Ketika terbangun dari tidur, Clary melihat sarapan sudah tersedia di meja kecil. Bubur ayam dan segelas s**u hangat. Tak hanya itu, Clary juga melihat handuk dan pakaian sudah disiapkan di sampingnya. Clary meraih tas yang tergeletak di atas meja. Berniat untuk menelpon Nur Fatma. Namun, ia jadi kesal. Teringat handphone-nya sudah di lempar ke jalanan oleh Vinson tadi malam.
“Sial. Arrrggghhh!!!” Clary menggerutu.
Caci makinya terhenti, ketika mendengar suara ketukan pintu. Clary duduk di atas bad. Ia memandang ke pintu. Tanpak seorang wanita tua memunculkan kepala dan menyapa Clary dengan ramah. Clary ingat, wanita itu yang tadi malam menyambut kedatangan mereka.
“Neng Clary sudah bangun?”
Clary tak menjawab. Wajahnya sedikit jutek. Kalau saja tidak menghargai wanita itu sebagai orang tua, bisa saja Clary memarahinya. Namun berbeda dengan wanita itu. Ia tersenyum ramah dan duduk di samping Clary.
“Neng udah sarapan?”
Clary menggeleng.
“Itu, Bibi sudah siapkan sarapan dan pakaian buat ganti. Tuan yang memintanya.”
“Terima kasih,” Clary menjawab datar.
“Ya udah, Bibi tinggal dulu ya. Bibi mau ngurus Noel. Neng Clary jangan segan di rumah ini. Kalau perlu apa-apa panggil saja Bibi.”
Clary hanya mengangguk, mengiring langkah wanita itu. Perutnya terasa lapar, namun Clary tak berminat dengan bubur yang sudah tersedia di atas meja. Ia hanya meneguk segelas s**u hangat lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tak peduli dengan penculikan ini, yang penting dia merasa aman. Namun, ia teringat dengan Nur Fatma. Clary memutar otak untuk mencari cara bagaimana agar bisa menghubungi wanita itu. Nur Fatma pasti sangat mengkhawatirkannya.
Setelah mandi, Clary merasa segar. Ia melangkah ke luar kamar. Untuk mencari wanita tua tadi. Barangkali wanita itu bisa membantunya untuk dapat menghubungi Nur Fatma. Clary diam-diam menuju dapur, namun ia tak melihat Bi Uni. Suasana apartemen ini terasa sepi. Vinson juga tidak nampak ada di apartemen.
“Eh, Neng Clary udah mandi?”
Suara Bi Uni mengagetkan Clary. Bi Uni terseok-seok membawa sekeranjang pakaian bayi yang hendak ia cuci. Ia keluar dari sebuah kamar. Clary berniat ingin membantu membawakan. Tapi Bi Uni mencegahnya. Wanita itu malah meminta Clary untk duduk saja.
Karena mendengar suara tangisan bayi di kamar depan, Clary bergegas menuju ke sana. Ia melihat seorang bayi laki-laki tengah menggeliat keras menahan tangisnya yang menggelegar. Clary tersenyum menatapnya. Bayi itu tiba-tiba terdiam dan menatap lekat pada Clary. Ia merentangkan tangan minta digendong.
“Kenapa, Sayang? Takut ditinggal sendiri ya? Sini Aunty gendong.” Clary meraih bayi itu dalam dekapannya.
Seperti mengiyakan, bayi laki-laki itu menggeliat manja dalam pelukan Clary. Harum minyak telon di tubuhnya membuat Clary mencium berulang kali pipi bayi mungil itu. Sang bayi pun tersenyum manja pada Clary. Lucu sekali, Clary tiba-tiba menyukai bayi itu.
“Namanya, Noel.” Bi Uni tiba-tiba berada di ambang pintu.
“Ooo… nama kamu Noel.” Clary mengajak Noel kembali bercanda. Noel bergumam tidak jelas dengan bahasanya sendiri.
“Anaknya Vinson, Bi?”
“Bukan, neng.” Bi Uni menggeleng.
“Lah, terus anak siapa?”
“Noel diadopsi oleh Tuan sejak kecil.”
“Jadi, Vinson mengadopsi anak ini?”
Clary jadi berubah pikiran. Ia menjadi halu. Menebak rencana Vinson menculik dirinya. Jangan-jangan Vinson ingin mengadopsi anak yang ada dalam kandungannya juga. Tidak mungkin. Clary menepis halusianasinya. Tapi pikiran jahatnya pada Vinson tidak bisa ditolerir lagi.
“Iya, Neng. Sedari ibunya hamil, Tuan yang merawat. Kata Tuan ibunya meninggal.”
“A…. apa, Bi?”
Tuh, kan. Vinson pasti punya rencana jahat. Lagi-lagi pikiran Clary melayang pada rencana-rencana busuk Clary. Jangan-jangan hal yang sama akan terjadi padanya. Vinson sengaja merawat wanita hamil, lalu menanti kelahiran anaknya dan membunuh wanita itu. Ini pasti berlaku juga pada dirinya. Oh, Tidak. Ini tidak mungkin. Batin Clary menjerit.
“Neng Clary kenapa? Seperti orang ketakutan?”
“Am…. Nggak, Bi. Nggak apa-apa. s**u Noel ada, Bi? Sepertinya Noel mau nyusu.”
Clary berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin Bi Uni mengetahui isi hatinya dan kekahawatirannya pada Vinson.
“Sebentar, Bibi ambil susunya dulu ya.” Bi Uni bergegas ke dapur. Menyiapkan s**u untuk Noel.
Clary menyayunkan tubuhnya. Noel seperti menyukai cara Clary menggendongnya. Ia tertawa kecil. Clary pun jadi ikut senang. Tak berselang lama, Bi Uni datang membawa dot s**u untuk Noel.
“Bi, Vinson ada di rumah?”
“Tuan udah berangkat ke rumah sakit, Neng.”
“Ke rumah sakit? Siapa yang sakit, Bi?”
“Lah Neng Clary nggak tau kalau Tuan Vinson itu dokter?”
Clary menggeleng. Perlu diakui, Clary memang sudah lama tidak berkomunikasi dengan Vinson. sejak tamat sekolah mereka sama sekali tidak memberi kabar. Meski pun Vinson adalah sahabat Bara, namun Clary tidak pernah bertanya soal Vinson pada Bara.
“Dokter?!”
“Iya, Neng. Tuan itu, selain dokter juga seorang yang dermawan. Ini buktinya, Noel. Tuan mengadopsi anak ini karena membantu kedua orang tuanya.”
“Orang tuanya kenapa?” Clary jadi penasaran.
“Dulu…. Menurut cerita Tuan, ayah Noel meninggal karena kanker otak. Sementara ibu Noel, meninggal sesaat setelah melahirkan Noel.”
“Jadi….” Clary bergumam.
Ternyata, tebakannya salah. Vinson bukan seperti yang dipikirkannya. Tapi, dia tidak bisa percaya begitu saja. Ia harus mencari tahu semua tentang Vinson. Ya, semua tentang laki-laki itu. Hanya Bi Uni yang dapat memberitahunya saat ini.
“Neng Clary katanya teman SMA, Tuan?”
“I…. iya, Bi. Vinson teman lama saya. Tapi, kami sudah lama tidak berkomunikasi.”
“O, gitu. Pantesan, Neng Clary tidak tahu banyak dengan Tuan. Padahal Tuan itu baik. Dia juga penyayang. Sama Noel aja dia sayang. Bibi aja salut sama Tuan.”
Baik? Seberapa baikkah laki-laki bernama Vinson? Menurut Clary, Vinson bukan orang baik. Buktinya, ia telah menculik Clary, meski pun diperlakukan secara hormat. Tetap saja Clary mengutuk tindakan Vinson.
“A…. Bi. Gini…. Bibi mau bantu saya?” Clary mencoba menyampaikan misinya pada Bi Uni. Kali saja wanita itu bisa membantunya.
“Bantu apa, Neng?”
“Bi, Bibi tahu kan kalau saya diculik?”
Bi Uni terdiam. Ia teringat akan pesan dari Vinson tadi malam. Ia tidak mungkin untuk menyampaikan hal ini pada Clary. Lagi pula Vinson orang baik. Bi Uni percaya, bahwa tuannya itu punya rencana terbaik untuk wanita itu. Apa lagi, Clary adalah teman SMA Vinson. Tidak mungkin Vinson berbuat jahat dengan Clary.
“Bi…. Bibi tahu kan?”
“A…. am. Ta…. Tahu, Neng. Tuan udah cerita.”
“Tuan cerita apa?”
“Katanya Neng Clary temannya waktu SMA dan mau diajak numpang tinggal di sini.”
“What?! Numpang tinggal? Saya punya rumah, Bi. Vinson nyulik saya!”
“Jadi? Neng Clary diculik sama Tuan?”
“Iya, Bi. Saya diculik. Sekarang saya mau pulang.”
Bi Uni kembali terdiam. Ia tak akan mungkin membiarkan Clary pergi begitu saja. Yang ada nanti malah buat Vinson marah. Apalagi Vinson sudah menitip pesan padanya untuk menjaga dan meperlakukan Clary dengan baik. Tapi, dia juga kasihan dengan wanita ini. Apa lagi Clary tengah hamil.
“Saya dapat amanat dari Tuan untuk menjaga Neng Clary.” Bi Ida merebahkan tubuhnya di kursi.
Noel tampak tertidur pulas dalam pangkuan Clary. Padahal, Clary hanya menimang-nimang bayi lucu itu sambil memberinya sebotol s**u. Melihat Noel sudah terlelap, Clary meletakkan bayi mungil itu di tempat tidurnya. Setelah memastikan Noel tidur dengan nyenyak, Clary kembali ngobrol dengan Bi Uni.
“Bi…. Sayahanya mau pulang. Bibi bisa bantu saya?” Clary bicara setengah berbisik pada Bi Uni.
“Tapi, neng….”
“Ssssttt…. Saya hanya mau pinjam handphone Bibi buat nelepon Nur Fatma.” Clary menyodorkan tangannya pada Bi Uni.
Karena merasa kasihan pada Clary, Bi Uni menyerahkan handphone genggamnya pada wanita itu. Ia menyerahkan sepenuhnya pada rencana Clary. Biarlah, urusannya bersama Vinson ia selesaikan nanti.
“Bi…. Nggak jadi.” Clary terduduk lemas sambil menyerahkan handphone kambali pada Bi Uni.
“Kenapa, Neng?”
“Saya lupa nomor Nur Fatma.”
“Wualah…. Saya kira Neng Clary masih betah di sini.”
“Sejujurnya, saya nggak betah, Bi. Saya ingin sekali pulang.”
“Ya udah, kalau gitu ntar sore, tunggu Tuan datang, Neng minta anterin pulang aja sama Tuan.”
“Lah, gimana Vinson mau antar saya pulang, Bi. Kan saya diculik.”
“Oh. Iya, ya.” Bi Uni tertawa geli menyadari ucapannya.
“Bi….” Clary seperti ada ide baru, “gimana kalau saya kabur aja. Kan bisa keluar sendiri dari pintu.”
“Nah. Ide bagus.” Bi Uni tiba-tiba mendukung.
Keduanya bergegas ke ruang tamu. Meninggalkan Noel yang tampak tidur dengan pulas. Sialnya sesampai di sana, pintu utama malah terkunci dengan rapat. Rupanya Vinson sudah membaca situasi ini. Clary menggerutu. Bi Uni hanya tersenyum kecil sambil mengingatkan Clary untuk bersabar.
“Duh…. Jadi gimana ini, Bi?” Clary merungut.
“Ya udah. Yang sabar atuh, Neng. Nanti, kalau Tuan datang Bibi coba omongkan sama Tuan.”
“Benar, Bi?”
“Iya, Bibi juga kasian atuh sama Neng. Mudahan aja Tuan mau dengerin nasehat Bibi.”
“Ya udah, kalau gitu, nanti Bibi omongin sama Tuan ya. Benar ya, Bi!”
“Iya, Benar.” Wanita tua itu mengangguk kecil.
Clary menarik napas lega. Ia puas karena Bi Uni berpihak padanya. Tepat dugaan Clary. Wanita tua itu pasti bisa membantunya. Ia tak peduli pada misi Vinson yang telah menculiknya. Clary hanya ingin pulang dan bertemu Nur Fatma. Sebab, hanya wanita itu yang bisa melindunginya. Pasti saat ini Nur Fatma tengah memikirkan tentang dirinya.
Sempat timbul penyesalan di hati Clary. Seandainya malam itu ia minta ditemankan oleh Nur Fatma. Pasti tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan seperti ini. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Kini, Clary harus fokus mencari cara agar bisa pulang ke rumah dalam keadaan selamat.
“Neng Clary istirahat aja dulu. Sambil nunggu Tuan datang.”
“Nanti aja, Bi.” Clary terbaring lemah di sofa.
Tiba-tiba saja ia terpana dengan sebuah foto yang terpampang di dinding. Percis seperti foto yang tersimpan rapi pada dinding kamarnya. Ya, fotonya bersama dengan Vinson di ruang perpustakaan. Kala itu mereka berdua mencetak foto itu bersamaan. Ternyata, Vinson masih memajang foto itu pada dinding apartemennya.
“Bi, ini foto kami berdua.” Clary menunjuk pada bingkai foto itu.
“Oh, yang ini Neng Clary? Pantes aja. Cakep. Tuan pernah cerita tentang gadis yang ada dalam foto itu. Ternyata Neng Clary toh?”
“Iya, Bi. Ini saya. Vinson pernah cerita?”
“Pernah, Neng. Katanya Tuan pernah naksir berat sama perempuan di foto itu. Orangnya juga cantik dan pintar. Tapi… kata Tuan, perempuan itu menikah dengan sahabatnya.”
“Oh ya?! Jadi, Vinson pernah naksir saya?”
Bi Uni menyeringai, “I…. iya kali, Neng.”
“Wah, gawat nih!” ucap Clary geram.
“Gawat apa, Neng?” Bi Uni penasaran dengan ucapan Clary.
“Am…. A…. ngak apa-apa, Bi. Biar nanti saya tanya sama Vinson aja.”
“Oh. Iya, Neng.”
Vinson pernah naksir Clary? Apakah ini merupakan dasarnya untuk menculik wanita itu? Tidak mungkin. Pasti karena ada hal lain. Dulu, Vinson memang menyukai Clary. Tapi, tidak menutup kemungkinan, saat ini Vinson telah berubah pikiran. Clary tak akan percaya begitu saja.