Stay With Me

1894 Kata
Menjelang sore, Clary pulang ke apartemen-nya. Pakaian yang ia cuci tadi pagi juga sudah mengering. Wanita itu mengucapkan terima kasih kepada Wildan karena telah melayaninya dengan baik. Sebelum beranjak, Clary merapikan kembali kamar Wildan. Memasang seprai dengan yang baru. “Sayang, aku pulang ke apartemen ya.” “Aku antar!” dengan spontan Wildan menawarkan diri. “Nggak usah. Aku bisa sendiri kok.” “Mulai sekarang kamu nggak boleh kemana-mana sendiri.” Clary menatap heran pada Wildan. Tiba-tiba saja laki-laki itu menjadi posesif. Mungkinkah ia cemburu? Clary hampir terkekeh. “Kenapa?” “Ya nggak kenapa-kenapa. Aku…. Aku takut aja kamu….” “Kamu nggak percaya sama aku?” Clary memeluk Wildan. “Ya, bukan gitu juga sayang…. Aku…. Cuma….” “Cuma cemburu?” “Kok tahu?” Hahaha…. Clary tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Wildan jadi memerah. Ia pun jadi heran, pada dirinya sendiri. Seiring bergulirnya waktu, membuat Wildan semakin merasakan menaruh paling dalam hati pada wanita itu. “Honey…. Emangnya aku pergi dengan laki-laki lain apa?” tanya Clary sambil masih terkekeh. “Ya, siapa tahu. Aku takut kamu malah pergi bersama laki-laki lain.” “Ya nggak lah! Gila apa? Aku masih bisa jaga diri kok. Kamu tenang aja.” “Nggak. Aku antar.” “Serius?” “Ya iya lah, Sayang. Lebih dari serius.” Clary terdiam. Ada baiknya juga jika Wildan ingin mengantarnya pulang. Karena jika ia sampai dengan sendiri di apartemen, ia pasti kembali mengurai air mata. Lagi pula, sejak tadi malam ia sudah merasa begitu akrab dengan Wildan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengisi hatinya saat itu selain laki-laki itu. “Kita ke nonton ke bioskop yuk!” tiba-tiba saja, Wildan berubah pikiran. “Aku nggak bawa baju, Honey.” “Ya kan kamu mau pulang ke apartemen. Sekalian ganti baju dong.” “Hmmm, iya juga sih.” Muaaaccchhh, “Bau asem ah.” Wildan meledek Clary sambil berjalan ke sudut ruangan. Mengambil gitar yang tergeletak di sana, lalu bernyanyi tidak jelas. Clary hanya tersenyum kecil. “Iiihhh…. Honey…. Kok malah main gitar sih?” “Emangnya udah mau berangkat?” Wildan pura-pura cuek. “Kamu lama-lama nyebelin deh.” Clary merungut kesal. “Bentar aja, Sayang. Bentar. Please. Bentar ya, kamu dengar aku nyanyi dulu” Wildan pura-pura batuk kecil, mengetes suaranya agar tampil dengan merdu. Here’s to the ones that we got, Cheers to the wish you were here, but you’re not ‘Cause the drinks bring back all the memories Of everything we’ve been through Toast to the ones here today Toast to the ones that we lost on the way ‘Chause the drinks bring back all the memories And the memories bring back, memories bring back you.   There’s a time that I remember, when I did not know no pain When I belived in forever, and everything would stay the same Now my heart feel like December when somebody say your name ‘Chause I can’t reach out to call you, but I know I will one day, yeah…   Everybody hurts sometimes Everybody hurts someday, ayy ayy But Everyting gon’ be alright Go and raise a glass and say, ayy   Here’s to the ones that we got Cheers to the wish you were….   Wildan sukses menyanyikan sebuah lagu dari maroon 5, Memories. Suara merdu Wildan membuat Clary terpana. Apa lagi Wildan memetik gitar dengan sangat mahir. “Honey, suara kamu merdu. Metik gitarnya juga mahir.” “Terima kasih, Sayang.” Wildan mengecup kening Clary. Lalu melangkah ke dalam kamar. “Sayang, aku mandi dulu ya….” Wildan tiba-tiba saja berbalik memunculkan kepalanya di muka pintu. Clary hanya tersenyum. Lalu beranjak menyusul Wildan ke kamar untuk menyiapkan pakaian laki-laki itu. Ia mulai untuk memberi perhatian pada Wildan, meski Wildan tak mengharapkannya. Tak peduli, Wildan suka atau tidak dengan caranya, ia tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk laki-laki itu. Isi lemari Wildan terlihat berantakan. Maklum laki-laki. Meski berantakan, Clary juga tidak kesusahan menyiapkan pakaian Wildan. Pakaian Wildan hanya sedikit. Sejak beberapa kali bertemu Clary dalam suasana santai, Clary mafhum, Wildan lebih senang berpakaian apa adanya. Kaos dan celana pendek serta mengenakan topi. Beberapa saat kemudian, Wildan sudah keluar dari kamar mandi. Ia terkejut melihat Clary sudah duduk manis menantinya. Wanita itu menyerahkan pakaian yang siap dikenakan oleh Wildan. Pas. Wildan sepakat dengan pakaian yang disiapkan oleh Clary. “Sepertinya, kamu sudah siap menjadi seorang istri yang baik, Sayang.” Clary hanya tersenyum. Lalu merapikan sedikit posisi baju yang di kenakan Wildan karena tampak belum rapi. Melihat rambut Wildan masih basah, Clary meraih handuk yang baru saja dilempar Wildan di atas kasur. “Honey, jangan simpan handuk yang basah di atas kasur dong. Ntar lembab.” “Yah, udah biasa kali.” Wildan menyela. “Laki-laki mah begitu.” Meski sedikit ngomel, Clary tetap membantu Wildan. Ia menggantung handuk yang basah itu pada kapstok. Sementara Wildan, laki-laki tampan itu menyisir rambutnya agar tampak rapi. Clary memeluknya dari belakang. Wildan membiarkan saja semua sifat manja Clary padanya. Setibanya di apartemen, Clary langsung menurunkan bingkai foto yang terpampang wajah Bara. Wildan hanya turut memperhatikan. Membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh emosinya saat menatap kembali wajah Bara di sana. “Laki-laki sialan!” Clary menggertak pelan. “Foto kamu dengan laki-laki itu nggak diturunkan?” Wildan menunjuk foto Clary bersama seorang laki-laki di ruang perpustakaan. “Nggak. Itu Kak Vinson.” “Hmmm,” Wildan menampilkan wajah cemburunya. Tapi tidak seberapa. Ia hanya ingin menguji reaksi Clary. “Yang kamu bilang dokter itu ya?” “Yes.” Clary menjawab singkat. Ia tampak sibuk memasukkan foto-foto itu ke dalam kardus. Tak ada satu pun wajah bara yang tersisa. “Terus, foto-foto Bara itu mau kamu buang ke mana?” “Lebih layak dibuang ke tong sampah.” Clary berucap kesal. Wildan tertawa kecil. Ia menyarankan Clary untuk tetap menyimpan foto bara dalam kardus. Bagaimana pun juga, masa lalu tidak bisa dibuang begitu saja. Ketika hati Clary sudah dingin, ia perlu untuk melihat kembali semua kenangan itu. Beberapa tumpuk kardus tergeletak di hadapan Wildan. Clary menyimpan semua pemberian Bara di dalam kardus-kardus itu. Wildan hanya melongo, tanpa bisa berbuat lebih. Semua itu hak Clary. ia berhak membuang semua pemberian Bara agar tidak menghantui kehidupannya lagi. “Kamu yakin hanya membuang pemberian bara segitu aja?” “Masih banyak.” “Semua akan dibuang?” “Nggak.” Clary berdalih. “Nah, gitu dong. Apa yang bisa dipakai, kamu pakai aja. Laki-laki sebaik Bara tidak akan minta semua itu kembali kok.” Clary terdiam, tangannya masih gesit mengelem rekat-rekat beberapa kardus tadi dengan isolasi. Wildan beberapa kali menjepret momen itu. Beberapa kali ia menggurau Clary dengan beberapa hal. itu semua dilakukannya agar Clary tidak tegang. “Beres!” Clary mengibas telapak tangannya. Senyum puas tersimul dari sudut bibirnya. Ia tampak menarik napas lega. Setelah cukup mengeluarkan keringat, Clary bergegas ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan shower. Terasa segar. Clary menghadap cermin, melihat sisa kecupan Wildan di dadanya. Tampak masih memerah. Ia tersenyum kecil mengingat cumbuan Wildan yang begitu hangat tadi malam. “Udah selesai mandinya, Sayang?” Clary sedikit kaget. Ketika keluar dari kamar mandi, melihat Wildan malah tergolek santai di atas spring bad. Clary sama sekali tidak marah, ketika Wildan dengan lancang memasuki kamarnya. Toh yang mereka berdua lakukan sudah lebih dari pada itu. “Kenapa, Honey? capek ya?” Clary mendekat pada Wildan. Dengan perlahan, Wildan menarik tubuh wanita di hadapannya itu. Mengecup lembut bibir Clary yang masih basah oleh air. Handuk yang dikenakan Clary tersibak. Membuat ranum buah dadanya sedikit nampak. Wildan memintanya sekali lagi. Clary tak bisa menolak. Lagi-lagi, keduanya hanyut dalam hubungan asmara yang terjadi begitu saja. Sangat dalam. Bahkan hampir menjadikan Clary candu. Ia meminta Wildan melakukannya cukup lama. Agar keduanya sampai pada titik kepuasan bersama.   “Sayang, maafkan aku.” Wildan memeluk erat tubuh Clary. Sejak tadi malam, Wildan menumpahkan semuanya di dalam. Hal itu juga atas kesepakatan Clary. Clary menjatuhkan kepalanya di d**a Wildan. Merasa puas atas cumbuan mesra yang diberikan laki-laki itu padanya. Tak peduli, seberapa rendah harga dirinya, Clary menyukai cara Wildan memperlakukannya. “Honey…. aku jadi tak ingin jauh darimu.” Clary berucap pelan. “Aku juga.” “Aku…. Aku….” Ada yang ingin Clary ungkapkan. Ada. Tapi ia tahan. “Sssttt…. Aku tak akan meninggalkanmu, Sayang.” Wildan menyadari, bahwa ia semakin mencintai wanita yang kini baru hadir dalam hidupnya. Dikecupnya kening Clary. Aroma napas Wildan yang lembut membuat Clary membalasnya dengan sebuah kecupan manis di pipi laki-laki itu. Setelah puas memadu kasih, Clary kembali ke kamar mandi, membersihkan sebagian tubuhnya tanpa mandi lagi. Ia membiarkan aroma tubuh Wildan melekat padanya. Demikian juga Wildan. Clary duduk manias di depan cermin. Memoles wajahnya dengan sedikit make up soft. Sempurna. Wanita ini sudah terlahir dengan wajah ayu, membuatnya tidak perlu berdandan terlalu lebih. Setelah yakin pada penampilannya, Clary siap mengajak Wildan pergi. “Sudah?” Wildan mendongakkan kepala. Menatap kagum pada kecantikan wanita di hadapannya. Sejak Clary berdandan, Wildan sibuk mengotak-atik handphone-nya. Sehingga ia tidak fokus dengan gerakan Clary. Ia semakin terkesima pada kecantikan Clary. “Cantik….” Wildan tak berhenti memuji Clary. “Udah dong, yuk!” Clary meraih tas selempang yang terletak di atas meja. Hanya berisi dompet dan sebuah lipstik di dalamnya. “Sayang, kamu lihat kunci mobil aku nggak?” “Di meja depan, Honey.” “Oh, iya, lupa.” Wildan mendahului langkah Clary. Keduanya melaju di jalan raya. Wildan menepati janjinya untuk menyenangkan hati Clary. setidaknya sampai wanita itu merasa tenang. “Kita jadi nonton?” “Jadi dong.” “Marriage Story udah tayang dari sebulan yang lalu.” “Mau nonton itu?” “Yup. Biar kamu nggak lepas dari kesan romantis.” Wildan mengusap lembut kepala Clary. Hampir dua puluh empat jam bersama Clary, Wildan semakin merasa terpaut pada hati wanita itu. “Honey, terima kasih sekali lagi. Karena kamu, aku bisa melupakan Bara dengan cepat.” “Sama-sama, Sayang.” “Aku tak peduli dengan apa yang udah kamu berikan ke aku. Atas dasar cinta atau tidak. Aku hanya bisa menikmatinya saat ini.” “Kamu masih belum percaya padaku?” “Terlalu sulit untuk mempercayai laki-laki.” “Sayang…. Aku bisa saja meninggalkanmu pergi begitu saja. Tapi, aku tak akan melakukan hal bodoh itu.” “Lalu, kenapa kemarin kamu berniat untuk kembali ke Skotlandia?” “Aku takut kau menolakku.” “Sebatas itu?” “Setelah aku menceritakan tentang Bara. Kamu marah padaku. Kupikir lebih baik aku pergi saja. Aku tak ingin berlama-lama tinggal di hati yang mungkin tak mengharapkan aku ada.” Clary tersenyum kecil. Merasa puas pada jawaban Wildan. Ia tak ingin lagi menumpuk tanya pada laki-laki itu. Clary ingin semua mengalir begitu saja. Kalau pun Wildan memutuskan pergi, ia harus siap dengan segala resiko yang akan datang. “Kok senyum-senyum sendiri?” diam-diam, Wildan melirik wajah Clary. “Nggak. Aku senang aja.” Clary menileh dari balik jendela. Gerimis membasahi jalanan malam itu. Tidak begitu nampak. Kerlap-kerlip cahaya lampu sedikit menyilaukan mata. Clary percaya, Wildan akan membawanya sampai dengan selamat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN