4. Ulang Tahun Yurissa Anjani

1593 Kata
"Dewa... Tunggu!" "Aku sudah pernah bilang kan Dinda? Apa yang aku bilang waktu SMA, masih sama dengan jawabanku hari ini." "Iya Dewa, tapi alasannya apa?" Pemuda itu menatap tegas seorang gadis yang sejak tadi memaksanya bicara. "Karena aku nggak mau pacaran." Nada suara Dewa melembut. Tuturnya pun terdengar halus seperti biasanya, namun pesan itu tersampaikan sangat lugas. Dewa berlalu meninggalkan sang gadis di dalam ruang kelas kampus. "Dewa... baca dulu suratku di kantong depan tas kamu! Semoga kamu berubah pikiran!" Gadis bernama Dinda itu bersikukuh. Bicaranya setengah berteriak dari kejauhan. Dinda menghela nafas panjang dan terduduk di salah satu bangku kelas sambil merenung. Di atas motor Honda Supra milik Dewa, pemuda itu merogoh tas nya. Ia menemukan sepucuk kertas yang dimaksud oleh Dinda. Perlahan Dewa membuka dan membaca surat itu. Ia hening. Menelaah kata demi kata yang terangkai di dalamnya. -- Dear Dewangga Pramudya, - Kelas 2 SMA semester 1, saat pesta kelulusan, dan semester 3 di kampus ini. Sulit rasanya bagiku menepis opini bahwa kita tidak berjodoh. 3 Tahun di SMA kita selalu berada di kelas yang sama. Meski setiap tahun selalu ada rotasi daftar siswa di setiap kenaikan kelasnya, entah demi apa kita selalu bertemu. Saat ini pun, di Jurusan S1 Manajemen Universitas Mahisa Cempaka, kita pun berada di kelas yang sama. Dewa, pertanyaanku masih sama. Untuk ketiga kalinya aku ingin bertanya. Bisakah kita menjalin hubungan yang lebih spesial dari sekedar teman? Bukankah kita sama-sama suka membaca? Bukankah kita sama-sama suka belajar? Bukankah di setiap hasil ujian, nilai kita selalu setara? Masih kurangkah semua pertanda ini buatmu? Baru 10 hari Ayahku meninggal, Dewa. Terima kasih kamu sudah datang memberi semangat untukku, meski beramai-ramai dengan teman lainnya. Tahukah kamu bahwa perasaanku amat buruk saat ini? Aku kehilangan semangatku meniti waktu. Aku butuh kamu, Dewa. Aku harap kamu mau menerimaku walau hanya sebatas berbelas kasih semata. Salam, Adinda Mayangsari -- Tangan Dewa mengepal hingga surat itu kusut sempurna dalam genggamannya. Telapak itu sedikit gemetar. Netranya mengkristal. Ia terenyuh membaca tulisan penuh kalimat nelangsa itu. Apakah aku sejahat itu? Ia bertanya pada dirinya sendiri. Hatinya dilema. Haruskah ia patahkan janji diri untuk tidak berpacaran selama masa remaja? Pikirannya mulai keruh. Haruskah Dinda, seorang yang tidak lebih dari sekadar teman bagi Dewa, menempati posisi sebagai pacar pertamanya? Tanya demi tanya berkejaran di otak pemuda itu. Hanya butuh waktu 3 menit, emosi mendayu Dewa kembali normal. Ia membuang kertas itu ke tempat sampah parkiran motor. Ia merasa tidak ada yang perlu diubah dari keputusannya. Tak ingin memaksa hatinya hanya karena sebuah welas asih. Itu hanya akan melukai keduanya, pikirnya. Pria itu bergegas meninggalkan kampus tercinta. Universitas Negeri yang paling dibanggakan di kota itu. Universitas Mahisa Cempaka (UMC). Siang itu, sang pemuda mengarahkan motornya ke sebuah pusat perbelanjaan khusus gadget dan elektronik. Plaza Marina Surabaya. Ia akan membeli sebuah Mouse untuk laptop, lengkap dengan mouse pad nya untuk kakak tersayangnya. Kakak satu-satunya itu sedang berulang tahun ke 25 hari ini. - - "Dinda..." Seorang gadis yang tak sengaja melewati ruang kelas di mana kejadian miris Dewa dan Dinda terjadi, nampak setengah berlari menghampiri sang pejuang cinta. Sejak Dewa meninggalkannya dengan penolakan 30 menit yang lalu, Dinda memang belum beranjak dari kursi kelas itu. Gadis itu bersegera menyeka wajah basahnya dengan kedua tangan. Perempuan yang tengah menghampirinya, yang ternyata adalah Alya, tanpa ragu memeluk Dinda untuk meredam kesedihan gadis itu. Meski Alya tak paham gerangan apa yang membuat teman sejak SMA nya itu menangis, Alya tetap berusaha menenangkan Dinda. Alya tahu, seperti apa rasanya tak mampu menahan lara yang menyesak di d**a hingga membuahkan linangan air mata. Perasaan itu, perasaan yang ia hadapi saat nasib buruk menimpa kedua orang tuanya bertubi-tubi sampai menghasilkan berbagai dampak pada dirinya itu, masih terasa menyakitkan untuk dikenang. Seperti sayatan luka yang masih amat basah. "Jangan ditahan Dinda, nangis aja. Nggak apa-apa luapin aja. Kamu orang yang kuat, Din. Aku pun nggak kebayang kalo ada ayah atau ibuku ninggalin aku untuk selama-lamanya, kaya yang kamu alami. Nangis aja Dinda. Abis ini duniamu akan terasa lebih baik," Alya mengira tangisan Dinda sepenuhnya karena kewafatan sang Ayah. Tidak terpikir sedikitpun, bahwa air mata itu, setengahnya untuk Dewa. Lelaki kalem yang berkenalan dengannya di sebuah sore hari yang cerah kala itu. Dinda meringis. Kisah dramanya telah usai. Ia menyapa Alya dengan berusaha tampak se-ceria-itu. "Nggak apa-apa kok Al, aku udah ikhlas Bapak meninggal. Makasih ya Al udah hibur aku. Kamu cantik begini mau kemana? Tumbenan pake make up," Dinda mengalihkan topik obrolan ke arah Alya. Tak biasanya Alya berdandan sedikit tebal jika hanya untuk mengikuti mata kuliah di kampus. "Oh, ini, he he he, biasa Din, ada manggung abis ini," jawab Alya. Dinda mengangguk paham. Sejak SMA memang Alya sering mengisi pentas seni atau malam keakraban sekolah dengan kelompok musiknya. Dinda pun selalu suka mendengar nyanyian Alya. Suara serak basah namun melengking itu terdengar manja dan amat nyaring. Lagu apapun serasa cocok dinyanyikan Alya, asal bukan genre rock metal saja. "Oh iya Din. Nanti kamu ikut kelasnya Pak Eri nggak?" "Ikut. Nanti sore kan? Ada tugas individu lho. Kamu udah?" "Nah, itu dia Din. He he he. Boleh nggak, aku cari inspirasi bentar dari punyamu?" rayu Alya pada sang teman seangkatan. Kerajinan dan kepandaian Adinda Mayangsari memang sudah menjadi rahasia umum. Sejak SMA, ia selalu berprestasi. Meski Dewa juga rajin dan pandai seperti Dinda, namun Dewa bukan tipe siswa yang supel dan suka show off akan kepintarannya. Tidak seperti Dinda. "Ha ha ha, luluh deh aku kena rayuan maut sang biduan," Dinda menanggapi permintaan Alya seraya memberikan kertas folio bergaris yang penuh dengan tulisan tangannya. Tugas mata kuliah Analisis Laporan Keuangan milik Dinda itu, secepat kilat ditulis ulang oleh Alya di kertas kosong miliknya. Bukan karena Alya sebodoh itu sampai tak mampu mengerjakan tugas kuliah, tetapi terpaksa karena kurangnya waktu dan kesempatan untuk berpikir dan mengerjakan segala kewajibannya yang kompleks itu. - - Di resto kantor BUMN PT Nusantara Selular -- "Maafkan aku bila... Aku ada rahasia, bukan denganmu. Maafkan aku bila... Aku ada rahasia, oh mungkin dengannya. Siapa bilang, jadi setia, pastilah tahan ka...lau digoda? Siapa bilang, jadi setia, oh terkadang aku tak bisa..." -- Siang itu Alya tampil menarik bersama grup akustik bernama "Open Mind" yang mengiringi suara emasnya kali ini. Lagu Ten2Five berjudul Aku Ada Rahasia, menjadi pilihan lagu pembuka Band itu. Ia memang vokalis pengganti. Alya menggantikan Marsha yang tengah opname di Rumah Sakit. Putra, group leader di band itu, memilih Marsha karena selain warna suara yang jazzy, juga karena kulit dan wajah oriental Marsha yang terlihat "menyala" di kantor BUMN itu. Membuat penampilan mereka mudah dilirik siapa saja yang tengah makan siang di resto tersebut. "Ini yang nyanyi beda ama yang biasanya ya Sa? Tapi menurut aku sih suaranya enakan ini, lebih ringan dan nyaring," komentar Neli pada rekan sejawatnya, Risa. Sementara Neli terus mengajak Risa ngobrol, beberapa teman sesama karyawan lainnya mulai melakukan gelagat mencurigakan. Neli menerima kode demi kode dari teman-temannya untuk terus mengalihkan perhatian Risa dengan obrolan. Rupanya hari ini adalah hari ulang tahun Risa yang ke 25 tahun. Teman-temannya sibuk menyusun kejutan dengan sebuah kue tart bertuliskan "Happy Birthday Risa" dengan lilin berangka 25 itu. Tidak terkecuali Alya dan seluruh personil band "Open Mind" yang juga terlibat dalam rencana itu. Sesaat lagi mereka akan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dari Jamrud secara LIVE untuk Wanita manis yang tengah berulang tahun. "Setiap manusia pasti akan menua pada waktunya. Namun sahabat terbaik, akan selalu ada bersama kita tanpa memandang usia. Selamat Ulang Tahun untuk mbak Yurissa Anjani yang ke 25. Seluruh sahabat berharap umur panjang dan kebahagiaan yang sempurna untukmu," ucap Alya disusul melodi lagu Jamrud itu. Teman-teman Risa berbondong menghampiri Risa dan Neli sambil memakai atribut topi ulang tahun dan rumbai-rumbai di leher mereka. Dengan kue ulang tahun yang lilinnya menyala, mereka meminta Risa untuk meniup lilin itu. -- "Semoga Tuhan... Melindungi kamu. Serta tercapai semua angan dan cita-citamu. Mudah-mudahan, di b'ri umur panjang. Sehat selama-lamanya..." -- Suara Alya ditemani seluruh orang yang ikut menyanyi di resto itu karena terbawa suasana meriah. Mereka larut dalam tawa kegembiraan dan sorak sorai tepuk tangan. Yurissa Anjani terlihat amat bahagia siang itu. Satu per satu rekan kerja Risa menyalami wanita itu sembari mengucapkan doa terbaik untuknya. "Selamat ulang tahun Mbak Risa" Alya, Putra, dan seluruh pemain band ikut memberi selamat. Lagu itu adalah lagu pamungkas di sesi makan siang hari ini. Risa yang termasuk wanita supel dan ramah, menyambut hangat ucapan para personil. Di tempat lain, seorang pemuda tengah berusaha membungkus kado untuk Risa. "Sudah beli kado buat mbak Risa, Dik?" ucap wanita paruh baya di sambungan teleponnya pada si anak bungsu. "Sudah bu, ini lagi dibungkus. Bapak sama ibu sudah sampai mana?" pemuda itu balik bertanya pada sang Ibu. "Sudah keluar tol Pandaan. Ibu sudah bawa masakan kesukaan mbakmu. Doakan mbakmu segera mendapat jodoh ya, Dik. Umur mbak Risa sudah pas 25 tahun," "Amin. Ya sudah sampai ketemu di rumah, Bapak dan Ibu hati-hati di jalan ya," Pemuda yang tak lain adalah Dewangga Pramudya itu menutup telepon dari sang Ibu. Semenjak Dewa masuk kuliah, semenjak itu pula sang Ayah pensiun dari BUMN yang sama dengan tempat kerja Yurissa Anjani. Kedua paruh baya itu pun melanjutkan hidupnya di kota Malang, yang tak jauh dari Surabaya. Kedua putra dan putri mereka yang telah dewasa, mulai dibiasakan hidup mandiri di Surabaya tanpa kehadiran sang ayah bunda. Berada di Malang, membuat sepasang suami istri senja itu bisa fokus mengelola kebun apel peninggalan keluarga besar sang kepala keluarga. Orang tua Risa dan Dewa itu, tampaknya cukup berhasil membesarkan kedua anak mereka dengan baik. Anak-anak cerdas yang berbudi pekerti luhur bernama Yurissa Anjani dan Dewangga Pramudya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN