16. Tentang Intisari Kehidupan

1821 Kata
Terkadang, dunia ini terasa membingungkan. Tentang suka atau tidak suka pada orang lain, tidak semata-mata karena baik atau tidaknya orang tersebut. Seringkali, penyebabnya hanya sekedar perasaan subjektif yang tak dapat dijelaskan. (Alya Sasikirana) *** "Al, emangnya semalem ada tamu resto yang kamu kecewain ya?" "Hah? Kecewain gimana Pak? Engga sih kayaknya, semua request sudah saya okein, saya juga udah nyapa semua pengunjung resto sesuai arahan Pak Dirga. Emangnya ada apa ya Pak, kok Pak Dirga nanya gitu?" "Enggak Al, saya ini pengen proposed kamu dan Vita buat jadi Home Band di resto. Hasil survey kepuasan pelanggan sih hampir rata-rata 5 dari skala linkert 1-5 bahkan di semua angket. Cuma ada 1 angket yang isinya centang di skala 1 semua, saya jadi bingung. Di antara tamu-tamu itu, nggak ada yang musuh kamu kan? Hehehe" "Musuh? Yang bener aja Pak, hahaha. Masa iya sih tampang saya gini kayak anak suka berantem? Pak Dirga becandanya lucu deh," "Yah kan kali aja Al, ini 1 angket outlier rasanya kayak orang yang pengen neror banget deh. Dia isi skala 1 cuma di bagian Band malah, kalo di bagian resto dia isi 4 semua sih, aneh kan?" Alya termenung di balik ponsel yang masih lekat di telinganya. Sebuah kabar 'aneh' via telepon yang ia dapatkan dari Dirga Anugrah, Manager Resto The Sofia Boutique Hotel, tempat dirinya dan Vita menghibur para tamu lewat lantunan lagu-lagu sepanjang dinner weekend kemarin, sedikit membuat gadis itu bertanya-tanya. 'Siapa yang tega menilai penampilan musiknya dengan skala 1?' gumam Alya. "Al, halo?" "Eh, i-iya Pak Dirga, maaf, saya malah ngelamun, hehe" "Yaudah Al. Saya jadinya agak berat nih mau proposed band kamu ke management buat jadi home band kalo kayak gini. Next time saya kabarin ya Alya," "Iya Pak, nggak papa Pak Dirga, 2 hari kemarin dapet job di Sofia aja saya udah bersyukur banget kok. Oke Pak, ditunggu kabarnya, semoga kabar baik ya Pak," Keduanya memutus sambungan telepon. Alya masih resah. Berpikir apakah Putra masih menaruh amarah karena beberapa bulan ia mem-block nomor ponsel Putra setelah insiden Stubborn Music Studio itu? Hatinya berkata tidak mungkin. Gadis itu berpikir kembali, apakah Marsha tengah cemburu pada dirinya yang selalu menjadi pemeran vokalis pengganti untuk berduet dengan kekasih Marsha tadi malam? Tapi dari guratan wajah Gadis oriental itu, tak sedikitpun nampak ada rasa kesal pada Alya. Alya merasa, 'teroris' angket itu bukanlah Putra maupun Marsha. Lalu, siapa? Apakah Tante Erni? Yang tak lain adalah Bunda nya Putra? Alya berjalan menuju parkiran kampus. Kelas yang ia ikuti hari ini telah rampung, jadwal sorenya telah di reschedule akibat sang dosen sedang menguji sidang skripsi para kakak kelas Alya. Jadwal mengajar Les masih sekitar 3 jam lagi. Alya memilih pulang dan menunggu waktu berganti menjadi pukul 4 sore, sambil bersantai di rumah. Menenangkan suasana hatinya yang mendadak gelisah karena kabar dari Dirga. *** "Papi kok di rumah? bukannya mau ke Gresik kata mami?" tanya Alya yang terheran-heran dengan sang Ayah yang sedang bersantai di ruang tamu. "Batal Al, reschedule kata temen Papi, mungkin minggu depan jadinya," jawab Benny santai sambil asyik menata beberapa lidi kayu di dalam sebuah toples kaca kecil yang berisi air. Ruangan di rumah itu lalu dipenuhi semerbak wangi lavender yang bersumber dari pengharum ruangan yang ditata pria paruh baya tersebut. "Papi beli aromaterapi di Marks & Spencer?" Alya menatap benda kecil yang ditata Benny itu dari kejauhan sambil menyelidik sang Ayah penuh rasa penasaran. "Iya Al, tadi Papi dari Tunjungan Plaza, liat ini lagi promo, jadi Papi beli. Udah lama kan rumah kita ngga ada wangi lavender kaya waktu kamu kecil?" Benny masih sibuk menikmati suasana yang ia rindukan itu, tak sadar sang Putri tengah mengamat-amati perilakunya sembari melakukan sederet analisa. "Emang jadi berapa Pi harga promonya?" Alya berusaha tenang dan bertanya dengan lembut, nada suaranya yang sempat tinggi mendadak menurun. "149 ribu Al, diskon 70%, murah banget kan? Akhirnya Papi bisa menikmati aroma kemewahan ini lagi," tandas Benny santai. Ia berlalu dari meja tempat ia meletakkan aromaterapi tersebut, lantas menyalakan instrumen musik klasik dari pemutar lagu miliknya. Duduk di sofa ruang tamu sambil menikmati kesempurnaan senja. Alya menatap nanar sejenak. Pikiran liarnya mengembara tentang asal uang yang digunakan sang Ayah membeli benda 'tidak penting' itu. Harga yang diucapkan Benny, sungguh setimpal dengan uang yang diberikan Alya pada sang Ibu untuk keperluan transportasi pertemuan bisnis sang Ayah di Gresik. -- (flashback on) "Al, kamu ada 150 ribu nggak? Mami pinjam ya, buat ongkos transport Papi ke Gresik ketemu rekan bisnis. Nanti Mami ganti pas gajian," - "Iya Mi, aku ada. Nanti uangnya aku kasih Mami ya di rumah. Mami aja yang kasih ke Papi, biar Papi nggak sungkan sama aku," (flashback off) -- Bak disambar petir, Alya tak kuasa menahan pedih yang amat mengiris hatinya. Dugaannya memang belum terbukti, bahwa sang Ayah tega menghamburkan uang yang ia cari dengan susah payah dengan niatan terbaik untuk orang tuanya. Meski demikian, dugaan itu sangat beralasan. Ia masuk ke kamar dengan langkah seribu. Bersegera ingin membanting tubuhnya ke atas kasur, membenamkan wajahnya ke atas bantal, dan menangis tersedu. Gadis itu menyalurkan emosi dan energi negatif di dalam diri agar cepat berlalu dan tidak lagi mengusik dirinya. Betapa sedih hati Alya. Di tengah kedewasaan yang belum waktunya ia miliki di masa remaja, di masa teman-teman sebayanya masih sekadar menggantungkan keinginan diri kepada kedua orang tua. Ia malah mengalami situasi yang berbanding terbalik dengan mereka. Sang Ayah dengan sikap kekanak-kanakannya, seolah menimpakan kewajiban hidup kepada anak dan istrinya. Seperti biasanya. Setiap kali Alya tengah meratapi nasib, setiap kali itu pula Sang Pemilik Kehidupan memberikan pencerahan terkait intisari pembelajaran hidup pada gadis itu. Ia mulai membuka buku Diary miliknya, dan mengisinya dengan beberapa torehan tinta di atas lembaran kertas itu. -- Surabaya, 15 Juni 2008 Dear Luna, - Tuhan itu adil. Ia memberikan ujian pada manusia sebesar kelereng. Dan sebesar itu pula, Ia membekali hati yang kuat pada manusia untuk menanggungnya. - Jika itu disebut dengan kapasitas, Maka besarnya beban manusia adalah setara kapasitasnya. Jika itu disebut dengan keikhlasan, Maka besarnya cobaan hidup manusia adalah setara keikhlasan yang dimilikinya. - Dan tentang segalanya itu, tidak perlu diperbandingkan antara satu dengan lainnya. Tidak ada yang perlu diperdebatkan. - Setiap kekuatan hati, kapasitas, dan keikhlasan manusia, diberikan Tuhan sesuai dengan porsi ujian, beban, dan cobaan hidup masing-masing. -- *** Usai menangis dan menumpahkan isi hati dalam tulisan, gadis itu memang kerap kali tertidur. Alya tertidur di atas meja belajarnya di dalam kamar. Mendadak ia tersentak kaget dan tersadar dari lelapnya. Benar saja sudah pukul 3.15 sore. Alya segera mandi, bersiap, dan melajukan 'Amanda' menuju rumah salah satu murid les privatnya di daerah Kertajaya. "Horeeee mbak Alya udah dateng," ucap seorang gadis kecil kelas 4 SD yang bernama Tita. Gadis itu adalah murid les Alya yang telah menunggu-nunggu kehadiran sang teman belajar. "Maaf yah dek Tita, mbak Alya telat 10 menit datengnya, yuk kita belajar," ajak Alya membalas sambutan hangat murid kesayangannya itu. Alya dan Tita memulai aktivitasnya dari PR Matematika yang kemudian dilanjut dengan membuat rangkuman hafalan IPS dari sejarah kerajaan Hindu Budha di tanah air. Alya mulai merasa tak nyaman di tempat itu. Pasalnya, ada sepasang mata yang nampak terus mencuri pandang pada dirinya sejak ia datang. Tatapan seorang Pria paruh baya yang nampak 'haus' akan khayalan kisah dewasa. Entah mengapa, tatapan menuntut itu tertuju pada Alya. Sungguh meresahkan dan membuat sang gadis merasa jengah. "Alya minum teh anget dulu ya. Ini bukan teh biasa lho, ini Lo Han Kuo, bagus buat kesehatan. Kalo Alya panas dalam juga bisa minum ini. Nanti pas pulang, aku bawain 1 kotak ya buat diminum di rumah," ujar lelaki itu panjang lebar. Alya hanya membalas dengan senyum samar. "Iya, Makasih Pak," jawab Alya singkat. Agar tidak terjadi perbincangan lanjutan yang tidak ia harapkan. Pria itu adalah Gunawan. Ayah Tita yang bertugas di Sumatera, namun sedang pulang ke Surabaya. Gunawan berusia sekitar 42 tahun, berperawakan kekar, kulitnya putih seperti Tita, penampilannya 'necis' khas pengusaha. Setiap kali Gunawan sedang pulang ke Surabaya, ia selalu mengambil alih tugas Bik Marni yang selalu membuatkan teh manis hangat untuk Alya. "Diminum dulu dong Al, nanti keburu dingin teh nya. Aku kalo minum selalu pas lagi anget, jadi enak banget di badan, coba deh," Gunawan kembali buka suara pada gadis itu. Alya merasa sangat risih pada sikap genit Gunawan terhadapnya. Terutama di bagian pengucapan kata 'AKU' di setiap pembicaraan yang terlontar dari sang Pria. "Iya Pak, nanti saya minum, tenang aja. Makasih," tandas Alya sedikit ketus. Alya bolak-balik melihat jam dinding di rumah itu. Berharap waktu lekas berlalu, dan ia ingin segera hengkang dari rumah itu. Membebaskan diri dari pandangan m***m 'Om Gunawan' yang sejak tadi mengganggu dirinya. 'Huft, resiko orang cantik, eh gimana?' Alya bergumam dalam hati. Ia berpikir seandainya ada hijab yang lengkap dengan cadar di dalam tasnya, ia ingin sekali mengenakan barang itu saat ini juga. Waktu akhirnya bersahabat dengan Alya. Usai sudah sesi mengajar Tita hari ini. Secepat kilat Alya pamit pada Tita dan semua yang ada di rumah bergaya minimalis modern itu, termasuk pada Gunawan. Sesuai janji, Pria itu memberikan paper bag kecil berisi 1 kotak Lo Han Kuo untuk Alya. Alya menyambar tas itu dengan segera tak lupa mengucapkan terima kasih, lalu menghilang dari rumah itu. 'Fiuh. Gimana caranya aku bisa jadi jelek sebentar? Khusus 90 menit saat di rumah Tita dan hanya saat Ayahnya sedang di rumah, itu saja' gumam Alya di sepanjang jalan. Bukannya ia sok cantik, namun kadang posisi serba salah sering terjadi pada dirinya, bahkan meski disaat ia tidak dengan sengaja mempercantik diri sama sekali. Tak lama ponselnya berdering. Gadis itu meminggirkan motornya di tepi jalan. Melihat ponsel, khawatir ada telepon yang penting. Alya mendengkus, rupanya yang menelepon dirinya adalah kontak yang ia simpan dengan nama 'AYAHNYA TITA' Telepon itu mati, dan mulai menelepon lagi, lagi, dan lagi. Alya frustasi. Ingin me-reject, namun terasa tidak sopan. Ingin mem-block nomor, akan lebih terkesan makin semena-mena terhadap orang tua. Tak lama, ia mengecek sms yang masuk. Mendadak inbox ponselnya dipenuhi pesan dari orang yang sama, yakni Gunawan. Ada 7 pesan di ponselnya. 1. "Kamu makin cantik aja Alya, nggak kerasa ya udah 1 tahun aku nggak pulang ke Surabaya, kamu makin bersinar aja" 2. "Al, itu Lo Han Kuo nya tau cara buatnya nggak? Kalo bingung, kamu call aku ya, nanti aku ajarin caranya" 3. "Oh iya, itu bagus juga lho untuk orang tua. Kamu jangan lupa buatin buat papa mama kamu ya Al, salam dari aku buat mereka." 4. "Kok telepon aku nggak diangkat?" 5. "Alya, kamu marah?" 6. "Oh iya, tadi kamu belum cerita, enak nggak teh buatan aku?" 7. "Halo Alya Cantik, angkat dong telp aku" Alya menghela nafas kasar. Mengelus d**a sembari membatin 'Astaga, amit-amit jabang bayi. Ada ya bapak-bapak model begini? Semoga aja papi nggak kayak gini di luar sana meskipun orangnya agak nyebelin, hiks.' Telepon berdering lagi, Alya memilih hanya mengabaikan saja, entah sampai kapan ia kuat menghadapi tingkah 'abg tua' itu. Ia berharap Gunawan yang akan lelah mengganggu Alya namun terabaikan, lalu menyerah dengan sendirinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN