“Apa?! Clary hamil, Dok?” suara Wildan memenuhi seisi ruangan dokter Vony.
Bukannya kaget, Wildan malah kegirangan. Sejak awal ia memang menginginkan kehamilan Clary. Ia tidak merasa terbeban sedikit pun. Justru, Wildan dengan semangat mengajukan beberapa pertanyaan tentang cara merawat wanita hamil kepada dokter Vony.
“Jadi? Boleh makan makanan apa pun, Dok?”
“Boleh. Sangat boleh. Asalkan bisa masuk dengan selera si ibu.”
“Untuk aktivitas rumah bagaimana, Dok?”
“Beraktivitaslah seperti biasa. Ibu hamil juga perlu bergerak, agar syaraf-syaraf ototnya tidak menegang.”
Cukup banyak perbincangan antara dokter Vony dan Wildan. Dokter Vony menyarankan agar Wildan siaga untuk turut menjaga kehamilan Clary. Apa lagi Clary sedang hamil muda. Sangat rentan mengalami keguguran. Mendengar beberapa saran dokter Vony, Wildan siap mendampingi Clary. Tidak hanya sekadar mendampingi, Wildan juga akan bertanggungjawab untuk menikahi kekasihnya itu.
“Kalian belum menikah?”
“Belum, Dok.” Wildan berkata jujur.
“Hamil diluar nikah sebenarnya tidak diharapkan. Karena rentan pada psikologis sang ibu. Tapi, jika yang kalian lakukan karena kesepakatan bersama, saya berharap kalian dapat menentukan yang terbaik dalam hubungan kalian ke depannya.” dokter Vony memberi sedikit nasehat pada Wildan.
“Siap, Dok. Saya akan bertanggung jawab penuh terhadap Clary dan pastinya, saya juga akan segera menikahi dia.”
“Ya, itu harus,” dokter Vony sedikit menggeser posisi kursinya, lalu mengambil pulpen dari laci meja.
“Saya akan kasi resep vitamin untuk menunjang imun tubuh Nona Clary.”
“Baik, Dok.”
Wildan memperhatikan tangan dokter Vony dalam menulis resep. Tulisan dokter Vony mirip seperti gerakan cacing, susah dibaca. Setelah menentukan beberapa vitamin yang cocok untuk Clary, dokter Vony menyerahkan resep itu pada Wildan.
“Terima kasih, Dok.”
Setelah melanjutkan perbincangan beberapa saat, keduanya saling berjabat tangan dengan erat. Lalu, Wildan melangkah keluar menuju apotik.
Sekembalinya Wildan ke ruangan Clary, ia melihat Vinson dan wanita hamil tadi sudah tidak ada di lobi. Wildan menarik napas lega. Setidaknya, wajah Vinson tidak lagi mengganggu pandanganya. Clary tampak bergerak sendiri untuk mengambil gelas air putih yang tergeletak di atas meja.
“Kamu udah bangun, Sayang?” Wildan langsung membantu Clary menggambil gelas di atas meja.
“Hmmm, kamu kemana?”
“Aku tadi dipanggil dokter.”
“Oh ya? Terus, aku sakit apa, Honey?”
Wildan tersenyum, lalu mengecup lembut kening Clary.
“Ih, Honey. Aku serius nanya. Cepatan kasi tahu!”
“Nggak kenapa-kenapa, Sayang.” Wildan pura-pura merahasiakan informasi dari dokter.
“Nggak kenapa-kenapa? Terus, kenapa aku ada di rumah sakit?” tanya Clary bingung.
“Ya, biar kamu istirahat dong. Kalau di rumah kan kamu nggak bisa istirahat.”
“Pasti ada yang kamu sembunyikan dari aku.”
Clary menampilkan wajah gusar. Ia yakin, Wildan menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi, pria itu tetap tersenyum sendiri. Ia menampakkan rona wajah bahagia. Lagi pula, Wildan amat senang melihat kebimbangan Clary.
“Kamu kok senyum-senyum gitu sih?”
“Aku bahagia.”
“Bahagia kalau melihat aku sakit?” Clary hampir gusar, namun Wildan segera mengecup kembali kening wanita itu dan mengelus lembut kepalanya.
“Ya nggak dong sayang, aku bahagia….” lagi-lagi Wildan senyam-senyum sendiri.
“Apaan sih, Honey.” Clary jadi penasaran.
“Kita akan punya baby, Sayang.”
“Apa?!” Clary terperangah.
“Iya, Sayang. Kamu hamil.”
“Kamu serius, Honey?”
Wildan menarik kedua alisnya. Wajah Clary yang tadi tampak pucat berubah sedikit cerah. Tampaknya Clary juga senang dengan kabar bahagia ini.
“Cepat sehat ya, biar kita segera pulang dari rumah sakit. Biar nanti kita juga segera mengurus pernikahan.”
Clary mengangguk kecil. Air matanya kembali meleleh. Kali ini bukan karena takut, melainkan karena merasa bahagia. Clary tiba-tiba saja menjadi senang dan sedikit membayangkan kehidupannya untuk menjadi seorang ibu dari anak-anak Wildan.
“Sayang, kok nangis lagi?” Wildan mengusap air mata Clary.
“Aku bahagia, Honey.”
“Kan nggak harus nangis, coba ketawa.” Clary akhirnya terkekeh karena ulah Wildan.
Wildan menatap lembut wajah wanita yang kini mengandung darah dagingnya itu. Menjelang tengah malam, Clary tampak tidur dengan pulas. Kali ini ia tidur dengan tenang setelah mengetahui bahwa dirinya baik-baik saja. Ia pingsan hanya karena mengalami kelelahan. Maklum, ia sedang hamil muda.
Wildan tak dapat memejamkan mata. Ia masih memikirkan persiapan pernikahannya bersama Clary. Tentu sedikit rumit. Karena status kewarganegaraan Wildan masih WNI. Ketika melihat Clary sudah tertidur dengan pulas, Wildan kembali ke lobi untuk menghirup sedikit udara segar di sana.
Suasana tampak sepi. Rumah sakit yang berdiri megah sejak tahun 1876 itu memancarkan suasana mencekam di malam hari. Wildan menoleh ke kamar wanita hamil tadi sore. Tampak riuh suasana di sana. Wildan berjalan mendekat ke ruangan itu. Ia mendengar sayup-sayup suara tangisan seorang bayi.
Wildan duduk seorang diri. Membuka layar handphone dan menghubungi beberapa rekan kerjanya. Saat tengah menunduk dengan layar ponsel yang bersinar terang, Wildan dikagetkan dengan sebuah brankar melintas di depannya.
Brankar itu keluar dari kamar bersalin 008. Kamar bersalin wanita paruh baya yang tadi sore ngobrol banyak bersama dirinya. Mungkinkah? Tiba-tiba saja bulu kuduk Wildan berdiri. Ia melihat sosok yang ditutup selimut putih dengan bercak darah di sisi selimut. Wildan tak bisa melihat dengan pasti siapa wanita itu. Brankar itu terus didorong dengan cepat oleh beberapa perawat.
Tak berselang lama, dokter Vony keluar dari kamar 008. Ia hampir melangkah dengan cepat, namun terhenti di hadapan Wildan.
“Belum tidur, Pak?”
“Eh, dokter Vony. Belum, Dok. Saya lagi cari angin segar.”
“O, gitu. Bagaimana kabar Nona Clary?”
“Dia sudah istirahat dengan pulas, Dok. Dia senang setelah mengetahui dirinya hamil.”
“Wah, syukurlah. Besok kalau keadaan sudah membaik, Nona Clary sudah boleh pulang, ya Pak.”
“Baik, Dok.”
“Besok, saya akan visit lagi ke ruangan Nona Clary.”
“Oke, Dok.”
Dokter Vony melanjutkan langkahnya, namun kembali terhenti oleh pertanyaan Wildan.
“Dok, Brankar yang lewat tadi….”
“Itu Nyonya Wenda. Tuhan berkata lain. Dia mengalami pendarahan yang cukup kuat.”
“Maksud dokter?”
“Nyonya Wenda meninggal.”
Wildan memulas wajahnya. Padahal baru tadi sore ia berbincang banyak dengan wanita itu. Takdir tuhan memang berbeda. Bahkan ia pun baru mengetahui jika wanita itu bernama Wenda.
“Tapi anaknya selamat, Dok?”
“Bayi lahir dengan sehat. Kedepannya bayi itu akan diadopsi oleh dokter Vinson.”
Wildan tertegun, “Oh ya? Dok…. Amm saya boleh tanya sedikit tentang dokter Vinson?”
“Boleh, Pak. Selagi itu tidak menyangkut privasi beliau saya akan jawab.”
“Saya hanya mau tanya, apakah dokter Vinson sudah menikah?”
Dokter Vony bergerak maju untuk duduk di samping Wildan. Aroma parfum dokter Vony tercium lembut. Wildan sedikit menggeser posisi duduknya agar tidak terlalu mendekat pada dokter cantik itu.
“Hmm…. Setahu saya dokter Vinson orang baik. Beliau juga belum menikah.”
“Kenapa, Dok?”
“Karena beliau pernah dikecewakan.”
“Maksud dokter?”
“Dokter Vinson sebelumnya punya tunangan. Tapi, belakangan dia ditinggal menikah oleh tunangannya. Informasi yang saya dapat, katanya tunangan dokter Vinson menikah dengan sahabat dokter Vinson sendiri.”
“Sahabat?”
“Iya. Informasinya begitu.”
“Ya udah, Dok. Terima kasih informasinya.”
“Bapak kenal dengan dokter Vinson?”
“Tadi sore saya berbincang cukup lama dengan Nyonya Wenda. Almarhum menceritakan kebaikan dokter Vinson. Saya jadi penasaran untuk mengetahui program bedah rumah yang juga menjadi salah satu kebaikan dokter Vinson untuk membantu sesama.”
“Oh, iya. Betul, Pak.”
Wildan tersenyum kecil. Ia berusaha menyembunyikan keingintahuannya karena berkaitan dengan Clary. Dokter Vony sama sekali tidak menyadari hal itu.
“Ya udah, Pak. Saya pamit ke ruangan dulu ya.”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
Sepeninggalnya dokter Vony, Wildan yang masih cemas segera masuk ke dalam ruangan. Ia kembali menatap wajah wanitanya. Clary tampak tidur dengan neyenyak. Perlahan, Wildan menarik selimut Clary hingga terpasang dengan rapi, lalu ia mengecup kening wanita itu.
“Selamat malam, Sayang….” bisiknya dengan lembut.
Wildan ikut tertidur pulas di atas kursi. Tangannya melingkar di d**a wanita itu. Malam semakin mencekam. Hanya terdengar suara jangkrik dan kodok yang bersahut-sahutan menanti turunnya hujan.
Saat pagi tiba, Clary lebih awal terbangun. Ia melihat wajah lelah Wildan yang masih tidur dengan pulas. Clary tersenyum kecil menatap wajah laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Ya, Clary yakin sepenuhnya pada Wildan.
“Honey…. Honey….” suara lembut Clary membangunkan Wildan, laki-laki itu menggeliatkan tubuhnya.
“Udah bangun, Sayang.”
“Mau pipis.” ucap Clary manja.
Meski masih lemah karena baru terbangun dari tudur, Wildan membopong tubuh Clary ke toilet. Ia menunggu wanita itu di depan pintu. Terdengar guyuran air di dalam toilet. Clary membasuh wajahnya dengan sedikit percikan air. Setidaknya, ia merasa bangun dengan segar pagi itu.
“Honey, hari ini kita udah boleh pulang kan?”
“Kata dokter Vony sih begitu. Nanti dokter Vony akan visit lagi. Kita tunggu saja anjuran dokter.”
“Hmmm…. Aku pengen cepat istirahat di rumah.”
“Iya, Sayang…. Nanti kita pulang kok.” Wildan mengusap kepala Clary, “oh ya, nanti kita beli rumah baru ya, Sayang.”
“Benaran?”
“Aku rasa, kita sudah nggak layak lagi tinggal di apartemen. Apa lagi kamu sedang hamil dan sebentar lagi kita punya baby.”
“Ya, aku sih terserah kamu. Aku nggak akan minta lebih. Bisa hidup bahagia sama kamu aja aku udah bersyukur.” Clary menggenggam pergelangan tangan Wildan. Ia percaya penuh pada laki-laki itu.
Menjelang siang, dokter Vony visit lagi ke ruangan. Ia memeriksa Clary dengan seksama. Wajah Clary sudah nampak cerah. Karena tadi malam ia tidur dengan cukup, maka pusing di kepala-nya pun sudah mereda.
“Nona Clary sudah sehat. Siang ini sudah boleh pulang!”
“Dok, nanti kami perlu datang lagi untuk konsul?”
“Boleh, dua minggu lagi datang ke sini ya. Kalau mau datang ke tempat praktek saya juga boleh. Nanti saya share-kan alamatnya.”
“Oke, Dok. Kami mengucapkan terima kasih, karena dokter sudah merawat Clary dengan baik.”
“Sama-sama Pak Wildan. Saya permisi, ya. Nanti Bapak silakan membereskan administrasi di kasir depan.”
“Oke, Dok. Akan saya laksanakan.”
“Selamat beristirahat ya, Non Clary. Jaga kandungannya baik-baik. Nanti bukan lagi nona, tapi sudah harus siap menjadi nyonya.”
“Terima kasih, Dok. Saya akan selalu ingat pesan dokter.”
Clary menarik napas lega karena sudah diperbolehkan pulang. Sambil menunggu Wildan membereskan administrasi, Clary berselancar dengan handphone-nya. Sejak kemarin, ia sama sekali tidak membuka ponsel. Beberapa pesan masuk penting untuk dibalasnya.
Sementara itu, di meja kasir, Wildan bertemu kembali dengan dokter Vinson. Beruntung dia tidak membawa langsung Clary. Kalau saja tadi Clary mengikutinya, sudah pasti, ia akan bertemu dengan Vinson.
“Eh, Wil. Gimana pacar kamu?”
“Sudah boleh pulang, Dok.”
“Syukurlah. Selamat sampai tujuan ya. Semoga pacarmu kembali pulih.”
“Terima kasih, Dok.”
Dokter Vinson tampak mengeluarkan sejumlah uang untuk melakukan pembayaran. Wildan hanya melirik saja. Tidak berkeinginan untuk bertanya lebih. Wildan hanya menduga, Vinson membayar biaya persalinan Nyonya Wenda.
“Saya pamit dulu ya, Wil. Setelah ini mau mengurus pemakaman Nyonya Wenda.”
Seerrr…. darah Wildan berdesir dengan cepat. Teringat pada brankar yang melewatinya tadi malam. Ia masih ingat betul dengan semangat Nyonya Wenda untuk melahirkan buah hatinya. Nyonya Wenda sama sekali tidak membicarakan hal aneh tentang kematiannya. Wildan jadi teringat dengan Clary. Ia tak ingin menceritakan tentang Nyonya Wenda pada Clary. Ia takut Clary akan trauma mendengarnya.
“Iya, hati-hati, Dok.” Wildan menjawab ucapan dokter Vinson ketika laki-laki itu sudah berjalan cukup jauh darinya. Wildan segera membereskan administrasi lalu membawa Clary pulang ke apartemen-nya.