Embun pagi masih menetes lembut di permukaan dedaunan. Clary sebera bersiap, pagi ini dia akan ziarah ke makam kedua orangtuanya. Sebagai seorang anak, Clary rutin untuk datang ke makam ayah dan ibunya. Clary tak pernah melupakan jasa kedua orangtuanya, meski kasih sayang itu ia rasakan hanya sebentar. Ya, Clary terakhir mendapat kasih sayang kedua orangtuanya ketika ia duduk di kelas lima SD.
Saat memasuki area makam, Clary menyampaikan izin untuk masuk ke pemakaman. Tampak, seorang penjaga makam sedang menyapu dedaunan yang berserakan di depan gerbang. Clary menyapa dengan ramah. Penjaga makam pun sudah kenal betul dengan Clary. Sebab, wanita itu kerap datang ke sini.
“Selamat pagi, Mang Ujang. Izin masuk ya!” Clary mendekat pada laki-laki yang sedang membungkuk sembari menggenggam ganggang sapu.
“Eh, Neng Clary. Silakan, Neng.” Wajah Mang Ujang menyimpulkan senyum termanisnya pagi itu.
Meski tubuhnya hitam dan dekil, Mang Ujang sangat ramah kepada siapa pun yang datang. Juru kunci pemakaman itu tinggal di pondok kecil yang dibangun tepat di samping gerbang makam.
“Mang Ujang udah sarapan?” Clary menyodorkan sebungkus nasi uduk dan air mineral pada Mang Ujang. Laki-laki itu segera melepas ganggang sapu di tangannya lalu meraih pemberian Clary.
“Trima kasih, Neng.”
Mang Ujang sangat senang mendapat oleh-oleh dari Clary. Wanita itu sangat baik padanya. Setiap kali Clary ziarah ke makam, ia pasti selalu membawa buah tangan untuk Mang Ujang.
“Ya udah, saya masuk dulu ya, Mang.”
“Ya, ya. Silakan, Neng. Mau Mang Ujang antar?”
“Nggak usah, Mang. Di dalam ada nini-nini yang lagi metik bunga kamboja kan?”
“Iya, Neng.” Mang Ujang mengangguk.
Clary melangkah masuk ke dalam gerbang. Menjinjing buket bunga dan satu keranjang kecil bunga tabur segar.
“Neng Clary….”
Suara seorang perempuan tua mengagetkan Clary. Ya, perempuan tua itu biasa dipanggil Nini. Dia merupakan salah satu wanita tua pengepul bunga kamboja di area pemakaman itu. Clary kerap bertemu dengan Nini ketika datang ke makam. Nini sudah menjadi pengepul bunga kamboja kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Clary sering duduk hanya sekadar untuk bercakap-cakap dengan Nini.
“Eh, Nini. Udah banyak dapat, Ni?” tanya Clary pada wanita yang tengah melintas di hadapannya.
“Baru turun, Neng. Belum metik sama sekali”
“Oh ya? Kalau begitu, saya bisa bantu Nini dong?”
Clary menawarkan diri. Ia sudah beberapa kali menemani Nini memetik bunga kamboja.
Nini rutin memetik bunga kamboja di area makam itu. Bunga kamboja yang sudah dipetik, nanti dikumpulkan lalu dijemur sampai mengering. Kata Nini, bunga kamboja itu akan dijual ke penadah untuk dijadikan bahan campuran dalam pembuatan racun nyamuk.
“Si Eneng jadi menikah atuh?” Nini memetik beberapa bunga kamboja.
Pertanyaan Nini sempat membuat langkah Clary terhenti. Ia melihat cara Nini memetik bunga kamboja berwarna putih yang masih menggantung segar di sela dedaunan.
“Kok diam, Neng? Ada sesuatu?”
“Ada, Ni,” Clary menahan suaranya, “saya memang tidak berjodoh dengan si akang.”
“Si akang kemana atuh?”
“Udah memilih perempuan lain, Ni.”
“Kasian, Eneng. Nini doakan Neng Clary dapat jodoh yang baik.”
“Amin. Terima kasih, Ni.”
“Neng Clary cantik, pintar, baik pula. Nanti Neng Clary dapat jodoh yang serasi juga sama Neng. Yang pasti, kudu sabar ya, Neng.”
Nini memperbaiki posisi caping di kepalanya yang hampir saja terbang karena tertiup angin. Meski jalannya sangat lambat, Nini mahir memetik bunga kamboja. Keranjang yang dibawanya sudah hampir penuh terisi bunga kamboja yang masih mekar dan segar.
“Ya udah, Ni. Saya ke makam Ayah sama Ibu dulu, ya.”
Wanita tua itu mengangguk, “Neng Clary pergi sendiri?”
“Iya, Ni.”
“Wah, kasihan. Perlu Nini temani?”
“Amm, nggak usah, Ni. Makam Ayah sama Ibu kan masih jauh dari sini. kasihan nanti, Nini jalannya terlalu jauh.”
“Ya udah, kalau gitu Nini pamit duluan ya.” Nini menepuk pelan pundak Clary.
“Terima kasih, Ni. Hati-hati di jalan.”
“Iya, atuh, Neng.”
Perempuan tua, pemetik bunga kamboja itu berlalu meninggalkan Clary. Ia tampak terseok-seok dengan langkahnya. Sesekali ia kembali berbelok ke bawah pohon kamboja yang menjulang tinggi untuk memetik beberapa bunga kamboja lagi. Clary pun menuju makam kedua orang tuanya. Suasana makam tampak sepi. Hanya beberapa suara merdu burung pipit yang berkeliaran di area makam
Sebagai seorang anak, Clary kadang lupa untuk menjalani hidupnya dengan baik. Clary merindukan kehadiran kedua orangtuanya. Apa lagi dalam situasi sulit yang kini dihadapinya. Sekali pun kedua orang tuanya telah lama meninggal, Clary rajin datang ke makam, hanya sekadar untuk cerita di atas pusara.
Beruntung, ia mengenal Wildan yang dengan tidak sengaja hadir dalam kehidupannya saat ini. Sudah satu bulan ia mengenal Wildan. Ya, dalam rentang satu bulan ini hanya Wildan yang hadir menguatkan hatinya. Itu pun jika Wildan tak sibuk mengurus perusahaannya.
Clary merasakan kerinduan yang begitu dalam. Hanya untaian doa tulus yang bisa ia sampaikan di depan pusara kedua orangtuanya. Ia berharap, ayah dan ibunya dapat mendengarkan semua keluh dan kesahnya saat ini dari pintu surga.
Setiap datang ke makam kedua orangtuanya, Clary tidak dapat menghapus duka masa lalu. Ya, Duka ketika kedua orangtuanya harus merenggut nyawa di depan matanya sendiri. Clary masih ingat betul peristiwa itu.
Namun sayang, Wildan tidak menemani Clary untuk ziarah hari ini. Dua pekan yang lalu, mereka memang sudah pernah datang bersama ke sini. Clary memperkenalkan Wildan di pusara ayah dan ibunya. Tapi, hari ini ia sengaja datang karena hanya ingin menumpahkan kerinduannya saja.
“Ayah, Ibu…. Apa kabar kalian di sana? Cla datang lagi.”
Clary bicara di atas pusara. Seolah bicara betul pada kedua orangtuanya. Ia menempatkan buket bunga tepat di pusara sang ibu. Lalu menabur bunga segar di atas pusara kedua orangtuanya. Sisa bunga tabur minggu lalu tampak sudah layu.
“Ibu…. Seandainya Ibu masih ada. Cla tak akan merasa sendiri seperti ini. Cla rindu, Bu.”
Air mata menetes lembut di sudut pipi Clary. Wajahnya yang merona karena paparan sinar matahari pagi terasa hangat.
“Cla tak tahu, seberapa lama lagi Cla kuat dengan kehidupan ini. Cla sangat ingin menyusul Ayah dan Ibu. Cla ingin kita bersatu di surga abadi.” Clary terisak dalam tangisnya.
Cukup lama, Clary bicara di atas pusara kedua orang tuanya. Semua keluh kesahnya tertumpah ruah hari itu. Clary merasa ada sesuatu yang berbisik dalam hatinya.
Kamu harus kuat, Cla. Tidak ada kehidupan yang berakhir sebelum kematian. Teruslah melangkah dengan caramu. Kamu wanita kuat, kamu hebat dan kamu telah memenangkan pertarungan ini. Jangan berhenti karena kamu merasa putus asa. Jalanmu masih panjang. Akan ada orang-orang baik yang melingkupi kehidupanmu. Bersabarlah!
Suara ranting yang jatuh di bawah pepohonan tua di pinggir makam sempat mengagetkan Clary. Dua ekor tupai meloncat girang di antara dahan. Clary tersenyum simpul. Sepasang tupai saja bisa hidup bahagia, mengapa dirinya tidak? Clary kembali menguatkan hatinya, setelah menarik napas panjang, ia beranjak, meninggalkan dua buah pusara yang masih setia menjadi saksi bisu cerita hidupnya.
Clary sudah tidak sabar untuk bertemu Wildan hari ini. Sudah tiga hari ia tak berjumpa dengan laki-laki itu. Wildan semakin sibuk dengan urusan perusahaannya. Apa lagi sekarang Wildan membuka cabang di luar kota.
Ia sangat merindukan Wildan. Laki-laki yang dengan sigap memberi kehangatan padanya. Entahlah, sejak semuanya direnggut oleh Wildan dengan kelembutan dan kehangatannya, Clary semakin mencintai laki-laki itu. Hampir setiap malam Clary minta Wildan menemaninya tidur, demikian juga Wildan. Tanpa basa-basi keduanya tahu apa yang menjadi keinginan mereka.
“Mang ujang…. Pamit ya!”
Setiap datang dan pulang dari makam, Clary selalu menyapa laki-laki tua penjaga makam itu. Mang Ujang terbatuk kecil. Ia melangkah bersama Clary menuju parkiran. Hal itu selalu dilakukan Mang Ujang. Karena ia senang untuk bicara pada wanita ramah itu.
“Mang Ujang nggak pernah pulang ke kampung halaman?”
“Belum, Neng. Kalau Mang Ujang pulang nanti makam siapa yang jaga?” Mang Ujang terkekeh.
“Wualah, Mang. Kan nggak perlu dijaga…. Isi makam kan orang-orang yang sudah meninggal.” Clary balik terkekeh.
“Nanti nggak ada yang nyapu, Neng. Malam-malam harus nyalaiin lampu juga. Terus kalau ada yang mau ziarah, kadang ada yang minta ditemenin, atuh. Belum lagi kalau ada yang baru meninggal, harus bantu gali kubur, Neng.”
Clary manggut-manggut. Memahami tugas berat seorang penjaga kubur. Pekerjaan yang tampak sederhana, tapi sangat berjasa. Tanpa Mang Ujang area makam di situ tidak akan serapi dan sebersih ini. Area makam juga tertata dengan rapi. Mang Ujang hebat. Dia bisa diandalkan sebagai seorang penjaga makam yang profesional.
“Neng datang sendiri?” tanya Mang Ujang sembari berjalan di samping Clary.
“Iya, Mang. Nggak ada yang bisa temanin.”
“Ya udah, hati-hati di jalan, Neng.”
Keduanya menghentikan langkah. Mang Ujang pun terpaksa menghentikan ucapannya. Clary bergerak mengelilingi mobil.
Ada yang aneh.
“Mang Ujang ada lihat orang datang ke sini?”
Laki-laki tua itu menggeleng.
START WITH YOU!!!
Sebuah tulisan dengan tinta merah menempel di kaca belakang mobil Clary. Dengan sigap, ia meraih handphone dari saku tasnya, memotret tulisan itu lalu mengirimnya pada Wildan.
Honey, aku lagi di area makam. Mobil aku di coret-coret seperti ini. Aku jadi takut untuk menyetir mobil sendiri. Kamu bisa jemput aku ke sini?
Clary mengirim pesan pada Wildan. Berharap laki-laki itu segera membaca dan menjemputnya kemari. Mang Ujang masih terpaku di sisi Clary. ia pun tampak keheranan. Mang Ujang merasa tidak melihat siapa pun yang masuk area makam selain nini-nini pemetik bunga kamboja dan Clary.
“Mang Ujang serius? Nggak lihat orang kemari?”
“Ngga, Neng. Tadi saya nyapu. Habis nyapu, saya pulang ke pondok untuk sarapan, makan nasi uduk yang dikasi sama Eneng.”
Clary terdiam. Ia menatap kembali layar ponsel-nya. Belum ada balasan dari Wildan. Clary menyimpan kembali handphone ke dalam saku tas yang digendongnya. Clary memegang tulisan yang melekat di kaca mobilnya itu. Lengket dan tidak bisa terhapus.
Terik matahari pagi semakin meninggi. Mang Ujang sudah tampak berpeluh keringat. Aroma tubuhnya pun sudah tercium tak sedap. Mang Ujang tentu belum mandi pagi. Mencium aroma tubuh Mang Ujang, Clary jadi mual. Tiba-tiba saja kepalanya terasa dipenuhi kunang-kunang. Clary melihat keadaan sekitarnya seperti dipenuhi bayang-bayang yang bergerak dengan cepat.
“Neng…. Neng Clary!” Mang Ujang mengibas-ngibas tangannya di wajah Clary.
Clary tampak semakin lemah. Bahkan ia hampir saja ambruk. Untuk Mang Ujang segera menahan tubuhnya. Sadar bahwa Clary pingsan, Mang Ujang panik. Beruntung beberapa nini-nini masih berkeliaran di area makam. Mang Ujang berteriak keras memanggil para wanita itu.
Beberapa nini-nini berlari kecil, mendekat pada Mang Ujang. Mereka membopong tubuh Clary ke pondok mang Ujang. Beruntung Mang Ujang pandai menggunakan handphone. Laki-laki tua itu segera menghubungi Yayasan pengelola makam. Tidak berselang lama, mobil ambulance datang dan langsung membawa Clary ke rumah sakit terdekat.
Entah, apa yang terjadi setelah itu, Mang Ujang menatap kepergian mobil ambulance dengan rasa cemas. Ia takut jika ada sesuatu yang terjadi dengan Clary. Mang Ujang berharap, Clary akan baik-baik saja. Setelah buntut ambulance sudah tak nampak dan sirene mobil juga sudah menyepi, Mang Ujang kembali masuk ke dalam pondoknya.