5. Gejolak Jiwa Remaja Part 1

1316 Kata
"Di atas bumi ini... ku berpijak. Pada jiwa yang tenang, di hariku. Tak pernah ada duka... yang terlintas. KU BAHAGIA !" -- Tembang penuh semangat gubahan Melly Goeslaw bertajuk Ku Bahagia itu mengangkat euforia pagi Alya yang penuh semangat. Pagi ini ia tengah sibuk dengan sederet rencana yang telah ia susun sejak tadi malam. Kamis memang hari yang penuh jadwal bagi Alya. Pagi ini jadwalnya dengan Fikri-murid lesnya, telah dimajukan di hari Rabu kemarin. Hari ini, siswa kelas 5 SD yang selama 1 tahun penuh mendapat jadwal sekolah masuk siang itu, akan menjalani ulangan harian Matematika. Alya pun sejak kemarin telah membantu sang pria kecil untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian. 3 mata kuliah akan Alya jabani hari ini. Ditambah, selepas petang akan ada 1 jadwal mengajar privat siswinya di daerah yang tak begitu jauh dari kampusnya berada. Ia dan Martha akan berangkat bersama pagi ini. Tak seperti biasanya, kali ini mereka akan pergi ke kampus dengan motor yang baru dibeli Alya dengan cara mencicil lewat sebuah perusahaan pembiayaan, Yamaha mio. Meski di antara seluruh varian motor matic tersebut, Alya memilih tipe yang paling murah karena terkendala dengan kemampuan finansial. Motor itu baru datang kemarin sore. Petugas dealer mengantarnya hari Rabu, sesaat sebelum matahari terbenam di ufuk barat. Ditemani cahaya temaram itu, Alya bersorak gembira bak sedang kedatangan tamu yang telah lama ia rindukan. Alya tidak menyangka pengajuan kreditnya disetujui. Pasalnya, seluruh job serabutan yang ia kerjakan selama ini, berstatus paruh waktu. Berbekal slip gaji dan surat keterangan bekerja dari agency yang dikelola oleh Rina, ia lolos mendapatkan ijin mencicil motor baru impiannya. Demi merayakan kehadiran moda transportasi roda dua yang langsung diberi nama AMANDA oleh Alya itu, sepasang sahabat berencana menyusuri jalanan panjang menuju kampus bersama-sama. Pagi itu Martha menunggu dengan riang, ia selalu menjadi sosok yang turut merasakan apapun emosi yang dialami sang teman karib. Alya berdendang lagu demi lagu di album lawas OST Film Ada Apa Dengan Cinta mengiringi persiapan hari yang spesial. Tatanan curly di bagian bawah rambut panjangnya telah usai terbentuk sempurna dengan catok andalan. Kini tinggal memoles tipis wajah ayunya dengan beberapa riasan natural. Dress dengan lengan tujuh perdelapan sepanjang lutut bermotif bunga dan beberapa aksen renda di bagian d**a itu, telah terpakai dengan cantik di tubuh semampai sang gadis. Seluruh tatanan diri telah usai. Alya keluar dari kamarnya hendak mengisi ulang botol air minum yang akan ia bawa dalam tas menuju kampus. Mendadak ada pemandangan mencurigakan yang ditangkap kedua netra hitam miliknya. Alya melihat sang ayah berbuat serupa dengannya. Seperti melakukan sebuah persiapan panjang yang sama-sama spesial. "Eh anak mami udah rapih... pagi ini dijemput Martha atau bareng Widya Al?" sapa Indah - Ibunya. Deg. Mendengar kalimat itu, sontak jantung Alya seolah terjun beberapa centimeter dari posisi yang semestinya. Ia merasa rencananya telah ditikung oleh sang ayah. "Maksud mami apa?" tanya Alya menegang. Ia mencoba berkonfrontasi dengan ibunya, mengonfirmasi seluruh pertanyaan sang ibu. Aroma parfum Bvlgari Black Benny mulai tercium memenuhi ruangan utama rumah itu. Kecurigaan Alya sudah mencapai titik puncak. "Papi kamu mau ada urusan bisnis Al, ada janji ketemu orang. Doain aja ya Al, semoga ada titik cerah kali ini," ujar Indah dengan nada mengayun, ia mencoba menetralisir suasana hati putrinya yang mendadak tampak buruk. "Terus? Mau pake motorku?" Alya makin to the point. Mendesak sang ibu dengan pertanyaan penuh tuntutan. "Ya kan nggak enak Al, kalo pake motor butut Mami... itu kan juga buat bahan penunjang kredibilitas Papi di depan calon rekan bisnisnya," jawab Indah dengan harapan Alya mau mengerti posisi sang Ayah. Bak petir yang tetiba menyambar tanpa adanya hujan. Seluruh harapan Alya runtuh bagai daun-daun yang rontok dalam sekali hembusan angin. "Mi... bukan cuma Papi Mi yang punya rencana. Aku juga punya! Mi... ini juga bukan sekali dua kali Papi gagal kerja sama bisnis sama orang. Gimana nggak gagal kalo apa-apa selalu disikapi dengan emosi sama papi!" Alya bicara berbisik namun penuh penekanan pada sang Ibu. Ia berusaha menyampaikan aspirasinya. "Alya..." Baru saja Indah hendak menenangkan anak gadisnya, Alya memotong bicaranya. "Mi... emangnya dimana Papi mau janjian ketemu orang itu? di gedung kantor? atau di mall? orang juga nggak bakalan tau papi kesana naik apa! Sebenernya ini semua karena kredibilitas yang mami bilang, atau cuma alih-alih demi gengsi dan nyamannya papi?" sergah Alya, masih dengan tekanan suara yang berbisik. "Terus... kenapa nggak berangkat bareng mami aja? Toh mami kan kerja sampe sore nggak butuh keliling pake motor. Harusnya papi bisa dong make motor mami. Toh ketemuannya nggak akan lewat dari jam 5 sore pas mami pulang kerja kan?" Gadis itu masih kalap dengan hatinya. Tiba-tiba sosok yang Alya dan Indah bicarakan itu, telah berada dekat dengan mereka. "Ada apa kamu ini Al? Ngomong bisik-bisik tapi intonasi tinggi ditekan-tekan gitu sama orang tua! Lagi belajar jadi malin kundang kamu?" suara keras dan nada yang kasar khas Benny telah memecah obrolan panas ibu dan anak itu. Alya membisu. Ia trauma dengan segala dampak dan akibat yang panjang dari sikap membantah pada pria arogan, yang tak lain adalah Benny - ayah kandungnya sendiri. "Mana STNK motormu Al? Papi mau pake buat ketemu orang penting." Sebuah pertanyaan yang diakhiri pernyataan pamungkas tak terbantahkan itu, dilontarkan pada Alya. Alya berjalan tanpa kata, mengambil STNK Amanda - motor baru idaman miliknya, dan menyerahkannya begitu saja pada sang Ayah. Tanpa berkomentar. Alya menatap dalam ke arah Indah. Tatapan sejuta makna yang menyiratkan kekecewaan besar. Indah sesungguhnya tak tega pada gadisnya yang sudah selalu kuat dan rela menghadapi seluruh takdir di masa remaja yang penuh harapan. Saat di mana para gadis seusianya amat haus akan pergaulan sosial yang beragam, Ia dan Benny malah membuat sang gadis bersusah payah dalam kemandirian. Tentu bukan keinginan dan rencana pasutri itu menggagalkan nasib sendiri, namun memang suratan ilahi yang telah tertulis demikian. "Sampai kapan Mi, Mami selalu pilih kasih kaya gini?" tanya Alya dengan nada melembut penuh nelangsa. Indah tak sanggup menjawab, hanya tatapan balasan sarat makna pula yang dapat ia balaskan pada sang putri. Air bening telah berkumpul di pelupuk untuk menunggu giliran jatuh dari ujung mata gadis itu. Alya melangkah gontai kembali ke kamarnya. Membawa segenap pilu di dadanya. Riasan cantik itu. Dandanan sempurna itu. Seolah sia-sia dan tak berarti lagi. Hari yang ia sangka akan menjadi spesial baginya, berganti menjadi hari yang menyedihkan. Alunan melodi lagu yang sedari tadi terputar di pemutar musik kamar Alya, masih menyala dan berganti lagu demi lagu. Alya duduk di pinggir ranjang kamar itu. Ia menangis di atas riasan wajah cantiknya. -- "Seribu musim... takkan bisa. Menghibur hati... yang penuh lara. Entah mengapa berpisah saat mulai menjalin... Suara hati seorang kekasih, bagai nyanyian surgawi. Takkan berdusta... walau ketamakan merajai, diri yang penuh emosi. Jauh... di dasar hatiku. Tetap ku mau... kau sebagai, kasihku." -- Melodi piano lagu Suara Hati Seorang Kekasih yang dilantunkan Melly Goeslaw, menjadi pengiring tangisan Alya pagi itu. Entah berapa banyak air mata yang telah jatuh karena hal serupa. Ayah dan anak itu, tak hentinya bersitegang di berbagai kesempatan. - - Alya mulai move on dari sedihnya. Tak lupa ia juga telah mengabari Martha tentang rencana yang batal. Martha mengerti dan menawari jemputan untuk Alya agar dapat bersama-sama menuju kampus. Alya menolak. Ia sudah hilang selera untuk pergi kuliah pagi itu. Entah apa yang ia rencanakan selanjutnya. Gadis itu bimbang. Masih tersimpan lamunan dalam pikiran Alya tentang kedua orang tuanya. Sikap sang ayah yang bagaikan raja tak mau didebat dan ibunya yang selalu tunduk patuh pada sang raja apapun permintaan yang dititahkan. Seolah senasib dirinya dengan sebuah peribahasa tua. -- "Anak dipangku dilepaskan, Beruk di rimba disusukan" -- yang artinya : Selalu membereskan dan memikirkan urusan orang lain, sedangkan urusan diri sendiri diabaikan. Ck, Alya tersenyum kecut. Memikirkan betapa egois sikap pasutri paruh baya itu bagi Alya, membuat gadis itu merasa keinginan anak tidaklah penting, pun segala aspirasinya tidak akan didengar. Baginya, mungkin seorang anak hanya bertugas untuk meladeni seluruh mandat orang tua tanpa ada tapi. Seketika, sesak di dadanya berubah menjadi gejolak rasa ingin memberontak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN