Aku melepaskan pelukan Renno yang memeluk erat perutku dari belakang.
Pelan pelan kulepaskan, namun ia malah menarikku semakin erat merapat ke tubuhnya, dengan wajahnya berada di leherku.
Bisa kurasakan hembusan nafasnya yang hangat dan teratur, membuatku bertambah membulatkan mata.
"Sebentar lagi..." gumam Renno dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Ku coba melepaskan pelukan tangannya lagi, dan kali ini berhasil.
Aku terduduk sesaat memanjang wajah Renno.
Ku raup wajahku dengan kedua tanganku.
'Sepertinya aku sudah gila, apa yang kulakukan semalam dengannya?
Ku pikir aku bermimpi, tapi ternyata kami terbangun dengan keadaan telanjang seperti ini.
Kamu sudah gila Be...kamu baru 17 tahun !!! Dan kamu melakukannya dengan Renno !!'
Pelan pelan aku turun dari ranjang, mengambil bathrobe yang terjatuh di lantai, memakainya lalu berdiri.
'Awww...' keluhku pelan.
Aku merasakan ada sedikit nyeri di pangkal pahaku,
Aku berjalan pelan pelan, tak ingin membangunkan Renno yang sepertinya terlihat kelelahan karena ia tertidur pulas.
Sampai di kamar mandi, kusiram seluruh tubuhku dengan shower.
Apa aku sekarang harus menangis? Lucu sekali...
Menyesalkah? Haruskah? Aku sampai bingung harus bersikap bagaimana.
***
Usai mandi, aku menelphone room service untuk minta diantarkan makanan, serta mengambilkan pakaian yang semalam di loundry.
Dua gelas s**u, sebotol air mineral, tiga potong sandwich, dan beberapa potong apel yang sudah dikupas, ku letakkan di meja belakang samping kolam renang.
Sepertinya ku merasa kelelahan dan juga kelaparan.
Tanpa ba bi bu, dan menunggu Renno bangun, langsung saja aku melahapnya, sembari memainkan telephone genggamku, mencoba melupakan apa yang terjadi semalam.
Tak berapa lama, kulihat Renno dengan paniknya berlari kearahku, dengan hanya menggunakan bathrobe dan rambut acak acakkan.
"Be..." ucapnya dengan nafas tersengal
"Hmmm..." jawabku singkat tanpa menoleh ke arah Renno dengan mulut masih penuh dengan potongan sandwich.
"Bella..." Renno meminta Bella untuk memperhatikannya.
"Kenapa Rennnn...kamu lapar??? Aku pesan banyak makanan. Ayo makan.." aku berusaha tenang seolah tak mengerti apa yang akan di bicarakannya.
Renno duduk berhadapan denganku, masih menatapku dengan pandangan aneh, namun ku balas dengan senyuman.
"Bella, apa kamu ingat apa yang kita lakukan semalam?" ucapnya dengan nada panik
Aku hanya mengangguk, semabri meneguk segelas s**u.
"Ada darah di atas ranjang Be..." lanjut Renno.
"Aku baru pertama kali melakukannya." jawabku sambil menaruh gelas di atas meja, tetap tanpa menoleh ke arah Renno.
"Bella..." Renno menggenggam tanganku, mata kami beradu, ada perasaan bersalah dimatanya.
"Aku minta maaf Be...semalam aku benar benar...ahhhhh" Renno mengacak rambutnya
"Aku tidak apa apa Ren..."
"Aku akan bertanggung jawab Be..."
Aku tersenyum, kulepaskan genggaman tangannya, apa yang bisa aku harapkan dari seorang anak laki laki yang baru menginjak usia 18 tahun.
"Ini hanya kecelakaan Ren...bukan sesuatu yang di sengaja. Lagian diantara kita tidak ada rasa satu sama lain."
"Aku mencintai kamu Bella" ucapan Renno membuatku terdiam.
"Aku tidak bisa melakukan ini dengan seorang gadis yang masih suci, kemudian lari dari tanggung jawab" lanjut Renno
"Lalu apa yang akan kamu lakukan"
"Setelah lulus kita menikah, atau kita bisa menikah besok. Hari ini kita temui orang tua mu."
"Kamu masih mabuk Ren..."
"Ga...aku seratus persen sadar."
"Kita masih kelas 3 SMA Renno...Perjalanan kita masih panjang."
"Apa kamu tidak mencintaiku, Be? Apa kamu tidak ingin bersama ku?"
Aku kembali terdiam.
'Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu Ren...Setiap inchi ditubuhmu membuatku tergila gila, dan apa yang telah terjadi diantara kita sama sekali tak kusesali.'
"Bella, tolong jawab..."
Renno berjongkok di depanku, memegang kedua tanganku kamudian menciumnya.
"Apaan sih Ren...mandi dulu sana. Biarin aku mikir dulu."
Renno berdiri kemudian mengecup pucuk kepalaku, "Aku ingin kamu menjadi milikku selamanya Be..."
Renno berlari memasuki kamar, aku tersenyum melihatnya bertingkah seperti anak kecil.
***
Kami berada dalam mobil dan hanya diam tanpa membicarakan apapun sepanjang perjalanan pulang ke villa.
Saat turun dari mobil, Renno menarik tanganku.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, Bella"
"Buktikan saja Ren...Aku tidak butuh janji manis" ucapku sembari barlalu masuk ke dalam villa.
"Bereskan barang barangmu sekarang, kita pulang." teriak Renno
Bi Jum dan pak Agus membantuku beres beres dan menata koper yang kubawa kedalam mobil Renno.
"Hati hati di jalan ya den Renno non Bella..."
***
Kami berada di sebuah toko perhiasaan, entah apa yang dipikirkan bocah laki laki itu lagi.
Apa ini bukti yang akan dia tunjukkan.
"Ngapain kita kesini Renno?" tanyaku datar
"Saya cari sebuah cincin sederhana tapi cantik." ucap Renno pada pelayan toko.
"Bisa minta ukurannya kaka?"
"Kemarikan jarimu Bella" Renno menarik tangan kiriku kemudian menunjukkan kepada pelayan toko
Aku langsung menarik tangan Renno.
"Ren...kamu ngapain sih? Kamu gak bisa sembarangan kasih cincin ke sembarang gadis Renno..." bisikku
"Kamu bukan gadis sembarangan Bella. Kamu gadis yang akan aku cintai seumur hidupku"
"Ini bukan sesuatu yang bisa di ajak bercanda Renno. Kita harus membicaraan ini terlebih dahulu."
"Kita sudah membicarakannya kan tadi pagi"
Pelayan memanggil kami dan menunjukkan pilihan sesuai petunjuk Renno.
Renno menunjuk sebuah cincin berbentuk solitaire ring dengan satu mata berlian di tengahnya berukuran 1 karat terbingkai mas putih seberat 3 gram.
Begitu sederhana namun tapi cantik.
"Ini untuk kamu Bella Handoyo" Renno memakaikan cincin itu di tanganku.
"Ini mahal Renno, gak uasah..." ucapku merasa tidak enak.
Renno tak menjawab apapun, ia langsung menyerahkan sebuah kartu debit kepada pelayan toko.
Dengan masih menggenggam tanganku, kami berjalan keluar toko perhiasaan, menyetir mobilnya kembali dan menuju tujuan selanjutnya.
"Kita kemana lagi Ren?" tanyaku namun tak di jawabnya.
***
Renno mengajakku ke sebuah penthouse mewah di tengah kota.
"Ini..."aku masih terpukau begitu memasuki griya tawang ini.
"Selamat datang di rumahku." ucap Renno
"Kamu tinggal disini Ren?"Renno mengangguk
"Tidak ada siapapun..." aku bingung karena saat aku berkeliling, tak kulihat seorang pn di penthouse yang besar nan mewah ini.
"Aku tinggal sendiri disini."
Aku duduk di sofa, masih terpaku dengan cincin yang berada di jari manis ku.
Renno menghampiriku, membawa sebuah amplop besar dan menyerahkannya padaku.
"Ini surat surat penthouse ini, dan juga ATM dan buku tabunganku."
Aku memandang Renno dengan tatapan bingung.
"Apa maksud nya ini Ren?"
"Untuk kamu bella. Kode akses penthouse ini, 4 digit hari jadi kita, yaitu kemarin."Renno duduk di sampingku menjelaskan.
Aku tersenyum kecut, aku tidak tau maksud semua ini hanya saja aku sedikit merasa tersinggung.
"Renno, bagaimana kalau kamu antar aku pulang kerumah." ucapku mencoba berbicara halus dan sabar
"Terimalah Bella, ini bukti kalau aku keseriusanku"
"Aku mau pulang Renno, tolong" aku mencoba menahan tangis yang menyesakan dadaku.
Renno mengantarku pulang dan tetap memaksaku membawa berkas berkas yang ia berikan tadi.
"Sampai ketemu di sekolah, Be..." Teriak Renno sembari berdiri di samping mobil dan melambaikan tangannya.
Aku hanya diam tak menghiraukannya.
Aku melempar tubuhku ke ranjangku di kamar.
Masih dalam keadaan bingung, aku masih memandangi cincin yang melingkar di jari manisku.
'Renno mau bertanggung jawab, atau hanya menganggapku sebagai p*****r dengan membayarku seperti ini?' gumamku sendiri
Dua hari kemudian suasana rumah ramai seperti biasa. Ayah, bunda dan Evelyn pulang bersama.
"Gimana liburan kamu Bella?" tanya pak Handoyo pada putrinya saat di meja makan.
Seketika Bella tersedak, bu Pertiwi langsung memberikan segelas air putih kepada putrinya yang wajahnya langsung memerah itu.
"Pelan pelan makannya Be...'"bu Pertiwi memukil punggung Bella
"Bella di rumah aja ayah, paling kemarin waktu awal liburan Bella ke tempat Amanda" jawab Bella terbata bata menutupi kebohongannya.
"Bisnis ayah sedang bagus bagusnya, maaf kalau ayah akan sering jarang di rumah menemani putri putri ayah yang cantik cantik ini...Kalian baik baik di rumah sama bunda ya...Kalau ada waktu, nanti kita liburan"
"Asyikkk"
"Horreeee"
"Terimakasih ayah..." Bella dan Evelyn bersorak
"Be...jangan lupa belajar yang giat ya nak...kan sebentar lagi kamu mau ujian nasional."
"Iya ayah...walau Bella gak janji bakal dapat nilai terbaik, tapi Bella tetap akan berusaha agar tidak mengecewakan ayah dan bunda."
"Be...itu cincin beli dimana?" pandangan bu Pertiwi beralih ke jari manis Bella yang sedari sibuk di pegang putrinya itu.
"Oh...ini bunda...ini beli di mall kemarin bareng Amanda. Ini imitasi kok bun."
"Kok bagus sekali ya...seperti asli ya..." Bu Pertiwi seperti sangsi pada ucapan putrinya.
"Kalau bunda mau, Bella belikan besok. Tapi kan bunda alergi barang imitasi"
"Kalau bisa sih ayah belikan yang asli..."sindir bu Pertiwi
"Kode tuh yah..."
"Bunda minta hadiah tuh yah..."
Pak Handoyo tertawa "iya iya...nanti ya...." jawabnya sembari merangkul istrinya dan mencium keningnya.
Bu pertiwi tersipu malu karena tingkah suaminya di depan kedua putrinya yang beranjak dewasa itu.
"Ayah so sweeeeeettttttt........"sorak evelyn
Bella hanya tersenyum, memikirkan apa yang akan dikatakannya bila bertemu Renno besok di sekolah.