6. Gejolak Jiwa Remaja Part 2

1326 Kata
Surabaya, 15 Januari 2008 Dear Luna, - Andai diturunkan untukku, sebuah hadiah dari langit. Aku akan meminta satu buku diary yang hidup dan nyata. Ada baiknya, diary itu datang dalam rupa seorang laki-laki baik yang menyayangiku tulus dan apa adanya. Tidak memandang segala buruk di diriku, tidak memandang rendah ayah ibuku, apapun keadaannya. Seperti sebuah quotes tenar Marylin Monroe "if you can't handle me at my worst, then you sure as hell don't deserve me at my best" (Alya Sasikirana) - - Tok...Tok...Tok... "Alya... mami berangkat ke kantor dulu ya..." Kali ini Indah tidak langsung membuka pintu kamar putrinya yang tertutup rapat. Ia tak tega jika harus melihat sang gadis dalam keadaan sendu. Bahkan, jika Alya tidak menjawab pamit itu sekalipun, Indah telah menyiapkan hatinya untuk menerima. "Iya, Mi... Hati-hati di jalan. Nanti aku ke kampus sama Widya. Daah mami," jawab Alya tanpa membuka pintu. Nada suaranya bersahabat, sebisa mungkin gadis itu mengayun intonasinya demi menentramkan hati sang ibu yang mungkin saja terluka setelah serangan aspirasi darinya beberapa menit yang lalu. "Daaah sayang, salam buat Widya yaaa..." Indah tersenyum lega. Indah merasa, ada sebagian dirinya yang tercermin pada sang putri. Terutama kemampuan Alya bersikap manis yang menyamankan perasaan orang lain, walau apapun pedih yang menghujam jantungnya sendiri. "Oke mami," tutup Alya ceria. Bagai ekspresi yang berbalik drastis 180 derajat, wajah sumringah Alya langsung berganti lagi dengan raut yang datar. Senyum itu hanya dibuat Alya guna menghasilkan nada suara yang bersahabat pada sang ibu. Ibu dan anak itu, bak pinang dibelah dua. Mereka sama-sama lihai menutupi segala luka hati. - - Flashback ON, Agustus 1993 - Seorang anak lelaki menangis mengadukan teman sebayanya pada sang ibu. "Mama... lenganku sakit. huhuhu," pria kecil itu menangis sesenggukan. "Lho, ini kenapa kok sampai merah?" seorang ibu tampak was-was pada sang putra. "Aku dicubit ma, sama Dion," adu anak itu. Tak lama, wanita muda yang tak lain adalah ibu seorang anak lelaki bernama Nugi, mendatangi Dion. Wanita itu menginterogasi penyebab kenapa Dion sampai tega mencubit sang anak hingga lengannya merah padam. Jawaban mengagetkan muncul dari anak bernama Dion. "Maaf tante, tadi aku cuma disuruh. Soalnya Nugi rewel, diajak main istana pasir nggak mau, katanya takut kotor. Gitu tante." Ibu Nugi makin kesal mendengar jawaban Dion. "Yang nyuruh Dion nyubit Nugi itu siapa?" tanya sang ibu muda, masih dengan nada interogasi. "Itu... i-itu... yang nyuruh... mmm... yang nyuruh Alya, tante. So-soalnya tadi Alya yang ngajakin main istana pasir, jadi dia kesel karena Nugi nggak mau ikutan," jawab Dion polos. Ia agak takut dengan dampak pengakuannya barusan, pasalnya Alya telah mewanti-wanti dirinya untuk tidak mengaku bahwa Alya yang memberi instruksi. Ibu Nugi terkejut dengan jawaban Dion, namun ia memilih untuk tidak mendatangi Alya untuk konfirmasi. Dirinya dan Indah, adalah teman baik. Terlebih, ia menghormati Indah karena memang Benny dan Indah termasuk orang terpandang di komplek perumahan tersebut. Seluruh penduduk komplek perumahan ASRI, tidak ada yang tidak mengenal pasangan itu. Benny dan Indah, pasangan pekerja muda sukses yang memiliki anak perempuan tunggal yang amat jelita. Alya melihat semua kejadian itu. Melihat ibu Nugi yang emosi, melihat Dion yang gelagapan, ia melihat smuanya. Sebenarnya Alya merasa takut jika ibu Nugi mengadukannya pada Indah - ibunya. Gadis itupun tahu bahwa kedua wanita itu cukup dekat dalam pertemanan tetangga komplek. Oleh karenanya, Alya berpikir untuk mengaku lebih dulu pada sang ibu. Sebelum nasib buruk menantinya. "Mami, maafin aku. Aku tadi nyuruh Dion nyubit Nugi sampe merah, soalnya Nugi nggak mau diajak main istana pasir. Aku sebel, Mi. Aku minta maaf ya Mi," aku Alya pada ibunya. Indah memegang pelipisnya sembari tak habis pikir pada pengakuan sang putri. Indah hanya diam sejenak sambil memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab gadis kritis itu. "Alya... kamu tahu nggak, kalo setiap hari, orang bisa berubah-ubah?" Alya menggeleng. Tatapannya polos menyimak sang ibu. "Terkadang orang bisa senang, sedih, marah, kesal, sebel, macem-macem. Dan Alya harus ingat kata-kata mami ya. Apapun yang Alya rasakan, mau itu senang, sedih, marah, atau apapun itu, yang boleh Alya lakukan hanya satu. Alya cuma boleh BER-SI-KAP BA-IK. Tidak ada sikap yang lain, oke?" Gadis itu mengangguk. Tatapannya datar dan fokus pada sang Ibu. Ia sedang memasukkan sebuah kata kunci di dalam otaknya. Dan, kata kunci itu adalah... 'BER-SI-KAP BA-IK' apapun kondisi dan situasinya. Ia tersenyum. Gadis kecil itu memeluk sang ibu seraya berbisik, "Mami mau anterin aku ke mamanya Nugi nggak? Aku mau minta maaf, ke Nugi juga" "Pinternya anak mami, duh mami jadi pengen nangis. Oke, nanti mami antar ya, Alya nggak usah takut. Yang penting, niat kamu baik Nak," tandas Indah sambil berkaca-kaca. Netra hitam miliknya yang diwarisi Alya, mulai penuh antrian air bening yang hendak menetes membasahi pipi ibu muda tersebut. - Flashback OFF - - Alya menutup 'Luna' si buku diary tersayang yang telah ia goreskan pena di dalamnya tentang harapan akan sebuah hadiah dari langit. Tangannya mulai berpindah fokus ke sebuah gadget. Alya membuka aplikasi kontak di ponselnya. Mencari-cari nama, adakah di antara mereka, yang ingin ia ajak bicara pagi ini sebagai pelipur lara. Tentang rencana keberangkatan ke kampus dengan Widya, tentu saja itu hanya alibi terhadap Indah. Sejujurnya, sudah hilang nafsu Alya beraktivitas apapun hari ini. Tatanan rambut korean style yang ia bentuk tadi pagi, mulai ia hancurkan dengan sisiran jari. Mahkota wanita berwarna coklat alami itu, kini sedikit berantakan. Tampilan gadis itu saat ini lebih mirip dengan 'desperate housewife' meski wajahnya masih terlalu muda untuk disebut 'housewife'. Baru saja Alya memikirkan beberapa nama untuk di telepon, seseorang meneleponnya lebih dulu. Bukan, seseorang itu bukan salah satu kontak yang terpikirkan oleh Alya. Putra Memanggil "Halo Put, ada apa?" "Kamu di rumah nggak Al?" "Harusnya sih enggak, tapi kenyataannya iya. Kenapa Putra?" tanya Alya dengan kesan bahwa ia telah berdamai dengan keadaannya hari ini. "Aku lagi di deket rumah kamu Al, mau ngasih fee 'nge-jam' kemaren pas di Nusantara Selular. Sama ada barang kamu ketinggalan di studio pas latihan kayanya," jawab Putra, bassis band 'open mind' yang merangkap sebagai leader itu. "Wah... pagi-pagi dapet rejeki nih aku. Yaudah mampir sini Put ke rumah, aku ada kok," kata Alya sumringah. Setidaknya, jika ada tambahan uang seratus ribu lagi di tangan, hari ini tidak akan seburuk dugaannya beberapa waktu lalu. Cuit...Cuit... Terdengar suara Putra yang tengah mengunci mobil Honda Jazz miliknya di depan rumah Alya. Alya segera menghampiri sang lelaki yang hendak bertamu. "Astaga, aku nggak salah rumah kan? Ini bener Alya?" ucap Putra yang terpana dengan kecantikan Alya pagi itu, dengan tatapan kagum dan penuh rayu khas 'playboy' kelas kakap. "Ha ha ha," Alya tertawa. "Apa perlu salaman dulu nih, biar yakin?" goda gadis itu. "Bisa, bisa... sekalian aku bukain pintu mobil biar ikut juga boleh" Putra membalas dengan flirt yang lebih advance. "Emang kamu mau kemana?" , "Nggak kemana-mana sih, jadwal kuliah kosong, manggung nggak ada, pacar lagi ke luar kota, mau ke studio aja palingan. Mau nata sofa baru, semalem dateng kata Irfan, yang jaga studio." Pemuda itu menjelaskan panjang lebar Alya menangkap sebuah ide. Ia berpikir, apa perlu dirinya ikut ke studio milik Putra, sekedar 'me-relief' stress nya hari ini. Lagipula, jadwal kuliah pagi telah ia lewatkan begitu saja lengkap dengan itikad 'titip absen' pada Martha. Akan ada jadwal lagi nanti siang. Masih sekitar 3-4 jam lagi waktu kosong yang ia punya, dengan tanpa rencana. "Aku ikut kamu deh, Put" Alya langsung mengambil keputusan. "Sure... it's OK, let's go dear! I'll make yo happy" Putra mengedipkan mata ke arah gadis itu. Sikap Putra memang seperti itu, membuat Alya bergidik. Ia hendak meluruskan pikiran semrawutnya. Ikut bersama Putra, mudah-mudahan adalah pilihan yang tepat. Alya meyakinkan diri, meski setengahnya meragu. - - Author's note : Hai, gimana episode kali ini? Menurut kalian, apa yang akan terjadi pada Alya dan Putra? He he he. Spoiler dikit yaaa, Putra itu anak seorang walikota di salah satu kota di Jawa Timur (ceritanya gitu). Putra dan Alya udah berteman sejak SMA. Sebenernya keduanya juga pernah saling suka sih, sebelum akhirnya Putra jadian sama Marsha. Eng ing eng, jadi gimana di next episode? Mereka CLBK nggak kira-kira?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN