Selepas magrib, Clary mengendap-endap keluar rumah. Tanpa sepengetahuan Nur Fatma, ia memesan taxi online lantas pergi ke tempat di mana penelpon misterius itu berada. Di perjalanan, Sopir taxi sempat menanyakan ke mana Clary akan pergi. Ketika Clary memberitahu lokasi itu, sopir taxi memberi peringatan kepada Clary bahwa daerah yang akan didatangi Clary sangat sepi.
"Kalau Neng mau ke sana, sebaiknya Neng membawa teman," kata sopir taksi mengingatkan Clary.
"Tidak apa, Pak. Saya sudah berjanji untuk bertemu seseorang di sana."
"Tapi, Neng sendiri yakin akan keamanan di sana? Apa lagi teh, Bapak lihat Neng sedang hamil."
Clary tak bergeming. Ia tetep kukuh pada rencananya. Clary sangat yakin bahwa tidak akan terjadi apa pun di sana. Kalau pun nasib buruk menimpanya, Clary sudah pasrah.
"Saya antar sampai di sini ya, Neng."
"Iya. Terima kasih, Pak," setelah menyodorkan uang jasa, Clary melangkah keluar dari mobil.
"Uang kembaliannya, Neng!?"
"Ambil saja untuk Bapak."
"Beneran nih?" tanya Sopir taxi sambil memegang tiga lembar uang seratusan.
"Pak, kalau nanti mendengar berita, bahwa terjadi hal yang tidak baik di lokasi ini Bapak ingat saya ya, ini nomor hape keluarga saya yang bisa Bapak hubungi." Clary menyerahkan nomor handphone Nur Fatma pada sopir taxi itu.
"Perasaan saya tidak enak, Neng. Apa perlu Bapak antar kamu ke dalam?"
"Tidak usah, Pak. Bapak pulang saja." Clary berusaha meyakinkan supir taxi.
"Baiklah. Kalau begitu, hati-hati, Neng."
"Bapak juga hati-hati dalam perjalanan pulang. Semoga selamat sampai tujuan."
Clary memandang taxi yang maju perlahan meninggalkannya. Setelah yakin, taxi itu sudah menjauh, Clary melangkah perlahan ke halaman rumah mewah yang tampak sangat luas. Beberapa pohon rindang dan pot bunga yang tersusun rapi dan indah menghiasi halaman rumah. Clary kagum pada perawatan rumah ini.
Pintu depan terbuka lebar. Tuan rumah sepertinya sudah mengetahui bahwa akan ada tamu special yang datang malam ini. Clary melangkah perlahan ke dalam rumah sambil matanya menjeling melihat kemewahan yang tertata rapi di dalam rumah itu.
Suara tawa yang keras semakin jelas terdengar. Clary segera melangkahkan kakinya ke sumber suara. Di ruang itu, tampak delapan orang pria dengan pakaian hitam duduk bercengkrama dengan gelak tawa yang semakin jelas terdengar.
Tubuh Clary bergetar. Ia mulai menyimpan ketakutan. Kakinya melangkah mundur.
Praaaaaangggggggg!!!
Gelegar suara guci pecah berserakan di lantai. Seluruh pria yang ada di situ sontak menoleh padanya.
Clary semakin ketakutan. Ia membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah kabur.
"Stop!"
Clary berdiri bagai patung, lalu perlahan memutar balikkan tubuhnya. Dengan kepala menunduk ia menyimpan rasa takut yang semakin besar. Ia memejamkan kedua matanya agar tak melihat wajah orang-orang menyeramkan di hadapannya.
Seorang pria datang mendekatinya, "Clary…." ia hanya berani melihat gerak pria yang semakin mendekat padanya.
Mendengar sapaan lembut dari pria yang ada di hadapannya, Clary perlahan membuka mata yang sempat terpejam dan berusaha meneggakkan kembali wajahnya.
"Vin… Vinson?!"
Mata Clary terbuka lebar, ia kaget mengetahui sosok pria yang ada di hadapannya. Vinson, laki-laki ini adalah teman sekolahnya dulu. Vinson juga merupakan teman akrab Bara.
"Jadi, kamu pelakunya?" Clary menatap geram pada Vinson.
"Aku? Aku melakukan apa?"
"Kamu yang menerorku selama ini kan? kamu mengirim surat ke rumahku, membiarkan orang-orangmu hampir membunuhku, dan sekarang kamu yang meminta aku untuk datang ke sini!?"
"Aku? Membiarkan orang-orangku untuk membunuhmu?" wajah Vinson tiba-tiba memerah.
Clary tak bergeming. Vinson memetik tiga kali kedua jarinya, menandakan panggilan kepada semua pria di situ untuk mendekat.
"Coba lihat mereka!" Vinson memaksa Clary menengadahkan kepala dan memandang wajah orang-orang yang dimaksud, "apa ada wajah mereka yang kamu kenal?"
Clary memandang satu per satu wajah semua pria berpakaian hitam tadi. Dari ujung kaki hingga ujung rambut, tak ada sedikit pun yang luput dari pandangan Clary. Benar, tak ada satu pun yang ia pernah lihat, selain Vinson.
"Hanya mereka orang-orangku. Jika kau mengatakan aku hampir membunuhmu, itu salah besar. Karena malam ini, aku akan membawamu ke sebuah tempat yang akan membuatmu bahagia."
"Cukup! Aku ingin pulang."
"Aku tak akan membiarkanmu pulang." tangan kanan Vinson menepuk lembut pundak Clary. Ia melanjutkan dengan mencengkram sedikit kuat kedua pundak wanita itu.
"Aku salah apa denganmu?" mata Clary mulai berkaca-kaca.
"Salahmu banyak! Kau harus membayarnya."
"Cepat katakan! Aku akan segera melunasinya."
"Hahahhaahhahahhahahaa...." Vinson tertawa lebar, "kamu sedang hamil, Cla. Jangan biarkan dirimu stres dengan memikirkan salahmu padaku."
"Katakan saja apa maumu?!"
"Mauku… kamu melahirkan dulu. Setelah itu kita bereskan semua permasalahan ini."
Clary menanggung bingung yang berkepanjangan. Ia sama sekali tidak mengerti maksud laki-laki yang ada di hadapannya saat itu. Tapi setidaknya, Clary bersyukur bahwa Vinson tidak menyakitinya. Clary tak bergeming. Pinggangnya tiba-tiba terasa nyeri. Melihat Clary meringis, Vinson memapah Clary untuk duduk di kursi. Vinson memberikannya segelas air putih hangat. Setelah kondisi Clary mereda, Vinson membawa wanita itu ke luar rumah.
"Masuklah!" Vinson membuka pintu mobil dan mempersilakan Clary masuk.
Tanpa bicara, Clary menuruti perintah Vinson. Hanya ada mereka berdua di dalam mobil. Clary sempat bingung, sebab tak melihat satu pun orang-orang Vinson tadi mengikuti mereka.
"Di mana mereka?" tanya Clary dingin.
"Kamu masih takut?" Vinson melayangkan senyuman pada Clary.
"Harusnya aku tak menjumpaimu!"
"Berapa usia kehamilanmu?" Vinson mengalihkan pembicaraan.
"Apa urusanmu?"
"Aku harus tau."
"Segitu penting kah?"
"Penting. Agar aku bisa merawatmu dengan baik." kedua alis Vinson tertarik ke atas.
"Bukan tugasmu!"
"Sekarang akan menjadi tugasku. Karena kau akan tinggal bersamaku."
"Apa?!" Clary terperanjat.
"Kau akan tinggal di apartemenku." Vinson mengulang penjelasannya.
"Kamu gila, Vinson!"
"Aku tidak gila. Aku tidak membabi buta untuk menyakitimu, bukan?”
"Ini sama saja dengan penculikan."
"Ini penculikan yang halus dan terbaik di dunia. Aku tak akan menyekap dan mengikatmu di ruang tertutup. Aku yakin kau akan bahagia tinggal di sana."
"b******k! mana ada seorang akan bahagia jika diculik!"
"Ada. Kamu orang pertama yang akan bahagia pada kondisi ini." Vinson menjepit sedikit sudut bibirnya dengan senyuman sombong.
"Aku akan menelpon, Wildan." Clary meraih handphone dari saku tasnya.
Hallo....
Belum sempat Clary melanjutkan ucapannya, Vinson merampas handphone Clary lalu membuangnya lewat kaca jendela mobil.
"Astaga. Vinson!!! Itu barang berhargaku! Banyak rahasia tersimpan di sana!" Clary menggertak tajam.
"Handphone itu akan hancur di lindas kendaraan lain. Jadi tidak akan ada rahasiamu yang bisa terbongkar dari sana. Kau tenang saja."
"Gila, baru kali ini aku bertemu orang jahat sepertimu!" gertak Clary tajam.
Vinson tersenyum memandang kekesalan di wajah Clary. Ia merasa menang banyak setelah menciptakan banyak ketakutan pada Clary malam itu.
"Kita sudah sampai."
Vinson membelokkan mobil dan masuk ke area parkiran. Di sana ia memarkirkan dengan rapi mobil miliknya bersama deretan mobil mewah lainnya.
"Ayo, turun!" Vinson membuka pintu mobil dan mengulurkan tangan pada Clary.
Clary memasang wajah judes. Ia tak akan menyentuh tangan pria itu. Mereka melangkahkan kaki, lantas masuk ke dalam apartemen.
Ketakutan masih menyelimuti hati Clary. Ia sangat tidak yakin Vinson akan memperlakukannya dengan baik, meskipun suasana apartemen mewah itu cukup memberi ketenangan di hatinya. Meski dicekam ketakutan, Clary tetap mengikuti langkah kaki Vinson hingga masuk ke dalam apartemen milik Vinson..
"Noel sudah tidur, Bi?" Vinson langsung menodongkan pertanyaan pada seorang wanita paruh baya yang menyambut kedatangan mereka.
"Belum, Tuan. Tadi dia masih bermain di kamar.”
"Oh, ya? Sebentar nanti saya ke sana."
"Baiklah," wanita paruh baya tadi beranjak meninggalkan Vinson dan Clary.
Vinson membawa Clary ke sebuah kamar, Kamar itu terlihat bersih dan rapi. Ranjang empuk dengan seprai berwarna ungu dan lembut bagai magnet yang mampu menggapai Clary untuk segera rebahan di sana.
"Masuklah, dan istirahat. Kamu pasti sangat lelah."
Mendengar perintah Vinson, Clary tak punya pilihan lain. Ia masuk dan merebahkan dirinya di kasur. Ia tak peduli lagi pada semua perlakuan Vinson padanya.
"Jangan khawatir, besok pagi aku akan membelikan pakaian untukmu."
"Aku tak meminta apapun darimu, selain kau pulangkan aku ke rumah Wildan."
"Permintaan itu tidak akan aku turuti, Clary. Hari semakin larut, istirahatlah! Selamat malam." Vinson menutup pintu dengan perlahan kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Clary yang semakin dalam merajut kecemasan.
Noel? Siapakah dia? tanya Clary pada hatinya.
Malam itu, Clary tidur dengan perasaan yang gelisah. Pikirannya berpusat pada Wildan dan Nur Fatma. Dua orang terdekatnya itu pasti sedang menghawatirkanya.
Sementara itu, di kamar lain, Vinson bermain bersama seorang bayi mungil yang seperti telah menanti kehadirannya malam itu.
“Du… du… du… Pa… papa.” Vinson menimang seorang bayi laki-laki yang sangat mungil.
“Hiaahahahahaahaaak…” Bayi mungil nan tampan itu tersenyum bahagia memandang Vinson sambil menginsap kedua jempol dan menerjang-nerjang kaki mungilnya.
“Apa, Sayang? Kamu rindu Daddy ya? Nih Daddy sudah pulang. Noel pasti bahagia nih!” canda Vinson pada si bayi, lantas ia pun segera menggendong bayi mungil itu.
“Cup…cup..cup…, kamu lapar ya, Nak? Bi Uni sudah kasi Noel s**u belum?”
“Sudah, Tuan. Minum susunya kuat banget.” Bi Uni menimpali sambil membereskan pakaian kotor bayi yang masih nampak berserakan.
“Oh ya? Minum susunya kuat ya, Bi?”
“Iya, Tuan. Dia seperti tau kalau daddynya kerja keras untuk membeli susu.”
“Hahaha,” Vinson tertawa kecil, “Bibi tau aja.”
Bayi mungil itu menggeliat menahan ngantuk. Setelah puas bercengkrama dengan Vinson, nampaknya si bayi ingin segera istirahat. Bi Uni dengan sigap merapikan tempat tidur bayi dan segera mengambil alih untuk mengurusnya.
“Bi, wanita tadi akan tinggal di sini.”
“Oh ya? Itu siapa, Tuan? Apakah wanita itu akan melahirkan dan bayinya juga akan diadopsi lagi oleh Tuan?”
“A… tidak, Bi.” Vinson segera memperbaiki ucapannya, “dia Clary. Teman sekolahku dulu. Untuk beberapa waktu, dia akan tinggal di sini.”
“Sepertinya perempuan baik-baik, Tuan.”
“Kalau dia baik, emangnya kenapa, Bi?”
“Kalau dia baik, sangat cocok sebagai ibu untuk Noel.”
“Ah, Bibi. Ada-ada saja. Clary sudah milik orang lain, Bi.”
“Lah, kalau milik orang lain, kenapa Tuan membawanya ke sini?” Bi Uni terperanjat.
“Saya menculiknya, Bi.”
“Apa??! Tu… Tuan menculiknya?!”
“Ssssttttt…,” Vinson mengatup bibirnya dengan jari telunjuk, memberi kode agar Bi Uni tidak kaget pada ucapannya “jangan ribut, Bi. Nanti Noel bangun.”
Bi Uni mengalihkan pandangannya pada Noel yang sudah tidur dengan nyenyak, “Walah, apa maksudmu menculik wanita itu, Tuan?”
“Banyak, Bi.” Vinson menelan salivanya.
“Tapi saya harus memastikannya melahirkan dengan aman. Setelah itu, saya akan memberitahumu kenapa saya menculiknya.”
“Saya tahu, Tuan orang baik. Jangan pernah menyakiti hati wanita itu, Tuan.”
“Tidak, Bi. Saya tidak akan menyakitinya.”
“Syukurlah.” Bi Uni mengelus pelan dadanya.
“Sudah larut malam, Tuan. Istirahatlah, biar Noel tidur denganku malam ini.”
“Terima kasih, Bi. Saya titip Noel, ya. Selamat malam.”
“Selamat malam, Tuan.”
“Oh ya, Bi. Besok pagi siapkan sarapan, dan perlakukan Clary dengan baik!” diiringi anggukan Bi Uni, Vinson menutup pintu kamar.
Vinson melangkahkan kaki meninggalkan kamar Noel. Hatinya bergejolak saat itu. Ia sadar, menculik Clary bukanlah pilihan yang terbaik. Tetapi ia tetap harus melakukannya. Sebelum masuk ke kamar, Vinson sempat mengintip Clary di kamar untuk memastikan wanita itu sudah terlelap. Ketika melihat Clary tidur dengan nyenyak, Vinson menyelimuti wanita itu. Lalu mematikan lampu utama dan menggantinya dengan menyalakan lampu tidur.
Malam itu juga, menjadi malam yang mencekam bagi Clary. Ia hanya dapat terlelap beberapa saat. Meskipun sejak awal tadi Vinson memperlakukannya dengan baik, tapi Clary belum yakin akan semua kebaikan itu. Bisa saja Vonson punya rencana-rencana buruk padanya.