Samar-samar Gibran mendengar suara orang menangis. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Dirana duduk di ranjang sambil menangis sesenggukkan. Wajah dan hidungnya merah, kedua tangannya memegangi tisu lalu menarik ingusnya panjang-panjang. Gibran terkejut mendapati istrinya kacau begitu. Dalam pikirannya cuma tertuju satu nama. Tante Lola. Jangan-jangan tantenya ke sini lagi dan mencari perkara sama istrinya. Selain tantenya yang selalu mencari masalah dengan Dirana, tidak ada lagi. Hanya Tante Lola yang menganggap Dirana musuh bebuyutannya. Sebelum dia benar-benar marah dan menarik Tante Lola ke rumahnya dan memaksa wanita itu meminta maaf kepada istrinya. Gibran mendekati Dirana, ia harus bertanya lebih dulu sebelum membuat keputusan. Ia agak sangsi sih kalau ini perbuatan Tante

