki-laki itu untuk mengantarnya kembali pulang ke rumah Wildan. bukannya mengiyakan, Vinson malah memeluk tubuh Clary.
“Cla, please…. Kali ini kamu tinggal sebentar denganku.”
Sialan! Apa laki-laki ini tak bisa memahami kondisi Clary yang tengah hamil. Dengan gampang ia mendaratkan ciuman di kening Clary yang kini telah berstatus istri Wildan. Tentu saja hal itu membuat Clary tak berkutik. Clary benci kondisi ini, namun ia juga tak bisa merenggangkan pelukan Vinson.
“Vin…. Kamu jangan biadab gini dong!”
“Cla, Please….”
“Kamu nggak sadar kalau aku ini sudah menjadi istri orang?”
“Aku nggak peduli, Cla. Dalam pikiranku, kamu adalah wanita yang sama dengan yang aku kenal belasan tahun yang lalu di perpustakaan.”
“Itu masa yang sudah lewat, Vin! Kamu terlambat.”
“Aku tak pernah terlambat, Cla. Hanya waktu yang tidak pernah memberi kesempatan untuk kita.”
“Tunggu! Bukannya kamu udah tunangan?”
Vinson merenggangkan pelukannya. Pertanyaan Clary membuatnya tersesak. Vinson bimbang untuk menjelaskan yang sebenarnya kepada Clary. Tapi, ia yakin jika wanita itu belum mengetahui yang sebenarnya terjadi.
“Itu masa lalu, Cla. Jangan diungkit lagi.”
“Please, Vin. Kamu harus jelasin ke aku. Aku janji setelah tahu semuanya aku akan menuruti keinginanmu.”
“Kamu serius, Cla?” Clary mengangguk.
“Asalkan keinginanmu tidak aneh.”
Vinson tersenyum tipis. Seperti meraih sebuah kemenangan untuk menarik hati Clary, Vinson menggengam tangan wanita itu.
“Kamu tahu istri Bara sekarang?” Clary menggeleng.
“Fany adalah tunanganku.”
“What? Kamu serius, Vin?”
“Iya.”
“Kenapa kamu baru kasi tahu sekarang?”
“Aku ingin memberitahumu. Tapi aku nggak memiliki nomor handphone-mu?”
“Tunggu! Jadi yang selama ini meneror aku siapa?”
“Teror?”
“Iya, yang selalu meneleponku dalam setiap suasana. Sampai mengirim foto dan video kemesraan keduanya?”
Vinson mengangkat pundak. Seakan meyakinkan Clary bahwa itu bukanlah perbuatannya. Ia sama sekali tak menemukan Clary selama ini selain meminta wanita itu untuk datang di malam penculikan.
“Tapi, kenapa di teror terakhir kamu bilang kalau ingin teror ini berakhir kamu meminta aku datang di rumah besar tempat kamu dan anggota gank-mu yang menyeramkan itu?”
“Anggota gank? Mereka orang baik kok.”
“Aku serius, Vin? Ini pasti perbuatanmu!”
“Aku juga serius, Cla. Aku tak pernah melakukan hal konyol seperti itu.”
Keduanya sama-sama terdiam. Clary seakan yakin bahwa itu adalah perbuatan Vinson. Laki-laki b******k yang kini ada dihadapannya.
“Bagaimana mungkin aku melakukannya? Sementara kita ada di posisi yang sama.”
“Bahkan aku pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit.”
“Rumah sakit?”
“Ya. Rumah Sakit Sentosa.”
“Itu kan tempat aku tugas, Cla.”
“Serius? Kenal dokter Vony?”
“Ya ampun, Cla. Dokter Vony itu sahabat baikku.”
“Dokter Vony yang sudah merawatku.”
“Tunggu, kamu bilang kalau Wildan itu nama suamimu?”
“Iya.”
“Fiks. Aku pernah ketemu laki-laki itu di rumah sakit. Jadi, kekasih yang dirawat di sebelah ruangan ibunya Noel itu kamu?”
“Kekasih Wildan?”
“Iya, waktu itu Wildan sempat cerita kalau pasien yang ada di ruangan itu adalah kekasihnya.”
“Itu aku, Vin. Kenapa kamu nggak masuk ke dalam ruangan?”
“Wildan tak memberitahuku namamu.”
“Harusnya kamu lihat dong.” Clary mendengus kesal dengan sikap Vinson.
“Iya. Maafkan aku, Cla.”
“Jadi, saat itu ibu Noel di rawat di sana?”
“Ceritanya panjang, Cla.”
“Sepanjang apa?” Clary sedikit meledek.
“Sepanjang cintaku padamu.”
Keduanya tertawa bersama. Clary sedikit merasa tenang. Ternyata Vinson tidak separah yang dia kira. Laki-laki itu tetap memancarkan pesona yang sama ketika mereka sering bersanda gurau di ruang perpustakaan sekolah.
“Jadi gini…. Ayahnya Noel menderita kanker tulang. Sementara Noel masih berada di kandungan ibunya. Karena aku sudah merawat ayah Noel selama sakit, ibu Noel yang tengah hamil juga belum bisa bekerja untuk mencari nafkah. Saat Noel akan dilahirkan, aku meminta ibu Noel untuk melahirkan di rumah sakit tempatku bekerja agar aku bisa merawat keduanya secara bersama. Namun nasib malang, ibu Noel lebih dulu berpulang ku rumah Tuhan.”
“Maksud kamu? Ibu Noel meninggal?”
“Iya.”
“Ayahnya?”
“Meninggal kemudian.”
“Jadi?”
“Jadi…. sejak bayi, aku merawat Noel seperti anak sendiri. Aku mengadopsinya dan mempekerjakan Bi Uni untuk menjadi pengasuh Noel.”
“Hmm… gitu?”
“Iya, Sayang….”
Vinson kembali mendaratkan sebuah kecupan di kening Clary. Tanpa peduli wanita itu telah menjadi milik laki-laki lain. Bagi Vinson, Clary yang kini ada di hadapannya adalah Clary yang sama seperti yang ia kenal dulu.
“Vin…. Tolong jangan sentuh aku!”
“Cla, aku hanya mau malam ini menjadi malam kita berdua.”
“Tapi aku kan sedang hamil, Vin!”
“Aku nggak peduli. Tadi kamu sudah berjanji denganku.”
“Tapi nggak harus begini juga, Vin.”
“Cla…. Please…. Kali ini saja. Aku mau punya waktu bersamamu walau sebentar saja.”
Clary terdiam. Ia tak mungkin menolak dengan kasar keinginan Vinson. Bagaimana pun juga, Vinson masih menampakkan sisi terbaiknya.
“Cla…. Aku sudah lama menginginkan suasana ini.”
“Maksud kamu?”
“Aku tulus mencintai kamu, Cla. Tapi Bara selalu merebut yang akan menjadi milikku.”
“Vin…. Maaf soal ini aku nggak tahu.”
“Aku dulu pernah kehilangan harapan untuk memilikimu. Saat ini Bara juga merebut perempuan yang seharusnya akan menjadi milikku. Apakah salah jika aku juga mengambil kembali yang seharusnya menjadi milikku?”
“Vin. Tolong! Jangan katakan hal itu lagi. Kita sudah terlambat. Aku sekarang telah menjadi istri Wildan.”
“Tapi, kamu tidak mencintai Wildan kan?”