>>>Chapter 14, di sini author akan menceritakan tentang Bara, awal penghianatan yang menyakitkan.
Tepat di halaman klinik bersalin, seorang wanita hamil berjalan gontai didampingi oleh seorang pria yang tampak setia menggandeng tangannya. Wanita itu tengah hamil besar. Mereka menyungging senyum saat menyapa security.
Keduanya perlahan masuk ke dalam klinik tanpa memperdulikan sepasang mata yang diam-diam memotret mereka dari kejauhan. Ya, sepasang mata dari seorang wanita yang diam-diam menguntit mereka sejak tadi.
Suasana di dalam klinik cukup sepi. Hanya ada sepasang pria dan wanita yang juga duduk manis menunggu antrian di ruang tunggu.
“Selamat pagi, Nyonya Febi Amanda,” seorang suster menyapa keduanya dengan hangat. Setelah sedikit berbasa basi, suster itu membawa mereka ke ruang periksa untuk bertemu dengan dokter di sana.
“Dokter, bagaimana dengan istri saya.”
“Nyonya Febi sudah pembukaan tiga.”
“Jadi?! Istri saya akan melahirkan, Dok?”
“Iya, Pak Bara. kita tunggu pembukaan sepuluh baru boleh ambil tindakan.”
Dokter memberi penjelasan kepada Bara. Laki-laki itu sedikit panik. Apa lagi ia belum punya pengalaman untuk mengurus persalinan.
“Tuan jangan khawatir. Nyonya Febi baik-baik saja.”
“Tapi, perut saya terasa sakit, Dok.”
“Ya, itu namanya kontraksi. Sebaiknya, Nyonya Febi lebih sering bergerak. Agar proses persalinannya dapat berjalan dengan lancar.”
Setelah melakukan pemeriksaan terhadap Febi, dokter sedikit memberi arahan kepada Bara, agar bisa mendampingi Febi dalam persiapan persalinannya.
Menjelang sore, Febi merasakan kontraksi hebat. Perutnya terasa melilit. Bara semakin khawatir melihat Febi yang terus merintih kesakitan. Namun, ia tak punya pilihan, selain menguatkan dan setia mendampingi Febi.
Menurut anjuran dokter, Bara membawa Febi berjalan pelan di sekitar koridor klinik. Meski tertatih-tatih, Febi tetap menggerakkan tubuhnya. Bara dengan sigap mendampingi Febi, takut kalau-kalau wanita itu tersungkur.
Pukul 10.00 malam hari, Febi melahirkan seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Sangat tampan. Bola matanya terang seperti bola mata Febi. Tentu saja Bara merasa bahagia karena hidupnya telah dilengkapi dengan kehadiran seorang putra.
Kini, ia tak lagi sekadar menjadi laki-laki tampan. Ada seorang bayi mungil yang semakin menguatkan cintanya pada Febi. Namun, tetap saja ada hati yang pernah terluka. Hati yang ditinggalkan begitu saja karena sebuah penghianatan. Tapi, Bara telah melupakan wajah Clary. Ia kini tersenyum bahagia, menatap wajah tampan, penerus masa tuanya nanti. *)
Setahun yang lalu….
Penghianatan itu bermula.
Bara bertemu dengan Vinson. Untuk pertama kalinya, setelah lima tahun keduanya tak pernah bersua. Vinson datang bersama dengan tunangannya, Febi Amanda. Ketiganya tampak akrab. Vinson memperkenalkan wanitanya pada Bara.
“Oh ya, Bar. Gimana kabar Clary?” tanya Vinson, mengingat gadis kutu buku yang sexi itu.
“Baik. Kami juga sudah tunangan,” ungkap Bara.
“Wah, kita seperti udah janjian ya.”
Tanpa menjawab Vinson, Bara diam-diam memandang Febi. Tiba-tiba merasa jatuh hati pada wanita itu. Ia berusaha menepis keinginannya. tapi, Febi terus menyungging senyum termanis. Tentu saja hal itu membuat Bara semakin penasaran.
“Vin, lo sama Febi kapan rencananya?”
“Masih lama sih, Bar. Gue masih lanjut kuliah dua tahun lagi.”
“Lo emang dari dulu tampak pintar dan mengutamakan pendidikan ya.” Bara turut memuji Vinson. Sebab, ia tahu jika sahabatnya itu memang pintar.
“Hanya sebuah keharusan, Bar. Gue ingin menjadi dokter yang profesional.”
“Gue salut sama, lo.”
“Oh ya, Bar. Ntar kalau gue balik lagi ke London, gue nitip Febi ya. Gue percaya lo bisa jaga dia dengan baik.”
Bara terdiam. Apakah ini sebuah keharusan? Bara kembali memandang wajah Febi. Ia tak mungkin bisa menjaga wanita ini dengan baik. Bara khawatir jika saja perasannya benar tumbuh.
“Tapi, Vin….”
“Nggak usah tapi-tapian, Bar. Lo kan sahabat gue. Gue percaya sama lo.” “Ya kan, Beb?” tanya Vinson pada Febi yang tampak bingung sejak tadi.
“Gue takutnya sibuk, Vin. Ya lo tahu kan gue gimana? Sama Clary aja gue biasakan dia untuk mandiri.”
“Ya udah, nggak apa-apa, Beb. Ntar ajak aku kenalan sama Clary aja. Aku kan belum kenal dia.”
“Oh iya, ide bagus.” ungkap Vinson.
“Ya udah, ntar gue kasikan nomor Clary ke Febi.”
“Nah! Gitu, dong. Clary itu orang baik, Beb. Kamu perlu belajar banyak dari dia.” Vinson sedikit memuji Clary.
Bara hanya tersenyum. Ia teringat pada tuanangannya itu. Clary memang wanita baik. Bahkan dia sangat baik dari semua wanita yang Bara kenal. Namun sayang, akhir-akhir ini Bara merasa memiliki hati yang jauh terhadap Clary. Mungkin, karena mereka sudah jarang bertemu.
Febi hanya mengangguk kecil, menyungging senyum manis yang dihiasi lesung pipi membuat Bara sedikit terpana. Wanita itu nampak sempurna. Vinson sama sekali tidak menyadari, jika mata Bara diam-diam memandang Febi tanpa henti.
“Gue ingat waktu pertama kali lo ketemu Clary di perpustakaan.” Vinson terkekeh dengan kejadian itu.
Ya, kejadian dimana Bara dilempar sebatang permen lolipop yang membuat jidatnya merah menahan sakit. Semua itu terjadi akibat Bara mengintip wanita sexi kutu buku itu. Clary memang cantik. Bahkan ketika pertama kali bertemu pun, Bara sudah menaruh hati.
Berbeda dengan Vinson, laki-laki itu sebenarnya menyimpan hati pada Clary. Namun, ia melihat perjuangan Bara yang gigih untuk mendapatkan Clary, perlahan ia mundur. Memberi kesempatan kepada sahabatnya untuk mendekati Clary.
“Eh, lo tahu nggak. Sampai sekarang Clary tetap nyebelin.”
“Oh ya? Pasti masih cerewet.”
“Masih!”
Gelak tawa keduanya membuyarkan suasana hati Febi. Gadis manis berlesung pipi itu hanya tersenyum melihat kedua pria di hadapannya tanpak begitu akrab. Febi kagum dengan persahabatan antara Bara dan Vinson.
“Vin. Gue pamit dulu ya. Ntar kalau lo udah balik ke London lo kabarin gue ya.”
“Oke, Bar. Mungkin beberapa hari lagi gue akan berangkat. Gue jadi nitip Febi ya. Lo kan udah kenal sama tunangan gue hari ini.”
“Ya, gampang lah itu. Ntar gue kenalin Febi sama Clary.”
“Sip. Itu lebih baik. Gue percaya sama lo berdua.”
Bara menjabat tangan Vinson. Ia percaya penuh pada Bara. Laki-laki itu adalah sahabat terbaiknya. Bara tidak akan mungkin menghianati Vinson, meski pun dulu, laki-laki itu telah merebut perempuan yang sempat menghias hatinya.
Dengan langkah santai, Bara beranjak dari hadapan Vinson dan Febi. Sekali pun sudah menjauh, Bara tak bisa menepis bayangan wajah Febi. Perempuan itu sangat menarik. Bahkan Bara berniat untuk mengenalnya lebih jauh.
Meski bayangan Febi mulai merasuk dalam pikirannya, Bara tidak melupakan Clary. wanita itu tetap ada di hati Bara. Hanya saja, senyuman Febi hari ini diam-diam memberi harapan padanya. Sekuat apa pun Bara menepis bayangan Febi, tetap saja wajah wanita cantik itu tak bisa beranjak dari pikirannya.
Beberapa hari kemudian, Vinson mengirim pesan pada Bara. Ia kembali berangkat ke London. Tak lupa ia kembali menitipkan Febi pada sahabatnya itu. Bara hanya mengiyakan. Sejak pertemuan mereka kemarin, Bara memang belum ada menghubungi Febi. Ia masih tidak nyaman dengan Vinson. Lagi pula, Vinson masih berada di Indonesia.
Febi tersenyum kecil, membaca pesan yang tampil di layar handphone-nya. Seorang pria yang ia kenal beberapa hari yang lalu, tiba-tiba menghubunginya. Bara. Meski hanya bertanya kabar, tanpaknya pesan Bara membuat jantung Febi berdetak kencang.
Entahlah, sejak pertama kali bertemu, Febi seperti menaruh hati juga dengan Bara. Bukan karena ia tak mencintai Vinson. Tetapi, Febi lebih tertarik dengan penampilan dan gaya bicara Bara. Pada laki-laki itu seperti ada magnet yang menarik perasaan Febi untuk mendekat padanya.
Bara dengan lancang meminta Febi untuk bertemu dengannya. Padahal, seharusnya itu tidak mereka lakukan. Di atas balkon café, keduanya duduk. Saling berhadapan dan memuji satu sama lain. Meski pun cincin melingkar di jari manis, keduanya lupa. Bahwa, ada hati yang harus dijaga. Di sana. Ya, jauh di sana mereka menghianati dua hati.
“Terima kasih ya, karena kamu mau datang.” Bara tersenyum pada wanita itu, “Kamu tampak cantik, Feb.”
Febi tersipu malu, menyibak sedikit rambutnya yang terurai panjang. Gaya bicara Febi sangat hati-hati. Sisi feminim itu lah yang mampu memikat hati Bara.
Bara terpaksa mengngungkapkan isi hatinya pada Febi. Hanya karena setelah pertemuan pertama, tidak lebih dari sekadar ungkapan rasa kagum. Baginya, wanita itu sangat mempesona. Febi sama sekali tak berkutik, saat laki-laki yang berada di hadapannya itu terus memandangnya.
“Aku tak bisa menghindari perasaanku, Feb.”
“Apa yang kamu sukai dariku?”
“Kamu terlihat lembut. Entahlah. Barangkali pandanganku salah.”
“Kita tidak mungkin menghianati mereka. Tapi, aku juga tak menampik kalau aku juga menyukaimu.”
Seketika, pengakuan Febi membuat jantung Bara hampir copot. Ia tak menyangka jika Febi memiliki rasa yang sama padanya.
Bara menggenggam erat tangan Febi. Wanita itu semakin terlihat tulus. Bola matanya yang bening mampu memancarkan sebuah harapan baru untuk Bara. Wajah Clary seakan tersingkir olehnya. Bara tak peduli, seberapa besar ia akan menghianati Vinson dan Clary.
“Feb, maaf kalau aku harus memisahkan hatimu dari Vinson.”
Wanita itu hanya terdiam. Seakan berat untuk menjawab ungkapan Bara. seharusnya, Febi juga minta maaf karena telah menautkan hatinya pada laki-laki itu. Tapi, ia sama sekali tidak melakukan hal itu. Ia masih mengenang wajah Vinson. ia teringat pada laki-laki baik itu, seharusnya, Vinson tidak menerima penghianatan darinya.
“Kamu nggak mikir perasaan, Clary?” tiba-tiba saja, Febi teringat pada tunangan Bara.
“Aku sudah berusaha untuk memikirkan hal itu. Tapi, aku merasa semakin jauh darinya.”
“Kamu baru mengenalku, Bar. Apa mungkin kamu langsung jatuh cinta secepat ini?”
“Sejak pertama kali melihatmu, aku melihat satu sisi berbeda yang tidak aku temukan dari Clary.”
“Apa?”
“Kamu sangat lembut dan menarik dimataku.”
Sebelumnya, Bara sempat berpikir jika ia cukup hanya mengagumi Febi saja, tanpa berkeinginan memiliki wanita itu. Tetapi, ketika saat ini mereka duduk berdua, saling bicara dan mengungkapkan perasaan satu sama lain, Bara berdalih, ia tak akan bisa melupakan wanita ini.
Vinson memang selalu pandai memilih wanita. Demikian pun ketika Bara bertemu pertama kalinya dengan Clary. Vinson lebih mengetahui siapa wanita itu. Dengan sigap, Bara mengambilnya dari Vinson. Kali ini, semua akan terulang kembali. Apa pun yang menjadi milik Vinson selalu tampak menarik di mata Bara. Bara terlalu jahat untuk hal ini.
“Feb, terima kasih untuk malam ini. Maaf sekali lagi. Aku harus membawamu untuk memulai semua ini.”
“Bar, seandainya kamu tahu. Kamu adalah laki-laki yang menawan di mataku. Sama seperti kamu melihat Clary. Ada hal yang tidak bisa aku dapatkan dari Vinson.”
Perlahan, keduanya saling menanutkan hati. Bara dengan lancang mengecup kening Febi. Membisikkan satu kalimat yang teramat manis pada Wanita itu. Malam itu menjadi saksi. Kisah cinta yang berawal dari sebuah penghianatan. Jika saja Clary dan Vinson mengetahuinya. Mungkin, tak akan pernah ada kata maaf untuk sebuah penghianatan yang terjadi.