Dalam keadaan rumah yang sepi seperti tanpa penghuni, Clary menemui Nur Fatma dalam kamarnya. Keduanya asik bercengkrama. Di atas meja, terletak sebuah cermin kecil, Nur Fatma lebih sebang menggunakan cermin kecil itu untuk menatap wajahnya sambil tergolek di tempat tidur. Clary meraih cermin itu dan menatap lekat pada wajahnya. Nur Fatma menggerutu, sebab Clary menguji cerminnya. Karena sejauh ini, Nur Fatma selau merasa bahwa cermin ajaib itu mampu menampilkan wajahnya yang cantik. Seperti yang Clary katakan bahwa Cermin itu tak menampilkan sisi keajaiban sekali pun. “Cermin ini nggak menampilkan kesan keajaiban pun,” ucap Clary. “Lo benar, Cla. Hanya wajah gue yang tampak cantik di situ.” “Hmm… Lo pikir gue kalah cantik dari lo? Hah?!” tanya Clary pada Nur Fatma, “Gue hanya terkesan

