Ketika sampai di meja makan, Nur Fatma merasa sedikit canggung. Padahal, Wildan dan Clary bersikap seperti biasanya. Mereka sama sekali tidak memandang Nur Fatma sebagai bawahan. Nur Fatma menarik kursi dengan pelan. Bi Ida juga tampak sarapan bersama mereka.
“Yuk, Fat. Jangan malu-malu. Duduk aja.” Wildan memberi perintah.
“Ya Bos. Terima kasih.”
“Fat. Kamu makan aja ya…. Aku mau ke belakang sebentar.”
Clary sedikit mual. Tampak ia dengan susah payah mengunyah makanan yang masuk dalam mulutnya. Ia berlari menuju toilet dengan menutup mulutnya. Bi Ida menyusul.
“Neng…. Neng Clary.” Bi Ida mengetuk pintu. Namun, tidak ada jawaban dari Clary.
“Neng….” Bi Ida kembali memanggil.
“Bentar, Bi. Aku nggak apa-apa kok.” sayup-sayup suara Clary terdengar dari dalam.
Clary membuka pintu. Wajahnya basah karena tadi baru dibasuh dengan air. Bi Ida membopong Clary kembali ke meja makan.
Sebagian wanita merasa mual saat hamil. Demikian juga yang terjadi pada Clary. Apalagi usia kehamilannya sudah masuk minggu ke lima. Rasa mual terjadi karena tubuh memproduksi hormon human chorionic gonadotropin (HCG) serta meningkatnya kadar hormon estrogen. Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan.
“Tenang aja, Neng. Rasa mual itu kan cuma sementara kok. Ntar juga bakal hilang.” Bi Ida mencoba menenangkan Clary.
“Iya, Sayang. Makan lagi ya, biar perut kamu terisi. Ntar kalau kamu lemah bisa jatuh sakit lo.” Wildan membenarkan.
“Tuh, benar apa yang di bilang sama suami kamu. Neng Clary mau makan apa? Nanti Bibi masakkan.”
“Amm… Nggak usah, Bi. Nanti aku bisa masak sendiri kalau pengen makan sesuatu.”
Karena sudah tidak selera makan, Clary hanya meneguk segelas s**u hangat. Ia tak peduli dengan perut kosongnya. Ia harus tetap kuat untuk hari ini dan seterusnya.
“Honey, nanti aku mau periksa ke dokter kandungan.”
“Oh iya, hari ini?” Wildan sedikit kaget. Karena mengingat jadwal meeting-nya hari ini.
“Iya.”
“Tapi, aku hari ini ada pertemuan, Sayang."
“Nggak apa-apa, Honey. Nanti ada Fatma yang anterin.” Clary memandang bodyguard yang ada di hadapannya
“Oh, iya, aku lupa.” Wildan menepuk jidat.
“Iya, Bos. Nanti biar aku aja yang nemanin Clary.”
“Ya udah. Kalian berdua hati-hati ya. Fatma, saya titip Clary sama kamu.”
“Siap, Bos.”
“Ingat. Jangan macam-macam kalian berdua.”
“Idih…. Siapa yang macam-macam. Orang kami berdua best friends. Ya kan, Fat?”
“Ah, iya…. Iya Bos. Kami sohib” Fatma masih tampak gugup. Tapi, ia teringat. Kemarin Clary mengajaknya berteman.
“Saya percaya dengan kalian berdua. Intinya, Fatma. Kamu jaga Clary baik-baik. Jangan sampai hal sekecil apa pun terjadi sama dia.”
“Iya, Bos. Siap. Ini udah tugas saya.”
Setelah sarapan dan bersiap-siap, Clary dan Nur Fatma berangkat ke klinik untuk memeriksa kandungan Clary di sana. Sesuai permintaan Clary, Nur Fatma mengenakan pakaian biasa. Ia tak menampakkan kesan sebagai seorang pengawal bayaran yang di sewa oleh Wildan untuk menjaga Clary.
“Cla, gue aja yang nyetir. Mulai sekarang lo duduk manis deh.” Nur Fatma meraih kunci dari tangan Clary.
“Gue?”
“Iya, gue. Kenapa? Asing?”
“Nggak. Nggak asing.” Clary menggeleng. Meski, ia merasa asing dengan sapaan lo – gue.
“Gue lebih senang kalau panggil lo – gue. Kita kan temanan.”
“Oh, iya. Gue lupa.” Clary tersenyum. Nur Fatma bisa aja mencairkan suasana.
“Emang lo bisa nyetir?” tanya Clary bimbang.
“Bisa dong. Gue kan belajar.” Nur Fatma terkekeh melihat keraguan Clary.
“Tapi benar?”
“Benar, Cla. Udah, lo duduk manis aja. Semua akan gue tanganin.”
“Hahaha, lo ada-ada aja. Asyik. Gue suka gaya lo.” Clary memuji Nur Fatma.
Clary beruntung. Tidak hanya melindunginya, Nur Fatma juga respect terhadap banyak hal. Setelah cukup lama tidak memiliki teman, Clary bersyukur dengan kehadiran Nur Fatma. Apa lagi Nur Fatma bisa diandalkan dalam setiap suasana.
Benar saja, tanpa ragu Nur Fatma menyetir mobil dengan anteng. Keduanya melaju di jalanan. Cuaca sangat cerah pagi itu. Sesekali, Clary memandang sisi jalanan yang tampak rapi dan bersih. Beberapa tukang sapu jalanan masih tampak berdiri dengan ganggang sapu di sana.
“Gue nggak nyangka bisa ketemu orang macam elo, Fat.”
“Yah, gue juga nggak nyangka bakal ketemu bos macam elo,” keduanya tertawa bersama.
“Gila. Gue itu udah lama loh nggak ketawa lepas kayak gini,” ungkap Clary
“Oh ya? Emangnya Wildan nggak pernah ngajak lo ketawa?”
“Ya…. pernah sih. Tapi kan beda. Kalau sama teman begini kan lebih seru.”
“Hmm…. Gitu? Ya udah, kita ketawa bareng-bareng biar lo bisa happy di masa kehamilan ini.”
Hahaha, keduanya kembali tertawa. Meski tidak lucu. Clary benar merasa asyik bersama Nur Fatma. Wildan memang bisa diandalkan. Ia memilih teman yang cocok dan tepat untuk Clary. Nur Fatma pun merasa demikian. Dia tidak lagi merasa canggung untuk mendekati Clary.
“Gue salut sama lo, Fat. Lo seorang wanita yang tangguh.”
“Cie ile…. Kita sama kali, Cla. Wildan udah cerita banyak tentang lo ke gue.”
“Serius?”
“Iya. Serius.”
“Kok Wildan ceritain gue sih?”
“Ya nggak apa-apa dong. Sebelum kerja dengan lo, gue kan harus cari tahu dulu elo tuh seperti apa dan bagaimana latar belakangnya. Ya…. Gue juga nggak akan mau kerja dengan sembarangan orang.”
“Hmm…. Gitu ya?”
“Iya dong Cla. Jadi bodyguard tu nggak gampang. Bisa taruhan nyawa lo.”
Perlahan, Clary semakin memahami pekerjaan Nur Fatma. Memang tidak gampang. Nur Fatma memang hebat. Seorang wanita pekerja keras yang patut di acungi jempol. Clary semakin yakin jika Nur Fatma dapat melindunginya dengan baik.
Saking asyiknya ngobrol di sepanjang perjalanan, keduanya tidak sadar jika sudah hampir mendekati klinik bersalin. Nur Fatma membelokkan mobil dan masuk ke area parkir. Kendaraan cukup ramai. Sepertinya, hari ini jumlah pasien juga cukup ramai. Clary dan Nur Fatma sudah mempersiapkan diri untuk mengantri.
“Orang-orang nggak ihat gue sebagai bodyguard lo kan?” Nur Fatma setengah berbisik pada Clary. membuat wanita itu terkekeh.
“Nggak akan nampak deh. Soalnya, orang semacam gue sebenarnya nggak cocok pakai bodyguard.” keduanya kembali tertawa lepas.
Nur Fatma mendampingi Clary. Berjalan menuju loket untuk mengambil nomor antrian dan mendaftar. Sikap Nur Fatma sangat santai. Namun, matanya sigap saat melihat sekeliing. Takut jika ada orang-orang yang mencurigakan. Nur Fatma memang harus sigap. Jangan sampai ia lalai hanya karena tidak fokus.
Clary melangkah mendekati Nur Fatma. Menunjukkan nomor antriannya yang masih lama. Tapi, mereka tidak gentar. Tetap duduk manis di ruang tunggu. Sesekali mata Clary memandang orang-orang yang lalu lalang. Tampak beberapa suami siaga mendampingi istrinya. Ada juga yang hanya datang seorang diri.
Tiba-tiba saja, mata Clary terarah pada seorang wanita yang tengah menggendong bayi. Berdiri seorang laki-laki yang tidak asing bagi Clary di samping wanita itu. Mereka tampak mengkhawatirkan bayi dalam gendongan wanita itu.
Bara. Ya laki-laki itu muncul kembali di hadapan Clary. Hampir saja Clary menarik tangan Nur Fatma untuk beranjak dari situ. Namun, ia mengurungkan niatnya. Lagi pula, ia mengenakan masker. Bara tak mungkin melihatnya.
“Lo kenapa sih, gelisah banget?” Nur Fatma keheranan melihat wajah Clary.
“Itu, Fat….” Clary menunjuk ke arah Bara.
“Itu siapa?”
“Mantan tunangan gue dulu. Bara.” Nur Fatma sedikit memicingkan mata, agar dapat melihat Bara lebih jelas.
“Oh. Itu?”
“Iya, Fat. Duh gimana kalau dia lihat gue di sini ya.”
Nur Fatma hampir tertawa ngakak. Namun ia tahan. Sikap Clary cukup membuatnya geli. Padahal, seharusnya Bara yang menghindar darinya.
“Eh, Non Clary yang terhormat. Gue kasi tahu lo ya. Emang lo punya salah sama Bara?”
“Nggak.” Clary menggeleng.
“Nah, kenapa lo yang ketakutan?”
“Gue muak ihat mukanya.”
“Ya jangan dilihat dong. Gampang.”
“Elo ngomong mah mudah. Rasa sakit hati gue masih ada.”
“Nah, ini nih. Lo harus gue ajarin. Sini!” Nur Fatma menarik taangan Clary.
“Ih, apa an sih?!” Clary tak memahami maksud Nur Fatma.
“Astaga, Cla. Lo nggak paham juga maksud gue?”
Clary menggeleng. Tampaknya Nur Fatma lebih pintar dari dirinya. Entah apa rencana wanita itu. Clary hanya nurut saja. Sebab, apa yang disampaikan bodyguard itu ada benarnya juga.
Dengan langkah gontai, keduanya melintas di hadapan Bara dan wanita tadi. Celakanya, meski pun wajah Clary tertutup masker. Bara mengenalinya. Sebenarnya, tidak apa-apa sih. Lagi pula ini sesuai rencana Nur Fatma.
“Clary….” Wildan menyapa ragu.
Clary pua-pura menghentikan langkah. Padahal itu hanya sebagai trik agar Bara menambah rasa penasarannya.
“Kamu Clary kan?” Clary membuka masker dan tersenyum pada Bara.
Wanita yang berdiri di samping Bara ikut terdiam. Bara jadi salah tingkah. Apa lagi saat melihat senyuman Clary yang mengingatnya pada masa lalu mereka. Bara masih menyimpan rasa bersalah, setelah membuat rasa kecewa yang begitu besar pada Clary,
“Cla. Kamu apa kabar?” Bara menyodorkan tangannya.
“Baik. Kamu sendiri bagaimana?” Clary pura-pura tegar.
“Baik. Oh ya, kenalin ini istri aku, Febi.”
“Clary.” dengan santai, Clary menjabat tangan Febi. Wanita itu masih terdiam.
“Kalian kenapa datang ke sini?” tanya Clary lebih lanjut.
“Anak kami udah dua hari demam tinggi. Aku Baru sempat antar berobat hari ini.”
“Lah, kamu emang kebiasaan ya. Lebih mentingkan kerjaan dari pada keluarga.” Clary meraba tubuh bayi yang ada dalam gendongan Febi, “ini panasnya tinggi banget loh.”
“Iya, mana harus ngantri lagi.”
“Ya udah. Kalau gitu aku lanjut ya. Aku juga lagi ngantri.”
“Oh, iya. Silakan.” Bara masih menampakkan kesan gugup.
“Cla.” Panggilan Clary terpaksa menghentikan kembali langkah Clary.
“Kamu sendiri ke sini ngapain?”
“Periksa kehamilan.”
“Kamu hamil?!” Bara terperangah.
“Iya, aku hamil. Kenapa?”
“Kamu udah nikah?”
“Bukan urusanmu.”
“Cla, aku serius! Kamu menikah dengan siapa?”
Clary terdiam. Enggan sebenarnya untuk memberitahu. Tapi, ini harus. Penting. Agar Bara juga bisa mengetahui semuanya. Tidak ada salahnya juga jika Clary menceritakan semuanya.
“Aku nikah sama Wildan.” kali ini, Bara yang terdiam.
“Setelah apa yang kamu lakukan dan lebih memilih perempuan ini. Hidup aku jadi berantakan.”
“Cla, maaf. Kami….” wanita tadi angkat bicara.
“Maaf? Setelah lo tau Bara adalah tuanangan gue. Lo dengan berani dekatin Bara sampai hamil?”
“Cla…. udah…. Udah. Aku minta maaf.”
“Gue bersyukur ketemu kalian hari ini. Jadi, gue bisa lihat dengan mata gue sendiri wajah perempuan yang udah ngancurin harapan gue.”
Clary dengan lancang mengeluarkan uneg-unegnya. Sebuah kesempatan besar ia dapatkan hari ini. Bara hanya terdiam, begitu pula Febi. Mungkin, wanita itu menyadari kesalahannya di masa lalu. Bagaimana ia dengan lancang merebut Bara dari Clary. sebuah kesalahan yang harus diakui.
“Cla. Udah. Aku minta maaf. Ini salahku. Kamu nggak perlu marah-marah gitu dong sama Febi. Dia nggak seperti yang kamu bilang.”
“Apa?! Jadi kamu lebih membela dia?”
“Iya dong. Sekarang kan Febi udah jadi istri aku.”
Clary terdiam. Apa yang di sampaikan oleh Bara mungkin ada benarnya juga. Clary tidak ada urusan dengan wanita itu. Tapi, ia penasaran. Siapakah gerangan wanita yang telah mengambil hati Bara dengan sangat cepat? Ya, wanita yang kini ada di hadapannya. Siapakah dia?