Setibanya di area makam, Wildan melihat mobil Clary masih terparkir dengan rapi. Ia langsung mengecek keadaan mobil. Tak ada yang aneh. Tak ada tulisan merah di kaca belakang. Bahkan Wildan sudah mengecek bagian samping dan depan. Semua aman.
Seorang laki-laki tua bertubuh kecil, tanpa sandal berlari mendekati Wildan. Ya, dia adalah Mang Ujang, sang penjaga makam. Laki-laki itu tampak berpeluh keringat. Ia baru saja membersihkan kolam di belakang pondok.
“Cari siapa, Kang?” Mang Ujang menyapa Wildan dengan ramah.
“Bapak lihat wanita yang mengendarai mobil ini?”
“Neng Clary, atuh?”
“Iya.”
“Oh, udah dibawa sama ambulance, Kang.”
“Apa?” Wildan terperangah.
“Iya, Kang. Tadi pagi Neng Clary pingsan. Terus, saya telepon ke yayasan. Waktu ambulance datang, Neng Clary langsung dibawa ke rumah sakit.”
“Hmm…. Bapak tahu, Clary dibawa ke rumah sakit mana?”
“Tahu, Kang. Nanti saya kasikan alamatnya.”
“Oh, ya udah. Saya titip mobil ini, ya Pak.”
“Iya, Kang. Mobil Neng Clary, insyaAllah aman di sini.”
Setelah mendapatkan alamat rumah sakit dari Mang Ujang, Wildan bergegas menuju ke sana. Dalam perjalanan ia sangat cemas memikirkan Clary. Ia menyesal karena tadi pagi tidak menyempatkan diri untuk mengantar kekasihnya itu. Wildan jadi berpikir, seandainya saja tadi pagi ia ikut menemani Clary, pasti tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan seperti ini.
Dalam perjalanan, Wildan menghubungi Clary, namun belum ada jawaban. Perasaannya semakin cemas. Wildan sangat menghawatirkan kondisi Clary. Setelah menekan tombol pada palang parkir otomatis dan mendapatkan tiket, Wildan masuk ke area rumah sakit.
Ia langsung bergegas menuju lobi dan mendatangi loket pendaftaran. Wildan menanyakaan kepada coustumer service apakah ada pasien bernama Clary Putri Handayati. Setelah mengecek beberapa data, CS mengiyakan keberadaan Clary di rumah sakit tersebut.
Ditemani oleh seorang perawat, Wildan melangkah dengan cepat, menyusur lorong yang terhubung dengan ruangan Clary. Hatinya semakin berdegup kencang. Apa lagi Clary belum membalas pesannya. Wildan khawatir, Clary belum siuman.
“Selamat siang nona Clary….” perawat yang bersama Wildan tadi menyapa ramah sambil menyibak pintu yang tertutup gorden.
“Sayang….”
Wildan langsung mendekap Clary. Demikian pun Clary. Air matanya tumpah ruah. Degup jantungnya masih berdetak cepat. Wildan merasakan ketakutan yang mencekam dari wanita itu.
“Honey, aku takut!”
“Ssst…. Semuanya udah aman. Kamu sekarang harus istirahat ya, tenangkan pikiran.”
Wildan mengecup kening Clary lalu mengusap lembut kepala wanita itu. Tubuh Clary terasa hangat. Wildan jadi panik.
“Suster, tubuhnya panas.”
Perawat yang tadi mengantarnya ke ruangan tampak sedang membetulkan infus Clary. ia langsung meraba kening dan leher Clary. Ia masih tampak tenang.
“Sebentar ya, Pak. Saya ambil termometer dulu.”
Perawat wanita itu bergegas keluar. Dalam kecemasannya, Wildan menggenggam tangan Clary. wanita itu masih menumpahkan air mata. Tubuhnya masih terlihat lemas. Sudut bibirnya tampak pucat. Clary belum sarapan tadi pagi.
“Kamu yang tenang ya, Sayang.” Wildan terus menguatkan Clary.
“Aku tadi udah ke makam untuk ngecek mobil kamu.”
“Kamu ada lihat tulisannya?” Clary menyela ucapan Wildan.
Untuk beberapa saat, Wildan terdiam. Ia memutuskan untuk tidak memberitahu Clary tentang mobil yang tampak bersih dan tidak ada coretan. Ia juga tak sempat bertanya pada Mang Ujang. Pikir Wildan Mang Ujang yang membersihkan. Tapi, ia segera menepis tuduhannya. Ia kini hanya fokus agar Clary segera pulih.
“Ada.”
“Aku takut!” lagi-lagi Clary meleleh dengan air matanya.
Tak berselang lama, perawat wanita tadi datang. Ia membawa sekeranjang peralatan untuk memeriksa Clary. Mengecek suhu tubuh wanita itu dengan termometer digital, lalu mengecek tensi darahnya. Panas tubuh Clary mencapai titik tiga puluh delapan koma tujuh derajat celsius. Sangat tinggi. Hal itu membuat Wildan semakin khawatir.
“Setengah jam lagi dokter visit. Tindakan selanjutnya tunggu dokter datang ya, Pak.”
“Sus, nggak bisa sekarang apa?”
“Kami sudah melayani dengan maksimal, Pak. Bapak jangan panik. Semuanya aman kok. Nona Clary hanya butuh istirahat saja. Nanti panasnya pasti akan menurun kok.”
“Nggak apa-apa, Honey. Aku kuat kok. Hanya sedikit pusing saja.”
“Nona Clary nggak merasa sakit di badan bagian lain kan?” tanya Perawat.
“Nggak, Sus. Saya hanya sedikit mual.”
“Ya udah, kalau begitu saya pamit dulu. Nanti kalau ada apa-apa, Bapak panggil saja saya di ruangan tadi, ya Pak.”
“Iya, Suster.” angguk Wildan.
Wildan dengan telaten menyuapi Clary. Meski hanya beberapa suap, Clary terpaksa menelan makanan yang diberikan oleh Wildan. Beberapa potong wortel dan brokoli dilahap Clary begitu saja. Hanya itu yang dapat masuk ke dalam perutnya.
Selepas tengah hari, kira-kira pukul satu siang, seorang dokter muda dan cantik datang ke ruangan Clary. Memeriksa wanita itu dengan seksama. Panas di tubuh Clary sudah menurun.
“Masih mual?” tanya dokter muda itu sembari memperbaiki letak kacamatanya.
“Masih, Dok.”
“Pusing?”
“Masih juga, Dok.”
“Oke. Sekarang, Nona ke toilet dulu ya, ini ada wadah untuk menyimpan urine.”
Dokter cantik itu menyerahkan wadah berupa botol kecil berwarna hijau. Dengan dibantu oleh perawat yang mendampingi dokter, Clary bergerak menuju toilet. Meski sedikit ngambang, Clary berusaha berjalan dengan kuat. Wildan membantu menopang tubuh wanita itu. Setelah menampung urine, Clary kembali tergeletak lemas di atas ranjang.
“Sekarang, Nona istirahat dulu ya! Nanti saya akan panggil salah satu keluarga yang mendampingi untuk mendengarkan hasil pemeriksaan.”
“Baik, Dok.” ucap Wildan sigap.
Sepeninggalnya dokter, Wildan keluar ruangan. Setelah beberapa jam mendampingi Clary di dalam ruangan, ia ingin sedikit menghirup udara segar. Lagi pula, Clary tampak beristirahat dengan pulas.
Di lobi depan kamar Clary, Wildan melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk di kursi. Bersandar dengan perutnya yang tampak membesar. Wanita itu sedang hamil tua. Mungkin dia akan segera melahirkan. Hanya mereka berdua di sana.
“Permisi, Bu.” Wildan duduk di sebelah wanita itu.
“Silakan, Kang. Dari mana?”
“Dari kamar sebelah, Bu. Sedang menunggu pacar saya.”
“Oh ya? Mau melahirkan?”
“Nggak, Bu. Tadi pagi dia tiba-tiba pingsan.”
“Sudah hamil?”
“Kami belum menikah, Bu.” Wildan menyela.
Mendengar ucapan wanita hamil itu, Wildan seolah menyadari sesuatu. Mungkinkah Clary hamil? Bisa jadi. Sebab, Clary tak pernah mengeluh sakit sedikit pun. Tapi, ia segera menepis praduganya. Biarlah, hasil analisa dokter nanti yang menjelaskan.
“Ibu mau melahirkan?” setelah beberapa saat hening, Wildan memberanikan diri untuk bertanya. Padahal sudah jelas wanita di sampingnya itu sedang hamil besar.
“Iya.” wanita hamil itu mengipas tubuhnya dengan secarik kertas tebal, sepertinya sampul buku tulis.
“Ibu sendiri.” Wildan celingak-celinguk menatap ke semua sudut, tak nampak seorang pun menemani wanita itu.
“Suami saya di ruang ICU.”
Tiba-tiba mata wanita itu memerah. Wajahnya berubah datar. Ada sesuatu yang berat untuk diucapkan olehnya. Wildan turut merasakan kesedihan itu.
“Suami saya terkena kanker otak.”
Wildan terdiam. Membayangkan seorang laki-laki yang terbaring lemah di dalam ruang ICU dengan selang yang melilit menghubung tubuhnya. Ia tahu, karena adik perempuannya juga pernah divonis kanker otak.
“Ibu nggak punya keluarga yang menemani?”
“Kami nggak punya keluarga di sini.”
“Lalu, yang merawat suami ibu siapa?”
“Ada seorang dokter yang baik hati. Karena bantuan dialah, suami saya mendapat perawatan yang layak. Bahkan biaya persalinan saya nanti pun dia yang menanggung semuanya.”
Wildan mengangguk kagum.
“Dokter itu masih muda dan belum menikah. Dia juga punya program bedah rumah. Saya mengenalnya ketika Pak Dokter melakukan acara bedah rumah untuk kami. Sejak saat itu, suami saya yang sudah lama sakit dirawat olehnya.”
“Mulia sekali hati dokter itu.”
“Sangat mulia, Pak. Bahkan Pak Dokter berjani pada saya, jika anak saya sudah lahir, dia akan membantu biaya pendidikannya.”
Wildan terpana mendengar penuturan wanita itu. Ia penasaran dengan sosok sang dokter. Entah bagaimana sosok pahlawan yang baik hati itu. Tidak hanya menyelamatkan nyawa manusia, sang dokter juga berhati mulia dan sungguh sosok yang mengabdi pada masyarakat.
“Ibu beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang baik. Semoga persalinan ibu berjalan dengan lancar.”
“Terima kasih, Kang. Semoga pacar Akang juga segera pulih.”
“Sama-sama, Bu.”
Wildan mengecek layar ponselnya. Membalas beberapa pesan yang belum sempat diliriknya sejak tadi pagi. Wanita hamil tadi melangkah perlahan, menggerakkan sedikit tubuhnya. Hal itu harus dilakukan oleh wanita hamil menjelang persalinan. Tujuannya sih agar peredaran darah lancar.
“Eh, itu…. Pak Dokter!”
Wanita hamil tadi menujuk ke arah seorang laki-laki muda berkacamata. Kulitnya putih, ia berjalan dengan gagah mendekati Wildan dan Wanita hamil itu. Wildan turut menoleh ke arah sang dokter.
“Ibu, apa kabar? Ibu sehat?” dokter tampan itu memberi salam pada wanita hamil tadi.
Gestur sang dokter tampak gagah. Ia tersenyum ramah memunculkan lesung pipi diwajahnya. Wildan jadi melongo. Ia kenal betul pada wajah pria itu.
“Ini keluarga ibu?”
“Tidak, Dok. Dia punya kekasih yang sedang dirawat di ruang sebelah.” Ibu itu menunjuk ruangan Clary.
Wildan masih terdiam. Ia mengingat-ingat sebuah wajah yang tidak begitu asing baginya. Wajah itu ada pada dokter yang kini berdiri dihadapannya. Vinson. Ya, wajah itu melekat pada dinding apartemen Clary. Wildan menebak dengan tepat. Tapi, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya agar lebih jelas.
“Hallo, Kang. Salam kenal. Saya dokter Vinson.”
Duaaarrr…. Seakan ditembak oleh satu peluru nyasar, jantung Wildan berdetak kencang. Benar saja dugaannya tadi.
“Wildan!” Wildan menjabat erat tangan Vinson.
“Ibu tadi bercerita banyak tentang dokter.”
“Oh ya? Ibu cerita apa?”
“Cerita kalau dokter orang baik.” wanita hamil itu menampakkan wajah cerianya. Ia seperti amat girang dan tenang dengan kehadiran dokter Vinson.
“Ah, Ibu. Masih banyak orang baik diluaran sana. Saya hanya sekadar menjalankan tugas saja.” ungkap dokter Vinson merendahkan diri.
Wildan mematung, mendengarkan setiap gurauan wanita hamil dan dokter Vinson. Ingin sekali ia memberitahu dokter Vinson kalau Clary ada di ruangan itu. Tapi, Wildan mengurungkan niatnya. Ia tak ingin Vinson hadir untuk membuat runyam hubungannya dengan Clary. apalagi ia baru saja menjalin hubungan dengan wanita itu.
“Akang pacarnya sakit apa?” dokter Vinson bertanya pada Wildan.
“Belum tahu, Dok. Hasil pemeriksaan belum keluar.”
“O… begitu. Nggak apa-apa. Sabar aja. Yang penting tidak ada keluhan lainnya.”
“Iya, Dok. Semua aman. Pacar saya hanya sedikit pusing dan mual saja.”
“Oh ya? Sudah periksa urine?”
“Sudah, Dok.”
“Ya, syukurlah. Semoga nanti bisa segera terdeteksi agar dapat segera ditangai juga.”
Hati Wildan sedikit berdebar. Jangan sampai dokter Vinson berniat untuk menjenguk Clary. Jika itu terjadi, besar kemungkinan keduanya saling mengenal. Wildan tak menginginkan hal itu. Menghindari kemungkinan konyol itu, Wildan pura-pura menerima telepon dan sedikit menjauh. Padahal ia tak sedang menelepon siapa pun. Wildan hanya menghindari bercakap-cakap terlalu lama dengan dokter Vinson.
“Pak Wildan. Bapak dipanggil ke ruang dokter Vony,” seorang perawat datang mendekat.
Wildan membalikkan tubuhnya, ia melihat dokter Vinson masih duduk dan berbincang-bincang dengan wanita hamil tadi. Ada sedikit keraguan di hatinya untuk menjauh dari ruangan Clary. Takut jika saja dokter Vinson mengetahui keberadaan Clary di rumah sakit itu.
“Aam… harus ke ruangan dokter ya, Sus?”
“Iya, Pak. Dokter Vony mau bicara sama Bapak.”
“Oke, Sus.” Wildan dengan berat melangkahkan kakinya. Sesekali ia masih melirik pada dokter Vinson. Dalam hatinya berharap, semoga saja dokter Vinson tidak menyelinap masuk ke ruangan Clary.