Rumah Baru

1793 Kata
Wildan menepati janjinya pada Clary. Mereka telah menempati rumah baru. Cukup besar, dengan keindahan taman yang tertata dengan rapi. Clary menyukai suasana di sini, karena terasa adem dan jauh dari keramaian. Meski tengah hamil muda, Clary enggan membatasi dirinya untuk ikut serta menata rumah baru mereka. “Sayang…. kamu jangan banyak bergerak, ah.” Wildan sesering mungkin mengingatkan kekasihnya itu. “Kan nggak angkat yang berat-berat, Honey.” “Hati-hati, loh.” “Udah, tenang aja. Aku bisa jaga diri kok.” Clary melempar senyum pada Wildan, ia meyakinkan Wildan agar percaya penuh padanya. “Neng Clary duduk aja. Biar Bibi yang beresin.” “Udah, nggak apa-apa kok, Bi. Aku bisa.” Sekali pun asisten rumah tangganya meminta Clary untuk tetap diam, wanita itu tak menggubris. Wildan menghela napas. Ia membiarkan Clary bergerak sesuka hatinya. Alhasil, ia tak bisa meluputkan pandanganya dari Clary. “Udah, Neng. Biar Bibi aja.” “Nggak apa-apa. Bi. Bibi angkat yang sana aja ya.” Clary termenung. Membuka kardus yang berisi foto masa lalunya. Ia ragu untuk menempel beberapa foto itu di dinding. Apalagi saat ini dia sudah tinggal serumah dengan Wildan. Belum tentu laki-laki itu menyukainya. “Honey, aku boleh pajang foto ini di dinding?” Clary menunjukkan beberapa foto pada Wildan. “Boleh, Sayang. Boleh. Foto Bara juga boleh.” Wildan meledek Clary. Meski ia tahu, wanita itu tak akan memajang foto Bara lagi. “Apa-apaan sih kamu, ah. Nggak mungkin dong aku pajang foto dia. Hanya beberapa foto ini.” Lagi-lagi, Clary menunjukkan beberapa foto pada Wildan. Kekasihnya itu hanya tersenyum kecil. “Sayang…. Ini rumahmu. Kamu juga berhak menatanya dengan baik. Aku nggak masalah kok kalau kamu mau pajang foto yang menurut kamu memilki momen.” “Benar, Honey?” “Iya, benar.” Clary mendekati Wildan, lalu memeluk erat pria itu. Clary bersyukur dapat diepertemukan dengan Wildan. laki-laki itu sangat baik. Bahkan untuk urusan pribadi Clary pun, ia masih memberi kesempatan. “Sayang, kamu hamil lo. Biar aku sama bibi aja yang pasang.” Wildan meminta Clary untuk istirahat. Semenjak Clary hamil, rasa sayang Wildan pada wanita itu begitu besar. Demikian pun Clary. Keduanya kini hidup selayaknya pasangan suami istri. Tak ada yang bisa memisahkan mereka kecuali takdir yang menghampiri, demikian janji suci yang telah mereka sematkan bersama. Menjelang siang, mereka menghentikan pemberesan rumah baru. Karena rumah itu cukup besar. Tidak mungkin untuk membereskannya dalam waktu cepat. Beberapa hari ke depan, Wildan harus kembali ke Skotlandia untuk mengurus dokumen pernikahannya bersama Clary. Hal ini tidak bisa ditunda lagi. sebelum Clary hamil besar, mereka sudah harus menikah. Lagi pula, Wildan belum memberitahukan hal ini pada kedua orangtua-nya. “Sayang, aku harus balik ke Skotlandia dalam waktu dekat.” Wildan mengutarakan niatnya. “Tapi, nggak lama kan?” Wajah Clary tiba-tiba runyam. “Ya sampai urusan selesai dong, Sayang. Kenapa?” “Aku takut ditinggalin sama kamu, Honey?” “Hmmm…. Selesai urusan aku balik kok.” “Benar?” “Iya, serius.” Clary memeluk erat kekasihnya itu. Baru mendengar keberangkatan Wildan saja, Clary sudah berderai air mata. Apa lagi jika laki-laki itu pergi dalam waktu yang cukup lama. Namun, ia juga tak bisa menahan Wildan. Sebab, pernikahan mereka harus segera diurus. “Tapi, aku nggak bisa jauh dari kamu, Honey.” “Sayang, kamu kan udah terbiasa mandiri.” Masih terngiang dalam ingatan Clary. Bagaimana ia mendapatkan teror di area pemakaman waktu itu. Meski pun Wildan tak mempercayainya. Karena, ketika Wildan tiba di sana, ia sudah tidak mendapatkan apa pun. Clary takut, jika nanti ia akan mendapatkan teror itu kembali. “Aku takut kalau teror itu datang lagi.” “Nggak ada, Sayang.” “Honey! Coba kamu tanga sama Mang Ujang.” “Yee, aku udah tanya dengan Mang Ujang kali.” “Benaran?” “Ya iya lah. Waktu aku datang ke sana, Mang Ujang yang bantu aku untuk liatin mobil kamu kok.” “Tapi benaran, Honey.” Clary masih ngotot dengan penglihatannya. “Sayang, kamu itu pingsan karena kondisi kamu lagi hamil. Uadah deh, jangan mengada-ada.” Wajah Clary cemberut. Entah dengan cara apa lagi ia biasa meyakinkan Wildan tentang apa yang sudah dialaminya. Clary menyadari, Wildan bukan lagi hanya sekadar teman, melainkan pasangan hidupnya. “Honey…. Aku mau cerita.” “Hmm, cerita aja.” di atas balkon, sambil meneguk segelas milo hangat buatan bibi, Wildan mendengarkan penuturan Clary. “Aku udah dapat teror ini berulang kali. Bahkan sejak perencanaan pernikahan aku dengan Bara.” “Oh, ya? Kok kamu nggak pernah cerita sama aku?” “Aku nggak mau orang lain tahu.” Clary menelan saliva-nya. Enggan sebenarnya untuk bicara. “Tapi, kamu baik-baik saja kan?” “Aku nggak baik-baik, Honey! Aku menderita karena itu.” “Maaf.” Wildan terdiam. “Kamu ingat waktu pertama kali bertemu Bara?” “Ingat. Dia cerita banyak tentang kamu.” “Bukan itu, Honey. Aku ada angkat telepon dari seseorang.” “O…. ingat.” “Nah. Itu tuh, aku lagi ngomong sama seorang perempuan misterius.” “Misterius? Maksud kamu?!” Wildan terperangah, ungkapan Clary membuatnya penasaran. “Iya, Honey. Dia cerita banyak padaku tentang hubungannya dengan Bara. ya, aku nggak percaya begitu saja.” “Terus….” “Ya, aku juga nggak tanya dengan Bara sih. Karena aku memang percaya dengan laki-laki itu.” “Harusnya kamu bilang dong, Sayang.” “Aku harus ngomong sama siapa, Honey? Ngomong sama Bara kan nggak mungkin. Ntar dikirain aku nuduh dia yang nggak-nggak.” “Aku.” Sulit. Tepatnya begitu. Karena, Clary bukan tipe perempuan yang senang membicarakan apa pun permasalahannya. Lagi pula, saat permasalahan itu muncul, Wildan bukan siapa-siapanya. Kalau pun Clary cerita, belum tentu Wildan percaya. “Kamu aja nggak pernah percaya.” Clary merungut. “Ye…. Sembarangan kamu, Sayang. Kalau kamu cerita, aku pasti percaya.” Wildan menggurau wanitanya itu. “Tuh, kejadian kemarin aja kamu nggak percaya.” “Eh. Iya, ya.” Wildan menyadari keraguannya. Tapi, memang benar apa yang dikatakan Wildan. Ketika ia datang ke sana, Wildan tak menjumpai coretan apa pun di mobil Clary. Bahkan, Mang Ujang sebagai penjaga makam pun tidak mengetahui apa-apa. Tidak mengetahui apa-apa? Wildan lupa. Ia tak menanyakan apa pun pada Mang Ujang. “Kamu ada tanya dengan Mang Ujang?” tanya Clary seakan mengetahui isi hati Wildan. Laki-laki itu terdiam. Ia menyadari kesalahannya. Bahwa ia tak menanyakan apa pun pada Mang Ujang. Wildan malah berpikir, kalau tulisandi mobil Clary sudah dihapus oleh pria tua itu. “Kamu nggak tanya dengan Mang Ujang kan?” tanya Clary mengulang. “Nggak?” Wildan menggeleng. “Nah, tuh kan?! Gimana kamu mau percaya denganku.” Clary merungut kesal. “Mungkin, Mang Ujang yang hapus.” “Nggak mungkin.” “Bisa aja, Sayang.” “Aku kenal dengan Mang Ujang, Honey. Dia nggak mungkin melakukan hal itu.” “Ya udah, gini. Dari pada buat kamu penasaran, lebih baik kita ke sana lagi.” “Buat apa?” “Nyari teror itu. Ya buat nanya Mang Ujang-lah, Sayang.” Clary terkekeh. Teringat saat itu, Mang Ujang pun tidak mengetahui apa-apa. Kalau ia dan Wildan harus datang ke sana pun jadi percuma. “Kok kamu ketawa?” “Mang Ujang tuh nggak tau apa-apa, Honey. Dia tu Cuma tau jaga kuburan aja.” “Ya…. Bukan gitu maksudnya. Siapa tahu dia ada lihat orang datang, atau orang mencurigakan yang datang di sekitar makam.” “Udah aku tanya. Dia nggak tahu apa-apa.” “Hmmm…. Ya udah. Kalau gitu nggak usah khawatir. Mungkin halusinasi kamu aja hari itu.” Wildan beranjak meninggalkan Clary. Membuat wanita itu duduk termenung. Ia tak mungkin salah melihat. Toh, ia juga sempat memotret coretan dimobilnya kala itu. Clary segera mengusap layar handphone-nya. Membuka gelery foto dan memastikan kembali apa yang dilihatnya hari itu. Benar saja. Tulisan di mobilnya ada. Dicoret menggunakan tinta merah. Seingat Clary, hari itu, ia mencoba menghapus tulisan di kaca mobilnya, tapi tidak bisa. Siapa gerangan yang mencoba meneror dirinya. Terbesit dalam pikiran Clary untuk mencari tahu tentang teror ini. Baru saja hendak meletakkan kembali handphone di tangannya, Lamunan Clary buyar dengan notifikasi pesan w******p. Seseorang mengirim padanya beberapa foto seorang bayi mungil. Lucu. Dapat dipastikan bayi itu adalah anak Bara. Istri Bara sudah melahirkan. Apakah kamu tidak cemburu dengan hal ini? Peduli amat. Udah nggak ada urusan. Demikian pikir Clary. Ia sama sekali tak ingin mendengarkan apa pun lagi tentang Bara. Baginya itu hanyalah masa lalu yang sudah layak untuk ditinggalkan. Clary tak membalas pesan w******p itu. Membiarkan handphone-nya tergeletak begitu saja di atas meja. Ini bukan teror biasa, Clary menyadari ada hal besar yang sedang dan akan terjadi. Tapi, dia juga tidak mampu mengungkapkan hal itu. Biarlah, waktu yang mengungkap semuanya. Clary pasrah, dan tentunya berharap, semua akan baik-baik saja. Ingin sekali rasanya, Clary menelepon Bara. Untuk menanyakan semua persoalan yang terjadi. mungkin saja teror ini ada kaitannya dengan Bara. Tapi, entahlah. Bara juga bukan tipe orang yang senang mencari masalah. Lagi pula, ia tahu Clary lebih tersakiti dengan hal ini. Tidak mungkin Bara sebagai pelaku. Clary menimbang-nimbang. Pasti ada orang lain di balik teror ini. Seseorang yang tidak senang akan kebahagiaan Clary mau pun Bara. Ada unsur kesengajaan untuk membuat Clary atau pun Bara menderita. Bisa jadi. Tapi siapa gerangan? Lagi-lagi Clary tak bisa menebak begitu saja. “Sayang…. Kok masih ngelamun di situ. Udah mau magrib loh. Kamu kenapa?” teguran Wildan mengagetkan wanita itu. “Amm…. Nggak kok, Honey. Aku…. Aku hanya sedang memikirkan se....” “Sesuatu? Tentang teror itu?” Wildan memotong pembicaraan Clary. Wanita manis berlesung pipi itu mengangguk kecil. Wildan hanya bisa menarik napas. Ia menatap kekhawatiran yang mendalam pada wajah dan hati Clary. Namun, Wildan tak bisa berbuat banyak. Terbesit kekhawatiran dalam hatinya juga. Jika nanti, ia meninggalkan Clary dalam waktu yang lama. “Sayang…. Aku akan mencari bodyguard untuk menjagamu.” “Apa?!” Clary terperangah. “Iya. Aku jadi khawatir untuk meninggalkanmu.” “Aku bukan bos, Honey. Nggak perlu.” meski membantu, tapi Clay jadi merasa risih. “Kamu memang bukan bos, Sayang. Tapi keselamatan kamu harus di jaga. Itu aja wajah kamu nampak khawatir loh. Aku juga nggak akan tenang kalau ninggalin kamu.” Clary hanya terdiam mendengar ungkapan hati Wildan. Ia semakin yakin, bahwa Wildan adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Bahkan saat Clary sama sekali tidak memikirkan keselamatannya, Wildan malah bersiap melindunginya. Clary akhirnya menyetujui, meski pun ia belum mengenal sosok bodyguard yang dimaksud Wildan. Wildan berjanji, bodyguard itu akan datang besok sore. Karena tiga hari ke depan, Wildan akan berangkat ke Skotlandia. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN