Perfect Bodyguard

1705 Kata
Seorang wanita berbadan tegap, duduk di ruang tamu. Tersedia hidangan teh manis dan setoples roti di hadapannya. Ia mengenakan pakaian hitam, dengan topi yang masih melekat di kepala. Ia tanpak percaya diri dengan penampilannya. Nur Fatma – bukan nama asli, hanya sesuai permintaannya. Ia seorang bodyguard yang telah di sewa oleh Wildan sebagai pengawal pribadi yang akan melindungi Clary, Nur Fatma harus berkenalan dulu dengan wanita yang akan menjadi klien-nya itu. Bagi Wildan, mungkin tidak akan masalah untuk menyewa orang-orang seperti Nur Fatma. Yang penting Clary jauh dari marabahaya dan berhasil mencapai tujuannya. Kelak, Nur Fatma akan menceritakan pengalaman bekerjanya. Untuk menerima Nur Fatma bekerja sebagai bodyguard tidak ada persyaratan penting. Yang paling dibutuhkan hanya keberanian dan kepekaan. “Hai…. Saya Clary.” Clary mengulur tangan pada wanita di hadapannya. “Nur Fatma,” meski sedikit jutek, tapi senyumnya manis juga. Wanita itu menjabat tangan Clary dengan erat. Sorot matanya tajam. Ia tidak menampakkan kesan persahabatan.  “Am…. Sayang. Ini Nur Fatma. Nanti dia yang akan menjaga kamu selama aku pergi.” Clary tersenyum lebar. Meski pun Nur Fatma nampak cuek, Clary tahu kalau wanita yang disebut bodyguard itu bisa menjaganya dengan baik. Wildan tidak salah memilih orang. Clary menyukai kehadiran bodyguard itu. Bagi Nur Fatma, menjadi seorang bodyguard harus berani bertaruh nyawa. Saat ia memutuskan menjadi seorang pengawal pribadi Clary,  ia pun harus siap menanggung apa pun resiko yang bakal terjadi. “Pak Wildan, saya boleh tahu tugas saya apa saja?” “Hmmm…. Jadi begini. Yang akan menjadi klien kamu adalah istri saya. Nanti kamu bisa bicara aja dengan dia.” “Oh, oke, Pak. Saya hanya mengikuti arahan saja.” “Ya udah. Sayang, nanti kamu bicara saja sama Nur Fatma, ya. Aku mau balik ke kantor dulu.” “Iya, Honey.” Clary mengangguk. “Fatma, saya pamit dulu ya. Nggak usah segan. Anggap saja Clary adalah sahabatmu.” “Oke, Pak Bos. Tenang aja. Ntar kami bakal jadi sohib kok.” Nur Fatma tersenyum lebar. Setelah mengantar Wildan ke garasi, Clary kembali ke ruang tamu. Menjumpai Nur Fatma yang masih duduk menunggu dirinya di sana. Clary mempersilakan Nur Fatma untuk meneguk teh hangat yang sudah terhidang di hadapannya. “Non Clary, jangan sungkan. Kasi tau aja apa yang menjadi tugas saya,” meski tampak cuek, Nur Fatma tidak segan membuka pembicaraan Clary melayangkan senyuman. Ia menatap keseriusan bodyguard yang duduk di hadapannya itu. Meski terbesit tanya, apakah Nur Fatma bisa melindunginya dengan baik. “Terima kasih, Fatma. Nanti, saya akan cerita sama kamu.” “Oke, siap.” Nur Fatma menganggukan kepala. “Kamu udah lama kerja begini?” tanya Clary. “Wah…. Jangan ditanya lagi, Non. Hidup dan mati saya dari sono-nya udah kerja begini.” Nur Fatma terkekeh. “Terus, apa yang membuat kamu berani mengambil resiko dengan pekerjaan seperti ini?” “Saya suka tantangan.” Memang benar, kepribadian Nur Fatma yang menyukai tantangan membuatnya cocok dengan pekerjaan itu. Meski pun telah banyak mengalami lika-liku, Nur Fatma tetap menjalankan pekerjaannya dengan profesional. “Kamu pernah mengalami permasalahan yang berat nggak waktu kerja?” Nur Fatma memetik jarinya. Ia teringat pada pengalaman yang pernah hampir merenggut nyawanya. Tapi, ia mengurungkan niat untuk menceritakan semua itu. Takut, jika Clary tidak mempercayainya. “Ada, Non…. Beberapa kali,” Nur Fatma menelan saliva-nya. “Fatma….” Clary membuyarkan lamunan Nur Fatma. “I…. iya, Non. Maaf.” “Ya udah. Nggak usah dibahas lagi. Aku tahu, betapa sulitnya kamu menjalani pekerjaan ini.” “Iya, Non.” “Aku hanya mau kita berteman.” Ucapan Clary sempat membuat Nur Fatma terperangah. Ia belum pernah menjumpai klien seperti ini. Dengan gampang mengajaknya berteman. Selama ini, dia menjalankan pekerjaan secara diam-diam. Bahkan tidak menunjukkan sisi pertemanan dengan sang klien. “Tapi….” “Udah…. Masalah aku sebenarnya hanya masalah kecil.” “Oh ya?” Nur Fatma sedikit penasaran. “Sebenarnya tanpa bodyguard juga aku bisa melindungi diri sendiri. Cuma…. Suamiku takut kalau nanti dia ninggalin aku dalam waktu yang lama. Takut kalau nggak ada yang bisa menemaniku.” “Iya juga sih. Berarti aku nggak jadi kerja sama, Non Clary dong.” “Jadi dong.” “Tapi tadi, Non Clary bilang nggak perlu bodyguard.” Clary menyeruput teh manis di hadapannya. Meletakkan kembali cangkir itu di atas meja. Ia menatap lekat pada Nur Fatma. Berharap agar bodyguard itu dapat memahami maksudnya. “Perlu, Fatma. Intinya aku punya masalah dan aku harus punya teman untuk menyelesaikan masalah ini.” “Tunggu…. Non Clary punya masalah dengan orang?” “Iya.” Perlahan, Clary menjelaskan teror yang kerap menghampirinya. Ia juga meminta Nur Fatma agar bisa membantunya dalam mengungkapkan permasalahan ini. Sebenarnya, ini masalah kecil bagi Nur Fatma. Namun, tidak demikian bagi Clary. “Karena teror itu, aku jadi takut.” “Ooo…. Jadi begitu.” Nur Fatma manggut-manggut setelah mendengarkan penjelasan Clary. “Iya. Jadi, aku minta kamu tinggal di sini sampai Wildan balik lagi ke Indonesia.” “Ya, nggak masalah sih kalau Non Clary meminta saya untuk menjaga Non Clary dua puluh empat jam,” tanpa pikir panjang, Nur Fatma menerima tawaran Clary. “Nah, gitu dong. Tapi aku minta sama kamu untuk jangan jaga jarak ya. Kita komunikasi layaknya seorang teman dan kamu juga jangan menggunakan pakaian bodyguard seperti ini.” Keduanya terkekeh. Nur Fatma juga tersipu malu. Untuk pertama kalinya ia mendapat klien yang humble seperti Clary. Tidak hanya memiliki wajah yang cantik, Clary juga berhati mulia. “Iya deh, Non Cla…” “Panggil Cla aja. Clary.” Nur Fatma tersenyum kecil. Clary benar-benar friendly. Clary serius untuk menganggap Nur Fatma sebagai teman. “Ya udah. Kalau gitu aku pamit dulu, Cla. Besok aku datang lagi.” “Oke, Fat. Jangan lupa bawa sekalian pakaianmu, ya.” Clary mengingatkan, Nur Fatma hanya mengangguk saja tanda setuju. Sekembalinya Nur Fatma, Clary beranjak ke balkon. Di sana bagai tempat favorit untuknya bersantai ria. Sesekali, Wildan menemaninya, jika ada waktu. Namun, akhir-akhir ini, Wildan tampak sibuk. Karena ia harus membereskan semua pekerjaannya sebelum kembali ke Skotlandia. Clary memandang tumpukan awan yang semakin gelap. Pertanda akan hujan. Perlahan, ia mengusap perutnya yang semakin membesar. Sesekali, Clary tersenyum sendiri. Mengingat kisah asmaranya bersama Wildan yang terjadi begitu saja. Tanpa dasar cinta, hanya karena suka. Tapi, Wildan pria hebat. Dia bertanggung jawab penuh dengan kehamilan Clary. Sejauh ini, Clary merasa baik-baik saja. Dia malah semakin mencintai Wildan. “Nak…. Nanti kalau kamu lahir sebagai perempuan pasti cantik seperti Mami. Terus…. Kalau kamu laki-laki akan ganteng seperti Daddy.” Clary bicara pada jabang bayi yang ada dalam kandungannya. Clary teringat. Besok, jadwalnya untuk konsul ke dokter kandungan. Karena Wildan tidak sempat, maka Clary berencana untuk membawa Nur Fatma untuk menemaninya. Lagi pula, besok adalah hari pertama bodyguard wanita itu bekerja untuknya. Benar saja, keesokan harinya, Nur Fatma datang pagi-pagi sekali ke rumah Clary. Sesuai perjanjian, Nur Fatma membawa dua buah koper yang berisi semua pakaian dan perlengkapannya. Clary senang sekali dengan kehadiran bodyguard-nya itu. Clary sudah menyiapkan kamar untuk Nur Fatma. Sebuah kamar berukuran sedang dengan beberapa fasilitas yang sudah bisa digunakan oleh Nur Fatma. Clary berharap agar Nur Fatma bisa memanfaatkan kamarnya sebagai tempat istirahat yang nyaman. “Terima kasih lo, Cla. Kamu udah siapin kamar sebagus ini buat aku.” “Sama-sama, Fat. Aku harap kamu dapat beristirahat dengan nyaman di sini.” “Tentu saja. Kamar sebagus ini aku nggak pernah dapetin sebelumnya.” “Serius kamu?” tanya Clary penasaran. Bahkan, Clary tidak pernah membayangkan jika wanita yang kini berada di hadapannya punya sisi kehidupan yang ia tidak ketahui sama sekali. “Iya, Cla.” Nur Fatma menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk, “Aku hanya tinggal di kos-kosan yang sempit. Tidur juga Cuma beralaskan sebuah tilam.” “Oh ya?” “Hidup aku susah, Cla. Dapat klien juga baru kali ini berhati malaikat. Aku jadi ngerasa, nggak hanya dapatin kerjaan, tapi lebih dari ketemu seorang malaikat.” Clary duduk di samping Nur Fatma. Mengusap bahu wanita itu. Meski Nur Fatma tampil sebagai seorang wanita yang kuat dalam pandangan Clary, tapi kali ini tidak. Nur Fatma butuh tempat yang nyaman untuk berlindung. “Udah, Fat. Anggap aja rumah ini adalah rumah kamu juga. Gunakan fasilitas yang bisa kamu gunakan.” “Makasih ya, Cla. Aku janji akan melindungi kamu dan nggak akan membiarkan seorang pun nyakitin kamu.” Keduanya saling berpelukan. Nur Fatma jadi cengeng. Dengan lugas, Nur Fatma menceritakan keadaan keluarganya pada Clary. Ia memulai masa kecilnya dengan berjualan di tambak ikan. Dari sana ia kenal dan belajar banyak dari beberapa preman yang mengajarnya menjadi tangguh. Ia tumbuh menjadi seorang yang apatis. Menjadi seorang bodyguard bukan keinginan hatinya. Tapi, karena keadaan terpaksa. Kasihan Nur Fatma, sudah beberapa kali dia hampir mempertaruhkan nyawa demi keselamatan klien-nya. Namun, ia tak pernah berhenti untuk melakukan pekerjan yang berbahaya ini. Dia terus belajar untuk menjadi tangguh, Nur Fatma tak peduli jika bertaruh nyawa sekali pun. Semua itu demi kehidupan. Ya. Kehidupan. Mendengar penuturan Nur fatma, hati Clary menaruh iba. Beruntung, sejak awal dia memperlakukan Nur Fatma sebagai seorang teman. Ternyata hati nurani Clary tepat. Ia memberikan tempat yang layak kepada wanita yang kini ada di hadapannya. Sekali pun Nur Fatma tampak hebat dengan kepiawaiannya sebagai seorang bodyguard, nyatanya, Nur Fatma sangat memerlukan dukungan dan perhatian untuk kelanjutan kehidupannya. Clary menyadari hal itu. “Ya udah, Fat. Tinggalin dulu barang-barang kamu. Nanti baru diberesin. Kita sarapan dulu. Wildan pasti udah menunggu di meja makan.” “Oh…. Iya, Cla. Duluan aja. Ntar aku nyusul.” “Ya udah. Kami tunggu di sana ya. Jangan lama-lama.” “Ammm…. Oke. Cuma sebentar. Aku cuci muka dulu ya. Kan habis nangis. Ntar bos Wildan lihat. Kan malu. Masa bodyguard cengeng.” Nur Fatma terkekeh. Setelah Clary beranjak, Nur Fatma manarik napas dalam-dalam. Lalu menghempaskannya dengan lega. Dengan penuh syukur, Nur Fatma berterima kasih kepada Tuhan untuk pekerjaan baru yang hari ini mulai dilakoninya. Sebuah pekerjaan yang menuntut sikap setia dan keberanian. Dan, semua itu dipersiapkan dengan matang oleh Nur Fatma. Hanya untuk Clary, ia siap mempertaruhkan nyawa.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN