7. Gejolak Jiwa Remaja Part 3

2012 Kata
Namanya Abhivandya Putra Nenggala. Nama yang ia miliki bermakna seorang lelaki yang menyenangkan dengan kepribadian bertanggung jawab, melindungi, seimbang, dan bermasyarakat. Lelaki itu dipanggil Putra oleh kedua orang tua dan oleh siapa saja yang mengenalnya. Putra tunggal seorang walikota dan mantan peragawati terkenal pada masanya, yang kini tengah sibuk menjadi ibu pejabat dengan sejuta aktivitas sosial. Apapun yang diinginkan Putra selalu terwujud. Masa remajanya yang sangat sempurna adalah impian para pemuda. Putra berperawakan gagah. Tubuhnya atletis dengan tinggi badan 183 cm. Ia memiliki senyum yang sangat khas, seolah seluruh kaum hawa di muka bumi tak akan sanggup melewatkannya begitu saja. Sebenarnya, Alya tidak begitu menggandrungi sosok tampan Putra sebagaimana gadis-gadis lain melakukannya. Alya hanya salah satu teman perempuan yang cukup intens berinteraksi dengan Putra karena mereka berada pada 1 grup musik yang sama di SMA. Alya ada di posisi vokal, dan Putra memegang posisi bassis sekaligus leader. Meskipun keduanya pernah saling menyimpan rasa akibat cinta lokasi. Musikalitas Putra sangat tinggi, demikian pula jiwa seni nya. Penampilan khas yang selalu menjadi ciri dirinya adalah Putra selalu memakai kupluk rajut 'slouchy beanie hat' dengan menampilkan sebagian poni depan rambutnya. Tak lupa asesoris kalung tali dari kulit asli dan beberapa gelang berbahan serupa di tangan kirinya. "Apa ini Put?" Alya melihat tangan kanannya tengah digenggam tangan kiri Putra saat keduanya tengah berada di perjalanan menuju studio musik milik Putra. "Galak banget sih Al... Iya, iya, aku lepas. Kamu tuh dari dulu nggak berubah ke aku. Padahal kita udah temenan berapa lama coba? dari kelas 1 SMA loh Al, udah 5 tahun." Putra melepaskan tangannya dan kembali memegang setir mobil. "Ya terus, kalo udah temenan lama emangnya jadi 'SAH' buat pegangan tangan, gitu?" gerutu gadis itu pada pria di sampingnya. "Yah enggak juga sih, tapi..." Putra kehabisan alasan 'buaya'nya untuk menanggapi sang vokalis. "Tapi apa?" balas Alya tegas. "Tapi kamu cantik," rayu Putra dengan sebuah senyum simpul. Senyum legendaris penuh mantra. Alya segera merekayasa hatinya. Ia tidak mau jatuh dalam godaan pacar Marsha itu. Gadis itu segera beraksi membuka cermin mobil Putra, dan bersikap seolah memandangi wajahnya di cermin itu. "Ah, kamu palsu. Udah aku pastiin, mukaku biasa aja tuh." Alya menjawab sembari menunjuk ke arah cermin mobil. Seperti mengatakan sesuatu dengan yakin karena berdasarkan fakta dan data. "Ko palsu sih... Ini ori tau Al, hehehe. Yaudah, aku ganti deh komennya. Kamu lagi cantik, Alya Sasikirana," ucap Putra menetralisir 'gombal' nya pada Alya yang tampak berlebihan tadi. Alya tersenyum menang. "Nah, kalo itu aku setuju. Soalnya tadi pagi emang lagi niat all out banget, tapi nggak jadi." Alya manyun. Ia teringat lagi kekesalannya akibat rencana pergi ke kampus naik 'amanda' yang gagal. "Udah udah... ngga usah manyun dong, ntar cantiknya ilang loh," goda Putra lagi sambil mencubit pipi kanan Alya. "Putra! Bisa nggak jangan pegang-pegang?" Alya kembali tegas. "Aduuhh ampun tuan putri. Kebablasan akunya. Hehe, jangan ngambek Al, janji deh abis ini nggak gitu lagi. Pertemanan syariah mode : ON" canda Putra dengan gaya tengil khas miliknya. Tak terasa mereka telah sampai di sebuah tempat dengan signage bertuliskan 'STUBBORN MUSIC STUDIO' yang tak lain adalah studio musik milik Putra. - - "Fan, sofa pesenanku udah ditaroh atas?" Putra bertanya pada Irfan - penjaga studio musik. Irfan hanya menjawab OK dengan kode jentikan jari. Putra lalu menulis nama band 'Open Mind' di papan pemakaian studio yang terpampang di depan meja kerja Irfan. "Jangan ada yang make ya Fan!" perintahnya sambil bergegas menaiki anak tangga menuju ruangan studio. Mata Putra mengarahkan Alya untuk mengikutinya naik. Ruangan studio itu cukup dingin. Aroma wangi lavender langsung terhirup menyambut siapa saja yang datang ke tempat itu. Ukuran studio yang lega dengan design casual, membuat tempat itu sering menjadi pilihan para anak band untuk berlatih sebelum tampil. Sofabed super nyaman berwarna abu tua yang sedari tadi dibicarakan Putra, juga telah terpasang di ujung ruangan. "Pengharum ruangannya ganti, Put? Biasanya wangi kopi" ucap Alya membuka obrolan. Putra sedang sibuk mengutak-atik alat di dekat salah satu sound studio itu. "Iya, biasa, request nya bunda ratu. Bunda kan suka banget sama lavender," jawab Putra singkat. Ia masih fokus dengan aktivitasnya di dekat sound. "Eh Put, barang aku yang ketinggalan ada dimana ya?" "Oh yang lotion ya, itu Al di kantong depan sling bag aku, ambil aja" Putra menunjuk sling bag merek 'NIKE' miliknya yang berada di atas sofa. Alya mengambil barang itu dan memakainya untuk melembabkan tangan di ruangan ber-AC. "Aku lebih suka wangi lotion kamu Al, daripada pengharum ruangan Bunda. Kemaren aku sempet liat, Marks and Spencer Hand and Nail Cream China Blue, sampe aku hafalin soalnya pengen nitip ke Bunda," ujar lelaki itu, masih dengan sikap acuh karena terlalu fokus pada sesuatu yang ia kerjakan. "Nah, OK selesai." Tak lama setelah Putra mengucapkan kalimat itu, suara musik menggema di seluruh ruangan studio. Bunyi irama lagu yang jernih dengan volume cukup tinggi namun tak terdengar dari luar karena dinding-dinding tempat itu memang di-design kedap suara. Untuk masalah sound system atau barang apapun, Putra memang tidak ‘tanggung’ dalam memilih dan membeli. Apa yang ia suka dan ia rasa terbaik di kelasnya, pasti menjadi pilihan baginya untuk dimiliki. Terhadap musik dan berbagai lapak ‘manggung’, barulah Putra tidak terlalu pemilih. Siapapun yang meminta dirinya tampil, ia akan dengan senang hati menyetujuinya, meski manfaat atau apresiasi yang didapat tak setara dengan investasi yang ia lakukan. Putra memang menyukai musik sebagai hobi, tidak sepenuhnya ia pikirkan untung ruginya secara finansial. Pemuda itu mulai menggonta-ganti playlist yang sebagian adalah minus one itu. Putra sedang berlatih bagian bass dari beberapa lagu yang akan ia bawakan di beberapa job ‘manggung’ nya minggu depan. Alya membantunya mengisi lagu demi lagu yang di mainkan Putra, di bagian vokalnya. Mic studio musik itu memang dahsyat. Saking bagusnya kualitas yang dimiliki, membuat Alya merasa suara miliknya jauh lebih nyaring saat menggunakan mic tersebut ketimbang suara aslinya. Putra beberapa kali mencoba berduet dengan Alya menggunakan mic lain di ruangan tersebut. Mereka beradu nada demi nada. Melantunkan lagu-lagu cinta penuh emosi di seluruh irama dan lirik di baitnya. Alya yang selalu bernyanyi dengan ekspresi sesuai, sesekali saling bertemu pandang dengan Putra yang mengiringi suara merdu sang gadis. Pria muda itu mengalunkan nada dengan kunci-kunci bass dan vokal suara dua sebagai penyeimbang nyanyian Alya. Keduanya saling menyatu dalam harmoni. Tatapan mereka, seolah tatapan dua insan yang sedang dimabuk asmara sebagaimana makna lagu yang mereka bawakan. "Hahahaha, aduh capek ah Put! Berasa karaokean nggak jelas. Masa lagu dari yang jadul sampe top forty, dari slow sampe lagu begajulan. Haaahh... tapi seru sih. Jadi lupa kalo tadi pagi abis mewek nggak karuan," celoteh Alya sambil menenggak air dari botol minum miliknya karena rasa haus menggelayuti tenggorokannya yang kering. "Tapi seru kan Al... hahaha, kayanya udah lama banget ya kita nggak seakrab ini lagi," balas Putra sambil menatap lembut Alya. Gadis itu abai sembari terus melakukan aktivitas pelepas dahaga. "Kamu laper nggak? Mau mesen pizza? Biar Irfan aja aku suruh beli di Pizza Hut Jemursari, kan deket." Putra melanjutkan bicaranya. Alya sumringah mendengar kata 'Pizza Hut' kesukaannya. Maklum, sejak sang Ayah bangkrut, ia tidak lagi leluasa untuk membeli kudapan favoritnya sejak SD itu karena harga yang terbilang cukup mahal. Kini, senyum terkembang di bibir Alya serasa tak tertahan. "SETUJU!" jawab gadis itu mantap. Sikap Alya sontak membuat Putra terkekeh. "Iya Al, ini mau minta ke Irfan dulu di bawah ya. Sabar." Puk... Putra mengetuk dahi Alya dengan telunjuk kanannya dengan ekspresi gemas. Sejak pagi Alya memang telah berhasil membuat pemuda itu geregetan karena wajah ayu dan tingkah lucu alami khas Alya. Putra menuruni anak tangga sambil tertawa kecil mengingat beberapa mimik muka sang gadis. Pizza telah dipesan. Irfan telah berangkat membeli makanan tersebut hingga 30 menit kemudian sepasang teman serasi melahap makan siang mereka sampai kenyang. Waktu telah menjelang siang. Alya berpikir ingin segera ke kampus untuk bersiap mengikuti mata kuliah kedua di hari itu. Keduanya kembali ke studio seusai menghabiskan 2 kotak pizza medium yang mereka bagi juga untuk si penjaga tempat itu - Irfan. "Put, aku mau ke kampus ya. Kamu ada rencana mau jalan ke daerah kampus aku nggak?" tanya Alya dengan sebersit 'kode' minta diantar. "Buru-buru amat sih. Emang nggak ngantuk abis kekenyangan?" Putra balas bertanya. Ia masih fokus mengatur nada dasar bass senar 5 miliknya yang lain. Bass senar 5 adalah alat musik yang biasa ia pakai khusus untuk menggarap lagu beraliran jazz. "Yah kan aku mau ada kelas jam 1 Put... Lagian masa iya mau tidur siang di sini, yang bener aja," ucap Alya datar dan lugas. "Al... dengerin dulu. Satu lagu. Rabu malem aku mau bawain di Circle Nine, Lounge baru di Delta Plaza itu. Menurut kamu oke nggak lagunya?" Putra mengalihkan topik tentang rencana ke kampus Alya. Ia mulai memutar sebuah lagu dari grup musik Incognito yang bertajuk Deep Water. Lagu itu diawali dengan sebuah irama yang kental akan aura kemesraan. Bagai sedang menata panggung drama, Putra tiba-tiba meremangkan cahaya lampu di studio itu berganti sinar kuning yang temaram. Terdengar suara pengharum ruangan yang terurai di udara dan menebarkan aroma lembut lavender ke segala arah. - -- "Is it a crime...? For me, to be feeling this way... I'm going out of my mind... And there's no change, from my runaway love... Is it a dream...? (Yeah, is it a dream?) That I'm throwing in the wishing well... I'm losing control, body and soul... Standing here waiting for a train that may never come" Translete : "Apakah ini sebuah kriminalitas? Untukku, yang merasakan semuanya ini... Aku kehilangan akal. Dan tidak ada yang berubah... dari pelarian cintaku. Apakah ini sebuah mimpi? (Ya, apakah ini mimpi?) Yang kubuang ke dalam harapan dengan baik. Aku kehilangan kendali, jiwa dan raga... Berdiri di sini menanti datangnya sebuah kereta yang mungkin tidak akan pernah datang" -- - Jantung Alya berdegup kencang. Debaran itu melemahkan logikanya. Netranya berkedip pertanda rasa gugup telah datang menyelimuti hati. Ia melihat Putra tengah berdiri sejauh 2 meter dari tempatnya berpijak sembari menatap dalam ke arah dirinya. Alya hanya diam dalam posisi tegak di depan sofa studio, benda empuk yang ia duduki beberapa waktu lalu sebelum kemudian bangkit untuk segera pamit. Namun tatapan sang pria mengunci langkah kepergian Alya. Alya hening dan semakin kehilangan akal. Suasana itu, nuansa lagu yang menggema di ruang itu, dan sorot mata berjuta makna itu, seolah menahan dirinya untuk tetap tinggal. Ia larut dalam ratusan mantra pesona yang terpancar dari lelaki di hadapannya. Derap langkah Putra terdengar setengah meragu. Ia berjalan ke arah Alya yang terpaku. Kedua tangan kekarnya lalu menyentuh lembut pipi Alya, mengapitnya dalam genggaman. Mereka saat ini telah berdiri saling menghadap wajah satu sama lain dengan jarak tak lebih dari 15 centimeter. Putra menundukkan muka agar dapat melihat jelas ekspresi Alya. Beberapa detik ia layangkan tatapan dalam ke netra hitam sang gadis, berusaha memastikan rasa di antara mereka. Pria itu lalu memiringkan sedikit wajahnya ke kanan, ia membungkukkan tubuh tegapnya lebih rendah. Dengan penuh keyakinan, Putra mendaratkan sebuah ciuman hangat ke bibir Alya. Keduanya meremang, menikmati sensasi emosi perasaan yang dulu sempat hadir dalam hati masing-masing. "Putra..." Alya sejenak mengingkari kerinduan itu sambil mendorong pelan sang lelaki. Nafasnya memburu. Seolah berusaha menghentikan apa yang telah terlanjur terjadi lagi. "Sssttt... please Al, nikmatin aja. Aku sangat merindukanmu," pinta pria yang tengah terjebak jerat nostalgia kisah-kasih masa SMA mereka. Keduanya lantas memejamkan mata dan menenggelamkan diri dalam kemesraan. Bibir yang saling berpagut satu sama lain dengan intens, serasa mengecap manisnya cinta yang mungkin masih tersisa. Jemari Putra mengusap lembut punggung sang gadis. Menahan segenap gairah yang menuntut berbuat lebih. Sementara kedua tangan Alya bergantung pada leher jenjang Putra. Mereka terhanyut dalam godaan yang tak terelakkan, seolah yang keduanya lakukan saat ini telah direstui oleh semesta. - -- Dearest Marsha ♥️ Memanggil (3 Panggilan Tak Terjawab) -- - Sementara di tempat berbeda, seorang gadis harap-harap cemas oleh panggilan suara yang tak kunjung terjawab oleh sang kekasih. Ia terus menghubungi ponsel lelaki tersayangnya dengan sepucuk kekhawatiran. - - Author's note : Hai, gimana episode kali ini? Ada yang mendadak ingat pengalaman pribadi kah? Hehehe, baper ditanggung sendiri ya :) Thank you udah baca ceritaku. Jangan lupa tap LOVE ❤️ nya kakak-kakak readers semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN