Kisah tak Terduga

1655 Kata
Ketika terbangun di pagi hari, Wildan masih tertidur dengan nyenyak. Clary perlahan membuka mata, ia menggeliatkan tubuhnya yang masih berada dalam pelukan Wildan. Clary menatap wajah laki-laki itu. Tersibak ketampanannya yang seakan baru muncul di mata Clary. Karena gerakan kecil Clary, Wildan sedikit membuka mata. Clary merasakan gerakan kecil dan hangat di antara kulit pahanya. Sontak saja hal itu membuat tangan Clary merayap pelan  di sana. Wildan memeluk Clary lebih erat. Aroma parfum bunga lily masih melekat harum di tubuh Clary. Wildan mengecup lembut telinga wanita itu. Terasa hangat, Clary tak bisa menampik. Wildan mencumbunya dengan mesra. Keduanya kembali terhanyut dalam permainan asmara. Berlangsung begitu saja. Clary tampak tak peduli dengan sakit hatinya. Ia cukup tenang dan menikmati setiap gerakan yang diberikan Wildan. Permainan itu berakhir dengan sebuah kecupan hangat di kening Clary, Wildan memberikan semuanya dengan penuh rasa sayang. "Kamu puas, Sayang?" Clary mendengar untuk pertama kalinya panggilan itu terucap dari laki-laki yang berbeda. Clary hanya tersenyum kecil menatap Wildan. Diam-diam Clary menyimpan suka pada laki-laki itu, setelah mendapatkan kehangatan yang begitu dalam darinya. "Bapak jangan pergi, ya!" Clary memohon. "Ssssttt..." Wildan menutup ujung bibir Clary dengan jari telunjuknya, "jangan lagi panggil aku, Bapak...." ia berbisik lembut di telinga Clary. Clary membalas dengan anggukan dan senyum yang tersimpal manis di sudut bibirnya. Hal itu membuat Wildan kembali mengecup lembut bibir wanita itu. "Terima kasih, Honey. Kamu sudah memberikan semuanya untukku," ucap Clary lembut. Wildan tak bergeming. Ia masih berpikir, entah apa yang akan terjadi setelah ini. Mungkinkah Clary berlanjut menaruh hati padanya, atau kah wanita itu akan pergi begitu saja. Ia ingin. Sangat ingin, Clary nenjadi miliknya. "Sayang...." bisik Wildan lembut, tepat di daun telinga Clary, "kamu juga tidak akan pergi kan?" Clary terdiam. Sadar pada keputusan besar yang ia ambil begitu saja sejak tadi malam. Ia juga harus bertanggung jawab dengan semua yang terjadi. "Kita mulai dari awal," ucap, Clary datar. "Kamu nggak menyesal?" tanya Wildan. "Aku menikmati kehangatan ini, Honey." Clary mengusap wajah Wildan. Meyakinkan hatinya pada laki-laki itu. "Terima kasih, Sayang. Aku janji untuk tetap menjaga kamu. Aku akan bertanggung jawab untuk semuanya." "Maafkan aku!" Clary mengungkapkan penyesalannya Memang, tidak seharusnya, Clary memberikan mahkotanya pada Wildan. Apa lagi mereka tak memiliki hubungan yang spesial. Bisa saja laki-laki itu mengambil kesempatan dalam kesempitan. "Aku akan belajar untuk mencintaimu, Sayang."  Wildan mengelus kepala Clary lalu mengecup lembut kening wanita itu. Cukup lama mereka saling menatap, lalu tertawa lepas membayangkan kebodohan mereka masing-masing. "Mandi, yuk!" Wildan mengibas selimut yang masih menutup tubuh mereka. Tampak bercak merah berserakan di atas seprai. "Kamu masih perawan, Sayang?" Wildan tercengang melihat bercak merah di atas seprai. Clary mengangguk dalam senyum. "Oh, God. Berapa bodohnya aku." Lagi-lagi Wildan menyesali perbuatannya pada wanita di hadapannya. Ia merenggut kesucian wanita itu begitu saja.  Seharusnya, Clary melakukan itu  di malam pertama dengan laki-laki pilihannya sendiri. "Aku nggak nyesel kok. Aku puas dan senang udah memberikannya untukmu." "Kamu yakin, Sayang?" "Aku yakin kok sama kamu." Wildan tersenyum puas, bukan hanya karena kemenangannya, tetapi lebih pada ketulusan hati Clary. Ia berjanji, tidak akan menyakiti hati wanita itu. "Honey, gendong...." Clary bertingkah manja, saat menggerakkan sedikit tubuhnya dan ternyata baru terasa sakit. Wildan hanya tersenyum kecil. Lalu membopong pelan tubuh wanita itu ke dalam kamar mandi. Di sana keduanya mengguyur tubuh, dan kembali bercengkrama dalam kemesraan. Untuk ketiga kalinya, sejak tadi malam, keduanya hanyut dalam cumbuan yang begitu hangat.   Setelah mandi, Clary mengenakan pakaian Wildan, karena tadi malam ia tak membawa baju. Beruntung, Wildan punya kaos dan celana boxer berukuran kecil yang bisa dipakai oleh Clary. Hari itu, keduanya bercengkrama penuh kemesraan di apartemen Wildan. Banyak hal yang mereka lakukan bersama, Clary mengawali aktivitasnya dengan membereskan tempat tidur yang sudah teracak-acak karena pergulatan mereka sejak tadi malam. Wanita itu, mencuci seprai yang tampak kotor karena bercak darah. Wildan sangat mandiri, meski pun laki-laki, selama ini ia mencuci pakaiannya sendiri. Bahkan di apartemen Wildan sudah tersedia mesin cuci. Clary memanfaatkan itu untuk mencuci semua pakaian kotor Wildan. Termasuk seprai yang tampak kotor Karena hari itu, hari Minggu. Wildan tidak berangkat kerja. Ia cukup puas bisa menemani Clary di apartemennya. Wildan juga ikut membantu setiap gerakan Clary. "Sayang, rinsonya dimana?" teriak Clary dari dapur. Dengan gesit Wildan menemani Clary mencuci pakaian. Clary pun merasa senang. Tiba-tiba saja, keduanya kompak merasakan sesuatu hal yang berbeda. Mereka merasa menjadi sepasang pengantin yang baru melewatkan malam pertama dan memulai hidup baru berdua. "Sayang, kita seperti sepasang pengantin baru ya," Wildan memberi gurauan. Hahaha.... Clary tertawa lepas. Tentu saja, ia sepakat dengan gurauan Wildan. "Kamu cantik, Sayang." Wildan tiba-tiba saja memeluk Clary dari belakang. Meletakkan jemarinya di perut Clary. "Semoga kamu hamil, ya." "Honey!" Clary membalikkan tubuhnya, keduanya jadi saling berhadapan. Clary menatap lekat wajah Wildan. "Kalau aku hamil, kamu mau tanggung jawab?" ucapan Wildan yang baru saja terlontar jadi menimbul tanya di hati Clary. "Iya dong, Sayang. Aku malah berharap kamu hamil. Biar kita punya baby yang imut dan cantik seperti kamu." "Iiihhh.... Kamu mah gitu." Clary mencubit pelan pinggang Wildan, membuat laki-laki itu sedikit meringis kesakitan. "Benaran, tanggung jawab ya!?" Clary kembali meyakinkan hati Wildan. "Nggak." "Aaa, kan!" ucap Clary sebel. "Nggak nolak, Sayang...." Wildan mengecup kening Clary. Wanita itu hanya tersipu malu. Ia semakin kagum pada Wildan. Seperti halnya ia memperlakukan Bara, Clary menyiapkan hidangan untuk Wildan. Ala kadarnya, karena Wildan hanya punya sepotong keju, beberapa wortel dan lima butir telur di kulkas. Clary menolak ketika Wildan ingin membawanya makan di luar atau sekadar pesan gofood saja. Wildan kagum pada kegesitan Clary di dapur. Tentu saja, ia semakin menyukai wanita itu. Wildan juga cukup puas, ketika melihat wajah Clary terlihat tenang. Padahal ia baru saja terlepas dari beban yang begitu berat. Bukan persoalan kecil ketika pembatalan pernikahan yang sedianya hampir terlaksana dengan persiapan yang hampir matang. Clary hebat, ia tangguh untuk menutup permasalahannya. “Kamu nggak jadi balik ke Skotlandia, kan?” tanya Clary sembari tangannya gesit menggoreng telur. Wildan yang menunggunya di kursi hanya tersenyum kecil. “Bagaimana mungkin aku pergi meninggalkan sisa cintaku yang baru saja terajut satu malam.” ungkap Wildan. Clary hanya terkekeh. Ia percaya, Wildan akan membatalkan keberangkatannya. Lagi pula, laki-laki itu terlanjur hanyut dalam kisah asmaranya. Terlalu awal jika ia harus meninggalkan Clary. “Tanpa kamu aku tidak mungkin sekuat ini.” Clary meletakkan piring kecil berisi telur ceplok di atas meja. Lalu duduk di hadapan Wildan. “Sayang…. Kamu sudah cukup tenang. Jangan berlarut dalam kesedihanmu.” “Terima kasih, Honey.” “Aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja. Percayalah!” Wildan menggenggam jemari Clary. Ia kembali menilik kerapuhan di hati wanita itu. Bukan tanpa sebab, Clary hanyalah manusia biasa. Air mata Clary mengalir begitu saja. Mata beningnya tampak sayu. Sebelum beranjak ke apartemen Wildan tadi malam, Clary sempat menangis tersedu-sedu. Ia sebenarnya rapuh. Sangat rapuh. Ketegaran hati yang terbentuk selama inilah yang mampu membuat Clary bertahan untuk kuat. Meski sedikit. Ya, sedikit kuat. Beruntung, ia dipertemukan dengan laki-laki baik yang ada di hadapannya kini. Laki-laki yang sejak awal menaruh erhatian begitu lebih pada Clary. Tapi, wanita itu tidak menyadarinya sama sekali. Wildan. Ya, hanya Wildan yang mampu mendekap erat kelemahan hati Clary. Laki-laki yang hadir begitu saja. Masuk di relung hati, dan menjadikan Clary kuat. Keduanya berjanji untuk tidak akan pernah menyesal setelah apa yang mereka lewati sejak tadi malam. Clary merubah presepsi cinta yang selama ini ia pertahankan. Ia muak, ketika harus bicara soal waktu untuk membentuk cinta. Delapan tahun ia mengenal Bara, sangat lama. Pun, cintanya kandas begitu saja. Berbeda jauh dengan perasaanya pada Wildan. Clary tak menganggap bahwa apa yang dilakukannya bersama Wildan karena dasar cinta. Bukan pula karena kebabalasan. Semua itu mengalir apa adanya, tidak terencana dan tentu saja, mereka berdua sangat menikmati momen itu. Perlahan, Wildan mendaratkan kecupan mesra di kening Clary. membuat wanita itu semakin merasakan kehangatan Wildan yang begitu dalam padanya. Tapi, Clary tak meminta lebih. Dia hanya ingin agar Wildan bisa menemaninya dalam kerapuhan. “Udah, jangan nangis lagi! ntar cantiknya hilang loh.” Wildan meledek Clary. Clary hanya bisa tersipu malu. Ia baru sadar, selepas mandi tadi ia tak mengenakan make up apa pun. Tidak pula memoles bibirnya dengan lipstik. Ia tampak sedikit pucat, namun rona wajah manisnya masih tersirat. Wildan terus memuji Clary. membuat hati wanita itu semakin berbunga. “Kamu mau makan?” tanya Wildan ketika melihat Clary tak bergerak menawarinya makan. Padahal Clary sudah menyiapkan hidangan di atas meja. “Trus, kamu masak buat siapa?” “Buat kamu dong.” Clary bergegas mengambil piring, karena peralatan itu belum ia letakkan di atas meja. Clary hebat, meski pun hatinya rapuh ia tetap melayani Wildan di meja makan. Ia mengambil sedikit nasi, lalu meletakkan telur ceplok di atas nasi hangat kemudian menyodorkan makanan itu pada Wildan. Wildan menikmati perlahan makanan yang disediakan perempuan manis berambut ikal yang duduk di hadapannya. Sementara, Clary masih tak bergeming. Terpaksa, Wildan menyuapkan makanan itu padanya. Mau tidak mau, wanita itu menerimanya. Suapan Wildan ternyata sangat enak. Bahkan Clary memintanya lagi. Wildan hanya tersenyum kecil. Ia senang ketika Clary mau menerima suapannya. “Gitu dong. Makan yang banyak, ya! Biar kamu kuat.” Wildan kembali meledek. “Aku sudah kuat, kok. Kan ada kamu!” Clary tersipu malu. “Ya, Sayang. Nambah lagi, ya!” Clary hanya mengangguk. Kali ini, bukan lagi dia yang melayani Wildan. Tapi, laki-laki itu yang penuh semangat menyuapi Clary. Ia makan cukup banyak, saking asyik menyuapi Clary, Wildan hampir lupa menyuapi dirinya sendiri. Clary jadi tertawa kecil melihat tingkah Wildan yang menyuapinya seperti menyuap anak kecil yang susah makan. Wusss…. Wusss…. Wuss…. Wildan menggerak-gerakkan sendoknya seperti pesawat yang menukik, lalu terbang lurus dan mendarat di ujung bibir Clary. sangat romantis. Clary baru merasakan kehangatan seperti ini setelah sejak lama tak mendapatkannya. Dulu, saat SMA, Bara pernah melakukan hal ini padanya. menyuap sebulat bakso yang berujung tumpah ruah di meja karena disenggol oleh siku Bara. Tapi, Clary segera menepis angan-angan masa lalu itu. Semuanya telah berakhir.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN