CHAPTER 20

1128 Kata
Bella mendatangi penthouse Renno pada malam hari. Sudah di pikirnya matang matang selama dua hari ini, tentang ia dan Renno dan ia tau mesti bagaimana. Setelah beberapa kali menekan bel, namun tak kunjung ada jawaban. Apakah ia harus pulang saja dan memberika 'ini' pada Renno besok di sekolah saja? Tapi bukankah lebih cepat lebih baik? Bella dengan ragu menekan pasword penthouse Renno, 4 digit 'hari jadi mereka' kata Renno, berarti waktu ulang tahun Renno. Bella memasuki penthose mewah Renno, ia memutar pandangannya. Sepi, tak ada seorangpun. Sepertinya Renno tak ada disini. Ia pun meletakkan apa yang akan dia serahkan kepada Renno diatas meja depan sofa ruang tengah. Sebuah amplop coklat besar yang berisi surat surat penthouse Renno, ATM dan ia pun melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya. Tanpa menunggu si tuan rumah kembali, Bella langsung beranjak tanpa meninggalkan pesan apapun. *** Pagi yang cerah namun tidak dengan suasana hati Bella. Ingin sekali ia tidak berangkat ke sekolah hari ini, namun kewajiban tetaplah kewajiban. Dan sebagai seorang siswa, sudah menjadi kewajibannya untuk belajar. Bella memantapkan langkahnya memasuki gerbang sekolah, dan benar saja, orang yang sedang tak ingin di temuinya sedang menunggunya di samping gerbang sekolah. Pria tampan yang beberapa bulan ini mengisi hari nya dan sekarang mulai mengisi hatinya pula. Namun apakah bila tak ada kejadian tempo hari, pria itu akan mengungkapkan isi hatinya ataukah ini karena suatu yang terlanjur terjadi? Bella tidak ingin mengisi otaknya pagi pagi dengan banyak pertanyaan membingungkan seperti ini. Ia hanya berlalu di saat si pria tersenyum dan melambaikan tangannya. Berjalan setengah berlari menuju kelas tanpa menoleh sedikit pun. "Kamu lagi berantem sama Renno, Be?"  Amanda tersentak saat mendapati sahabatnya itu duduk sembari menghempaskan tas nya di meja. Terlihat Renno, si pria yang dimaksud hanya bisa berdiri di luar kelas. Sebenarnya tak hanya pada Renno Bella malas berbicara, namun dengan sahabatnya ini pula. "Ga.." jawabnya singkat Amanda sangat mengenal sahabatnya ini, walau kadang sangat judes namun Bella tetaplah bukan orang yang tega dengan orang lain. Amanda tersenyum kemudian merangkul pundak sahabatnya itu. "Sorry Be...aku tau aku salah..." Bella menoleh kearah Amanda sambil memanyunkan bibirnya. "Sydney yang ngerencanain double date. Sebenarnya sih maunya sama kamu dan Renno. Tapi berhubung Renno nya nolak akhirnya aku sama Fendy yang pergi...Sorry banget ya Be...aku gak ngomong dulu..." "Iya baweeeellllll...."Bella kemabli tersenyum, tak tega melihat wajah sahabatnya itu merasa bersalah. "Eh btw kemarin liburan sama Renno kemana aja? Katanya mau jelasin." Amanda kepo Bella terdiam sesaat, lalu ia tersenyum dan berbisik" rahasia" Amanda yang sudah di buat penasaran sedari kemarin merengut kecewa "Bellaaaa......." teriak Amanda yang di sauti tawa oleh Bella. Sepanjang jam pelajaran, tak hentinya Renno mengirimi pesan pada Bella namun tetap tak ada jawaban. Sudah dari terakhir kali Renno mengantarkan Bella beberapa hari yang lalu usai mereka liburan bersama, namun tak satupun pesan yang di balasnya. Bella me mode silent kan handphone nya agar tak terganggu selama pelajaran. Dan begitu bel istirahat pertama, Renno sudah berlari ke kelas Bella. 'Aku di depan kelas kamu' 'Ayo keluar' 'Kita bicara di kantin' 'Bella...please' Dan masih banyak pesan namun Bella tak membalasnya satupun. Dan berganti handphone Amanda yang berdering. "Hallo..." jawab Amanda "Man, bisa minta teman kamu keluar dari kelas" suara Renno dari seberang Amanda melirik Bella, dan yang dilirik melotot memberi kode menolak. "Sorry Ren... kali ini aku gak bisa bantu..."ucap Amanda sambil menutup panggilan Renno. Bella menghela nafas kasar. "Lain kali kaya gitu aja terus. Jangan jadi pengkhianat..." ucap Bella "Iya Be iya...." jawab Amanda sembari merangkul Bella. *** Bukan Renno namanya kalau menyerah, sepulang sekolah pun ia masih menunggu Bella di depan gerbang. Padahal Bella sudah mencoba menghindarinya seharian dengan menagcuhkannya dan pulang paling terakhir, namun tetap tak berhasil. "Aku ingin bicara Be..." Renno dengan mata menahan emosi, menarik tangan Bella dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya. "Aku gak mau Ren...please jangan maksa dong..." ucap Bella dengan nada datar. Namun yang di ajak bicara tak menghiraukan, memasang sabuk pengaman pada Bella dan dirinya sendiri, kemudian mulai menginjak pedal gas. Jalanan yang sudah mulai lenggang, memberikan akses Renno untuk mengebut. "Ren...hati hati Ren..." "Jangan ngebut ngebut Ren..." "Rennooooo" Namun tak di hiraukannya, Renno tetap menginjak gas mobilnya tanpa henti dan hampir menabrak kendaraan di depannya beberapa kali, membuat Bella panik ketakutan. Renno menghentikan mobilnya di tepi pantai yang sepi. Ia pun lansung meraih tengkuk Bella dan menciumi bibir ranum Bella dengan rakusnya, meluapkan kekesalan serta kerinduannya sedari kemarin pada gadisnya itu. Bella berusaha melepaskan ciuman Renno dengan mendorong Renno kuat, namun tenaganya kalah. Dirasa cukup melepas kerinduannya, Renno melepaskan ciumannya. Seketika tangis Bella pecah namun Renno hanya terdiam. Setelah di rasa dadanya mulai lega, Bella menghentikan tangisnya. Tanpa berbicara apapun pada Renno, Bella berniat pergi. Tapi saat ia akan membuka pintu mobil, ternyata masih dikunci oleh Renno. "Aku mau pulang Ren...biarin aku pulang Ren..." "Kamu kenapa sih Be?" Renno mulai berbicara "Aku cuma pengen pulang Ren" "Kamu nyuekkin aku beberapa hari ini, terakhir kali kita ketemu sepertinya semua baik baik saja..." "..." "Aku minta maaf Be...aku benar benar gak tau aku mesti gimana" Renno frustasi, ia menghentak hentakkan kepalanya ke bantalan jok mobilnya. "..." "Semalam kenapa kamu ke penthose aku gak bilang dulu? Dan kenapa cincin dan surat surat yang aku kasih malah di kembalikan lagi?" Bella tersenyum sinis. "Maaf Renno, saya bukan p*****r yang menerima bayaran saat melayani pelanggan" "Itu bukti aku serius sama kamu Bella" "Kita cuma anak anak Renno, dan yang terjadi diantara kita kemarin cuma kecelakaan..." "Apa kamu akan melupakannya begitu saja?" Bella terdiam, bagaimana ia bisa melupakannya begitu saja, sementara kesuciannya telah terenggut, walau tak dengan paksa. "Aku ingin kamu Bella, aku suka sama kamu, aku mencintai kamu Bella. Kalau kamu nyuruh aku buat nunggu beberapa bulan atau tahun lagi pun aku siap Be..." ucap Renno memohon sembari menggenggam kedua tangan Bella mata mereka bertemu, tak ada keraguan di mata Renno, ia begitu teguh. Bella menghempaskan genggaman tangan Renno, kemudian memalingkan pandangannya, tak ingin luluh pada tatapan maut Renno. "Maaf..." "Aku pikir kamu juga mencintai aku Bella, ternyata kebersamaan kita tak ada artinya untukmu." "..." Tak ada jawaban apapun dari Bella, ia hanya terdiam, entah keputusannya ini benar atau tidak, ia bimbang. "Kita pulang." ucap Renno, iapun menginjak pedal gas mobilnya dengan tenang. Renno mengantar Bella sampai ke rumahnya. "Bella, apa kita masih bisa bertemu?" "..." Renno tersenyum lalu mencium kening Bella "sampai ketemu lagi Be...." Iapun membuka kunci mobil agar Bella bisa keluar dari mobilnya. Bella pergi tanpa berkata apapun. *** Apakah ini akhir? Sebenarnya aku tak ingin mengakhiri hubungan ini dengan Renno, namun apa yang akan terjadi kalau aku melanjutkannya? Aku tidak ingin membuatnya merasa bersalah dan terpaksa bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada kami. Aku dan dia sama sama masih sekolah, perjalanan kami masih panjang. Dan aku harap ia bisa bertemu dengan wanita yang ia cintai nantinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN