Teror Kedua

1875 Kata
Setelah mengambil berkas di kantor Wildan, Clary dan Nur Fatma berangkat ke luar kota. Wildan melambaikan tangan, mengiring kepergian kedua wanita itu. Ia berharap, keduanya dapat menjalankan tugas dengan baik. Meski sedikit khawatir, Wildan mencoba untuk menepis perasaannya. Ia harus percaya penuh pada Nur Fatma. Perjalanan mereka cukup jauh hari itu. Nur Fatma mengendara mobil cukup laju. Tujuannya tentu agar segera sampai. “Cla, emang lo dulu udah biasa pergi ke luar kota?” “Hmmm…. Udah kerjaan gue kali, Fat. Biasanya gue cuma pergi sendiri.” “Oh ya? Gue salut sama lo.” “Ya mau gimana lagi. Sama kayak elo lah. Wanita tangguh.” keduanya terkekeh, menyadari kelebihan mereka masing-masing. “Tapi, lo masih ingat tempatnya kan?” “Ya ampun, Fat. Mana mungkin gue lupa. Elo nggak percaya amat sih sama gue?” “Hehehe, bukan gitu, Cla. Mana tahu elo udah lupa.” “Tempatnya jauh di pinggir kota. Sepi. Gue juga terkadang agak rawan kalau pergi ke sana.” “Terus, kenapa lo berani?” “Beraniin diri aja.” “Gila! Gue salut sama lo.” Nur Fatma memetik jarinya. Sebenarnya, Nur Fatma mengetahui lokasi gudang milik perusahaan Wildan. Karena, Nur Fatma sudah pernah menjalankan misi di sana. Tapi, ia tak ingin memberitahu Clary tentang hal ini. Ia khawatir Clary mejadi takut datang ke sana. Gudang dengan luas kurang lebih delapan hektar, berdiri kokoh di pingiran kota. Sekilas tampak aman. Namun, siapa sangka ada banyak mata-mata tersembunyi yang berkeliaran di sana. Gudang ini sering menjadi target misi rahasia tertentu. Apa lagi di sini juga menjadi pusat industri jam tangan dan barang-barang elektronik lainnya milik perusahaan Wildan. Clary masuk ke dalam gudang. Dengan langkah gontai menyapa beberapa karyawan yang sudah di kenalnya. Ada juga yang berlagak cuek dengan kehadiran Clary. Namun, wanita itu juga tampak tak peduli. Ia sudah terbiasa datang ke sini. Ia menunjukkan surat tugas dari kantor yang sudah ditandatangani oleh Wildan. “Non Clary….” Kepala gudang muncul di hadapan Clary. “Eh, Pak Gian. Apa kabar, Pak?” Clary menjabat tangan pria di hadapannya. “Kabar Baik, Non. Datang dengan siapa?” “Ini, sama teman.” Clary menunjuk pada Nur Fatma. Bodyguard itu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Oh, yuk masuk ke ruangan saya.” Clary mengikuti langkah Pak Gian. “Saya pikir, Non Clary benaran resign.” Clary meletakkan berkas di atas meja, lantas duduk berhadapan dengan Pak Gian. Penjaga gudang itu juga mempersilakan Nur Fatma untuk duduk di sofa. “Sebenarnya, Pak. Cuma, suami saya minta saya datang ke sini karena dia nggak sempat.” “Suami?” “Iya, Pak. Saya istrinya Wildan.” “Wah, Non Clary menikah dengan Pak Bos?” Clary hanya mengangguk. Ia tak ingin banyak cerita. Baginya permasalahan pribadi dan awal kisahnya bersama Wildan tak perlu diketahui oleh Pak Gian. “Oh ya, Pak. Seperti biasa, saya mau ngecek hasil gudang.” Pak Gian dengan sigap meberikan laporan pada Clary. Tak lupa, Clary mencatat setiap laporan yang disampaikan oleh Pak Gian. Kurva hasil laporan Pak Gian cukup aman. Stok bahan baku untuk enam bulan ke depan juga masih aman. Untuk memastikan laporannya, Pak Gian membawa Clary keliling gudang. Meski sedikit lemah karena kondisinya yang tengah hamil, Clary tetap menjalankan tugasnya hingga selesai. Setelah mengecek kondisi gudang dan memberi arahan kepada Pak Gian. Clary mohon pamit. Ia juga sempat berfoto dengan Pak Gian untuk dikirim kepada Wildan sebagai bukti bahwa ia sudah sampai di gudang dan sudah menjalankan tugasnya dengan baik. “Hati-hati ya, Non. Titip salam untuk bos Wildan.” “Iya, Pak. Nanti akan saya sampaikan. Kami mohon pamit ya. Saya titipkan keamanan gudang ini sama Bapak.” “Oh, iya. Pasti itu, Non.” Pak Gian dengan gagah meyakinkan. Nur Fatma kembali membawa Clary melaju di jalanan. Clary bernapas lega karena sudah sukses membantu tugas Wildan hari itu. Ia sedikit merebahkan tubuhnya di kursi. Nur Fatma hanya tersenyum melihat Clary yang tampak kelelahan. “Capek ya?” “Banget, Fat. Gue lapar.” “Ya elah, bumil. Mau makan di mana? Ini masih sepi.” “Ya ntar dong. Tunggu udah ketemu lokasi yang tepat.” Sebuah mobil terdengar membunyikan klakson. Nur Fatma melihat dari kaca spion. Seorang melambai-lambaikan tangan ke arah mereka. “Sial!” Nur Fatma memukul setir. Cukup kuat, membuat Clary kaget. “Lo kenapa, Fat?” Belum sempat Nur Fatma menjawab, mobil mereka dihadang oleh sebuah mobil yang tiba-tiba mendahului laju kendaraan mereka. “Me…. Mereka siapa, Fat?” “Hey…. Turun!” sekelompok laki-laki berpakaian hitam mengetuk jendela kaca. Clary tiba-tiba menjadi pucat. Tentu saja ia sangat takut. Berbeda dengan Nur Fatma. Perempuan itu cukup tenang, mesik raut wajahnya mengecam prilaku sekelompok laki-laki itu. “Turun! Cepat. Buka pintunya.” Lagi-lagi mereka mengetuk pintu mobil. Nur Fatma turun. Melihat Nur Fatma turun, Clary pun terpaksa ikut. Ia memandang satu per satu wajah laki-laki dihadapannya. Dua orang pria langsung menyergap Clary. Nur Fatma sudah lebih dulu di tahan di depan mobil. Seorang laki-laki bertubuh besar dan tinggi keluar dari mobil yang ada di hadapan mereka. Melangkah gagah mendekati Clary dan Nur Fatma. Clary kaget setelah melihat wajah itu muncul dari balik mobil. Jony Gempal. Ya, laki-laki itu bernama Jony Gempal. Pria yang tega membunuh kedua orang tua Clary. sejak kejadian itu, Clary tak pernah melihat Jony Gempal lagi. Kata orang-orang, Jony Gempal sudah masuk penjara. Clary ingin mengucek mata, tapi, pergelangan tangannya ditahan oleh dua pria yang berdiri di sampingnya. “Wuaaaaaaaaaaaaaaaa….!!!” Clary teriak histeris. Nur Fatma dengan sigap menendang s**********n seorang pria di sampingnya. Hal itu membuat suasana jadi buyar. Clary menutup gendang telinganya dan terus teriak. Ia teringat akan kejadian, dimana Jony Gempal menembak mati kedua orang tuanya. Saat itu, Clary masih berusia lima tahun. Ia sembunyi di balik lemari. Dengan tubuh gementar menyaksikan nyawa kedua orang tuanya melayang di tangan pria b******k yang kini muncul lagi di hadapannya. Sejak saat itu, Clary memiliki trauma yang besar. Itu sebabnya, ia tak suka jika diperlakukan dengan kasar. Dor…. Dor…. Dor…. Clary mendongakkan kepala medengar suara pistol yang ditembakkan begitu saja oleh Nur Fatma. Ia melihat segerombolan Pria tadi lari tunggang langgang masuk ke dalam mobil dan segera melaju dengan kendaraannya. “Fat, lo nggak apa-apa?” Clary bangkit berdiri. “Gue yang harus tanya, Lo Nggak apa-apa?” Nur Fatma segera memasukkan pistol dalam saku rok yang dipakainya. “Gue…. Gue masih takut, Fat.” “Ya udah, yuk! masuk ke mobil dulu.” Nur Fatma membopong tubuh Clary yang sudah tampak lemah. Wanita itu menghela napas lega karena ia dan Nur Fatma masih selamat. Clary mengucapkan terima kasih pada Nur Fatma karena sudah menyelamatkannya hari itu. “Fat, lo hebat.” setelah meneguk air mineral pemberian Nur Fatma, Clary baru mampu melayangkan senyuman. “Udah. Jangan banyak muji. Itu udah tugas gue.” Nur Fatma memastikan keadaan sekeliling sudah aman. “Gue hampir saja mati, Fat. Kalau elo nggak ada, gue pasti udah mati.” Clary masih menampakkan ketakutanya. “Lo udah terancam, Cla. Gue udah baca situasi. Ada yang nggak beres. Gue jadi percaya dengan teror pertama lo.” “Udah lah, Fat. Nggak akan ada yang percaya gue.” ucap Clary lemah. “Lo harus mikir dong. Itu kenapa tadi segerombolan laki-laki asing itu menghadang kita?!” “Ya, gue juga masih mikir, Fat. Gue kenal kepala gank nya itu.” “Hah?! Lo serius?” “Iya. Dia Jony Gempal.” ”Joni Gempal? Dia siapa?” “Dia yang udah bunuh nyokap dan bokap gue.” “What?!” Nur Fatma terperangah, “jadi…. Lo kehilangan orang tua karena si b******k itu?” Clary mengangguk. Tiba-tiba saja air matanya mengalir deras. Hal itu membuat Nur Fatma sedikit panik. Ia merasa bersalah karena membangkitkan emosi Clary. “Cla…. Lo jangan sedih dong. Gue minta maaf. Bukan bermaksud untuk membuat lo teringat sama kejadian ortu lo. Gue turut berduka.” “Fat…. Gue mau ngucapin makasih sama lo. Karena lo udah nyelamatin gue hari ini.” Clary mengusap air matanya. Nur Fatma menarik napas dalam-dalam, lalu menghempasnya begitu saja. Mereka harus segera kembali ke kota. Tidak baik jika berlama-lama di situ. Apalagi situasi sudah tidak aman. Atas saran Nur Fatma, Clary mengurungkan niatnya untuk memberi kabar pada Wildan. Sekembalinya ke kota, Clary tidak berani menceritakan apa pun pada Wildan. Ia takut jika Wildan mengkhawatirkan keselamatannya. Apa lagi besok, Wildan sudah berangkat ke luar negeri. Clary menutup rapat kejadian yang mereka alami. “Sayang…. Terima kasih ya. Kamu udah bantu pekerjaan aku hari ini.” “Sama-sama, Honey. Kamu juga harus berterima kasih sama Nur Fatma,” Wildan mengangguk. “Besok aku harus berangkat. Mengurus semua dokumen agar bisa segera kembali juga ke Indonesia. Kamu nggak apa-apakan kalau harus aku tinggal?” “Sebenarnya, aku nggak mau jauh dari kamu, Honey. Tapi bagaimana lagi. Dokumen kamu juga harus segera di urus.” “Aku nggak akan berlama-lama kok di sana. Setelah semuanya beres, aku akan segera pulang ke sini.” “Iya, Honey. Aku percaya kok sama kamu.” Wildan mengecup kening Clary. Ini menjadi malam perpisahan keduanya. Sebelum Wildan berangkat besok, ia kembali memberi kehangatan pada wanita-nya itu. Clary memeluk Wildan dengan erat. Ia menaruh harapan besar pada laki-laki itu. Mereka menutup malam indah dengan sebuah ikatan cinta yang begitu mesra. Pagi-pagi sekali, Wildan berangkat ke bandara. Ia melambaikan tangan pada wajah cantik yang mengantar kepergiannya di halaman rumah. Clary tidak mengantar Wildan ke bandara hari ini. Dengan wajah sendu, Clary berdiri bagai patung. Nur Fatma dan Bi Ida turut hadir di sana. Mereka juga melambaikan tangan, mengiring kepergian Wildan. “Udah. Jangan sedih. Wildan juga bakal balik lagi kok.” Nur Fatma mengusap pundak Clary, berusaha menguatkan wanita itu. “Gue sedih, Fat. Bakal keepian.” “Kan ada kami. Ya kan, Bi?” Nur Fatma menatap wajah Bi Ida yang masih sayu karena baru terbangun dari tidur. Hari ini Bi Ida terlambat bangun karena semalam begadang untuk membantu mengemas pakaian Wildan. “Iya, Non. Masih ada kami berdua.” “Tapi kan nggak ada kawan tidur, Bi.” “Ya elah. Gue aja biasa tidur sama guling kok,” Nur Fatma meledek Clary. “Elo mah jomblo! Lah gue? Mana tahan!” ungkapan Clary membuat ketiganya tertawa lepas. Clary masuk ke dalam kamar. Ia mengusap layar handphone-nya. Hanya sekadar untuk membuka galery dan memandang wajah Wildan. Namun, sebuah pesan yang masuk di w******p-nya membuat harapan Clary buyar. Halo, Cla. Gue senang bisa nyapa elo lagi. Gimana kabar lo? Baik-baik aja kan? KALAU ELO INGIN BAIK-BAIK SAJA, GUE MINTA ELO DATANG KE JALAN MAWAR, KOMPLEK BALI ASRI 10. Gue tunggu elo di sana. TAPI INGAT!!! Loe harus datang sendiri. Gue tunggu nanti di sana tepat jam sembilan malam. Okey. Clary merebahkan tubuhnya di atas kasur. Teringat kejadian kemarin siang, hari ini ia mendapat teror itu lagi. Sebuah teror yang mengharuskannya untuk datang ke sana sendiri. Ia masih bimbang untuk memberitahu pesan misterius ini pada Nur Fatma. Clary mencari cara, agar semuanya dapat terselesaikan dengan baik. Clary yakin, semuanya akan baik-baik saja. Tanpa Nur Fatma, ia berharap permasalahan ini segera selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN