15. Romantika Para Senior

1922 Kata
"Terkadang datang suatu waktu yang mempertemukan kita dengan seseorang, dalam sebuah cara dan situasi yang tidak pernah disangka-sangka sama sekali. Dan tidak sehelai pun daun dapat jatuh tanpa seijin Sang Pencipta, demikian pula pertemuan kita" (Alya Sasikirana) -- Dalam putaran melodi intro yang ketiga oleh sang kibordis, Vita, akhirnya Alya pun melantunkan suara merdu miliknya di depan mic yang ia genggam. Lagu-lagu legendaris pilihan memang menjadi tema malam itu. Mengiringi makan malam syahdu di resto The Sofia Boutique Hotel. Sesuai arahan Dirga, sang manajer resto, setelah lagu western, maka Alya dan Vita akan mengkombinasikan dengan lagu Indonesia. Dan setelah I'll be over you yang baru mereka rampungkan, lagu berikutnya adalah... -- Pertama kali berjumpa Denganmu kekasihku Dunia seolah kan runtuh Makanpun tak enak Tidurku pun tiada nyenyak Selalu teringat oh dirimu Inikah oh namanya Insan sedang jatuh cinta Mengapa semua begitu indah dilihat Begitu sedap dipandang Seolah kuingin selalu tersenyum Tapi ah aku malu Padamu Aku malu... Aku malu... Aku malu... pada dirimu Aku malu... Aku malu... Aku malu... -- Lagu Prahara Cinta yang Alya nyanyikan seolah menjadi curahan isi hati sang gadis pada Putra. Abhivandya Putra Nenggala. Lelaki yang telah mencium lembut bibirnya di tengah suasana syahdu studio musik milik sang lelaki kala itu, lelaki yang sempat ia hindari beberapa waktu akibat kejadian yang sangat membekas di hati Alya itu, lelaki yang sama kini tengah menatap dirinya yang sedang menjadi biduan di malam itu. "Astaga, ini Putra ya Jeung Erni?" ucap seorang tamu resto, yang merupakan salah satu rekan satu angkatan sang suami, Nenggala Adiwena, di SMA Pelita Cipta angkatan 1982. Erni dengan bangga memperkenalkan kembali putra semata wayangnya yang telah beranjak dewasa itu pada beberapa orang di acara tersebut. "Iya Jeung, ini Putra, yang dulu masih segini," jawab Erni basa-basi sambil memperagakan tinggi badan Putra yang dulu masih setara pundaknya. "Sekarang udah gede, nggak berasa, udah mau jadi mantunya dokter Citra Dwima, kalo berjodoh, hehehe." Erni seolah menjadi pembicara di tengah pertemuan, dan Putra sibuk berjalan kesana kemari sambil menjabat tangan orang-orang tua itu satu-persatu dengan takzim. Sungguh cerminan anak berbakti kebanggaan Gala dan Erni. Di sudut lain, Marsha yang baru saja hadir bersama ibunya, sadar bahwa Alya yang menjadi vokalis home band resto tersebut. Gadis itu lantas melambaikan tangan dan tersenyum pada Alya. Akhirnya Alya yang semenjak tadi bersikap kaku karena keberadaan Putra, perlahan mencair. Senyum ramah mulai tersungging di bibir sang gadis jelita. Alya membalas lambaian tangan Marsha. Sungguh, jika memang Alya memendam rasa pada kekasih Marsha, semestinya hubungan di antara mereka adalah bagaikan rival. Namun berbeda dengan mereka, kedua gadis yang bahkan tidak pernah satu alumni semasa sekolah itu, justru saling bertegur sapa dan mendukung satu sama lain. Tidak ada sebersit pun rasa dan aura permusuhan di antara mereka. "Selamat malam para tamu hotel yang kami hormati, selamat malam juga untuk ayah dan bunda kami dari alumni SMA Pelita Cipta angkatan 1982 yang telah hadir, selamat menikmati santapan makan malam bersama orang-orang tercinta. Malam ini adalah malam yang secara khusus telah kami persiapkan, sederet tembang-tembang nostalgia yang akan menemani Anda semua hingga pukul 21.00 mendatang. Salam hangat dari kami, The Sofia Boutique Hotel, a hommie place and pleasure for us." Dengan lancar dan tegas, Alya menyapa seeluruh tamu resto dengan sapaan khas yang script nya telah dibakukan oleh pihak manajemen hotel. Bak mendapat pancaran energi dari sapaan hangat Marsha, Alya lalu memgalirkan kembali energi yang sama kepada semua orang. Sejenak, ia melupakan rasa 'awkward' yang ia alami oleh sebab kehadiran Putra. "Mbak, boleh nge-jam nggak?" mendadak Erni Rifai memotong melodi intro musik yang telah dimainkan Vita untuk lagu selanjutnya. Alya dengan sigap dan komunikatif, segera menanggapi. "Oh, boleh tante, silahkan," jawab gadis itu. Ia tahu betul, siapa yang sedang bicara padanya. Tatapan sinis wanita paruh baya tersebut terhadapnya, tidak pernah berubah sejak Alya dan Putra masih sekolah di SMA yang sama. Erni kemudian memberi kode pada sang jagoan untuk segera tampil ke panggung bersama Marsha, sesuai request yang telah jauh-jauh hari ia sampaikan. Suasana hati Alya mendadak kembali tak kondusif. Pertama, karena ada 2 orang yang maju ke stage. Hal itu otomatis mengisyaratkan bahwa dirinya tak punya tempat lagi di panggung itu. Kedua, akibat tatapan dan nada bicara sinis dari Erni Rifai, ibu dari lelaki yang membuat hati Alya kalang kabut sejak beberapa waktu lalu. Dan terakhir, karena Putra dan Marsha tampak serasi. Setelah berkomunikasi dengan Vita terkait judul lagu dan nada dasar, mereka mulai berduet dengan mesra. Lagu yang dipilihpun lagu yang lumayan unik dengan nuansa romantis. Lagu duet antara Glenn Fredly dan Amy Matsura bertajuk Dengarkanlah. Seberkas rasa nelangsa hadir di sudut hati Alya di antara situasi malam itu. Manusia memang piawai menampakkan kesan yang mendarat sempurna dalam pandangan orang lain. Demikian pula Putra dan Marsha yang nampak 'couple goals' di depan para tamu resto, tak terkecuali Alya. Gadis itu menatap nanar pada sepasang muda mudi yang tengah menggantikan perannya menyanyi malam itu, sepintas berharap ada cerita cinta yang indah juga untuk dirinya. Tiba-tiba ponsel Marsha berdering saat sedang jeda melodi menjelang reff penutup. Mungkin telepon dari orang yang sangat penting, hingga sang gadis spontan mengangkat teleponnya sembari turun panggung dan berjalan menjauhi keramaian. Keluar dari resto itu. Beberapa orang melongo melihat sikap abai Marsha. Putra lantas memberi kode pada Alya untuk menemaninya berduet di atas panggung. Lagi-lagi, Alya menjadi pemeran pengganti Marsha atas permintaan Putra. Di hadapan publik, profesionalisme menuntut Alya sigap melayani tamu resto dengan baik. Putra, kala itu ia pandang sebagai tamu resto, bukan sebagai seseorang yang telah menggores luka di satu sisi hatinya. -- Dengarkanlah bicara cintaku Aku ingin selalu disisimu Dengarkanlah bicara rinduku Pinta hati ini yang ingin bersamamu... Selamanya... -- Alunan penutup yang dimainkan Vita sontak disempurnakan dengan riuh gemuruh tepuk tangan dari para tamu alumni SMA Pelita Cipta dan beberapa tamu resto lainnya. Entah kenapa warna suara Alya dan Putra lebih nyaring terdengar ketimbang perpaduan Putra dan Marsha. Atau, chemistry bertema kerinduan yang terpendam antara Alya dan Putra turut dirasakan oleh para pendengar mereka? Entahlah. "Lagiiiii!" pinta seorang wanita paruh baya yang duduk di ujung ruangan resto. "Lagunya Ahmad Dhani dong! Yang duet sama Agnez Monica!" pintanya lagi. Ia adalah Anggraeni, salah seorang pengusaha Batik terkemuka di Surabaya. Tentu, ia juga salah satu alumni Pelita Cipta. Belum sempat Alya dan Putra menjawab sepatah kata pun, Vita terlalu inisiatif untuk gerak cepat. Melodi intro lagu bertajuk Cinta Mati gubahan Ahmad Dhani seketika berkumandang di ruang itu. Alya dan Putra mengikuti alur Vita dan menanggapi dengan nyanyian. Duet itu terasa begitu 'hidup' dan menjiwai, apalagi di bagian lirik "bagaimana caranya untuk, agar kau mengerti bahwa aku rindu?" seolah menggambarkan isi hati keduanya. *** "Halo, iya mas, ada apa?" tanya Marsha pada seseorang yang meneleponnya. Telepon dari seseorang yang sampai membuatnya meninggalkan Putra di atas panggung tanpa dirinya. Kini, Marsha tinggal mempersiapkan jawaban yang masuk akal untuk Putra dan sang Ibu atas 'aksi turun panggung dadakan' yang ia lakukan. "Sha, kamu di Sofia?" "Iya Mas, kok tau? Mas Raka dimana?" Marsha dan seorang pria yang bicara via telepon dengannya, yang rupanya adalah Raka, saling membuka perbincangan dengan bertanya satu sama lain. "Hei, coba deh kamu balik badan. Aku di belakang kamu, Sha" kata Raka, dalam keadaan keduanya masih memegang ponsel. Pria santun dengan kesan terpelajar itu melambaikan tangan pada sang gadis. Marsha menutup mulut seolah tak percaya bahwa dirinya bertemu lagi dengan sosok itu. Sosok yang ia kagumi sejak SMP. Sang kakak kelas idola, Arjuna Raka Pramahesa. "Ma-mas Raka...? Aku beneran ketemu Mas Raka...?" mata terkejut Marsha berbinar, hingga terlihat rancu antara senang atau haru. Raka memajukan langkahnya mendekati gadis di hadapannya. Mengusap rambut sang gadis dengan sorot mata penuh kasih sayang. Seolah membalas suara hati Marsha dengan sebuah kalimat 'Kenapa Sha? kamu kangen aku? iya sama, aku juga rindu. Rindu sekali' Mereka saling memandang dengan tatapan penuh isyarat yang tak terucapkan. Di depan pintu toilet The Sofia Boutique Hotel, sepasang senior dan junior semasa sekolah dulu, bertemu lagi. "Tadi di parkiran, aku liat ada mobil kamu. Kamu kesini sama siapa, Sha? Jangan bilang kamu ikut mama kamu ke acara rapat reuni!" cerocos Raka, sembari menepok jidatnya sendiri. Ia baru sadar, ibu gadis itu satu sekolah dan satu angkatan dengan sang Ayah. "Aduh," kata sang pria ketika menyadari tepukan dahi itu cukup keras bagi dirinya sendiri. Marsha tertawa. Raka menyusul tawa gadis itu. Mereka tertawa bersamaan. "Mas Raka, astaga. Bikin gemes aja, cubit nih," canda Marsha. "Iya mas, aku kesini sama mama, dan bener banget aku ke acara orang-orang tua itu. Jadi, kita ke acara yang sama?" , "Exactly. You are right, Dear. Ok, yuk ke resto bareng aku," Raka membuka lengannya sedikit melebar, tanda siap menggandeng sang gadis. "Mas, please. Jangan mulai ngaco deh. Aduuuhhh, huhuhuhu..." jawab Marsha merengek manja. "Hahahaha, yaudah sana kamu duluan. Ntar aku itung 30 detik, baru aku masuk," Raka tersenyum menggoda. Marsha malu-malu. "Jangan 30 detik maaaasss, 30 menit deh," canda Marsha membalas. "Keburu bubar, Sha. Itu namanya aku kesini jemput kamu, eh jemput Ayah aku maksudnya." Marsha tak menggubris, hanya merespon dengan senyum yang tak dapat diartikan. Ia melangkah masuk ke resto dan siap mengubah ekspresi, lengkap dengan sebuah alasan jika siapapun bertanya mengapa dirinya mendadak meninggalkan Putra di atas panggung. *** "Mana istri-istrimu, Arya? Kau ini, lagaknya seperti masih bujang saja datang sendirian," sindir Gala pada sang mantan teman sekelasnya, Arya. Pria paruh baya yang nampak sangat awet muda itu tak bergeming. Hanya tersenyum samar, ia nampak tak menghiraukan lawan bicaranya sambil tetap berusaha menikmati lagu yang dibawakan Alya dan Putra. "Atau... kau memang sengaja ingin coba-coba CLBK dengan Erni? Jangan harap itu terjadi. Mentang-mentang ketampananmu tidak memudar, jangan sekali-kali berpikir untuk menggoda istriku," Gala melanjutkan ceracaunya yang makin tak karuan. Arya tertawa kecil. "Ada apa kau ini, Gala? Kekanak-kanakan sekali. Jangan suka berprasangka buruk, itu merugikan dirimu sendiri. Istri-istriku sedang berhalangan untuk datang. Anakku, Raka, yang akan bergabung sebentar lagi. Ia masih ada kelas untuk diajar sebagai asisten dosen," jawab Arya tenang. "Lagipula, aku dan Erni dulu hanya cinta monyet saja kan. Tidak sedalam hubungan Erni dengan Benny. Hahaha, maafkan aku Gala, aku hanya bercanda," Arya menutup ucapannya. Takut membuat temannya itu terbawa nostalgia luka lama. Dan, benar saja Gala tak menanggapi perkataan Arya. Raut mukanya berubah seketika. Situasi kala itu benar-benar beraneka ragam. Erni kecewa bukan main akibat Putra yang gagal berduet dengan Marsha, malah dengan gadis yang ia benci. Gadis cantik dan baik hati, yang bagi Putra, sang ibu membenci Alya tanpa alasan. Dugaan sementara Putra adalah karena Alya bukan anak pejabat atau orang terkenal seperti Dr Citra Dwima, ibunya Marsha. Meski alasan sebenarnya, hanya Erni semata yang paham. Di sisi lain, hati Nenggala - ayah Putra, memanas karena Arya - ayah Raka, membuatnya mengingat kejadian masa lalu yang tidak mengenakkan tentang dilema kisah cinta dirinya dan Erni. Sebuah kisah yang masih menyimpan misteri hingga saat ini. Acara rapat yang akhirnya dipimpin oleh Anggraeni, sang pengusaha batik, berlangsung khidmat. Namun tidak dengan Gala. Ia beberapa kali melamun saat ditanyai oleh rekan-rekannya terkait usulan acara. Seperti ada hal teramat penting yang mengganjal di hatinya. Rahasia yang besar di balik sejarah romantika para senior. Sedang para remaja, yaitu Alya, Putra, Marsha, dan Raka. Mereka adalah generasi junior yang sedang aktif merangkai kisah-kasih asmara masa muda. Kelak, cerita mereka pun akan menjadi sejarah. Entah sejarah yang kelam dan menyakitkan, ataukah sejarah yang menyenangkan untuk dikenang. *** Author's Note : Fiuhhh, akhirnya published juga episode 15 ku :) Makasih ya buat yang udah japri di WA, yang pada nunggu2 kelanjutan cerita ini. Komenin dong, biar aku bisa semangat buat lanjutin kisahnya buru-buru. Hehehe, see you next episode dear readers! sehat-sehat yaaa kalian semua ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN