Clary duduk termenung di balkon. Memandang bintang yang tampak muncul beberapa saja di langit malam. Hantinya masih menumpuk tanya pada wanita yang bersama Bara tadi siang. Bara tidak mungkin salah memilih wanita.
“Cla, belum tidur?” suara seseorang membuyarkan lamunanya.
“Eh…. Lo, Fat. Duduk!”
Fatma datang membawa teh hangat dan ubi rebus sisa tadi sore. Dia tahu kalau Clary sedang duduk di balkon.
“Gue juga belum bisa tidur.” Fatma menarik kursi lalu duduk di samping Clary.
“Gue masih nunggu Wildan. jam segini dia belum pulang.”
“Oh, elo nggak tanya dia.”
“Udah. Katanya dia lagi beresin pekerjaan. Karena dua hari lagi dia bakal balik ke Skotlandia.”
“Iya juga sih. Ntar repot kalau dia harus ninggalin pekerjaan yang belum beres.”
Clary memandang ubi rebus yang tadi dibawakan oleh Nur Fatma. Tampak lezat. Sejak tadi sore, ia meminta Bi Ida untuk merebus ubi. Hanya makanan sederhana itu yang bisa masuk ke dalam perutnya saat ini. Keduanya bercengkrama di balkon. Menceritakan pertemuan bersama Bara dan wanita bernama Febi tadi siang.
“Eh, Fat. Gue teringat kejadian tadi siang. Bisa-bisanya gue ketemu sama penghianat itu.”
“Bara maksud, lo?” Nur Fatma menyeruput teh hangat di hadapannya.
“Ya iya lah. Siapa lagi. gue kesal tahu.”
“Hahahha, lo tahu nggak, gue juga lihat ekspresi Bara tuh seperti nyimpan kekesalan. Gue jadi gereget.” Nur Fatma memberi penilaian.
“Sial gue ketemu mereka.”
“Yah. Jangan gitu dong, Cla. Tapi, gue salut sama lo. Kalau gue mah, pasti udah kejambak tuh rambut si…. siapa nama wanita itu?”
“Febi.” Clary menjelingkan mata, seakan tak ingin untuk menyebut nama wanita itu, “lo kira gue nggak naik pitam? Eh, tapi gue masih penasaran lo dengan wanita itu.”
“Nah, tu kan…. Kan?” Nur Fatma meledek Clary, “gue tahu, lo bakal penasaran sama dia.”
“Benar, Fat. Gue masih penasaran.”
“Eh, itu mobil Wildan!” Nur Fatma menyela ucapan Clary.
Benar saja, mobil Wildan baru masuk di halaman rumah. Clary berdiri dan melihat ke bawah. Tampak Wildan baru keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Sssttt….” Clary meletakkan jari di ujung bibirnya.
“Lo kenapa?”
“Lo jangan bilang-bilang Wildan kalau tadi kita ketemu Bara ya. Please….” Clary memohon pada Nur Fatma.
Bukannya mengiyakan, wanita itu malah tersenyum geli. Lagi pula tidak mungkin baginya menceritakan tentang ini pada Bara.
“Lo kenapa tertawa?” Clary balik nanya.
“Iya…. Iya. Lo tenang aja. Gue bisa jaga rahasia kok.”
“Nah, gitu dong.”
“Udah, sana gih! Sambut kedatangan suami lo tuh baru pulang kerja.”
Baru saja Clary hendak turun ke kamar untuk menyambut Wildan. Tiba-tiba saja laki-laki itu muncul di ambang pintu. Hampir saja dia menubruk Clary. Beruntung Nur Fatma sigap menarik Clary.
“Sayang…. Kamu gimana sih jalannya. Coba kalau kena tubruk tadi bisa jatuh dan akan membahayakan kandungan kamu.”
“Iiih…. Lagi pula, Honey jalannya nggak lihat-lihat sih.”
“Ya udah. Aku yang salah.” Wildan merebahkan dirinya pada kursi.
Dia tampak lelah sekali. Seharian Wildan tidak pulang. Katanya banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
“Honey, kamu capek ya?” tanya Clary sambil memijit pergelangan tangan Wildan.
“Capek, Sayang.”
“Ya udah, kita ke kamar yuk. Sekalian aku siapin air hangat buat mandi.”
“Ntar, Sayang.” Wildan menahan tangan Clary yang hendak beranjak.
“Aku pusing!”
“Kenapa lagi, Honey? Ada masalah?” Wildan mengangguk pelan.
Tentu saja, ini permasalahan serius yang membutuhkan waktu. Besok, ada jadwal meeting bersama karyawan. Sementara Wildan juga harus mengecek gudang untuk memastikan produksi jam tangan di sana aman sebelum ia tinggalkan. Wildan tak punya waktu lagi untuk datang ke gudang.
“Ooo…. Jadi itu masalahnya.” Clary manggut-manggut.
“Kenapa, Sayang? Kok kamu senyum-senyum sendiri.”
Clary menarik mengangkat alis sebagai tanda kesiapannya bersama Nur Fatma. Melihat gelagat Clary, Nur Fatma tahu apa yang dimaksud Clary.
“Ammm…. Gini Pak Bos. Gimana kalau gudang biar Clary dan saya yang cek.”
“Hah?! Serius?”
“Ya serius lah, Honey. Dulu waktu masih kerja juga selalu aku yang ngecek ke sana.”
“Oh ya? Kenapa nggak bilang sih, Sayang. Aku kan jadi pusing buat bagi waktu.”
“Gimana mau bilang. Kamu aja nggak cerita. Lagi pula kan kamu yang larang aku urus pekerjaan lagi. Padahal aku kan masih mau kerja.”
Wildan tersenyum mendengar penuturan Clary. Memang benar, ia sudah tak mengizinkan Clary untuk kerja lagi. Lagi pula, sejak awal, Clary sudah meminta resign.
“Ye…. Kan kamu sendiri yang ngotot resign waktu itu.” Clary terkekeh mengingat masa dimana dia memohon pada Wildan untuk mengeluarkan surat resign-nya.
“Jadi gimana besok?” Nur Fatma memastikan keputusan Wildan.
“Hmmm…. Gimana ya? Kalian bisa?”
“Ya ampun, Honey! Nggak percayaan banget sih sama kami.” Clary menggerutu.
“Bukannya nggak percaya. Tapi kalian bisa nggak?”
“Kan udah dibilang tadi. Ini kerjaan aku dulu.”
Wildan masih menimbang-nimbang. Sebenarnya dia maih ragu karena letak gudang yang berada di luar kota. Ia tidak mungkin membiarkan Clary pergi dalam kondisi hamil. Apa lagi jika ia nyetir sendiri.
“Ya udah. Besok aku cariin sopir buat anterin kalian.”
“Ooo…. Jadi kamu ragu dengan kemampuan kami?” Clary merasa diremehkan.
“Ya, bukan begitu, Sayang. Kamu kan lagi hamil. Nggak mungkin dong kalau kamu nyetir sendiri. Gudang itu ada di luar kota loh.”
“Iya tahu, di luar kota. Tapi, kan nggak perlu cari supir.”
“Emangnya kamu sangup bawa mobil jauh begitu? Ntar kenapa-napa kan susah.”
“Honey….” Clary melingkarkan tangannya di pundak Wildan, “kamu jangan khawatir deh. Aku udah punya supir pribadi kok.”
“Hah?! Siapa? Kamu kok nggak bilang sama aku!”
“Nggak perlu bilang kali. Kan kamu sendiri yang nyariin bodyguard buat aku.”
“Jadi…. Maksut kamu Nur Fatma?” Clary mengangguk.
“Iya, Bos. Tenang aja. Clary aman. Saya bisa jadi supir dia.”
Wildan tersenyum lebar. Melihat semangat kedua wanita itu, dia mulai percaya. Wildan juga semakin yakin kalau Nur Fatma bisa diandalkan. Wildan berterima kasih pada wanita itu. Menimbang kemampuan Nur Fatma, dia tidak akan ragu untuk meninggalkan Clary dalam jangka waktu yang lama.
“Ya udah, yuk kita istirahat!”
Wildan menarik tangan Clary. Mengajak wanita itu untuk segera istirahat. Mengingat besok mereka akan pergi ke luar kota. Clary harus istirahat yang cukup. Apa lagi dia tengah hamil muda. Nur Fatma masih tinggal di balkon. Membereskan sisa cemilan mereka tadi. Setelah itu, ia juga kembali ke kamar untuk beristirahat. Melepas lelah setelah seharian menjalankan tugasnya untuk melindungi Clary.
Pagi-pagi sekali, Nur Fatma sudah bersiap diri. Ia sengaja bangun lebih awal. Ia juga sempat membantu Bi Ida membereskan dapur. Meski Clary tidak memintanya, namun Nur Fatma dengan tulus melakukan apa pun yang bisa ia kerjakan. Lagi pula, Clary dan Wildan sudah memberinya tempat tinggal. Tidak mungkin ia membatasi pekerjaannya hanya untuk sekadar melindungi Clary.
“Neng Fatma duduk aja. Biar Bibi yang bereskan dapur.”
“Nggak apa-apa, Bi. Saya senang bisa bantuin Bibi.” Nur Fatma dengan gesit mencuci piring di wastafel.
“Ya tapi, kalau diliatin Non Clary kan nggak nyaman.”
“Clary nggak akan marah, Bi. Bibi tenang aja. Lagi pula saya juga nggak ada kerjaan di dalam kamar.”
Bi Ida tersenyum menatap Nur Fatma. Ia tidak masalah sebenarnya jika Nur Fatma mau membantu. Hanya saja Bi Ida tidak nyaman pada majikannya. Lagi pula, bagian dapur bukanlah pekerjaan utama Nur Fatma. Ia taut, kalau nanti majikannya melihat bisa memarahinya karena berbagi tanggung jawab dengan orang lain.
Sementara itu, di dalam kamar. Clary menggeliat tubuhnya. Ia tersenyum memandang wajah Wildan yang masih tidur dengan nyenyak. Wildan tampak menggulung tubuhnya, menahan dingin. Clary segera menarik selimut dan memeluk tubuh laki-laki itu. Merasa kehangatan tubuh Clary, Wildan membuka mata. Ia mengecup kening wanita-nya itu.
“Sayang udah bangun?” Wildan mengeratkan pelukannya.
“Udah dong, Honey….” ucap Clary manja.
Mereka tak perlu ragu lagi untuk melakukan hal itu. Wildan mendaratkan kecupan manis di kening Clary. Mereka, dari hari ke hari telah menjadi sepasang kekasih yang semakin penuh dengan keharmonisan. Tak pernah sekali pun Wildan mengabaikan permohonan wanita-nya itu. Semua akan ia lakukan demi kebahagiaan Clary.
Embun pagi malu-malu tinggal di muka dedaunan. Clary menyibak gorden kamar. Ia sudah selesai mandi dan berdandan dengan sangat cantik. Wildan tak henti memuji kecantikan Clary. Baginya, setiap hari, Clary adalah lukisan indah yang selalu memberinya semangat untuk beraktivitas.
“Sayang, nanti kalian mampir di kantor dulu untuk ambil berkas ya!” Wildan mengenakan kemeja yang sudah disiapkan oleh Clary.
“Ya, Honey. Kita mau berangkat bareng?”
“Hmmm…. Kalian mau pakai mobil yang mana?”
“Mobil kantor ada?”
“Ya udah. Kalau gitu bareng aku aja. Nanti kalian langsung berangkat dari sana.” Clary hanya menganguk.
Saat Clary dan Wildan keluar kamar, Nur Fatma dan Bi Ida sudah menunggu di meja makan. Hari ini tersedia nasi goreng kesukaan Clary. aromanya sangat harum sekali, membuat selera makan Clary muncul.
“Bi Ida buat nasi goreng?” tanya Clary penuh semangat. Bi Ida hanya tersenyum kecil.
“Wah…. Ini pasti enak.” Wildan juga turut mencium aroma makanan di atas meja.
“Udah…. Jangan banyak tanya. Yuk makan!” Nur Fatma menjadi orang pertama yang menyedok nasi goreng itu. Namun, ia bukan mengambil untuk dirinya. Melainkan untuk Clary.
“Enak.” Clary mengangguk sambil mengunyah nasi goreng dalam mulutnya.
“Aku coba ya.” Wildan turut penasaran, “Iya, enak.” Wildan makan dengan lahap.
Nur Fatma dan Bi Ida hanya tersenyum melihat reaksi majikannya. Melihat Nur Fatma senyum-senyum sendiri, Clary jadi penasaran.
“Fat! Lo kenapa?”
“Nggak…. Suka aja lihat lo mau makan. Biasanya kan mual.”
Clary terdiam. Memikirkan kebiasaannya saat makan pagi. Apa yang diungkapkan Nur Fatma benar. Pagi ini Clary makan sangat lahap. Bahkan ia ingin nambah lagi.
“Serius, enak loh.” Clary lanjut mengunyah.
“Ya enak lah. Kan gue yang masak.”
“Hah?!” Clary hampir tersedak. Ia segera menaguk air putih, “Elo yang masak?”
“Ya iya lah. Masih nggak percaya?” Nur Fatma berlagak sombong.
“Percaya kok. Percaya! Suwer, enak banget. Gue makin salut sama lo. Ternyata lo bisa diandalkan dalam berabagai hal.”
“Non Clary nggak marah kan kalau Neng Fatma bantu Bibi di dapur?” Bi Ida masih merasa tidak nyaman dengan bantuan Nur Fatma tadi pagi.
Clary dan Wildan saling berpandangan. Lalu tersenyum pada Bi Ida. Mereka sama sekali tidak keberatan jika Nur Fatma membantu pekerjaan di dapur. Asalkan Nur Fatma juga ikhlas melakukannya.
“Ya nggak lah, Bi. Asal Fatma mau aja bantu Bibi. Ya kan, Fat?” Clary bertanya pada Nur Fatma.
“Ya nggak lah, Cla. Gue senang bisa bantu Bi Ida. Lagian, gue nggak ada yang bisa dibuat kalau pas bangun pagi. Kerjaan gue juga belum mulai. Soalnya lo masih tidur dengan neyenyak. Dari pada gue gabut, mending gue bantu Bi Ida di dapur.”
“Hmmm,” Wildan menarik napas panjang, “Nggak apa sih kalau kita di rumah ini saling membantu. Saya yakin, Fatma melakukan semua itu dengan tulus.”
“Ya tulus dong, Bos. Masa saya numpang makan aja. Lagian itu bukan pekerjaan berat kok.”
Mereka kembali bercengkrama di meja makan. Nasi goreng buatan Nur Fatma dilahap habis oleh Clary. Ia merasa kuat karena sudah menikmati asupan makanan yang cukup untuk beraktivitas hari ini. Setelah sarapan, mereka kembali bersiap-siap untuk menjalankan aktivitas hari ini. Nur Fatma dan Clary juga bersiap untuk berangkat ke luar kota hari ini.